Mendadak Nikah 2 (Married By Accident)

Mendadak Nikah 2 (Married By Accident)
MBA 143


__ADS_3

"Abi... Ara..."


Gubrak....


Khey tanpa sadar, segera beranjak berdiri dan mendorong kuat Fabian hingga tubuh suami jangkungnya itu terjerembab beserta kursi duduknya.


Khey membola, mulutnya menganga saat melihat Fabian terjungkal di hadapannya, mengaduh dan mengusap bokongnya.


"Maaf ayah nggak bermaksud ngagetin, ayah sama bunda cuma mau pamit aja." Ayah dengan senyum dikulum. Sedangkan bunda memandang kaget pada kejadian yang menimpa anak lelakinya. Namun tetap saja tidak bisa menyembunyikan raut wajah yang menertawai sang anak.


"Makanya Bi, lakukan di kamar jangan di sembarang tempat. Jadi gatot kan..." Bukannya menolong, Bunda malah terkesan mengejek.


Fabian menoleh ke arah kedua orang tuanya berada. Menampakkan wajah kesal.


"Bukannya nolong malah ngejekin." gerutu Fabian kesal.


Khey hanya terdiam di tempat, menundukkan wajah. Bingung harus berbuat apa. Yang jelas kentara adalah rasa malu yang pasti membuat kedua pipinya merah layaknya udang rebus.


Ah... sudah kesekian kalinya Fabian membuatnya malu di depan kedua mertuanya.


"Enggak sakit kan Bi?" Ayah masih di tempatnya, tidak ada sedikitpun keinginan untuk membantu sang anak.


"Enggak!" Fabian ketus.


Ayah pun terkikik.


"Ara bantu Abi tuh." Bunda ingin tertawa namun ditahannya.


"Eh iyya bbun..." Khey tergagap, segera menhayunkan langkah mendekati Fabian yang masih terdufuk di tempatnya.


"Jangan dilanjut di sini ya Bi, lanjutin di kamar aja. Kasihan kalau embak embaknya tahu pasti mereka jadi pengen. Nanti kalau mereka rame rame memutuskan buat nikah, bunda yang repot." Peringat Bunda dengan nada yang tetap saja menggoda Fabian.


Embak embak yang dimaksud sang bunda adalah asisten rumah tangga mereka yang memang memiliki beberapa yang masih muda dan belum menikah.


"Iya tauk." Fabian tanpa memandang pada sang bunda. Melainkan memilih mengangsurkan tangan pada Khey, untuk meminta bantuan berdiri.


Khey pun segera mengulurkan tangan, menyambut uluran tangan Fabian.


"Ya udah bunda sama ayah berangkat. Ingat lanjut di kamar aja." peringat bunda kembali. Kali ini lebih menekan kalimatnya saat berbicara. Selanjutnya melambaikan tangan seraya menggandeng tangan ayah dan beranjak pergi dengan tersenyum simpul.


"Iya." sahut Fabian dan Khey hampir serempak.


"Kalau bosen di kamar, ke hotel ayah aja Bi... Biar sensasinya beda." Ayah dengan melenggang pergi. Sontak mendapatkan cubitan kecil pada pinggang dari sang isteri.


"Adoww... sakit Bun..." Ayah dengan meringis kecil.


"Makanya jangan ngajarin yang enggak enggak."


"Cubit yang kenceng bun, kalau perlu cubitnya pakek kuku." Teriak Fabian dengan kekeh senang.


"Bian apaan sih... nggak usah tereak tereak." Khey dengan memegang pergelangan tangan sang suami.


"Biarin. Mereka juga ngeledekin kita kok."


Setelah kedua orang tua Fabian menghilang dari pandangan mereka.

__ADS_1


"Sakit banget Bi?"


"Menurut lo."


"Sorry... habisnya gue kaget sih." Khey jujur. Karena memang itulah yang menimpanya dirinya tadi.


"Untuk kepala gue aman, nggak kepentok lantai." Fabian manyun.


"Sorry deh sorry, gue beneran nggak sengaja. Ayo cepetan bangun, gue bantuin." Khey dengan melakukan gerakan menarik lengan Fabian dengan kedua tangannya.


"Lo berat juga ternyata." Khey menarik dengan sekuat tenaga namun tubuh jangkung Fabian seperti tidak mau beranjak dari lantai.


"Kemaren malem aja lo kuat nopang tubuh gue, nggak keberatan. Kenapa sekarang nggak kuat, cuma narik doang." Fabian sesungguhnya menggoda Khey, karena dia sengaja memaku tubuhnya.


"Ittu beda kasusnya Bi." Khey tersipu malu. Mengingat percintaan mereka saat itu menghadirkan sensasi gelenyer aneh pada tubuh Khey. Mau tak mau membuat Khey salah tingkah.


"Bedanya dimana?" tanya Fabian dengan mengikis jarak wajahnya.


"Abi!" Khey mendorong dada Fabian agar sedikit memberi jarak.


"Enggak usah bahas itu kenapa sih." Khey dengan kedua pipi yang menghangat. Sudah dapat dipastikan bahwa kedua pipinya merona merah bak kepiting rebus saat ini.


"Kenapa emangnya, bikin pengen lagi ya..." Lagi Fabian mendekatkan wajah, menggoda.


"Bbi..." Khey tertahan karena Fabian telah mengecup singkat bibir mungilnya.Seketika Khey memalingkan wajahnya, menghindar dari tatapan Fabian yang sungguh menggoda.


"Mau diulang lagi?" Fabian semakin menggoda Khey yang telah memalingkan wajah malu.


"Jangan bahas kek gitu." Khey dengan menggigit bibirnya. Jujur saja detak jantung Khey sudah tidak karuan.


Bukannya berhenti Fabian makin gencar menggoda Khey. "Gue juga nggak nolak lo yang."


Fabian tersenyum. "Godain elo, keknya jadi menu wajib gue deh."


"Ck... apaan sih." Khey tersipu.


"Liat pipi lo yang merah kek gini jadi pengen makan." Fabian dengan mengusap salah satu pipi Khey dengan ibu jarinya. Tak lupa memberikan tatapan intens pada Khey, seolah meluapkan rasa membuncah dari dalam hatinya.


"Apaan sih Bi... Inget pesen bunda tadi, jangan di sini. Suruh lanjutin di kamar kan..." Tanpa sadar ucapan Khey memancing Fabian untuk semakin menggodanya.


"Jadi kalau di kamar boleh nih lanjut sepuasnya?" Fabian mengerling.


"Eng ggak gittu Bi..." Khey tergagap.


"Terus..." Fabian memperpendek jarak wajah mereka.


"Lanjut di sini aja, gitu..." Fabian dengan nada yang dibuat mendesah tepat di telinga sang isteri.


Bugh...


Khey menepuk dada Fabian. "Mesum banget sih jadi orang."


"Mesum sama isteri sendiri sah sah aja kan yang..."


Membuat Khey memandang Fabian segera.

__ADS_1


Set


Kedua pasang manik hitam itu saling bersitatap.


Deg.


Jantung Khey kembali berdetak lebih cepat saat kedua pasang matanya bertemu dengan manik hitam suaminya.


Memaku pandangan, menyelami dalamnya rasa masing masing.


Tanpa sadar, Khey memajukan wajah perlahan dengan pandangan fokus pada satu titik. Bibir saja suami.


Dalam hati Fabian tersenyum melihat aksi Khey.


Dengan sengaja Fabian mengikuti alur, menggerakkan wajahnya maju.


Pada saat jarak wajah mereka hanya beberapa senti saja.


Set... hap...


"Abbi!!" Khey berteriak kaget.


Karena tetiba tubuh Khey sudah berada dalam gendongan tangan Fabian.


Entah bagaimana Fabian melakukannya secepat itu.


Yang pasti saat ini Fabian berdiri dengan terkekeh, mengayunkan langkahnya dengan Khey dalam gendongan tangannya.


"Lanjutin di kamar aja, biar bisa bebas sepuasnya."


Khey membola.


"Tapi Bi... gue berat."


"Nggak seberat karung beras." Fabian melawak.


"Tapi kan harus naik tangga."


"Nggak papa, gue lama udah nggak nge gym." Fabian dengan menaiki anak tangga.


Mau tak mau Khey segera mengalungkan kedua tangan pada leher Fabian. Menyusupkan wajah pada ceruk leher sang suami.


πŸ“πŸ“πŸ“


Bi


Papa Ara masuk rumah sakit


Sepulang sekolah kalian jenguk sekalian.


Isi pesan singkat dari sang bunda membuat Fabian menghentikan langkahnya saat hendak menuju kantor kepala sekolah.


Sesaat Fabian menghembuskan nafas berat setelah membaca pesan dari bunda. Setelahnya memasukkan benda pipihnya ke dalan saku celana. Mengurungkan niat awal, memilih memutar arah untuk menuju kelas Khey.


Beberapa saat melangkah, kening Fabian mengerut.

__ADS_1


"Ara... Doni..." Fabian menggumam.


😍😍😍😍


__ADS_2