Mendadak Nikah 2 (Married By Accident)

Mendadak Nikah 2 (Married By Accident)
MBA43


__ADS_3

"Elo ngapain sih Rhe tadi pakek nendang kaki gue segala." Alya bertanya berbisik dengan raut wajah yang tertekuk kesal.


Saat ini Rhea, Alya dan Khey sedang berjalan menuju kantin, namun dengan posisi Khey di depan mendahului keduanya dengan tidak berhenti fokus pada ponsel pintarnya.


"Elo jadi temen gak peka banget sih Al, liat wajah Khey yang gak enak dipandang gitu. Elo mau bikin wajah Khey jadi lebih serem." Rhea pun dengan berbicara sepelan mungkin agar Khey tidak mendengar pembicaraan mereka berdua.


"Tapi kan Khey harus liat kebenarannya. Khey harus tau kalau Doni gak sebaik yang dia pikir. Elo juga liat kan gimana kemaren mereka pelukan mesra dengan cewek itu. Apalgi mereka berdua gak cuma pelukan tapi..." Alya memonyongkan bibir ke arah Rhea.


"Ck... elo apaan sih Al, gue cewek... jijik gue kalau sampai bibir lo mendarat ke bibir gue." Rhea mendorong wajah Alya ke arah lain.


Alya terkikik.


"Tapi elo juga liat kan mereka berdua lagi itu." Alya masih terkikik dengan berucap lirih.


"Gak usah diomongin." Rhea mencebik.


"Rhe..."


Hemm...


"Elo sepemikiran gak sama gue?" Alya dengan sedikit bergumam.


"Maksud lo...?"


"Khey... temen kita..."


"Kenapa dengan Khey?" Rhea mengernyit.


"Saat kencan sama Doni juga gitu enggak ya..." otak Alya mulai berfikir negatif tentang sahabatnya.


"Otak lo jangan ngeres... Khey temen kita, kita harus percaya sama dia." Rhea memukul pelan kening Alya.


"Tapi gue gak bisa nyingkirin itu dari otak gue Rhe... apalagi Doni yang kita liat cool banget kek gitu ternyata hiiii...." Alya bergidik ngeri.


Maklum Alya belum pernah merasakan pacaran, bukan karena wajahnya yang jelek melainkan otaknya yang sedikit lola dan gak peka membuatnya tidak bisa menyadari jika ada yang menyukainya dan lagi dirinya yang tumbuh dalam keluarga yang harmonis membuatnya tidak mencari rasa sayang di luar keluarganya seperti yang Khey alami.


"Gue yakin Khey gak seperti itu." Rhea dengan memandang sahabat di depannya yang terlihat gelisah dengan berkali kali menaruh ponsel di telinganya lalu memandangnya begitu berulang kali. Terlihat frustasi karena tidak ada yang menjawab telfonnya.


"Entahlah... gue harap juga gitu, meski gue gak tau pasti. Apalagi jika mengingat Doni yang seperti kemarin." Alya kembali menggedikkan bahunya karena mengingat kelakuan Doni.


"Otak lo sekali liat yang begituan langsung aja mengendap." Rhea dengan menyentil pelan kening Alya.


"Habisnya live sih... sensasinya beda sama yang record...." Alya dengan senyum kecilnya dan mengusap keningnya yang tidak seberapa sakit.


"Udah... hapus itu semua dari memori otak lo kalau elo gak pengen semakin lola." Rhea memperingati Alya dengan melotot.


"Iye... iye... galak amat sih mak." Alya mengerucutkan bibirnya.


"Eh Rhe... kenapa sih elo milih nutupin kelakuan Doni, bukane lebih baik kita kasih tahu aja biar Khey tahu kelakuan Doni yang sebenarnya. Kasian kan kalau sahabat kita dipermainkan kek gitu..." Alya dengan berbisik.


"Elo tau kan kalau Khey itu batu, kalau kita ngomong tanpa bukti dia gak bakalan percaya Al. Kita harus kasih bukti kuat buat ngasih tau siapa Doni yang sebenarnya, kalau cuma ngomong doang kita bisa dibilang fitnah. Elo mau persahabatan kita ancur?" Rhea berkata dengan tak kalah berbisik, bahkan sengaja memperlambat langkah kakinya agar jarak mereka dengan Khey cukup jauh.


Alya manggut manggut. "Gitu ya... kirain lo tega sama sahabat kita."


"Ck... elo pikir gue temen yang seperti apa Al..." Rhea dengan wajah kesalnya.


"Hehe sorry... kan gue cuma mikir..." Alya dengan membentuk v pada kedua jarinya.


Hingga akhirnya ketiganya pun sampai di kantin sekolah saat ini.


"Kalian mau makan apa?" Khey dengan masih berdiri, sedangkan Alya dan Rhea sudah duduk di bangku kantin yang kosong.

__ADS_1


"Gue mau soto aja sama es teh." Rhea mengatakan pesanannya.


"Elo Al?" Khey beralih pada Alya yang masih terlihat bingung.


"Emmm.... apa ya, gue.... siomay aja deh sama teh anget." putus Alya kemudian


Khey pun segera beranjak mendekati booth makanan di kantin untuk memesan makanannya.


"Buk minta dua soto, satu siomay sama minumnya es teh satu, teh angetnya dua." Khey menyebutkan pesanannya.


"Iya neng.... biar nanti Pak Maman yang mengantar ya." jawab pengelila kantin di sekolahnya dengan ramah.


"Siiip... Khey tinggal ya Bu... Terima kasih." Khey pun melenggang pergi setelah mendapatkan sahutan dari ibu pengelola kantin.


Brug...


Khey menghempaskan tubuhnya di sebelah Rhea dengan sedikit kasar.


"Kalian berdua ngomongin apaan sih, perasaan dari tadi bisik bisik mulu..." Khey dengan o


pandangan sedikit curiga.


"Eh... Khey, enggak bisik bisik kok. Cuma pelan pelan aja soalnya kita lagi ngobrolin Farell temennya Fabian yang ternyata jago basket itu." Rhea memberikan alasan pada Khey.


"Elo berdua suka sama dia?" Khey menyelidik.


Rhea dan Alya sedikit tergagap.


"Eng _ggak kok." Rhea dan Alya hampir bersamaan dengan cepat menggoyangkan kedua telapak tangan mereka ke udara.


"Terus...?" Khey memandang keduanya curiga.


"Anu... itu..." Alya yang tidak terbiasa berbohong terlihat bingung.


Khey memandang Rhea penuh selidik.


"Nggak usah gitu banget liatin gue... wajar kan kalau kita suka liat penampilan yang bikin mata cling." Rhea memutus pandangan mata Khey dengan berpaling ke arah Alya.


"Iya kan Ya...?" Rhea meminta persetujuan Alya agar Khey tidak melihat kebohongan di matanya.


"Iya. Dengan liat Farell, siapa tau aja Rhea cepet move on dari Davin... iya kan Khey?" Alya cengengesan sembari mengerlingkan matanya ke arah Rhea.


Rhea pun mencebik, tidak menyangka jika alasan yang dibuatnya malah dilempar balik kepadanya oleh Alya. Namun demi menutupi kebenarannya, Rhea tidak memperpanjangnya.


Hingga pesanan ketiganya datang, membuat perhatian ketiga gadis itu teralihkan.


Ketiganya pun mulai menikmati makanannya.


Beberapa saat setelahnya.


"Hai... cantik, gue gabung sini ya..." Jackson dengan tanpa menunggu persetujuan Khey, Rhea dan Alya langsung mendudukkan diri di samping Alya.


"Belum dikasih ijin jugak main duduk aja." Alya jutek.


Jackson terkekeh kecil.


"Eneng cantik jangan jutek gitu ntar susah jodoh loh." Jackson menggoda Alya yang cemberut.


"Biarin." Alya ketus.


"Eh... eh... anak perawan kalau jutek kek gitu ntar kalah sama janda tau rasa." Jackson.

__ADS_1


"Enak aja perawan cantik kek gini dibandingin sama jendes." Alya geram.


Jackson tertawa melihat raut wajah Alya yang memerah karena geram.


Khey dan Rhea terlihat menggelengkan kepala melihat keributan antara Jackson dan Alya sahabatnya.


"Rell... Fab... duduk sini aja sama cewek cewek cantik." Jackson berseru dengan kembalikan tangan saat melihat kedua sahabatnya memasuki kantin.


Farell dan Fabian pun berjalan ke arah meja di mana Jackson, Khey dan jelas temannya.


Farell duduk di sebelah Jackson kemudian disusul oleh Fabian. Alya yang merasa kesempitan pun menggeser tubuhnya ke samping Rhea. Sehingga kini posisi duduk mereka adalah Fabian berhadapan dengan Khey, Farell dengan Rhea dan Jackson berhadapan dengan Alya.


Ini adalah pertama kalinya Khey duduk bersama di kantin sekolah semenjak statusnya menjadi isteri Fabian, Khey merasa tidak nyaman dengan posisi tersebut.


Entah mengapa dirinya merasa grogi duduk berhadapan dengan Fabian tengil, tidak seperti biasanya sebelum menikah. Padahal sebelumnya dia merasa biasa saja, meskipun seringkali rasa kesal mendera saat pada posisi seperti ini. Tapi untuk saat ini Khey merasa tidak biasa, padahal Fabian terlihat santai saja.


Khey menghentikan makannya meskipun dirinya baru saja makan beberapa suap, menyesap teh hangatnya lalu terlihat hendak beranjak.


"Mau kemana Khey, elo belum selesai makan?!" Rhea memandang Khey bingung.


"Balik kelas." Khe berdiri.


"Duduk! Habisin makan lo!" Tetiba Fabian bersuara dengan intonasi yang cukup tinggi.


Khey memandang Fabian terkejut. Bagaimana bisa Fabian berbicara seperti itu di tengah teman temannya, bagaimana jika teman teman mereka curiga, namun Khey juga tidak mau mengabaikan titah suaminya.


"Habisin makan lo, jangan buang buang makanan. Cari duit itu gak gampang, elo gak kasihan sama orang yang sudah berjuang memenuhi kebutuhan lo." Fabian terdengar dingin dan menusuk, jangan lupakan kedua manik hitamnya yang menatap tajam Khayyara.


Hek.


Khey tercekat, menelan salivanya kelat. Dalam benak Khey terlintas bagaimana Fabian tengil selalu pulang malam untuk melakukan pekerjaan markirnya, karena setahunya Fabian bekerja sebagai tukang parkir dan itu untuk dirinya.


Kelebatan wajah lelah Fabian silih berganti melintas di benaknya, membuat Khey membeku di tempatnya. Akhirnya Khey pun memutuskan kembali duduk, saat matanya melirik sekilas pada tatapan tajam Fabian untuknya.


"Di luar sana masih banyak orang yang tidak bisa menikmati makan, kalau lo gak laper mending elo gak pesen makanan dari awal." Fabian masih dengan nada dingin.


Mau tak mau Khey kembali duduk dan memakan sotonya dengan menunduk, entah rasanya tak sanggup jika harus menatap Fabian. Apalagi sikap Fabian terlihat datar dan dingin tidak tengil seperti biasa sebelum keduanya menikah. Kenapa dia jadi berbeda sih... Khey membatin.


Rhea, Alya bahkan Jackson terlihat terheran dengan sikap Khey yang menurut pada Fabian tanpa mengucap sepatah katapun. Pemandangan itu tidak biasa menurut mereka karena Khey yang biasanya pasti akan menyela bahkan mungkin mengabaikan Fabian dengan segera pergi dari sana.


Sekarang???


Mereka bertiga hanya bisa saling pandang dengan berbagai pertanyaan di benaknya masing masing.


Sedangkan Farell terlihat biasa saja karena dirinya sudah tahu status hubungan Fabian dan Khey.


"Gue pesenin makan dulu." Farell beranjak dari duduknya.


😍😍😍😍


My beloved readers, tengyu so much for :


Like πŸ‘πŸ»


Vote πŸ”–


Rate ⭐⭐⭐⭐⭐


Komen πŸ’‹


Tambahkan favorit ❀

__ADS_1


Salam halu dari author yang narsis abishh πŸ’ƒπŸ»πŸ’ƒπŸ»πŸ’ƒπŸ»


__ADS_2