Mendadak Nikah 2 (Married By Accident)

Mendadak Nikah 2 (Married By Accident)
MBA 150


__ADS_3

"Kalian berdua nunggu di sini atau ikut gue?" Jackson dengan posisi sudah mengeluarkan kedua kakinya, sedangkan setengah tubuh atasnya masih di dalam mobil.


"Gue di sini aja." Alya acuh.


"Elo Rhe?"


"Gue di sini aja Jack, nemenin Alya."


"Yakin nggak mau ikut sama gue? Soalnya Bian tadi pagi juga nggak masuk sekolah. Kalau nggak salah denger, izinnya juga sakit." Jackson pura pura mengingat. Karena sesungguhnya dia sudah tahu dengan pasti.


"Enggak elo aja yang ke sana." tolak Rhea.


Alya hanya bersidekap dengan wajah manyun.


"Ya udah deh gue sendiri aja yang masuk. Ntar kalau Bian udah mendingan gue bakal ajakin dia ngikut kita ke rumah Khey." Jackson lalu turun dari mobil.


"Jangan lama lama ya Jack, takut kesorean." Rhea berseru.


Jackson tidak menyahut, hanya menautkan jari telunjuk dengan ibu jarinya membentuk tanda bulat.


Sepeninggal Jackson.


"Gila! Rumah Fabian kek istana ya Al!" Rhea dengan memandangi rumah megah bak mansion oranga orang kaya yang biasa mereka lihat di sinetron azab ikan terbang.


Halaman rumah Fabian sangat luas, dikelilingi oleh pagar tembok yang cukup tinggi. Tepat di depan bangunan megah yang menjulang tinggi itu dihiasi oleh air mancur besar di tengah tengahnya.


"Keknya dari teras ke pintu gerbang aja, kita harus naik skuter deh biar nggak capek." Alya dengan mengagumi rumah besar nan megah di depannya.


"Gue pikir rumah kek gini cuma ada di tipi." lagi Alya berucap dengan berdecak kagum.


"Iya. Rumah kita kagak ada apa apanya dibanding ini. Kek istana presiden nggak sih...?!" Rhea pun berdecak.


"Iya juga ya." Alya membenarkan ucapan sahabatnya. "Keluar yuk Rhe." lanjut Alya dengan membuka pintu mobil Jackson. Rhea pun mengikutinya.


Keduanya pun keluar dari mobil Jackson, berjalan dengan pelan seraya bergandengan tangan mengagumi kemegahan rumah Fabian.


Di sisi lain.


Jackson yang sudah terbiasa dengan rumah Fabian, berjalan memasuki rumah setelah sebelumnya mengucapkan salam saat membuka pintu utama.


Meskipun tidak ada sahutan dari empunya rumah, Jackson tetap memasuki rumah dengan santai. Bukan bermaksud nyelonong tidak sopan, namun rumah Fabian bagai rumah kedua bagi Jackson dan Farrel.


Hanya saja beberapa bulan terakhir ini Jackson lama tidak datang berkunjung. Di samping dirinya yang sok sibuk, Fabian juga susah untuk diajak ketemuan.


"Bik..."


Jackson memilih memanggil asisten rumah tangga Fabian karena yakin jika kedua orang tua Fabian pasti tidak ada di rumah. Ayah Fabian pasti masih di kantor sedangkan bunda Fabian sudah tentu sedang mengecek outlet toko kuenya yang ada beberapa cabang.


Tidak ada suara yang menyahuti panggilan Jackson.

__ADS_1


Jackson pun memutuskan menaiki tangga menuju lantai dua, di mana kamar Fabian berada.


Dengan sedikit berlari, akhirnya Fabian sampai di depan kamar Fabian. Salah satu tangannya meraih gagang pintu.


Ceklek, pintu terbuka karena tidak terkunci. Jackson pun melangkahkan kaki memasuki kamar Fabian.


Aaaaaaa!!!


Dua buah teriakan serempak memenuhi kamar Fabian.


Khey yang baru saja keluar dari kamar mandi dengan hanya membalut tubuhnya memakai handuk sebatas dada hingga sejengkal di atas lutut segera berlari kembali ke kamar mandi. Menutup pintu kamar mandi hingga menimbulkan bunyi dentuman yang cukup keras. Tidak lupa segera menguncinya dari dalam.


Khey membenturkan punggungnya pada pintu kamar mandi seraya memegangi dadanya yang bergerak naik turun tidak beraturan.


Khey sungguh terkejut, tidak menyangka Jackson memasuki kamarnya. Lebih tepatnya kamar Fabian dan bertemu dengannya yang dalam kondisi sangat... ish memalukan.


Meski kemungkinan Jackson bakal mengetahui status pernikahannya dengan Fabian, tetap saja penampilannya dengan hanya mengenakan handuk serta rambut basahnya tadi bakal membuatnya kikuk jika bertemu Jackson nantinya.


Sedang Jackson masih berdiri mematung di ambang pintu kamar Fabian dengan kedua mata membola dan mulut yang terbuka lebar.


"Jack! Ngapain lo di kamar gue?" Fabian dari belakang dengan nafas tersengal. Peluh membasahi wajahnya.


Fabian memang segera berlari menuju kamarnya saat mendengar teriakan kencang suara lelaki dan perempuan secara bersamaan. Padahal Fabian tadi sedang bermain basket di halaman belakang rumahnya.


Belum juga Jackson memberikan jawaban pada Fabian, dia dikejutkan oleh kedatangan Alya dan Rhea di depan pintu kamarnya.


"Kalian?!" tunjuk Fabian pada kedua gadis itu kaget.


Rhea dan Alya hanya menagngguk sekilas tanpa memberi penjelasan.


"Si Jack kenapa?" Alya menunjuk Jackson dengan dagu, bertanya pada Fabian.


Fabian menggedikkan bahu tanda tidak tahu. Lalu mengayunkan langkah kaki mendekat pada Jackson.


"Elo kenapa sih Jack?" Fabian dengan menepuk bahu Jackson yang masih setia mematung.


"Ddi ddi kamar mandi lo Bi..." Jackson dengan gagap seraya menunjuk pintu kamar mandi Fabian.


"Kenapa? Elo liat hantu Jack?" Rhea penasaran akan sikap Jackson.


Jackson menggelengkan kepala cepat. "Bukan."


"Trus lo liat apaan?" Rhea makin penasaran dengan raut wajah Jackson yang aneh menurutnya. "Kenapa lo jadi gagu gitu sih."


"Bian." Jackson masih di tempatnya dengan posisi yang masih sama, hanya tangan kirinya menepuk bahu Fabian pelan.


"Apaan?" Fabian sesungguhnya memikirimkan kemungkinan yang baru saja terjadi.


"Buka pintu kamar mandi lo." Jackson dengan memerintah.

__ADS_1


"Ngapain?" Fabian enggan. Apa Jackson ketemu Ara, dan Ara sekarang ngumpet di kamar mandi gitu... Tentu saja Fabian hanya berfikir dalam hati.


"Buka cepet!" Jackson dengan raut wajah aneh.


"Lo mau apa sih Jack? Ngomong sama gue." Fabian tetap ditempatnya.


"Gue yakin nggak salah lihat." Jackson dengan sedikit menggumam.


"Salah liat apaan Jack? Elo liat apa?" Sungguh Rhea semakin penasaran.


"Di sana, di kamar mandi ada..."


"Bian... heh... heh...heh..."


Belum selesai Jackson berucap kata, Farrel dengan ngos ngosan berada di ambang pintu kamar.


Seketika semua yang ada di dalam menoleh ke arahnya.


"Rell... elo tau semuanya kan?" Pernyataan Jackson yang tiba tiba itu membuat Rhea dan Alya mengernyit bingung.


Sedangkan Fabian mulai memahami situasinya.


"Nanti gue jelasin, kalian keluar dulu dari sini." Fabian.


"Enggak, gue mau di sini. Gue mau memastikan mata gue nggak salah lihat." Jackson memaksa.


"Jack." Fabian dengan memohon.


"Enggak Bian. Lagian gaya pacaran elo itu salah Bi, elo udah kebablasan." Jackson dengan pemikirannya sendiri.


"Yang elo pikrin tentang gue itu salah Jack. Keluarlah dulu nanti gue jelasin. Dia pasti malu kalau ada kalian di sini." Fabian tetap tenang.


Farrel pun berjalan mendekati Jackson. "Ayo Jack kita tunggu di bawah."


"Enggak!" tolak Jackson kekeh. Hal itu membuat Alya dan Rhea yang tak tahu apapun, semakin bingung.


"Elo sadar nggak aih kalau temen kita itu udah salah, gaya pacaran dia udah kebablasan Rell."


"Nggak seperti itu Jack, Fabian sama kk..."


Ceklek.


Pintu kamar mandi di buka dari dalam sebelum Farrel menyelesaikan kalimatnya.


"Khey!!"


Alya dan Rhea serempak.


😍😍😍😍

__ADS_1


__ADS_2