Mendadak Nikah 2 (Married By Accident)

Mendadak Nikah 2 (Married By Accident)
MBA 155


__ADS_3

"Pagi pah..."


Khey saat memasuki kamar inap papanya.


"Pagi sayang." sahut papa Khey terdengar masih lemah. Namun tetap saja memberikan senyum pada wajah paruh bayanya yang mulai menua.


"Sama siapa?" Khey melangkahkan kaki mendekati ranjang. Di mana sang papa duduk di tepi ranjang seraya memasang kancing kemeja yang dipakainya.


"Nggak ada siapa siapa. Papa sendiri."


"Ara sama siapa?"


"Sama Abi pah."


"Mana dia?" tanya papa Khey dengan melongok ke belakang tubuh Khey yang tidak ada siapapun di sana.


"Dia lagi nyari tempat parkir pah. Tadi parkiran dalam penuh." sahut Khey sesungguhnya berbohong. Karena yang sebenarnya Khey meminta Fabian untuk menunggu di luar karena Khey membutuhkan ruang untuk berbicara dengan papanya.


"Oh begitu ya." Papa Khey mempercayai ucapan Khey.


"Sini Ara bantu pa." Khey mengambil alih tangan papanya yang sedang mengaitkan kancing kemejanya.


"Makasih sayang." Papa Khey menyingkirkan kedua tangannya.


"Maaf karena Ara baru menjenguk papa." ucap Khey sendu sambil menggerakkan jemari dengan cekatan mengaitkan kancing baju milik papanya.


"Nggak papa. Papa tau kamu sibuk sekolah dan belajar."


"Lagian sakit papa bukan penyakit yang berat." Lanjut papa Khey dengan lembut.


Khey membuang nafas pendek mendengar ucapan papanya. Sebenarnya bukan karena alasan sekolahnya Khey tidak menjenguk papanya. Ada alsan lain yang membuat Khey tidak mampu mendekat saat itu.


Dan di balik kelembutan sang papa, Khey sungguh tahu papanya hanya bersikap terlihat kuat sebagai kepala keluarga yang diabaikan oleh isterinya. Saat ini Khey tidak tahu pasti apa penyebab mamanya bersikap seperti itu pada papanya.


Namun setelah kejadian memergoki mamanya tengah bermesraan dengan lelaki lain saat hendak menjenguk papanya beberapa hari lalu, membuat Khey ingin mencari tahu alasan sang mama.


"Mama tidak menemani papa selama papa di sini?" Pertanyaan itu Khey lontarkan dengan hati hati setelah selesai mengaitkan seluruh kancing baju papanya. Tangan Khey seolah sibuk bergerak merapikan kemeja papanya dengan kedua mata tanpa mau memandang wajah sang papa.


Bukan karena tak ingin, Khey hanya tak ingin melihat raut wajah sedih papanya. Namun bibir Khey juga tak bisa dicegah untuk melontarkan pertanyaan itu. Rasanya sangat gatal.


"Mama datang kok. Semalam juga menginap, tadi pagi buru buru pergi karena ada panggilan menyangkut kerjaannya." papa Khey beralasan.


Karena sesungguhnya mama Khey tidak pernah menampakkan batang hidungnya di rumah sakit. Bahkan untuk sekedar menelfon bertanya kabar pun sama sekali tidak dilakukan oleh mama Khey.


Kembali Khey membuang nafas, kali ini lebih berat dari sebelumnya. Entah mengapa dadanya menyesak mendengar ucapan papanya. Khey tahu papanya membohonginya.


"Mama pergi tanpa membantu membereskan baju baju papa?!" Khey dengan membuka almari kecil di sana. Di mana segala kebutuhan papanya selama menginap di rumah sakit disimpan di dalamnya.

__ADS_1


Papa Khey tersentak mendengar ucapan Khey. Sungguh Khey sangat peka saat ini. Dalam hati merutuki kesalahannya karena membohongi Khayyara.


"Mama terburu buru sayang." Lagi papa Khey berkata lembut meski ada sedikit getaran dalam nada bicaranya.


"Oh... iya ya Ara lupa kalau mama selalu memprioritaskan pekerjaannya daripada kita." Khey dengan nada kesal karena papanya masih saja menutupi perilaku mamanya.


"Mama harus profesional sayang, itu tanggung jawab pekerjaannya."


Khey mendengus mendengarnya.


Tangannya dengan cepat meraih koper yang terletak di samping almari lalu membukanya. Satu per satu Khey mengambil baju papanya lalu memasukkan ke dalam koper.


Papa Khey menarik nafas dalam lalu membuangnya perlahan saat mendapati Khey yang kesal.


"Ara bakal izin sekolah buat nemenin papa beberapa hari ke depan." Khey dengan menarik resleting koper, karena semua sudah masuk ke dalamnya.


"Kenapa harus izin, papa sudah baikan sayang."


"Tapi belum sepenuhnya sehat pah."


Papa Khey tersenyum. "Kata siapa. Papa sudah sehat ini, udah kuat." Beliau tersenyum dengan membusungkan dada seraya mengangkat kedua tangan seolah benar benar sehat.


"Pah..."


"Papa sudah kuat sayang."


Papa Khey hanya mengulas senyum, dan menyembunyikan perih di hatinya. Meraih telapak tangan sang putri.


"Ada bibik sayang. Tenang saja. Kamu nggak perlu serius memikirkan papa. Sekolahmu lebih utama."


"Tapi Ara mau merawat papa..." Khey membujuk karena sangat yakin mamanya tidak bakal mau meluangkan waktu untuk merawatnya.


Mama pasti beralasan lebih memilih pekerjaannya, walau sudah pasti sebenarnya alasannya bukan itu. Melainkan...


Ah... mengingat mamanya bergulat bibir dengan lelaki perlente di pinggir jalan waktu itu membuat dada Khey memanas.


Bagaimana bisa wanita yang melahirkannnya itu berbuat mesum bagai wanita murahan yang menjajakan diri di tengah hari bolong.


Flashback on...


"Sayang... kamu mengkhawatirkan papa?" Fabian menyematkan jemarinya pada jemari Khey yang saling bertaut dengan sesekali meremas karena cemas dengan kondisi papanya.


Khey mengangguk.


"Hati gue nggak enak Bi." Khey dengan hati gelisah.


Khey sangat khawatir dengan kondisi papanya. Tidak biasanya papa Khey sakit hingga masuk rumah sakit seperti saat ini. Khey merasa sakit papanya sangat parah hingga masuk rumah sakit.

__ADS_1


Angannya melayang jauh, membayangkan hal yang tidak tidak.


"Jangan khawatir bentar lagi sampai, papa pasti baik baik saja. Dia orang yang kuat." Fabian berusaha mengusir kegelisahan isterinya.


"Semoga saja." Khey lirih. Hatinya tetap saja tidak tenang.


"Buang rasa itu dari hatimu yang. Yakinkan pada hatimu bahwa papa baik baik saja saat ini. Tidak seperti dalam anganmu. Ada aku di sini."


Tangan Fabian semakin mengerat pada jemari Khey meski tatapan matanya fokos ke jalanan. Entah kenapa lalu lintas hari ini cukup padat hingga membuat perjalanan mereka merayap.


"Masih lama Bi?"


Khey dengan raut wajah cemas karena mobil yang ditumpanginya dengan Fabian saat ini seolah merayap bak siput berjalan.


Rasanya sungguh tidak sabar untuk menemui dan melihat kondisi papanya.


Khey semakin cemas karena ponsel papanya tidak dapat dihubungi. Nomor itu aktif namun tidak ada yang mengangkatnya.


Khey beralih menggeser pada nomor ponsel mamanya.


Meski tersambung, nomor mamanya juga tidak menjawab panggilannya.


Hingga ekor mata Khey mendapati sosok mamanya berdiri di pinggir jalan yang dia lewati.


Khey segera menurunkan ponsel yang masih menempel di telinga kirinya. Sedang tangan kanannya hendak menepuk bahu Fabian untuk memberitahunya.


Namun niat itu diurungkan oleh Khey saat tiba tiba seorang lelaki perlente datang dari belakang sang mama dan memeluknya dari belakang.


Khey tersentak kaget melihatnya.


Berkali kali mengerjapkan mata untuk memastikan penglihatannya.


Berulang kali memastikan, akhirnya Khey yakin jika itu adalah benar sang mama.


Kedua matanya pun melebar sempurna saat mamanya membalik badan dan segera menayambar bibir lelaki perlente itu di sana.


Bukan kecupan singkat, namun mama dan sosok lelaki perlente itu malah bergulat bibir di pinggir jalan tersebut bak adegan film india.


Sesaat Khey menahan nafas dengan tangan yang terkepal kuat.


Beruntung Fabian tidak menyadari keberadaan mama Khey karena fokus menyetir.


"Bi aku turun sini aja, kayaknya pakiran rumah sakit penuh deh. Elo pergi nyari parkiran sendiri aja, aku pengen segera tau kondisi papa." Khey segera membuka pintu mobil tanpa menunggu jawaban Fabian.


Fabian membuang nafas pendek. Untungnya dia mengendarai mobil dengan sangat lambat. Saat ini memang mereka telah berada tak jauh dari area rumah sakit. Namun saat memikirkan ulang alasan yang dilontarkan oleh Khey, Fabian tidak menaruh curiga. Dia pun segera mencari tempat parkir sampai memutar dua kali karena parkiran rumah sakit saat ini penuh. Akhirnya Fabian mendapatkan tempat parkir di area luar.


😍😍😍😍

__ADS_1


__ADS_2