Mendadak Nikah 2 (Married By Accident)

Mendadak Nikah 2 (Married By Accident)
MBA 141


__ADS_3

"Masih ingin pindah jurusan?" ayah dengan meletakkan cangkir kopi di atas meja setelah beberapa saat lalu menyesapnya.


Fabian menggeleng dengan senyum dikulum.


Keduanya saat ini sedang duduk santai di teras belakang rumah.


"Kenapa cepat sekali memutuskannya?" Ayah mengerutkan kedua alis mata, menyelidik.


"Keknya kalau Abi pindah jurusan, Ara bakal tambah


runyam."


"Maksud kamu?" Ayah.


"Eh anu itu yah..." Fabian mengusap belakang lehernya kikuk.


"Jadi karena isterimu to." Ayah tersenyum.


"Hehehe... iya." aku Fabian.


"Kamu pikir Ara sangat butuh pendampingan kamu? Setiap saat kudu nempel gitu?"


"Enggak gitu yah. Abi cuma jaga jaga aja." Fabian sesaat memandang Khey yang sedang menyiram koleksi tanaman bunga milik sang bunda, tak jauh dari tempatnya duduk bersama ayah tercinta.


"Jaga jaga gimana maksud kamu Bi?"


"Ayah tau kan kalau selepas ini Abi mau ambil kuliah di luar."


"Emangnya udah yakin diterima?" Bukannya memandang enteng sama kemampuan sang anak, melainkan ayah tahu jika persyaratan kampus yang hendak dituju anak semata wayangnya tersebut sangatlah ketat. Kampus itu bukan kampus sembarangan. Melainkan kampus paling top yang ada di negara tersebut.


"Untuk jurusan yang Abi ambil, sudah seratus persen masuk yah. Kemarin Abi udah dapat konfirmasinya."


Ayah mengangguk mengerti.


"Good job boy." Ayah menepuk pundak Fabian dengan bangga.


"Makasih yah. Semua juga berkat dukungan ayah selama ini."


"Cuma ayah doang, bunda enggak." Tetiba bunda datang sembari meletakkan kue buatannya ke atas meja.


Fabian tersenyum.


"Tentu. Bunda juga. Bunda paling top kalau soal dukung mendukung keinginan Abi."


"Termasuk mengabulkan keinginan kamu buat menikahi Ara?!" Bunda mengerling jenaka.


"His... bunda jangan diungkit mulu ah. Abi jadi malu." Fabian mengambil sepotong kue bikinan sang bunda lalu memasukkan ke dalam mulutnya.


Secangkir teh hangat ditemani pancake pisang buatan bunda sungguh perpaduan yang menggiurkan lidah saat sore begini.


Bunda terkekeh. "Pelan pelan makannya."


"Kamu udah bilang sama Ara, kalau mau kuliah di luar?" Bunda dengan duduk pada kursi di samping sang suami.

__ADS_1


Fabian menggelangkan kepalanya. "Tunggu selesai ujian Bun."


"Oh iya Bi, apakah Ara tidak pernah menyebut keinginan untuk mengunjungi mama papanya?" tanya Bunda dengan cukup pelan, takut sang menantu mendengarnya.


"Enggak Bun."


"Sekalipun?" Bunda memastikan.


"Iya. Sekalipun Ara nggak pernah menyinggungnya. Sepertinya dia sudah nyaman tinggal di sini." Fabian dengan memandang punggung Khey yang membelakanginya.


Ayah Bunda juga melakukan hal sama, mengikuti arah pandang sang anak.


"Memangnya mereka jadi berpisah bun?"


Pertanyaan ayah sontak membuat Fabian menoleh ke arah kedua orang tuanya.


"Mama sama papa mau bercerai?"


"Katanya iya." sahut Bunda pelan. Menempelkan jari telunjuk di depan bibir, memberi tanda pada Fabian agar tidak berbicara dengan keras.


"Mamanya sudah mengajukan gugatan. Tapi mereka berdua masih tinggal satu atap." terang bunda, tentu saja dengan lirih.


"Bunda nggak coba bicara sama besan?"


"Udah yah. Tapi bunda rasa mereka udah sama sama nggak mau mempertahankan rumah tangga mereka."


Bunda Fabian memang sudah mengajak bertemu mamanya Khey. Mereka juga sudah berbincang banyak dan terbuka perihal keputusan kedua besannya untuk berpisah. Mengingat dulu mereka pernah dekat sebagai tetangga, bahkan bunda Fabian dan mama Khey pernah sekolah di tempat yang sama saat masih muda, mama Khey pun tidak sungkan mengatakan tentang keputusannya menggugat cerai sang suami.


"Kasihan anak itu." Ayah menggumam.


Fabian pun menganggukkan kepala pelan. Setelahnya menghembuskan nafas berat.


"Abi janji yah." Kembali Fabian menoleh ke arah Khey. Dan tanpa diduga Khey juga menoleh ke belakang, tepatnya ke arah Fabian.


Fabian pun melambaikan tangan, memanggil sang istri. Dalam hatinya tidak berhenti menerka apa penyebab kedua orang tua Khey memutuskan berpisah.


Meski sesungguhnya Fabian mengetahui ketidakharmonisan keluarga Khayyara, namun Fabian tidak menyangka jika perceraian menjadi keputusan akhir mereka.


Dalam hati Fabian juga berjanji untuk menjaga Khey dan membuat gadis yang telah dinikahinya tersebut bahagia.


Senyum Fabian terbit saat Khey berjalan ke arahnya dengan berlari kecil layaknya anak anak yang bersuka cita hendak mendekati ayah bundanya.


"Duduk sini." Fabian menepuk pahanya memberi tanda Khey agar duduk di atasnya. Karena memang kursi yang tersedia hanya tiga sesuai dengan anggota keluarga Fabian sebelum ada Khey.


Seketika Khey mendelik tajam.


Bunda tersenyum, melihat aksi anaknya yang selalu saja menggoda istrinya.


"Sama kek ayah itu." Bunda pada suaminya. Ayah hanya terkekeh lalu mencomot pancake buatan sang isteri dan memasukkan ke dalam mulutnya. Seolah tidak mengetahui apa apa.


"Sini dekat bunda sini..." Bunda beringsut memberi setengah tempat duduknya untuk sang menantu. Bunda yakin menatunya itu pasti malu.


Dan benar saja Khey memilih duduk berdempetan satu kursi dengan bunda mertuanya.

__ADS_1


"Tega lo Ra, masak milih sama bunda ketimbang sama gue."


"Bunda lebih nyaman daripada lo." Khey hanya beralasan. Karena tidak mungkin dia memilih duduk di pangkuan Fabian saat berada dengan kedua mertuanya.


"Awas aja ntar malem tidur sama gue." ancam Fabian tidak sesungguhnya.


"Tidur sama bunda. Wlek..." Khey memeletkan lidahnya.


"Lah ayah sama siapa dong." Selalu saja mertua lelaki Khayyara itu tidak mau ketinggalan jika masalah menggoda dan mengganggu.


"Ayah tidur sama Abi sana." jawab bunda dengan terkikik.


Ayah memutar bola mata malas.


"Enggak ah... mending peluk guling aja daripada nanti ditendang sama Abi. Mendingan ayah jomblo nanti malam."


Fabian berdecak.


"Cicip kue bunda tuh, mumpung masih anget."


Khey pun meraih satu potong pancake buatan sang mertua.


"Enak." ucap Khey setelah menggigit potongan pancake tersebut.


"Kapan kapan ajakin Ara bikin ya bun, Ara juga pengen belajar bikinnya."


Bunda mengangguk.


"Eh bunda... hari ini kan ada kondangan nikahnya anak Pak Rahmat, iya kan?!" Ayah mengingatkan sang isteri.


Pak Rahmat adalah pak RT tempat keluarga Fabian tinggal.


"Iya ya... jam berapa ini yah?"


Ayah menggedikkan bahu.


"Abi nggak diundang Bun?"


"Enggak. Cuma ayah sama bunda, cuma dikit kok. Hanya dirayain kecil kecilan."


"Oh gitu. Ya udah sana berangkat." Fabian seolah mengusir kedua orang tuanya.


"Eh... anak kurang ajar, ngusir pemilik rumah." Ayah memukul bahu Fabian.


Membuat empunya meringis.


"Ayo bun... kita pergi, kita diusir ini." Ayah beranjak, mengajak sang isteri.


"Biar bian bisa ngerasain mesra mesraan sama mantu ayah nih."


"Dasar kalian itu, anak sama bapak sama aja." Bunda pun beranjak menyusul sang suami yang telah memasuki rumah terlebih dahulu.


Sepeninggal kedua orang tua Fabian.

__ADS_1


"Yang, duduk sini deh." Lagi Fabian menepuk pahanya. Mengisyaratkan Khey untuk duduk di sana.


😍😍😍😍


__ADS_2