Mendadak Nikah 2 (Married By Accident)

Mendadak Nikah 2 (Married By Accident)
MBA132


__ADS_3

"Sekarang ya yang..." Fabian dengan nafas menderu.


"Pelan pelan ya Bi..." Khey dengan tubuh yang menegang. Reaksi alami yang menyergap tubuh Khey karena bagaimanapun ini adalah pengalaman pertamanya.


"Gue janji bakal pelan."


Lalu Fabian menegakkan tubuhnya. Mengarahkan tuas panjang pabrik kecebongnya yang mengeras sejak tadi ke gua rimbun di bawah sana.


Khey menutup kedua matanya saat merasakan gesekan benda asing pada inti tubuhnya. Tuas panjang yang keras itu mendorong lembut sedikit demi sedikit.


Sesekali Khey menelan salivanya kelat, seraya menggigit bibir bawahnya saat merasakan sedikit nyeri pada inti tubuhnya.


Fabian menghentikan aksinya saat mendapati tubuh Khey yang semakin menegang, wajah cantik itu terlihat pias. Fabian menumpu tubuhnya dengan salah satu tangan, agar tidak memberatkan Khey.


"Kenapa? Takut?" Fabian mengusap titik titik peluh pada kening isterinya.


Kedua mata Khey yang semula tertutup rapat perlahan membuka.


"Nanti sakit banget nggak Bi?" tanya Khey dengan polosnya. Jujur saja Khey merasa sangat gugup saat ini.


Fabian tersenyum saat mendengar pertanyaan isterinya. Ternyata gadis yang biasanya bertingkah barbar itu bisa merasa takut juga.


"Gue juga nggak tau yang... katanya sih sakit." Fabian dengan tidak yakin, karena dia juga belum pernah merasakannya. Namun dalam hatinya berfikir, jika sangat sakit pastinya tidak ada yang mau melakukannya. Bahkan berulangkali.


"Beneran sampai nggak bisa jalan ya?"


Khey bertanya seperti itu karena dia sering mendengar cerita dari teman teman di sekolahnya.


Ingin rasanya Fabian tergelak mendengar pertanyaan Khey yang menurutnya kelewat polos tersebut, namun urung dilakukannya.


Wajah polos isterinya saat ini terlihat menggemaskan, apalagi saat kedua matanya mengerjap berulang. Sungguh rasanya tidak sabar untuk segera menerkam tubuh dalam kungkungannya tersebut.


Dalam hati Fabian terbersit ide untuk mengerjai isterinya. "Tergantung pilihan kamu yang."


"Maksudnya?" Khey dengan dahi mengerut. Layaknya anak kecil polos yang belum terkontaminasi hal hal negatif dunia maya.


"Kalau lo milih main sekali, masih bisa jalan tapi lo bakalan nggak bisa tidur semaleman. Tapi kalau lo memilih main sepuasnya pasti nggak bakal bisa jalan. Tapi lo bakalan tidur nyenyak sampek pagi." Fabian sengaja mengerjai isterinya. Karena sudah dapat dipastikan jika Fabianlah yang tidak rela jika hanya melakukannya sekali.


"Maksudnya gimana sih Bi?" Khey bingung. "Ulangi deh ngomongnya dengan pelan, biar gue paham."


Sabar jhon... Fabian dengan membatin. Sekuat tenaga menahan junior di bawahnya yang telah memberontak ingin disalurkan.


Fabian pun dengan terpaksa mengulangi pernyataannya kembali, Khey pun manggut manggut.


"Lo pilih yang mana?" tanya Fabian sedikit tidak sabar.


Emm...


Khey terlihat berfikir.


"Pilih yang bisa bikin tidur nyenyak aja deh..."


"Yakin?" Fabian.


"Iya, yakin. Enak kan kalau bisa tidur dengan nyenyak, bayangkan kalau nggak bisa tidur. Pasti ngantuk besok."


Sepertinya Khey masuk perangkap Fabian tengil.


"Good girl." Fabian dengan senyum seringai.


Semudah itu ternyata memasang jebakan pada gadis kecil bar barnya.

__ADS_1


Fabian menyusupkan wajah ke telinga Khey. Mendaratkan bibir basahnya di sana seraya memberikan gigitan kecil. Membuat Khey menggelinjang geli, namun mendamba sentuhan tersebut.


Setelahnya bergeser memberikan kecupan kecil pada seluruh permukaan kulit pualam sang isteri.


Desah nafas menderu keluar dari mulut khey yang sedikit terbuka. Membuat Fabian semakin bersemangat untuk menyentuh titik titik sensitif isterinya dengan jemari tangan kekarnya. Tidak lupa menggesekkan tuas panjangnya yang sudah meronta ingin memasuki pintu pabrik kecebong Khey untuk menyemburkan benih kecebong di dalamnya.


Merasakan tubuhnya memanas, Fabian segera mendaratkan bibirnya pada bibir Khey. Mencium dan menyesap bibir yang telah menebal itu dengan lembut. Menempatkan tuas panjang pada pintu masuk pabrik pencetakan kecebong sembari mendorong tubuhnya lebih ke dalam lagi.


Sulit dan sempit saat Fabian berusaha menerobos pintu masuk pabrik kecebong sang isteri.


"Akhh... sak_kkit" Rintihan khey terdengar saat hentakan kuat Fabian mampu menerobos pintu pabrik pencetak kecebong sang isteri.


Fabian menghentikan aksinya saat mendapati cairan bening menetes di kedua sudut mata isterinya. Segera mengusap sudut mata berair tersebut dengan lembut menggunakan ibu jarinya.


"Rileks sayang jangan tegang." Bisik Fabian tepat di telinga sang isteri.


Fabian mendiamkan sebentar gerakan tuas panjangnya agar terbiasa dengan pabrik pencetakan kecebong yang baru saja berhasil diterobos olehnya.


Deru nafas memburu saling bersautan pada keduanya.


"Sakit banget ya..." Fabian memberikan kecupan kecupan kecil pada seluruh permukaan wajah sang isteri.


Tidak ada jawaban yang keluar dari mulut Khey, melainkan hanya memberikan anggukan kecil pada kepalanya.


"Maaf seharusnya gue melakukannya dengan lebih pelan." Fabian.


Khey tersenyum tipis. "Nggak papa Bi, masih bisa tahan kok."


Khey tidak ingin membuat Fabian merasa bersalah. Nyatanya saat ini, rasa nyeri itu perlahan menghilang.


"Lanjut lagi ya yang." Fabian setelah beberapa saat.


Khey kembali mengangguk.


Fabian segera memposisikan tubuhnya kembali, meraih kedua tangan Khey dan meletakkan di atas bahunya.


"Kalau lo ngerasain sakit, lakukan apapun sama tubuh gue. Jangan ditahan." Fabian dengan lembut. Kembali menyambar bibir Khey yang telah membengkak akibat ulahnya beberapa saat lalu.


Dengan lembut Fabian menyesap bibir Khey, menyesap dan mencecapnya. Melesakkan lidah memasuki rongga mulut Khey yang perlahan membuka.


Kembali Fabian memaju mundurkan tuas panjangnya ke dalam mulut gua rimbun sang isteri dengan perlahan saat merasakan tubuh Khey mulai rileks.


Fabian semakin mempercepat gerakan memaju mundurkan tuas panjang pabrik kecebongnya sembari mencecap setiap inchi rongga mulut Khey. Fabian tidak melepaskan tautan bibirnya agar pikiran Khey tidak terlalu fokus pada hentakan Fabian yang pastinya menimbulkan rasa sedikit nyeri.


Khey tanpa sadar mencengkeram kuat kedua bahu Fabian saat merasakan hentakan keras pada inti tubuhnya.


Akhh...


Khey mengerang saat merasakan pelepasan pertamanya. Pun begitu dengan Fabian.


Tubuh jangkung Fabian langsung ambruk di atas tubuh isterinya.


Heh... heh... heh...


Pasangan suami isteri remaja itu sama sama terengah setelah berada di puncak kenikmatan.


Perlahan Fabian menyingkirkan tubuhnya, menarik selimut untuk menutupi tubuh polos mereka hingga dada. Kemudian memposisikan diri berbaring tepat di samping sang isteri.


Cup...


Fabian mencium kening Khey dengan lembut.

__ADS_1


"Makasih yang, udah menjaganya buat gue."


Khey yang masih merasa malu hanya tersenyum, memandang suaminya sekilas kemudian memilih menatap langit langit ruang belajar sang suami yang besarnya hampir sama dengan kamar tidur mereka.


Fabian menarik tubuhnya sedikit menjauh karena merasa gerah akibat peluh yang tak berhenti menetes setelah aksinya mencetak kecebong beberapa saat lalu.


"Mau kemana?" Khey menahan lengan kiri Fabian.


"Nggak kemana mana, cuma kasih jarak aja. Gerah." Fabian mengatakan yang sebenarnya.


Cowok jangkung itu memang bermandi peluh saat ini, ingin memperbesar nyala pendingin ruangan namun Fabian tahu jika Khey tidak menyukainya. Untuk itu dia memilih membuat jarak dengan isterinya.


"Gue nggak mau jauhan ." Khey masih menahan lengan tangan sang suami.


Membuat Fabian menaikkan kedua alis matanya heran


"Lo nggak gerah yang?"


"Sedikit."


"Makanya gue menjauh dikit, biar nggak kegerahan."


"Gue nggak mau jauhan."


Lagi lagi Fabian heran dengan sikap Khey yang terkesan manja. Padahal selama ini gadis bar bar itu terlihat seolah mampu melakukan apapun sendiri.


"Gue cuma kasih jarak doang yang, nggak kemana mana." Fabian.


"Nyalain AC aja, biar lo tetap deketan sama gue." Khey kekeh.


"Baiklah."


Fabian meraih remot control pendingin ruangan dan menaikkan suhu dinginnya. Kemudian kembali merapatkan tubuhnya dengan sang isteri.


Fabian merentangkan tangan kirinya untuk memberikan bantalan pada kepala Khey. Dan gadis itu menerimanya.


"Gue maunya kek gini." Khey memiringkan tubuhnya seraya memeluk erat tubuh Fabian.


Tubuh keduanya yang masih sama sama polos membuat tuas panjang pabrik kecebong Fabian kembali menegang.


Fabian memejamkan kedua matanya sejenak.


"Ra..."


Hemm...


Khey bergumam dengan mata terpejam, tepat di dada bidang Fabian. Dengan santainya menduselkan wajah pada dada telanjang Fabian. Membuat Fabian harus menelan ludahnya dengan kesusahan.


Sungguh cobaan berat untuk tuas panjang pabrik kecebong Fabian.


"Elo mau tidur nyenyak kan?" Fabian dengan lembut.


"Iya." sahut Khey dengan menganggukkan kepala.


Lagi lagi gesekan wajah Khey pada dada bidang Fabian membuatnya terkesiap.


"Main lagi ya?"


Fabian kembali menindih tubuh sang isteri.


😍😍😍😍

__ADS_1


Maaf kalau kata katane rada mbulet kek sinyal yang lagi troubel.


Othor lagi agak kesusahan ini nyari kata yang tidak kena sensor admin🀭🀭🀭


__ADS_2