Mendadak Nikah 2 (Married By Accident)

Mendadak Nikah 2 (Married By Accident)
MBA48


__ADS_3

"Elo bisa nyetir kan Ra?"


"Bisa..." Khey sedikit bingung.


"Nih... lo bawa mobil Farell. Gue gak bisa nganter lo, soalnya gue ada celebrate sama anak anak basket." Fabian dengan menyerahkan kunci mobil Farell ke telapak tangan istrinya.


Hah... Khey dengan wajah cengonya.


"Elo pulang saja duluan, gue gak bisa nganterin lo. Lo bisa kan bawa mobil sendiri?" Fabian lagi bertanya dengan menatap Khey datar.


Tidak ada tatapan mempesona seperti beberapa saat lalu ataupun tatapan penuh perhatian yang biasa Fabian berikan saat dia masih bersikap sebagai cowok tengil.


Bagaimana bisa cowok bergelar suaminya itu menghempaskan dirinya begitu saja setelah beberapa saat lalu membawanya terbang ke awang awang.


Cih... dasar cowok di mana - mana sama saja habis manis sepah dibuang... Khey membatin dengan kesal.


Khey sungguh tidak menyangka jika setelah ciuman singkatnya dengan Fabian di toilet beberapa saat sebelum pertandingan tadi, seperti dilupakan begitu saja oleh Fabian.


Gak tau terima kasih banget sih ini cowok, gak inget apa kalau tadi gue udah kasih dopping ciuman bibir ke dia. Mentang - mentang udah menang terus jadi idola baru, jadi lupa deh sama gue... isterinya. Khey kembali hanya mampu berkata dalam hati saja.


"Ra...!" Fabian sedikit berseru karena gadis yang bergelar isteri sahnya itu tidak menyahut dan hanya memandang dirinya dengan pandangan yang tidak dimengerti oleh Fabian.


Khey tersentak dari lamunanya. "Iya"


"Elo pulang sendiri ya..."


"Tapi Bi..." Khey dengan tangan yang masih mengambang di udara karena memegang kunci mobil Farell pemberian Fabian beberapa saat lalu.


"Gak papa. Elo pakek aja daripada pakek motor gue, ntar kulit lo gosong." Fabian terlihat tidak berhati dan hendak beranjak pergi begitu saja.


"Bi... bukan itu maksud gue..." Khey seolah tidak rela jika Fabian pergi begitu saja meninggalkan dirinya.


"Apalagi sih Ra..." Fabian mengurungkan langkahnya dan terlihat sedikit kesal akibat rengekan Khey.


"Gue gak perlu ini." Khey meraih tangan Fabian lalu meletakkan kunci mobil Farell kembali ke tangan Fabian dengan perasaan dongkol di hatinya.


"Lah... terus lo mau naik apaan?" Fabian memandang kunci mobil di tangannya lalu mengernyit heran pada gadis di depannya,


"Gue bisa naik taxi." Khey ketus.


"Lah, kalau mau naik taxi ngapain lo manggil gue? Mana gue tadi harus buru buru lagi..." Fabian semakin bingung pada istri bar barnya tersebut.


Khey membola.


Bagaimana bisa suami tengilnya itu mengucapkan kata kata itu di depannya. Meskipun itu bukan kata kata buruk, namun ucapan Fabian tersebut cukup membuat hati Khey sakit. Karena Khey merasa seolah dirinya telah menganggu Fabian.


Dengan menahan gemuruh di dalam dadanya, Khey mengambil langkah lebar lalu pergi meninggalkan Fabian dengan menghentakkan kakinya kesal.


"Loh Ra... elo mau kemana?" Seru Fabian dengan menyusul sang isteri yang terlihat amat sangat kesal.


Khey terlihat mengabaikan seruan Fabian, malah semakin melebarkan kakinya agar cepat menjauh dari suami tengilnya yang tidak peka menurutnya.

__ADS_1


"Ra berhenti!" Fabian dengan menahan salah satu pergelangan tangan isterinya setelah berhasil menyusulnya hingga ke depan gerbang keluar gedung olah raga.


Mau tak mau Khey menghentikan langkah kakinya karena cekalan tangan Fabian cukup kuat hingga membuat tubuhnya sedikit oleng ke belakang. Beruntung tubuh jangkung Fabian dengan segera menahan tubuh Khey yang oleng hendak terjatuh.


"Elo kenapa? Ngambek, marah sama gue?" Fabian terdengar datar setelah berhasil menegakkan tubuh sang isteri.


Heh pakek nanya lagi ini cowok, dasar suami gak peka... ucap Khey dengan hanya di dalam hati saja sembari menahan emosinya.


"Enggak!" Khey ketus dengan tanpa memandang Fabian.


"Gak usah bohong gue tau kok lo marah sama gue."


Nah itu tahu... ngapain pakek nanya... lagi lagi Khey hanya mampu mengucapkannya dalam hati saja.


"Elo marah kan Ra?" Fabian mengulang pertanyaannya tanpa sadar jika itu membuat Khey semakin emosi.


"Kalau lo tau, ngapain nanya..." Khey dengan dada bergemuruh.


"Tapi kan gue gak tahu kenapa lo marah sama gue. Kalau itu karena gue gak bisa nganterin lo pulang, itu kan bukan salah gue. Kenapa elo gak bareng temen temen lo, lagian kalian ke sini barengan kan, gue gak tau dong kalau lo minta pulang bareng gue. Elo gak ngomong ke gue sebelumnya..." Fabian enteng, seolah tidak peduli dengan rasa gemuruh dalam dada isterinya.


Khey menolehkan kepala, memandang Fabian dengan sengit. Bagaimana bisa suami tengil nya itu menyiramkan bensin di tengah percikan api yang seharusnya dipadamkan olehnya.


"Iya... itu salah gue. Dan salah gue juga karena ngarep bisa pulang bareng sama lo. Puas....!!" Khey dengan berusaha menghempaskan cekalan tangan Fabian, namun gagal.


"Lepasin!" Khey dengan kedua mata yang mulai berkabut.


Namun Fabian tetaplah Fabian yang dengan keras kepalanya tidak mau melepaskan tangannya dari pergelangan sang istri, hingga membuat Khey melemah hingga akhirnya membiarkan tangannya berada dalam kekuasaan Fabian begitu saja.


"Tunggu bentar." Fabian dengan tetap berusaha tenang menghadapi kemarahan istri barbarnya.


Lagi lagi Khey berusaha melepaskan diri dari rengkuhan tangan sang suami.


"Ra... tenang dulu. Kasih gue waktu sebentar." Fabian dengan tidak membiarkan tubuh ramping itu bebas dari rengkuhan tangannya.


Khey pun menurut, mencoba melihat apa yang akan dilakukan suami tengilnya.


Salah satu tangan Fabian yang terbebas meraih ponselnya kembali, kemudian terlihat mengetik kan sesuatu pada benda pipih dalam genggamannya tersebut.


Khey menghembuskan nafas pendek, meskipun gemuruh di dadanya belum sepenuhnya hilang namun ada sedikit kelegaan di hatinya. Sepertinya Fabian akan memilih mengantarkannya pulang daripada mengikuti perayaan kemenangan dengan tim basketnya.


Biarlah jika Khey dikatakan egois saat ini, dirinya tidak bisa begitu saja membiarkan Fabian mengabaikannya.


Entah mengapa saat ini Khey merasa ingin menguasai sosok suami tengil yang beberapa saat lalu itu seolah menjadi idola baru bagi siswi di sekolahnya. Khey seakan tak rela jika para siswi di luar sana mengidolakan sang suami. Khey sendiri tidak memahami isi hatinya.


Beberapa saat setelahnya Fabian terlihat telah menyelesaikan aktivitas nya pada ponsel pintarnya, kemudian kembali memasukkan benda pipih tersebut ke dalam saku celananya.


Tin...


Sebuah mobil berhenti di depan Khey dan Fabian.


Fabian pun membawa Khey mendekat pada mobil tersebut.

__ADS_1


Seorang bapak berumur, mungkin 50 tahunan turun dari sana dan mendekat.


"Mbak Khayyara?" bapak bapak tersebut bertanya dengan sopan.


"Iya pak..." Fabian yang menyahut, Khey pun mengerutkan dahinya bingung.


"Mari silahkan." Bapak pengemudi mobil tersebut dengan membuka pintu mobil bagian belakang.


Fabian membawa tubuh Khey untuk memasuki mobil tersebut.


Setelah itu Khey duduk dan menggeser tubuhnya, agar Fabian mendapatkan bagian untuk duduk.


"Sorry... elo pulang duluan, gue gak bisa nganterin lo."


Kembali Khey membola saat mendengar ucapan Fabian.


"Lo gak pulang bareng gue??"


Fabian menggeleng.


"Entar gue usahain cepet pulang." Fabian dengan memberikan ciuman singkat pada kening Khey lalu setelahnya menutup pintu mobil karena bapak pengemudi mobil tersebut telah kembali ke kursi kemudi.


Fabian berjalan ke depan.


"Ati ati bawa mobilnya ya pak... terima kasih sebelumnya." Fabian berpesan pada pengemudi melalui jendela mobil depan yang masih terbuka.


"Iya mas... sama sama." pengemudi itu dengan tersenyum ramah lalu setelahnya meninggalkan pelataran gedung olah raga.


Bulir bening meluruh dari kedua bola mata Khey. Bulir bening yang semula berusaha dibendungnya akhirnya tak mampu untuk ditahannya lagi.


Ternyata semua tidak berjalan sesuai keinginannya, Fabian tengil yang pernah berjanji bakal mengedepankan dirinya nyatanya sama saja dengan Doni kekasihnya.


Semula Khey sempat berfikir jika Fabian bakal menemaninya pulang, nyatanya suami tengilnya itu malah memesankan grab via ponselnya. Memilih bersenang senang dengan teman teman basketnya.


Begini rasanya diabaikan....Khey menahan sesak dengan menatap kaca spion di depan yang menampilkan tubuh Fabian yang semakin mengecil.


😍😍😍😍


My beloved readers, tengyu so much for :


Like πŸ‘πŸ»


Vote πŸ”–


Rate ⭐⭐⭐⭐⭐


Komen πŸ’‹


Tambahkan favorit ❀


Salam halu dari author yang narsis abishh πŸ’ƒπŸ»πŸ’ƒπŸ»πŸ’ƒπŸ»

__ADS_1


__ADS_2