Mendadak Nikah 2 (Married By Accident)

Mendadak Nikah 2 (Married By Accident)
MBA 169


__ADS_3

"Sayang... ada masalah?" Fabian dengan menautkan jemari pada jemari Khey seraya menatap lekat pada Khey yang menunduk, menatap pada layar ponsel pintarnya.


Fabian merasa ada ganjalan pada tingkah Khey semenjak bertemu di mall tadi siang. Meski sedari awal Fabian menyadari itu namun dirinya menunggu waktu yang tepat untuk bertanya.


Dan kini saat mereka hanya tinggal berdua. Beberapa saat lalu Fabian telah mengantarkan adik iparnya ke rumah sang nenek. Sedangkan Alya dan Rhea telah dijemput oleh pasangan masing masing. Siapa lagi kalau bukan Farrel dan Jackson.


Khey terlihat mematikan layar ponsel pintarnya lalu memasukkannya ke dalam tas punggung sekolahnya dengan tangan kiri. Karena tangan kanannya berada dalam kuasa Fabian.


Fabian pun mengalihkan pandangan pada jalanan aspal kembali. Dia tidak ingin mati konyol. Apalagi saat ini dirinya juga sedang bersama dengan Khey.


"Nggak ada." Khey dengan pelan lalu menatap lurus pada jalanan di depannya. Meski dalam hatinya merasa campur aduk namun Khey berusaha setenang mungkin di saat menjawab pertanyaan Fabian.


Fabian pun tidak begitu saja mempercayai ucapan Khey, meski gadis itu terdengar tenang saat menyahutinya. Semakin ke sini Fabian semakin mampu membaca gestur sang isteri.


Lelaki jangkung yang kedua matanya telah fokus pada jalanan itu menangkap rasa gelisah pada hati Khey. Dan dirinya sangat yakin Khey memiliki masalah saat ini.


Fabian menghirup oksigen dengan kuat lalu melepaskannya perlahan.


"Jangan berbohong sama gue." Ucap Fabian pelan namun penuh penekanan. Tak lupa mengeratkan tautan jemarinya dengan milik Khey. Untuk menunjukkan pada Khey bahwa dirinya sangat peduli.


Meski dalam hati Fabian saat ini bergemuruh tak menentu namun sekuat tenaga Fabian menahannya. Bagaimana pun jiwa muda Fabian tak mampu membendung keingintahuan sikap aneh sang isteri.


"Nggak ada Bi. Mungkin gue hanya capek aja." Khey tetap saja menyembunyikan isi hatinya. Entahlah Khey belum ingin membagi apa yang dilihatnya saat di mall tadi. Khey tidak ingin gegabah mengambil kesimpulan yang akan membuat suaminya ikut emosi. Apalagi belum jelas benar kebenarannya.


Khey tau betul dengan sifat Fabian. Suami tengilnya yang terlihat slengekan dan cuek bebek itu memiliki sifat yang berbanding terbalik dengan kesehariannya. Fabian sangat protektif jika itu menyangkut dirinya.


Khey lebih memilih menyimpannya sendiri untuk saat ini.


"Elo cemburu gue nganterin Septi tadi?" Fabian dengan menoleh ke arah Khey. Jujur saja prasangka Alya terhadapnya tadi membuatnya terusik. Ditambah lagi dengan raut wajah Khey yang terlihat menyembunyikan sesuatu.

__ADS_1


Khey yang semula menatap lurus jalanan pun menoleh ke arah Fabian. Hingga tatapan keduanya pun bertemu.


Khey mengulas senyum. Bukan senyum yang dipaksakan namun Khey benar benar tersenyum bahkan disertai dengan sedikit kekehan.


Khey tidak menyangka Fabian mengungkapkan pertanyaan konyol tersebut.


"Gue percaya lo sama Septi nggak bakalan main di belakang gue." Khey mengatakan isi hati yang sebenarnya.


Bukannya sombong, Khey tau betul Fabian sangat mencintainya melebihi apapun. Dan dia juga menyayangi Septi layaknya adik sendiri. Septi pun sebaliknya tidak mungkin mengkhianatinya.


"So... kenapa kamu jadi aneh saat ini?" Fabian sungguh penasaran. Matanya sedikit memincing saat ini.


"Gue nggak aneh Bi. Gue hanya lelah, hanya itu." kekeh Khey berusaha meyakinkan Fabian dengan mempertahankan senyuman di wajahnya. Senyum manis yang membuat Fabian selalu tertular untuk ikut tersenyum. Seperti saat ini.


Fabian tersenyum. Meski belum sepenuhnya percaya akan jawaban Khey namun senyum Khey selalu saja mampu meredakan gemuruh di dalam hatinya.


"Lo nggak lagi bohong kan Ra?" Fabian dengan sorot mata yang dalam, seolah menyelami kebenaran kata kata sang istri. Bukannya tidak percaya namun instingnya tetap saja tidak bisa percaya.


"Lihat depan Bi, gue nggak mau mati muda." Khey memilih mengalihkan pembicaraan.


"Ra...?"


Fabian dengan sorot mata mememinta kejujuran.


"Gue baik baik saja. Gue nggak cemburu, gue juga nggak lagi marah. Gue cuma capek. Percaya sama gue Bi."


Fabian masih setia dengan pandangannya pada Khey.


"Bi... gue nggak mau kita mati konyol." Khey dengan menampik wajah Fabian untuk fokus pada jalanan.

__ADS_1


Mau tak mau wajah Fabian pun kembali menatap jalanan.


"Khawatir itu rasanya nggak enak Ra."


Kata kata Fabian membuat hati Khey mencelos. Sebegitu pedulinya Fabian kepada dirinya. Khey pun menjadi gamang sekarang.


Khey membuang pandangan ke luar jendela kirinya seraya menggigit bibir kuat.


"Sorry Bi... gue nggak bermaksud bikin lo khawatir. Gue juga nggak bermaksud bohongin lo. Saat semuanya sudah jelas nanti gue pasti jujur sama lo." ucap Khey dalam hati.


"Gue sebenernya nggak rela." sebuah ide terbersit begitu saja untuk menutupi kegelisahan Khey, hingga kata itu meluncur begitu saja dari bibirnya.


Kalimat Khey membuat kening Fabian mengerut dan mengundang tanya di benaknya.


"Nggak rela soal?" Fabian bingung.


"Gue nggak rela elo ngebayarin makan temen teman gue tadi."


Fabian terdiam sesaat, berusaha mencerna ucapan Khey.


"Harusnya tadi Alya yang bagian nraktir kita semua. Kenapa lo yang jadinya nraktir kita. Uang buat gue kan jadi berkurang."


"Hanya karena itu?" Fabian dengan kedua mata membola. Sungguh alasan yang membagongkan menurutnya.


"Nggak boleh gue kesel karena itu?" Khey dengan nada dibuat kesal.


"Ya nggak gitu yang, tapi..."


"Elo nggak percaya sama gue?" Khey memasang mimik masam.

__ADS_1


"Percaya. Percaya banget." aku Fabian meski dalam hatinya tidak menerima. Fabian tau betul Khey menyembunyikan sesuatu darinya.


😍😍😍😍


__ADS_2