
Setelah Fabian berhasil memasukkan bola bundar berwarna oranye tersebut ke ring untuk mencetak point terakhir hingga membawa tim sekolahnya menjadi pemenang dalam pertandingan basket antar SMU se Jogjakarta, sorak sorai dan keriuhan para penonton yang didominasi oleh suara melengking para siswi tersebut akhirnya berakhir.
Fabian dengan teman tim basketnya saling menyatukan tangan dan saling berpelukan atas kemenangan tim mereka. Mereka terlihat merayakan kemenangan mereka dipinggir lapangan dengan pelatih tim basket.
Tim basket SMU Gama tidak menghentikan senyum yang mengembang pada wajah mereka pun demikian dengan Fabian.
Cowok tengil itu terlihat tidak menyurutkan senyum pada bibir tipisnya, hingga pesona ketampanannya membuat sebagian penonton siswi berteriak histeris menyerukan namanya.
Meskipun tidak hanya nama Fabian yang dielu elukan, namun nama cowok tengil bergelar suami Khayyara Ashanum itu lebih terdengar dominan.
Khey pun mengeram hingga membuat gigi giginya gemertak. Wajahnya tertekuk kesal, dengan bibir yang mengerucut bahkan tak jarang mencebik.
"Ihh... Fabian cakep banget..." seorang gadis yang duduk tak jauh dengan Khey memekik kegirangan, hingga membuat Khey menoleh ke arah gadis itu.
"Tu kan... apa gue bilang, dari awal dia maen gue udah feeling kalau dia itu jago basket. Nyatanya bener kan... Fabian udah bikin tim basket sekolah kita menang." sahut salah seorang gadis di sebelahnya yang sudah dapat Khey pastikan kalau keduanya adalah adek kelas Khey di SMU Gama.
"Iya... jauh lebih jago dari si ketos ya. Gantengnya jugak, maksimal..." seorang gadis lain yang masih dalam gerombolan adik kelasnya itu terlihat sangat mengagumi Fabian tengil.
Khey semakin mengerucutkan bibirnya kesal saat mendengar ocehan ocehan adik kelas yang dianggap Khey masih bau kencur tersebut. Tidak lagi peduli dengan nama Doni, kekasihnya yang menjadi pembanding.
Khey kembali memandang ke arah lapangan basket, sepertinya melihat reaksi berbinar adik kelas yang mengagumi Fabian membuat hati Khey memanas.
Tidak sedikitpun wajah tengil itu menoleh ke arah Khey, Fabian terlihat asyik berbincang dengan sesama pemain basket.
Andai saja saat ini seluruh warga SMU Gama mengetahui jika Khey adalah pemilik sang pembawa juara tim basket sekolah pastilah dirinya segera turun dari tribun penonton untuk menemui Fabian tengil. Sekedar memberikan sebotol air mineral ataupun cukup dengan mengelap keringat yang masih terlihat membasahi rambut hingga pelipis Fabian.
Tanpa sadar Khey pun menghentakkan kaki dengan kesal.
"Elo apaan sih Khey... kesel banget keknya...." Rhea yang menyadari raut wajah kesal Khey bertanya.
"Enggak. Siapa yang kesel." Khey mengelak.
"Elo lah... siapa lagi. Orang yang lain pada senyum ceria, elo malah jutek. Pakek gelut sama lantai pisan, sekalian tu tembok lo tendang." Rhea ternyata menyadari saat Khey menghentak hentakkan kakinya ke lantai tribun penonton.
"Lagian elo tu harusnya ikut seneng, senyum kek gini nih..." Rhea menarik kedua sudut bibir Khey agar tersenyum lebar.
"Orang sekolah kita menang kok, malah jutek kek gini sih..." Rhea tidak berhenti merepet.
"Ck... sakit tauk..." Khey dengan berusaha menepis kedua tangan Rhea yang masih mencubit kedua sudut bibirnya.
"Khey itu sebel karena Doni gak main... iya kan Khey?!" Alya yang semula diam tak peduli, ambil suara.
"Enggak." Khey cepat.
"Enggak salah maksudnya, iya kan Rhe..." Alya dengan mengalihkan pandangan meminta persetujuannya.
"Ck... gak usah mikirin yang gak ada, nikmati aja pemandangan cowok cowok cakep di bawah sana." Rhea tidak ingin pembahasan tentang Doni menjadi panjang.
"Good... you are my bestie." Alya tersenyum lalu berteriak dengan tangan membentuk corong di mulutnya. "Farell good job... i love you!"
"Al... elo apaan sih bikin malu aja." Rhea dengan melotot.
"Ngapain malu sih, orang dia temen kita... anak tim basket sekolah kita kok." Alya cuek.
"Tapi kan enggak segitunya juga. Lagian yang banyak mencetak point itu Fabian bukan Farell." Rhea masih dengan melotot ke arah Alya.
"Tapi kan Farell juga masukin bola ke ring, mainnya juga bagus. Lagian aku lebih suka sama Farell kok dibandingkan Fabian, meskipun diantaranya tetep cakepan Fabian. Bagi gue tetep Farell yang terdepan, lagian Fabian udah mentok sama Khey. Gue gak mau jadi pelakor..." Alya diakhiri dengan tawa cekikikan.
__ADS_1
"Kok gue dibawa bawa sih, lagian kalian berdua ngapain sih ngeributin cowok gak jelas kek gitu." Khey makin kesal karena kedua sahabatnya pun meributkan Fabian tengil.
"Pyek... yang lagi galau gak ketemu pacar bawaannya pms mulu." Alya tidak peduli dengan kekesalan Khayyara.
Rhea menyikut lengan Alya, agar sahabatnya itu tidak menyinggung tentang Doni pada Khey. "Udah... berhenti debat."
Beberapa saat kemudian.
Para penonton yang adalah para remaja SMU tersebut mulai beranjak pergi meninggalkan tribun penonton karena pertandingan basket telah usai.
Para pemain basket pun terlihat mulai meninggalkan lapangan basket. Karena untuk pengumuman dan penyerahan kejuaraan akan dilakukan lain waktu.
"Pulang yuk." Rhea.
"Hayuk..." Alya segera meraih tas punggungnya.
Sedangkan Khey masih terlihat sibuk dengan ponsel pintarnya.
Ck... gak diangkat sih... Gerutu Khey dalam hati dengan kembali mencoba menghubungi ponsel Fabian tengil.
"Khey, elo pulang nggak?" Rhea bertanya karena sahabatnya itu terlihat masih enggan beranjak dari kursi penonton padahal di tribun sudah terlihat sepi, hanya segelintir anak yang masih berbincang dengan sahabat atau kekasihnya mungkin.
"Pulang lah." Khey tanpa menghentikan tangannya memencet tombol panggil pada ponsel pintarnya.
"Kalau pulang buruan keluar, keburu ketutup ini gedung." Rhea dengan menoleh sekilas pada Khey kemudian mengayunkan langkah kakinya menjauh.
"Iya iya..." Khey beranjak dari kursinya.
"Gue pulang sendiri aja." ucap Khey kepada kedua temannya setelah sampai di luar gedung olah raga.
Rhea dan Alya menatap Khey dengan kening yang sama sama mengerut.
"Doni?" Rhea dengan mata memincing.
Khey menggeleng.
"Bukan. Bokap ada di sekitar sini, sekalian gue minta bareng daripada elo berdua nganterin gue pulang." Khey memberikan alasan.
Khey sudah memikirkan alasan untuk membuat kedua sahabatnya itu tidak memaksanya untuk pulang bersama karena sesungguhnya Khey ingin pulang bersama dengan Fabian suaminya. Dan untuk alasan papanya hanyalah kebohongan Khey belaka.
Entah karena apa, Khey ingin pulang bersama Fabian tengil.
"Elo gak bohong kan Khey?" Rhea menyelidik.
"Enggak beneran, gue gak dijemput Doni kok. Chat gue yang dulu aja belum dibaca sampai sekarang." Khey meyakinkan kedua sahabatnya.
"Okey kalau gitu, kita berdua pulang duluan ya Khey." Putus Rhea lalu kedua sahabat tersebut bercipika cipiki dengan Khey, kemudian setelahnya memasuki mobil Rhea.
Sepeninggal kedua sahabat Khey.
Ting...
Sebuah tanda pesan masuk berbunyi dari ponsel pintar Khey yang masih dalam genggaman tangannya.
Tengil
Elo dimana
__ADS_1
Khey
Parkiran mobil sisi timur
Khey pun segera membalas chat Fabian dengan menyebutkan keberadaannya. Khey memang mengirimkan pesan pada Fabian tengil setelah dirinya tidak berhasil menghubunginya.
Khey menoleh ke belakang saat indra pendengarannya menangkap langkah kaki seseorang yang berlari ke arahnya.
Khey menarik kedua sudut bibirnya membingkai senyum saat melihat Fabian tengil berlari menuju dirinya.
"Kenapa belum pulang?" tanya Fabian saat sudah berada di hadapan Khey.
"Nungguin lo." Khey menjawab masih dengan senyum tipis yang membingkai wajahnya.
"Ngapain nungguin gue?" Fabian mengernyit.
"Pulang bareng."
"Elo gak bareng temen temen lo?" Fabian merasa heran karena Khey menunggunya untuk pulang bareng. Menurutnya itu bukanlah sifat Khey yang seharusnya. Karena Khey yang sebenarnya pasti akan memilih mengabaikannya dan memilih pulang dengan kedua sahabatnya.
"Mereka mau ngemoll dulu." Khey memberikan alasan, karena sesungguhnya dirinyalah yang menginginkan untuk pulang bersama Fabian.
Fabian terdiam sesaat, tak berapa lama kemudian meraih ponsel pintarnya dari saku celana pendeknya. Fabian saat ini sudah mengganti baju basketnya dengan kaos hitam dan celana pendek yang membuat remaja jangkung tersebut terlihat tampan.
"Rell ke parkiran, bawa kunci mobil lo." Fabian terdengar memerintah pada sahabatnya, lalu menutup begitu saja tanpa basa basi.
Dalan hati Khey tersenyum senang karena sudah dapat dipastikan jika Fabian akan membawanya pulang bersama, meskipun sebenarnya Khey tidak peduli jika Fabian akan memboncengnya dengan motor matic apemnya.
Beberapa saat keduanya menunggu.
Meskipun keduanya berdiri sejajar hanya berjalan beberapa senti saja namun Khey menutup mulutnya rapat, bingung untuk memulai percakapan. Semua terasa canggung saat ini.
Apalagi Fabian terlihat sibuk mengetik pada ponsel pintarnya setelah mengakhiri panggilannya dengan Farell.
"Nih... elo kalau nyuruh seenak jidat wae." Farell terlihat menggerutu dengan menyerahkan kunci mobilnya pada Fabian. Kemudian berlalu begitu saja meninggalkan pasangan suami isteri remaja tersebut.
"Thanks." Fabian datar, mengabaikan kekesalan Farell lalu memasukkan kembali ponsel pintarnya ke dalam saku celana.
"Elo bisa nyetir kan Ra?"
"Bisa..." Khey sedikit bingung.
"Nih... lo bawa mobil Farell. Gue gak bisa nganter lo, soalnya gue ada celebrate sama anak anak basket." Fabian dengan menyerahkan kunci mobil Farell ke telapak tangan istrinya.
Hah... Khey dengan wajah cengonya.
ππππ
My beloved readers, tengyu so much for :
Like ππ»
Vote π
Rate βββββ
Komen π
__ADS_1
Tambahkan favorit β€
Salam halu dari author yang narsis abishh ππ»ππ»ππ»