
"Kenapa lo enggak pernah sedikit pun bercerita ke gue Bi?" Khey dengan suara parau.
Fabian yang semula hanya berdiri di tepi ranjang memandangi lembaran kertas di sana pun beranjak mendekati Khey.
Fabian sudah mengerti alasan Khey marah saat ini.
Bukan maksud Fabian menutupi ataupun tidak jujur pada sang isteri, hanya saja Fabian merasa belum menemukan saat yang tepat. Dan lagi beberapa hari ini dirinya disibukkan oleh jadwal mentoring dengan guru matematika serta tanggung jawab terhadap pekerjaannya yang semakin berkembang pesat.
Kedua lengan kekar itu merengkuh bahu Khey yang bergetar tanpa kata.
Gadis bar bar yang telah bergelar sebagai istri Fabian itu menundukkan kepala dengan mulai terisak. Tidak sedikitpun menolak pergerakan Fabian.
Isakan isakan kecil lolos dari bibir Khey, terdengar menyayat hati Fabian.
Fabian pun semakin mengeratkan rengkuhannya pada tubuh Khey.
"Bukan maksud gue buat nutupin dari lo Ra." ucap Fabian lembut dengan mengusap punggung sang isteri.
Sesaat Fabian menjeda ucapannya dengan menghirup oksigen kuat. Fabian tidak ingin membuat tangis Khey pecah.
"Gue cuma nunggu waktu yang tepat aja." lanjut Fabian.
Khey mendongakkan kepala dengan cepat.
"Maksud lo menunggu waktu yang tepat itu saat lo berangkat gitu!?"
Tanpa diduga ucapan Fabian membuat Khey semakin marah. Mendorong dada bidang Fabian dengan kuat.
Namun karena kekuatannya tak sebanding dengan Fabian, tubuh kekar itu tak bergeming sedikit pun.
"Ra... buk..."
Khey segera memotong ucapan Fabian.
"Hari minggu besok lo berangkat Bi!!" Khey dengan sorot mata marah. Meski wajah cantik itu sembab karena isakan tangisnya, namun tetap saja sorot marah itu terlihat di matanya.
Fabian menghirup oksigen kuat, menutup kedua kelopak matanya. Sungguh Fabian bukan ingin menutupi semuanya dari Khey. Dia ingin mengutarakan semuanya besok, karena dia sudah menyiapkan waktu untuk mengajak Khey jalan jalan dan membicarakannya.
Kini semuanya telah gagal.
Khey telah mengetahui semuanya. Dan dia tahu soal itu bukan dari bibir Fabian, melainkan tanpa sengaja Khey menemukan berkas berkas persyaratan yang telah disiapkan Fabian untuk keperluan olimpiade matematika di Bali nanti.
Khey kembali mendorong tubuh Fabian kuat, berusaha melepaskan diri dari dekapan sang suami. Namun Fabian tidak sedikit pun memberinya kesempatan.
Khey pun meronta, berusaha memukul dada bidang Fabian kuat agar bida melepaskan diri.
"Dengerin dulu alasan gue..." Fabian dengan berusaha menenangkan kemarahan isteri barbarnya.
__ADS_1
"Gue nggak butuh alesan." Khey dengan sedikit mendongak, memberikan tatapan kesal pada Fabian.
Khey sengaja mengunci pandangan mata, ingin menunjukkan bahwa dirinya sangat marah saat ini. Khey juga ingin membuat Fabian merasa bersalah karena tidak jujur kepadanya.
Fabian yang menyadari tatapan kesal Khey menundukkan sedikit kepala, membalas kuncian pandangan Khey dengan tatapan teduh. Bahkan memberikan senyum tipis nan manis pada gadis bar bar yang kedua matanya melebar menandakan marah.
Khey sengaja melakukannya untuk menunjukan bahwa di tidak mau kalah dari Fabian.
Fabian tetap terlihat tenang, menggerakkan kepala maju. Memperpendek jarak wajahnya dengan Khey.
Cup...
Fabian mendaratkan bibir tebalnya pada bibir pink ranum milik sang isteri.
Membuat kedua bola mata Khey melotot semakin melebar. Khey tidak menyangka jika Fabian akan mencium bibirnya.
Khey berusaha keras melepaskan bibirnya dari cengkeraman bibir tebal Fabian dengan menggelengkan kepalanya kuat. Namun ternyata bibirnya tak mampu lepas.
Khey pun berusaha memberontak dengan memukul dada bidang Fabian bahkan bukan hanya itu rambut hitam Fabian tak lepas dari tambahkan kedua tangan Khey.
Namun kekuatan yang dimiliki Khey tak sebanding dengan kekuatan Fabian.
Tak sedikit pun tubuh jangkung itu mengendurkan kedua lengannya dari tubuh ramping Khey. Ataupun mengaduh kesakitan buat pukulan serta tambahkan dari Khey.
Bibir tebal Fabian tetap saja mencecap, menguasai bibir pink mungil milik sang isteri.
Setelah merasa puas dan terasa kehabisan nafas, Fabian baru melepaskan tautan bibirnya.
"Ngambek lo bikin gue gemes Ra..." ucap Fabian serak sembari mengusap bekas ciumannya pada bibir sang isteri dengan ibu jarinya.
Tak lupa Fabian mengiringi senyum tengil saat berucap kata.
"Bibir gue jadi jontor nih..." Khey menyahut dengan deru nafas yang terdengar menderu karena Fabian tak memberikan sedikit pun ruang untuknya bernafas. Khey memajukan bibirnya yang menebal dengan ekor mata yang bergerak memindai bibirnya.
"Mau gue balikin lagi kek tadi..." Fabian dengan mengerling jenaka.
"Ogah! Malah makin jontor kek kejedot pintu entar..." Khey berseru dan membuang muka kesal.
Fabian pun terkekeh melihat reaksi isterinya.
"Makanya jangan suka ngambek." Fabian dengan melihat bibir Khey yang memerah dan menebal akibat ulahnya. Masih dengan kekeh kecil.
"Elo yang bikin gue ngambek!" Khey masih dengan membuang wajahnya.
Khey tidak berani menatap Fabian, karena tidak ingin dirinya luluh pada cowok tengil itu. Khey ingin menunjukkan jika dirinya sudah marah, susah untuk membujuknya.
Set...
__ADS_1
Fabian kembali mengeratkan pelukannya, mendekap Khey erat.
"Maaf... karena gue nggak cerita sama lo dari awal." Fabian berucap lembut sembari mengusap lembut punggung Khey.
"Sebenarnya hari ini gue mau ngajakin lo jalan jalan sambil kasih tau lo, tapi ternyata jadwal mentoring gue padet. Dan lagi... elo keburu tahu lebih dulu..." Fabian dengan tidak berhenti mengusap punggung sang isteri untuk memberikan ketenangan.
"Gue bener bener minta maaf." Fabian terdengar tulus pada ceruk bahu Khey.
Khey yang semula sangat kesal, cenderung marah tetiba rasa itu menghilang begitu saja.
Tidak ada jawaban ataupun tanda tubuh dari Khey untuk memberikan jawaban pada Fabian. Khey hanya terdiam kaku di dekapan sang suami.
Fabian pun merenggangkan tubuh keduanya.
"Elo maafin gue kan Ra?" Fabian dengan menatap lekat manik hitam Khayyara.
Entah magnet apa yang dimiliki oleh Fabian. Khey dengan mudahnya menganggukkan kepala, mengiyakan.
Fabian pun tersenyum sumringah.
"Kalau ada apa apa tanya dulu, jangan langsung maen ngambek. Bisa kan diomongin baek baek."
Lagi Khey mengangguk lalu meyusupkan wajah pada dada bidang Fabian. Mengendus aroma tubuh Fabian yang entah mengapa membuat Khey nyaman.
"Gue belum mandi yang, bau asem..." Fabian bergerak sedikit tidak nyaman ketika Khey menggesekkan hidung mancungnya pada dada bidang Fabian.
Bukannya Fabian menolak aksi Khey saat ini. Selain bau badannya yang menurutnya memang asam, Fabian merasa sedikit tidak nyaman karena tubuh bagian bawahnya bergesekan dengan inti tubuh bagian bawah Khayyara.
Fabian takut khilaf.
"Biarin." Khey makin mengeratkan pelukannya seolah takut jika Fabian mengurangi pelukan mereka.
"Ra..."
"Bentar doang ih..." Khey dengan nada manja.
Fabian pun mendesah, terpaksa mengurungkan niatnya untuk melepaskan pelukan mereka.
Beberapa saat berlalu keduanya masih saja berdiri berpelukan. Tidak ada tanda tanda Khey bakal melepaskan pelukannnya.
Hingga Fabian pun merasakan kedua kakinya gemetar.
"Ra... lepas dulu ya pelukannya." Fabian tepat di telinga Khey.
"Ogah, bentar lagi." Khey masih tetap di posisinya.
"Kalau gitu mandiin gue ya..." Fabian.
__ADS_1
ππππ