
Saat sampai di rumah Fabian dan Khey berjalan sejajar, Fabian membuka pintu rumah dengan kunci cadangan yang didapatnya dari Bik Mun karena Fabian sering pulang larut malam dan tidak ingin menganggu penghuni rumah mertuanya.
Pasangan remaja itu sampai di rumah tepat pukul sepuluh malam. Kondisi rumah terlihat remang karena hanya tinggal beberapa lampu yang menyala untuk penerangan. Kedua orang tua Khey sudah tidak nampak, sepertinya sudah tidur.
Fabian dan Khey pun segera menaiki tangga untuk menuju kamar mereka. Setelah sampai di lantai atas, lagi Fabian yang membuka pintu kamar untuknya dan sang isteri.
"Gue pakek kamar mandi duluan." Khey ngeloyor memasuki kamar mandi dengan membawa baju ganti yang telah diambilnya dari almari baju sebelumnya.
Hm... Fabian bergumam dengan melepaskan dasi yang membelit kerah lehernya dilanjutkan dengan membuka jas dan kemeja putihnya, kemudian duduk di atas ranjang tanpa melepas celana hitamnya.
Fabian meraih ponsel pintar dari saku jas yang masih diletakkan di atas ranjang, di samping tempatnya duduk. Membuka aplikasi chat pada ponsel pintarnya yang terlihat menampilkan puluhan notif panggilan serta pesan.
Fabian pun memencet aplikasi berlogo chat panggilan berwarna hijau tersebutvdengan sekali sentuh. Di sana terdapat beberapa panggilan tak terjawab dari teman temannya, terutama Nina yang memanggilnya hingga puluhan kali.
Lalu tangannya beralih membuka pesan yang juga memiliki banyak notifikasi pesan masuk. Pesan Nina yang mencari serta menyakan keberadaannya mendominasi pesan tersebut. Sepertinya Nina mengiriminya pesan berulang hingga puluhan. Fabian memilih mengabaikannya, toh dirinya tidak memiliki hubungan dengan Nina. Jadi tidak perlu memberikan konfirmasi kenapa dirinya pergi dari pesta ulang tahun Nina tanpa pamit terlebih dahulu.
Fabian memutuskan akan meminta maaf pada Nina besok saja saat bertemu di sekolah. Jika Nina merasa kesal akan kepergiannya dari pesta sweet seventeen gadis ombre tersebut.
Ibu jari Fabian mengetuk chat dari kontak Bella. Fabian ingin mengetahui apa isi chat gadis itu. Bagaimanapun dirinyalah yang membawa gadis itu datang pada pesta ulang tahun tersebut.
Bella
Fabian sorry gue pulang duluan
Doni jemput gue
Tanks udah mau gue gangguin
Begitu isi chat Bella yang pertama. Kemudian dilanjut dengan chatnya yang kedua.
Gue baik baik saja kok, gak usah khawatir
Doni gak nyakitin gue
Sorry ya Fab kalau lo bingung nyariin gue
Piisssβπ»βπ»βπ»βπ»
__ADS_1
Fabian menghembuskan nafas lega setelah membaca chat dari Bella.
Syukurlah kalau lo baik baik aja.
Balas Fabian pada chat Bella.
Meskipun rasanya untuk Bella telah bergeser, beralih pada Khey namun bukan berarti Fabian bisa begitu saja mengabaikan gadis yang pernah mengisi hatinya tersebut. Karena selana ini hubungannya dengan Bella sangat baik.
Tak berapa lama kemudian Khey keluar dari kamar mandi dengan menggunakan piyama tidur berwarna biru cerah dengan gambar tokoh kartun bulat bulat yaitu doraemon.
Fabian menggeser duduknya agar Khey segera naik ke atas ranjang dan cepat tidur untuk melupakan masalah yang membuatnya sakit hati.
"Elo mau tidur dengan telanjang kek gitu?" Khey tanpa memandang wajah Fabian karena takut khilaf dengan tubuh atas Fabian yang naked.
Fabian yang semula masih fokus pada layar ponselnya, mendongak sesaat. "Gue nungguin lo selesai, mau mandi sekalian. Gerah." lalu meletakkan ponsel di atas nakas.
Kemudian beranjak berdiri dari ranjang dengan membawa kemeja putih serta jasnya memasuki kamar mandi.
Sepeninggal Fabian Khey segera menaiki ranjang untuk tidur. Tak butuh waktu lama gadis itu tertidur pulas dengan dengkuran lirih keluar dari mulutnya yang sedikit terbuka.
Pagi ini Fabian merasakan ada beban di perutnya. Saat mendongakkan kepala diliriknya kepala Khey memakai perutnya sebagai bantal tidur, sepertinya gadis bar bar itu tidak menyadarinya.
Fabian melirik jam yang bertengger di dinding kamar Khey. Jarum jam dinding tersebut menunjuk angka lima. Fabian pun bergerak merubah posisi, berusaha menegakkan tubuh atasnya untuk bangun.
Khey terlihat tidak bergerak sedikitpun, sepertinya Khey tidak terganggu akan pergerakan Fabian. Dengan hati hati Fabian berusaha duduk, namun tanpa disangka pergerakannya malah membuat kepala Khey merosot ke bawah. Terlihat seperti hendak menguasai tubuh bagian bawah Fabian.
Fabian mengeram, ternyata pergerakannya membuatnya terjebak ke dalam masalah. Di tengah usahanya untuk segera bangun malah membuat pabrik kecebongnya harus menyalakan mesin di pagi buta.
Fabian menghembuskan nafas hingga membuat kedua pipinya menggembung. Menggerakkan kedua bola mata sembari berfikir bagaimana menyingkirkan kepala Khey dari atas pabrik kecebongnya yang mulai menyalakan mesin pemanasnya. Jika Fabian tidak segera menyingkirkan wajah Khey dari posisinya saat ini, sudah dapat dipastikan jika uap mesin pabrik kecebongnya bakal membumbung tinggi dan siap bekerja.
Puk... puk...
Fabian menepuk pipi Khey pelan, berusaha membangunkan gadis itu. Akan tetapi Khey hanya mengeluh sembari menggerakkan pipi semakin menggesek pabrik kecebong Fabian yang mengeras.
Hek
Fabian menelan salivanya kelat, keringat dingin mulai membaluri permukaan kulit tubuhnya.
__ADS_1
Dalam hati Fabian mengumpat, karena harus menahan pabrik kecebongnya yang semakin membuat celana pendeknya mengetat.
Bagaimanapun Fabian adalah lelaki normal yang pastinya akan bereaksi saat mendapati moment akward seperti saat ini. Beruntung Khey dalam keadaan menutup mata, jika tidak pasti akan membuat Fabian khilaf dan sudah dapat dipastikan akan menyalakan mesin pabrik kecebongnya untuk memenuhi kuota pesanan kecebong.
Iya kan bang Bi...
Fabian pun berusaha mendudukkan tubuhnya kembali, setelah berhasil perlahan kedua tangan Fabian menangkup kepala Khey. Mengangkatnya perlahan dan meletakkannya pada ranjang.
Huft...
Fabian membuang nafas lega setelah berhasil melewati situasi yang cukup membuatnya bermandikan peluh di pagi yang dingin ini.
Setelah mengambil nafas lega, Fabian menggeser tangan Khey yang masih bertengger nyaman di atas pabrik kecebongnya agar Fabian dapat segera pergi ke kamar mandi.
Namun sayang, bukannya berhasil akan tetapi Khey malah mengeratkan pelukannya pada pinggang Fabian dengan mulut yang mencecap seolah tak rela jika ditinggalkan oleh Fabian tengil.
Fabian melirik Khey, ternyata gadis itu memeluknya dengan kedua mata yang masih terpejam.
"Ra... bangun, bentar lagi sekolah." Fabian berusaha melepaskan tangan Khey dari pinggangnya.
"Ngghh..." Khey menggumam tidak jelas.
"Ra... bangun, nanti kesiangan." kali ini Fabian dengan menepuk pipi Khey sedikit lebih keras.
Khey perlahan membuka matanya. "Masih ngantuk Bi." ucapnya malas karena merasa terganggu.
"Lepasin tangan lo, biar gue mandi duluan." Fabian dengan menatap mata Khey yang masih mengerjap berusaha terbuka sempurna.
"Mau mandi mandi aja, ngapain ganggu gue sih." Khey menggerutu dengan terlihat berusaha membuka kelopak matanya agar terbuka lebar.
"Gimana gue bisa mandi kalau lo gak mau lepasin tangan lo dari tubuh gue." Fabian memberi tanda dengan melirik tangan Khey yang masih bertengger nyaman pada pinggang Fabian.
"Udah." Khey menarik kasar tangannya dari tubuh Fabian, lalu kembali memejamkan matanya karena masih sangat mengantuk.
Fabian bukannya tidak menginginkan Khey memeluk tubuhnya, melainkan dirinya sudah tidak dapat menahan bagian inti tubuhnya yang berdenyut ingin disalurkan. Akhirnya dia pun dengan segera memasuki kamar mandi, Fabian tidak sabar harus segera membuat pabrik kecebongnya mematikan mesin pemanasnya.
ππππ
__ADS_1