
"Gue suka kok kalau elo cemburu..." bisik Fabian di dekat telinga Khey.
Deru nafas hangat dari mulut Fabian membuat seluruh tubuh Khey menegang.
Gelenyer aneh yang disertai dengan sengatan bak aliran listrik yang menjalar membuat Khey tidak mampu berucap kata maupun menggerakkan tubuhnya.
"Jujur aja nggak usah bohong. Toh nggak ada salahnya kok cemburu sama suami yang deket sama cewek lain." Fabian masih di posisi yang sama.
"Elo cemburu kan yang...?!"
Khey menelan ludahnya kelat, kegugupan tetiba melanda dirinya.
"Engg..ggak... kok..." Khey dengan tersendat.
Kepala Fabian yang menyusup di belakang leher serta tubuh jangkungnya yang membelit bak ular piton pada tubuhnya membuat Khey kehilangan kewarasannya. Hinnga Khey pun tak mampu mengelak datangnya deguban jantung yang seolah berirama rampak gendang.
"Nggak usah malu Ra..."
Kali ini tangan kekar Fabian memaksa tubuh ramping Khey untuk menghadap ke arahnya.
Kedua pasang manik hitam suami isteri itu saling menatap, mengunci satu sama lain dan menghadirkan desir lirih di dalam hati keduanya.
Posisi Fabian yang tepat berada di atas tubuh Khey membuat keduanya saling merasakan irama degub jantung yang berdetak silih berganti.
Tanpa Fabian dan Khey sadari tatap mata keduanya semakin dalam, saling mengagumi kecantikan maupun kentampanan di hadapan masing masing.
Sejenak Fabian terbayang wajah Khey kecil yang manis dan imut saat itu. Meskipun gadis yang diberi label bar bar olehnya tersebut sering membuatnya kesal namun Fabian tetap mengakui kecantikan dan pesona isterinya tersebut.
Sedikit pun Fabian tidak pernah menyangka jika Khey dan dirinya akan menjadi pasangan suami isteri. Fabian pun memanjangkan sudut bibirnya saat kelebatan masa kecil mereka hadir di pelupuk matanya.
Sedangkan Khey tak kalah terpesona dengan pahatan sempurna bak dewa Yunani yang kini tepat di atas tubuhnya. Tatapan manik hitam itu sungguh meneduhkan dan membuatnya nyaman. Khey tidak dapat memungkiri jika makhluk Tuhan yang telah menjadi imamnya tersebut merupakan sosok yang sempurna baginya.
Kedua manik hitam Khey bahkan menolak untuk berkedip, seolah tak rela jika harus melewatkan setiap detik menatap wajah tampan Fabian tengil.
Deg... deg... deg...
Deguban jantung keduanya berdetak semakin intens.
__ADS_1
Dengan tidak berhenti menelisik dan mengagumi kecantikan wajah cantik isterinya, Fabian semakin menipiskan jarak wajahnya. Manik hitamnya bergerak, menatap intens bibir pink di bawahnya yang sedikit terbuka.
Cup...
Akhirnya bibir Fabian mendarat sempurna di atas bibir ranum milik Khey, membuat gadis itu terhenyak.
Dengan lembut bibir Fabian bergerak, ******* serta memagut manisnya bibir pink milik isterinya.
Perlahan kelopak mata Khey mengatup, mengikuti irama manis yang telah Fabian mulai sebelumnya. Khey yang semula hanya diam perlahan membuka mulutnya. Membiarkan Fabian menjelajah setiap inchi rongga mulutnya. Khey pun membalas dengan menggerakkan lidah, membelit, mencecap dan mencicipi manisnya ciuman dari lelaki yang telah sah menjadi miliknya.
Seolah mendapat lampu hijau dari gadis bar bar di bawahnya, telapak tangan kekar Fabian mulai bergerak menyusuri benda kenyal yang membusung, terlihat mengejek jiwa lelakinya.
Pakaian atas Khey yang transparan dan cukup ketat membuat telapak tangan kekar Fabian seolah memiliki magnet untuk menempel dan meremas benda kenyal bak squisi itu.
Lenguhan lirih lolos dari bibir Khey, membakar hasrat kelakian Fabian untuk memperoleh kepuasan lebih dalam.
Himpitan tubuh Fabian pun membuat blus yang Khey kenakan mengetat. Penutup gunung kembar berwarna hitam pekat tersebut, tercetak jelas dibalik blus putih transparan yang Khayyara kenakan. Membuat Fabian terbakar hasrat untuk melihat keindahan di dalamnya.
Dengan lincah jari jemari kekar itu membuka kaitan kancing baju atas yang Khey kenakan, menyisihkan dan membuang sembarang seluruh penghalang ke sembarang arah.
Khey yang terjebak oleh kenikmatan sentuhan dari Fabian pun tak menyadari aksi suami tengilnya. Tubuhnya seolah menginginkan lebih, tidak lagi memperdulikan tangan Fabian yang tidak berhenti merayapi gunung kembarnya yang telah polos. Tanpa sadar Khey telah jatuh dalam jeratan pesona Fabian tengil.
Bulir keringat yang menetes pada keduanya tidak serta merta membuat keduanya berhenti.
Tangan kecil Khey mulai merangkak di belakang tubuh Fabian. Memberi usapan lembut, menyusup ke dalam seragam sekolah Fabian hingga kulit tangannya bersentuhan langsung dengan punggung Fabian.
Jiwa mudanya seolah terseret magnet kenikmatan yang baru pertama kali ia rasakan. Jemari nan lentik itu bergerak bebas melepaskan kancing baju seragam Fabian, membuat tubuh bagian atas keduanya sama sama polos. Saling bersentuhan, menempel tanpa adanya pembatas sehelai benang pun.
Gelitik kecil yang beriringan dengan sensasi gelenyer aneh saat kedua kulit polos itu bersentuhan dan bergesekan membuat keduanya semakin rakus meraup manisnya kegiatan percintaan mereka.
Fabian melepaskan pagutannya saat merasakan nafas Khey tersengal. Menjauhkan wajahnya sejengkal. Senyumnya terbit saat mendapati kedua kelopak mata Khey masih tertutup rapat dengan nafas yang menderu.
Fyuhhh...
Fabian meniup lembut wajah isterinya, membuat Khey perlahan mengerjapkan mata.
Khey terhenyak saat mendapati senyum menawan Fabian tepat di atas wajahnya.
__ADS_1
"Mau lagi?" Fabian tanpa memutuskan pandangan dengan suara serak.
Glek...
Khey menelan ludahnya kelat, rasa hangat tetiba datang menimbulkan semburat merah malu pada wajah putihnya.
Khey pun memalingkan wajahnya, lidahnya terasa kelu. Mulutnya membungkam, sepatah kata pun tak mampu dia keluarkan.
Dalam hati merutuki kegilaannya bersama Fabian tengil beberapa saat lalu. Bagaimana bisa dirinya terhanyut dalam sentuhan Fabian yang seolah mampu membawanya terbang ke langit ke tujuh tanpa sedikitpun menolaknya. Padahal selama ini Khey selalu memberontak menolak saat Fabian mencoba merayunya.
Fabian kembali mengikis jarak wajahnya meskipun Khey hanya diam dan memalingkan wajah darinya. Kali ini pemilik bibir tebal nan sexy itu menyasar leher putih milil Khey. Menyusuri leher jenjang itu dengan sesekali menyesapnya lembut, meninggalkan jejak memerah yang sangat kontras dengan kulit Khey yang putih.
Tak hanya di sana bibir tebal itu bergerak turun, mulai merambah serta menjelajah bukit kembar di bawahmya.
Hasrat kelakian Fabian yang sudah menggelora tidak melawatkan satu inchipun lembah bukit kembar milik sang isteri. Perlahan bergerak menaiki puncaknya, meraup rakus hingga membuat Khey mendesis lirih. Dalam hati kecil Fabian tersenyum senang.
Khey yang semula berpaling pun kembali memposisikan wajahnya seperti semula.
"Bi..." desis Khey lirih.
Fabian mengabaikannya, cowok jangkung nan tampan itu telah keasyikan dengan mainan barunya.
Hishh...
Khey kembali mendesis saat merasakan gigitan kecil pada pucuk gunung kembarnya. Ingin rasanya membuat Fabian menghentikan aksinya namun tubuhnya tidak mau berkompromi seolah menikmati permainan nakal sang suami.
******* lirih lolos begitu saja dari bibir Khey, membuat Fabian semakin bergairah ingin bergerak menuju puncak kenikmatan duniawinya.
"Ra... boleh ya..." Fabian dengan pandangan mata yang berkabut.
Khey yang telah terbuai oleh sentuhan Fabian pun seolah memberi lampu hijau dengan membiarkan tubuh bagian bawah Fabian menindihnya.
Telapak tangan kekar itu pun bergerak menyusup ke bawah rok pendek yang Khey kenakan dengan bibir yang mulai memagut manis bibir manis milik sang istri yang sepertinya telah menjadi candu bagi Fabian.
Sedetik kemudian,
Ceklek...
__ADS_1
ππππ
Kugantungkan ceritamu bang Bianππππ