Mendadak Nikah 2 (Married By Accident)

Mendadak Nikah 2 (Married By Accident)
MBA78


__ADS_3

Dua puluh menit telah berlalu, Fabian pun keluar dari kamar mandi dengan tubuh segar dan rambut basahnya.


Batinnya kembali mengeram saat mendapati Khey memejamkan mata dengan nyenyak serta baju tidur atas yang tersibak cukup lebar hingga mempertontonkan bagian perutnya.


Sesaat mengembungkan pipi, lalu berjalan mendekati ranjang. Dengan mengalihkan pandangannya dari Khey, Fabian menarik selimut dan melempar asal untuk menutupi tubuh Khey. Meskipun Fabian sering kali menggoda Khey, namun ternyata jika dihadapkan dengan posisi seperti ini Fabian tetap saja harus berusaha sekuat tenaga untuk menahan hasrat kelakiannya.


Setelahnya Fabian berlalu menuju almari pakaian. Mengambil baju koko serta sarung guna melakukan kewajiban sholat shubuhnya.


Setelah menyelesaikan kewajibannya Fabian segera mengganti bajunya dengan seragam sekolah lalu mendekati Khey kembali.


"Ra... Ara... bangun." Fabian dengan mengusap lembut pipi Khey.


"Eughm..." Khey melenguh masih dengan mata terpejam.


Fabian pun mendudukkan diri pada tepi ranjang, sejajar dengan tubuh Khey yang meringkuk di balik selimut tebal yang telah dilemparkan oleh Fabian beberapa saat lalu.


Perlahan Fabian menyibak selimut berwarna navy tersebut dari tubuh Khey kemudian kembali menepuk pipi Khey, kali ini lebih keras.


"Ara sayang... bangun."


Fabian tidak menghentikan gerakan tangannya hingga mau tak mau Khey pun membuka kedua matanya karena merasa terusik.


"Apaan sih Bi, masih ngatuk juga." Khey dengan wajah cemberut.


"Waktunya sekolah, elo juga belum sholat. Buruan bangun gih..." Fabian mendekatkan wajahnya dengan ibu jari yang tidak berhenti mengusap pipi Khey. Bermaksud membuat khey terusik dan bangun dari tidurnya.


"Emang jam berapa sih?" Khey menahan jari Fabian yang terus saja memberikan usapan pada pipinya.


"Hampir jam enam." Fabian mejauhkan tangannya dari mengusik pipi Khey dengan ekor mata melirik jam di dinding kamar.


Khey mengusap mata lalu menyandarkan punggung pada kepala ranjang sembari mengumpulkan nyawanya.


"Elo udah siap Bi?" Khey mengernyit menelisik penampilan Fabian yang sudah memakai seragam sekolahnya.


"Udah tinggal pakek sepatu doang. Buruan mandi gih, papa sama mana pasti udah nungguin kita buat sarapan." Titah Fabian lalu beranjak dari ranjang.


Khey bukannya menuruti titah Fabian, melainkan memindai penampilan suami tengilnya dengan mengerutkan kening heran.


"Tumben seragam lo masukin celana..." ucap Khey saat melihat tampilan Fabian yang tak biasa. Karena dalam sejarah Fabian, Khey belum pernah melihat Fabian memakai baju masuk seperti saat ini.


"Pengen aja." Fabian dengan melingkarkan jam tangan hitam pada pergelangan tangan kirinya, yang telah di raihnya dari atas meja belajar Khey.


"Lo gak ada maksud buat tebar pesona kan Bi?"


Heh... Fabian menoleh ke arah Khey yang masih setia duduk di atas ranjang.


"Apa lo bilang tadi?"

__ADS_1


"Lo gak ada maksud buat tebar pesona di sekolah kan?" Khey mengulang ucapannya.


Fabian terkekeh kecil.


"Gue gak perlu tebar pesona. Bagaimanapun penampilan gue, gue tetep tampan. Lagian gue udah punya lo Ra, ngapain gue tepe tepe di sekolah." Fabian sembari menegakkan wajah di depan cermin, seolah membanggakan ketampanannya.


"Ck.... dasar narsis lo." Khey berdecak sembari menjulurkan kaki jenjangnya ke lantai kamar hendak menuju kamar mandi.


"Gue narsis cuma di depan lo doang." Fabian dengan bergaya sok tampan di depan Khey. Meskipun yang sebenarnya suami tengil Khey itu memanglah tampan.


"Lagian gue emang tampan kan Ra?" Fabian membuat wajah keduanya behadapan dengan jarak hanya satu jengkal saja.


Hek!


Khey tercekat, tiba tiba tenggorokannya terasa kering akibat Fabian yang tetiba mendekatkan jarak wajah keduanya.


Khey mengerjapkan kedua matanya, menghirup dalam aroma mint yang keluar bersamaan dengan hembusan nafas sang suami.


Sesaat Khey terlihat seperti terhipnotis oleh Fabian. Tubuhnya tiba tiba membeku saat ini.


"Ra... woey... kok malah bengong sih?" Fabian mengibaskan tangan di depan wajah Khey.


"Elo terpesona kan sama ketampanan gue?" Fabian tersenyum tengil.


Khey pun tersentak dari kebekuannya.


Fabian terhuyung, memandang punggung Khey yang berjalan kesal dengan kekehan kecil keluar dari mulutnya.


Tiga puluh menit kemudian keduanya sudah siap dengan tas punggung masing masing. Berjalan beriringan menuruni anak tangga untuk menuju ruanga makan dan melakukan rutinitas sarapan pagi.


"Pagi ma... pa..." selalu saja Fabian yang menyapa kedua orang tua Khey setiap bertemu di ruang makan seperti pagi ini.


Kedua orang tua Khey pun membalas sapaan Fabian serentak dengan menyunggingkan senyuman di wajahnya.


Sedangkan Khey terlihat tak ambil pusing, dengan santai menarik kursi lalu mendudukinya.


Fabian pun mengikuti Khey menarik kursi dan duduk, meskipun dalam hati merasa kesal akan sikap Khey pada kedua orang tuanya.


Entah apa yang membuat hubungan Khey dengan kedua orang tuanya memiliki jarak, hingga saat ini Fabian belum menemukan jawaban.


"Malam minggu kemarin pergi sama siapa Ra?" tanya papa Khey dengan pandangan menyelidik.


Hek.


Khey tersentak kaget mendengar pertanyaan papanya. Sesaat terdiam memikirkan jawaban untuk papanya.


"Sama Bian pah..." Bukan Khey melainkan Fabian yang menjawabnya.

__ADS_1


"Kata bibik, Ara keluar rumah sendiri habis magrib, pakek baju pesta." Papa Khey menelisik.


Waktu itu papa Khey pulang memang menanyakan keberadaan anak dan menantunya pada Bik Munah selaku asisten rumah tangga di rumahnya karena pasangan muda itu tidak ada. Tentu saja asisten rumah tangga paruh baya tersebut mengatakan dengan jujur apa yang dilihatnya.


"Iya pa itu benar, Ara memang pergi ke pesta ulang tahun teman." Fabian dengan mengangguk.


Khey tercekat mendengar jawaban suami tengilnya.Tiba tiba kerongkongannya susah untuk menelan, takut jika Fabian mengatakan yang sebenarnya pada papanya. Bisa bisa Khey akan digorok oleh kedua orang tuanya.


Menyadari kondisi isterinya, dengan segera Fabian menuangkan air putih dan memberikannya pada Khey. Khey pun menerima dan segera meneguknya cepat untuk mendorong makanan dalam kerongkongannya yang beberapa saat lalu tidak mau bergerak dari kerongkongan.


"Jelaskan pada papa Ra..." papa Khey terlihat mengeram, mungkin beliau mengetahui kalau Khey memiliki kekasih.


"Ara memang pergi sendiri dari rumah buat janjian sama Bian pah. Soalnya Bian gak bisa jemput Ara ke rumah, waktunya mepet. Tapi kita pergi ke pesta berdua kok pah, karena yang ulang tahun itu teman satu sekolah kami." Fabian menelusupkan tangan kirinya pada jemari khey di bawah meja untuk memberikan ketenangan pada Khey yang terlihat ketakutan menurut Fabian. Khey pun merasa lega karena Fabian mau menutupi kebenarannya.


"Jam sepuluhan pa." Jawab Fabian disela kegiatan mengambil nasi.


"Yang bukain pintu siapa?"


"Bian bawa kunci cadangan yang dikasih Bik Mun kok pa, jadi Bian buka pintu sendiri. Bian sering pulang malem soalnya."


"Oh begitu." papa Khey mengangguk mengerti.


"Iya pah, sewaktu kita pulang papa sama mama sepertinya udah tidur. Iya kan Ra..." Fabian menoleh kepada Khey.


Khey pun mengangguk canggung.


"Maaf, papa sama mama capek banget soalnya. Ya sudah kalau Ara perginya sama kamu. Habiskan sarapan kalian. Papa sama mama berangkat dulu." papa Khey beranjak diikuti oleh mama Khey setelah Fabian dan Khey menganggukkan kepala mereka.


"Tanks Bi..." ucap Khey tulus setelah kepergian kedua orang tuanya.


"Udah tugas gue buat ngejaga dan ngelindungin lo." Fabian mengusap lembut punggung Khey.


"Cepet habisin sarapan lo." Titah Fabian lalu memasukkan makanan ke dalam mulutnya sendiri.


πŸ“πŸ“πŸ“


"Bi..."


Fabian yang hendak menaiki motor apemnya menghentikan langkah kakinya saat mendengar panggilan Khey.


Membalikkan setengah tubuh ke belakang, di mana Khey berdiri tepat di belakangnya. "Apa?"


"Em... gue nebeng lo ya." ucap Khey canggung dengan menggaruk belakang kepalanya yang tiba tiba terasa gatal.


Fabian diam sesaat, terlihat berfikir.


"Sorry... nggak bisa."

__ADS_1


😍😍😍😍


__ADS_2