
"Kenapa gue selalu sendiri di saat seperti ini... " Khey dengan bibir gemetar.
Tubuh ramping itu meringkuk di sudut kamar dengan rambut panjang yang acak acakkan serta wajah basah berurai air mata.
Saat kedatangannya beberapa saat lalu Khey mengintip dari pintu depan dan mendapati papa serta mamanya bertengkar hebat, Khey memutuskan memasuki rumah melalui pintu belakang.
Khey berjalan memutari rumah dan memasuki kamarnya dengan mengendap endap. Tak seorang pun dijumpai Khey saat memasuki rumah. Kemungkinan besar asisten rumah tangga dan sopir pribadi keluarganya memilih memasuki kamar mereka.
Khey memilih menangkupkan kedua tangan di atas lututnya, membenamkan kepala di atasnya sembari menggigit bibir menahan tangisnya pecah.
Khey sudah dapat membayangkan apa yang terjadi pada kedua orang tuanya yang berada di ruang keluarga rumahnya.
Bunyi benda pecah memenuhi ruang keluarga Khey, terdengar hingga ke telinga khey yang mengurung dirinya di dalam kamar.
Tubuhnya bergetar akibat isakan tangis yang ditahan keluar dari mulutnya.
Berkali kali Khey berusaha menutup kedua telinganya ketika mendengar bunyi benda jatuh ataupun suara teriakan papa mamanya yang silih berganti.
Pertengkaran seperti ini sudah biasa terjadi pada kedua orang tua Khey, dan Khey lah yang selalu terjebak dalam kondisi seperti ini.
Entah sudah yang ke sekian kalinya, pertengkaran antara papa dan mama Khey terjadi. Namun ini adalah pertengkaran pertama antara kedua orang tuanya setelah Khey menikah.
Khey pikir kedua orang tuanya telah berdamai, karena semenjak dirinya menikah dengan Fabian Khey tidak pernah melihat gelagat aneh maupun perang dingin kedua orang tuanya.
Ternyata apa yang dipikirkan olehnya salah.
Khey beringsut, meraih tas selempang yang tadi dipakainya saat mengantar Fabian ke bandara. Membuka tas kecil itu untuk mengambil ponsel pintarnya.
Tangan kirinya menyeka bulir bening yang terus saja mengalir pada kedua pipinya sedang tangan kanannya membuka ponsel untuk mencari kontak Fabian.
Sesaat Khey terlihat termangu menatap ponsel pintar di tangannya. Meski layar ponsel pintarnya telah menunjukkan kontak Fabian namun Khey tak kunjung menghubungi Fabian.
Khey bingung, haruskah dirinya menghubungi Fabian saat ini. Padahal baru beberapa jam lalu Fabian berangkat ke Bali.
Meski menurut perkiraan Khey Fabian telah sampai d Bali saat ini namun dia akan mengikuti olimpiade matematika. Apakah tidak apa jika dirinya menghubungi Fabian dan mengatakan tentang apa yang terjadi di rumah saat ini.
Khey menghembuskan nafas pelan, meletakkan ponsel pintar di sisinya begitu saja. Khey memutuskan menghadapi semuanya sendiri, Khey tidak ingin membuat konsentrasi Fabian terganggu. Toh selama ini dia selalu bisa melewati saat seperti ini, meski selalu sendiri.
Khey kembali membenamkan wajah di antara kedua kakinya, namun sedetik kemudian khey merasakan ponsel pintarnya bergetar.
Khey kembali mendongakkan kepala, tangan kanannya meraih ponselnya yang menyala karena adanya panggilan masuk.
"Bian..." desis Khey lirih saat menemukan kontak Fabian melakukan panggilan kepadanya.
Sontak Khey segera beranjak dari duduknya lalu berjalan menuju meja riasnya.
Khey mendesah resah saat mendapati wajahnya sembab disertai dengan rambutnya yang sudah tidak beraturan. Nampak jelas penampilannya sangat kacau.
Khey kembali memandang ponsel pintarnya.
Ponsel itu terus bergetar dengan permintaan panggilan video call dari Fabian tengil.
"Gimana ini, gue nggak mungkin anggat vc Bian dengan penampilan gue yang seperti ini..." ungkap Khey dengan bingung.
__ADS_1
Sesaat Khey menahan nafas lalu membuangnya perlahan.
"Gue pasti bisa." gumam Khey kemudian.
Khey memutuskan mengangkat panggilan Fabian, namun mengarahkan layar ponselnya ke arah dinding dengan tidak lupa menekan tombol speaker.
"Hallo assalamualaikum..." Fabian.
"Walaikumsalam." jawab Khey pendek.
Khey sengaja memelankan ucapannya agar Fabian tidak menyadari suara seraknya akibat menangis sebelumnya.
"Yang... gimana sih, gue kok cuma dikasih liat dinding doang."
Suara Fabian terdengar dari seberang. Karena memang hanya dinding kamar Khey yang muncul di layar ponsel Fabian.
"Biarin, gue baru habis mandi. Cuma pakek handuk doang." tentu saja Khey dengan berbohong.
"Gue nggak papa kok dikasih liat, udah sah juga. Buat obat kangen..." Fabian dengan gaya candanya.
"Untung di elo, rugi di gue." Khey dengan sengaja bernada ketus.
"Yah... sama suami mosok ngitung untung rugi sih."
"Biarin. Mau ngapain sih telfon, belum juga sehari..." Khey pura pura kesal, meski dalam hatinya ingin sekali berbagi pedih pada Fabian.
"Yah... galak banget sih yang, kita kan nggak bakal bisa ketemu satu minggu. Buat saling nelfon kasih kabar juga pastinya sulit nanti." Fabian dengan nada sendu.
keresahan hati Khey serta suara seraknya yang menahan tangis.
Sesungguhnya Khey merasa tak kuat berpisah dengan Fabian seminggu ke depan, apapun alasannya seharusnya suami tengilnya itu seharusnya berada di sisinya saat ini.
"Ra... gue udah nyampek Bali dan baik baik aja." Tetiba Fabian dengan nada serius.
"Gue nggak nanya!" Khey menutupi sesal di hatinya, seharusnya kalimat itu diungkapkan Fabian saat Khey bertanya kondisi Fabian di awal telfon.
"Gue ngasih tau lo, siapa tau aja khawatir sama gue." Fabian dengan tetap menggunakan nada serius.
Glek...
Tenggorokan Khey tercekat, dirinya merasa tersindir dengan ucapan Fabian barusan.
"Elo juga baik baik aja kan Ra... Bunda tadi nggak jahat sana lo kan?"
Fabian sengaja bertanya, entah mengapa ada yang terasa menganjal di hati Fabian saat ini.
"Gue baik kok." ucap Khey sedatar mungkin agar Fabian tidak curiga.
"Syukurlah kalau lo baik baik aja."
Sejenak keduanya sama sama terdiam tanpa berucap kata.
Detik berikutnya.
__ADS_1
"Kalau ada apa apa sama lo cerita sama gue jangan dipendem sendiri. Gue suami lo, bukan orang lain." Tetiba Fabian berkata seolah mengetahui keadaan Khey saat ini.
"Iya." sahut Khey pendek.
"Elo beneran nggak papa kan Ra..." Fabian seperti ingin memastikan.
"Gue nggak papa." sahut Khey dengan kelat, sungguh ingin rasanya Khey menangis kembali.
"Ra... elo yakin nggak mau liat wajah gue bentar."
"Enggak."
"Baiklah kalau gitu. Gue bakalan susah dihubungi saat karantina, kalau ada kesempatan gue bakal hubungin lo."
Hmn... Khey sudah tidak sanggup berbicara karena menahan tangisnya.
"Bye... Assalamualaikum." Fabian memilih mengakhiri panggilan teleponnya.
"Walaikumsalam." lirih Khey kemudian segera membekap mulutnya dan menumpahkan tangisnya.
Prang... prang...
Kembali bunyi gaduh yang memekakkan telinga terdengar hingga kamar Khey.
Khey pun beranjak menuju pintu kamar lalu memutar knop pintu dengan pelan dan membukanya.
Khey berjalan pelan untuk mencari celah mengintip kedua orang tuanya yang masih bertengkar di ruang keluarga. Tepatnya di lantai bawah.
Terlihat papa Khey berdiri sedang memegang tongkat kayu yang sepertinya adalah tongkat baseball yang digunakannya untuk memukul hiasan mahal yang dipajang di dalam ruangan tersebut.
Nafasnya menderu, mencengkeram kuat tongkat baseball yang beberapa saat lalu digunakan olehnya memporak porandakan ruang keluarga miliknya.
Mama Khey yang saat ini duduk di sofa terlihat santai dengan memainkan kuku kuku panjangnya yang diberi kutek merah menyala.
Mama Khey memang seorang desainer yang cukup ternama. Dalam situasi memanas seperti ini pun beliau tetap terlihat anggun tanpa memperlihatkan sedikit pun wajah marah atau gusar.
Dengan memakai gaun selutut desain buatannya sendiri mama Khey duduk dengan bersilang kaki, memamerkan kaki jenjangnya yang putih bersih terawat. Seolah mengejek sang suami.
"Jadi kamu masih saja menemui laki - laki itu Ma!!" Papa Khey dengan mata yang memerah marah.
"Iya." sahut mama Khey enteng, seperti tidak ada beban.
Sontak jawaban itu membuat papa Khey kembali mengayunkan tongkat baseball ke sembarang arah. Menempa dan menghancurkan semua benda hias yang ada di ruangan tersebut.
Khey yang mengintip dari kejauhan pun membekap mulut dengan kedua tangannya, beranjak pergi dari sana.
Khey tidak ingin terlalu lama melihat pertengkaran antara mana dan papanya. Khey tidak ingin hatinya terluka.
Saat Khey memasuki kamarnya kembali, kedua manik hitamnya menangkap sebuah koper besar yang diletakkan di atas lemari bajunya.
ππππ
What happen aya naon selanjutnya yakkkkk......
__ADS_1