
"Ara ... apa - apaan ini?! Bagaimana kamu bisa menyuruh Fabian tidur di lantai seperti ini?" mama Khey bertanya murka dengan suara yang cukup tinggi. Ara adalah panggilan untuk Khey dari keluarganya sejak kecil.
Khey yang baru saja duduk di tepi ranjang untuk mengumpulkan nyawanya menoleh kaget pada mamanya yang sudah berdiri membuka pintu kamarnya.
Sedangkan Fabian terpaksa terbangun karena kaget mendengar teriakan mama mertuanya. Dengan kepala yang masih terkantuk Fabian berusaha mendudukkan tubuhnya di atas selimut tebal yang digelarnya semalam pada lantai samping ranjang milik Khey.
"Bilang sama mama, kenapa Fabian bisa tidur di lantai?" mama Maira mendekati Khey dengan raut wajah merah menahan amarah.
"Ii ... iittu Ma ... Fab," Khey berucap kata dengan gagap, dan saat dirinya belum menyelesaikan ucapannya Fabian memotong.
"Bian yang memilih tidur di lantai Ma, Mama gak perlu marah sama Khey. Bian yang ngeyel semalem, iya kan sayang?!" Fabian membela Khey lalu menoleh dan memberi tanda pada Khey agar menyetujui ucapannya. Meski kedua matanya belum terbuka sempurna namun otaknya sudah mampu mengendalikan situasi panas yang bakal terjadi pada pagi hari yang masih dingin ini.
"Iyya Ma ... bener kata Bian." jawab Khey takut dengan membenarkan ucapan Fabian, meskipun sebenarnya dirinyalah yang melarang Fabian untuk tidur diranjang.
Bagaimanapun seorang Khey tetap saja merasa takut jika kedua orang tuanya marah terhadapnya, meski hubungan mereka tidak terlalu dekat layaknya seorang anak yang dekat dengan orang tua yang memperhatikannya dengan penuh kasih sayang.
Mama Maira pun mengalihkan pandangan pada Fabian yang masih terduduk di lantai dengan beralaskan selimut tebal dan kain sarung yang membelit tubuhnya.
Anak lelaki yang sudah sah menjadi pendamping hidup putrinya itu terlihat berantakan dengan wajah bantalnya.
Sepertinya cowok yang diberi gelar tengil oleh Khey itu masih berusaha mengumpulkan sisa - sisa nyawanya yang belum terkumpul sempurna.
"Bian! Kenapa kamu memilih tidur di bawah seperti ini? Ara yang memaksa kamu untuk melakukannya?" Mama Maira mencoba menebaknya.
Fabian menggeleng, enggak mungkin dirinya menyulut kemarahan sang mama mertua meskipun tebakan beliau benar adanya. Fabian memilih menutupinya.
"Enggak Ma ... bukan begitu. Memang Bian yang memilih tidur di bawah, beneran swear Mah." Fabian mengacungkan jari tengah dan telunjuk untuk menguatkan ucapannya.
"Kenapa? Apa alesannya?" Mama Maira bertanya tegas dengan bersidekap dada.
Fabian terlihat menggaruk belakang kepalanya.
"Itu em ... itu karena Bian takut Ma." Fabian berucap dengan mimik wajah yang terlihat bingung.
Kedua ujung alis mata Mama Maira bertaut.
"Takut apa?" Mama Maira terheran dengan alasan yang diungkapkan oleh menantu remajanya. Apa yang membuat cowok bertubuh tegap itu takut, batin Mama Maira bingung.
"Bian takut kalau tidur bareng, Bian nanti peluk - peluk Khey. Terus gimana kalau Khey hamil Ma?! Kami kan masih sekolah." Fabian berucap dengan menunduk malu. Kalimat itu terlontar begitu saja dari mulut Fabian tengil.
__ADS_1
Mama Maira membuka mata lebar dengan mulut yang menganga setelah mendengar penuturan menantu remajanya.
Beliau terlihat menggembungkan kedua pipinya karena menahan tawa. Beliau tidak menyangka cowok remaja yang kemarin telah menikahi putrinya itu masih sangat polos menurutnya.
Tak lama kemudian tawa pecah dari Mama Maira menggema di dalam kamar Khey, karena beliau tidak dapat menahan tawa yang lolos begitu saja dari mulutnya.
Kedua pasangan remaja itu sejenak saling pandang, keduanya bingung dengan reaksi sang mama yang tertawa tergelak.
"Kok mama tertawa sih?" Fabian bertanya bingung.
"Dari mana kamu dapat hal seperti itu Bian, kamu pikir Khey akan hamil hanya karena kamu peluk?" Mama Maira masih dengan tawa kecil.
Fabian terlihat mengusap tengkuk lehernya dengan tersenyum kikuk.
Sedangkan Khey hanya menatap cengo pada kedua orang di depannya. Otaknya belum dapat mencerna perdebatan mereka dengan baik, efek nyawanya yang masih pada proses penyatuan.
"Bian ... Bian kamu itu lucu, pelukan itu gak bakal bikin Khey hamil. Kalian harus melakukan hal yang lebih dari itu, memangnya kamu belum pernah mendapatkan pelajaran tentang perkembangbiakan manusia?" mama Maira bertanya heran.
"Sudah sih Ma, cuma ..." Bian menjeda ucapannya. "Bian takut ntar cebongnya Bian gak tahan liat Khey yang cantik terus mereka merayap ke tubuh Khey terus ... jadi deh Fabian junior." Kennan tersenyum kikuk.
Cebong lagi ... apaan sih maksud cowok itu? Lagi - lagi Khey dibuat bingung dengan kata cebong yang terlontar dari mulut Fabian.
"Haishh ... kamu ini ada - ada aja. Gak gitu juga dong." mama Maira menimpali dengan masih terkekeh kecil.
"Maaf Fabian masih agak kaget juga bingung, mungkin belum terbiasa dengan pernikahan mendadak ini." jelas Fabian jujur dengan tersenyum malu.
"Gak papa. Nanti lama - lama juga akan biasa, kalian pasti membutuhkan waktu untuk saling menyesuaikan. Mungkin juga akan terasa berat di awal namun mama yakin kalian mampu menghadapinya. Karena ini memang sudah takdir dari Sang Maha Kuasa. Mungkin kalian memang berjodoh." nasihat mama Maira dengan menurunkan intonasi suaranya.
"Dan kamu Ara ... kenapa kamu panggil Bian hanya nama saja tanpa embel - embel mas atau yang lain? Itu nggak sopan!" Kembali mama Maira menatap lekat anak perempuannya untuk menuntut jawaban.
Belum juga Khey memberi alasan, Fabian menyelanya.
"Itu ... Bian yang minta Ma. Sebenernya panggilan Bi itu bukan penggalan nama Fabian tapi Bee Ma." jelas Fabian dengan mengeja kata b e e per huruf dengan jelas.
"Panggilan itu panggilan sayang Khey buat Bian ma. Biar gak ada yang ngeh dengan panggilan itu, jadi hubungan kami masih bisa tertutupi dari khalayak ma. Mama paham kan maksud Bian?"
Mama Maira terlihat memahami dan mencermati ucapan Fabian lalu tak lama kemudian mengangguk mengerti.
Cerdas juga otak si tengil ini, Khey membatin.
__ADS_1
"Ara." Mama Maira kembali menoleh ke arah Khey.
Khey yang semula menunduk takut dengan meremas ujung piyama tidurnya mendongakkan kepala, mencoba memandang mamanya.
"Mama pesen sama kamu. Kamu harus nurut sama ucapan Fabian, karena dia suamimu sekarang. Jangan membantahnya. Dan satu lagi, mulai nanti kalian berdua tidur di ranjang yang sama, gak boleh seperti ini lagi. Satu enak - enakan di ranjang satu lagi tidur di bawah. Pernikahan kalian sah, bukan main - main. Jadi mama minta hargai suamimu!" ucap mama Maira tegas dengan memandang Khey, menuntut jawaban iya.
Kemudian mama Maira mengalihkan pandangan ke arah Fabian. "Bian! Kamu kalau menghadapi Khey yang sabar ya nak, tapi jangan membiarkan dia ngelunjak dan berani sama kamu." tegas mama Maira.
Keduanya pun mengangguk mengiyakan. Fabian dengan mengangguk dan tersenyum sopan, sedangkan Khey mengangguk terpaksa dengan kepala yang menunduk lesu.
"Ya sudah sekarang pada mandi sana, terus turun buat sarapan." titah mama Maira kemudian berlalu meninggalkan kamar pasangan muda itu dengan tak lupa menutup pintunya.
Sepeninggal Mama mertuanya Fabian bergegas berdiri sambil membawa bantal tidurnya menuju ranjang.
Bruk ...
Fabian menubrukkan tubuh tegapnya pada ranjang sembari memeluk bantal tidurnya erat. Kemudian kembali menutup kelopak matanya, berniat untuk meneruskan tidur kembali.
"Bian bangun mandi sana!" Khey berseru kesal pada Fabian yang seenaknya saja tidur di ranjangnya. Mentang - mentang sudah mengantongi izin dari mama Maira.
"Elo duluan Khey ... gue ngantuk banget. Gue baru bisa tidur habis shubuh tadi." sahut Fabian dengan mata yang terpejam. "Lagian badan gue pegel semua gegara tidur di lantai." keluh Fabian.
Khey menghela nafas berat, kemudian terlihat memijit pelipisnya berulang. Dirinya pun sama, tidak dapat tidur dengan nyenyak meskipun tidur sendiri tanpa Fabian. Pikiran serta ketakutan pada Fabian yang akan berbuat mesum padanya membuat Khey tidak dapat memejamkan mata dengan cepat.
Sebenarnya ada sedikit rasa bersalah di lubuk hatinya yang paling dalam karena telah membuat cowok tengil suaminya itu tidur di lantai.
Namun mau bagaimana lagi Khey tidak mau berbagi ranjang dengan cowok tengil bin mesum yang tidak pernah bosan menggoda dengan tingkah mesum absurdnya sejak semalam.
ππππ
My beloved readers, tengyu so much for :
Like ππ»
Vote π
Rate βββββ
Komen π
__ADS_1
Tambahkan favorit β€
Salam halu dari author yang narsis abishh ππ»ππ»ππ»