Mendadak Nikah 2 (Married By Accident)

Mendadak Nikah 2 (Married By Accident)
MBA57


__ADS_3

Lanjut Flashback Fabian dan Nina


"Ok, baiklah... gue mau minta tolong sama lo buat membujuk owner EO (event organizer) omah potret agar mau menyiapkan acara sweet seventeen gue."


Fabian menoleh pada Nina yang duduk di sisinya dengan kening yang mengerut.


"Ngapain lo minta tolong sama gue, elo kan tinggal nyuruh asisten elo Nin. Lagian elo kan lebih sering berinteraksi dengannya dari pada gue, secara elo tau kan dunia gue sama dia beda."


Dia yang dimaksud Fabian adalah pemilik EO omah potret dan dia adalah saudara dari Fabian.


"Tinggal calling atau dateng aja ke kantornya, elo bisa nyuruh salah satu asisten lo buat ngomong ke mereka kalau kalian butuh jasanya. Bereskan Nin... gak ribet."


"Udah Fab, udah. Gue bahkan udah ke sana sendiri."


"So..." Fabian heran.


"Karena gue ngomongnya mendadak, katanya gak bisa kasih gue space buat acara sweet seventeen gue. Full booked. Makanya gue minta tolong sama lo buat bujuk dia. Siapa tau aja dia mau nurutin elo." jelas Nina.


Fabian menghembuskan nafas dalam.


"Kalau udah full booked, gue pun gak bisa maksa mereka buat nerima job dari elo lah Nin. Mereka pasti udah memperhitungkan segala sesuatunya. Enggak gampang juga buat mereka bagi waktu, tenaga juga idenya buat ambil acara lo."


"Tapi kan elo bisa bujuk Fab..."


"Kenapa lo gak cari EO lain aja sih..."


"Gue suka sama hasil kerja mereka Fab, everything is perfect." Nina kembali menggelayuti lengan tangan Fabian serta mengerjapkan kedua bola matanya berulang, menunjukkan puppy eyesnya.


"Nin... enggak semua keinginan lo bisa terpenuhi, apalagi ini urusannya dengan orang banyak. Walaupun pemilik omah potret itu saudara gue ataupun gue pemiliknya sekalipun nggak bisa gitu aja merubah keputusan seenaknya. Apalagi job ini urusannya dengan banyak orang, banyak berkaitan sama hal lain yang berhubungan dengan acara lo itu. Elo tau kan kalau mereka juga harus kerjasama sama pihak katering, pengisi acara, gedungnya belum lagi pihak keamanan yang harus mereka sediakan. Setidaknya elo kan bukan orang biasa, elo model. Banyak fans lo yang pastinya bakal hadir walau sekedar di luar gedung, belum lagi wartawan majalah dan pemburu berita tv lokal. Mereka pastinya harus memikirkan semua itu dengan mateng kan Ni..." Fabian menjelaskan panjang lebar agar sahabatnya itu tidak tersinggung akan penolakannya.


"Coba dulu Fab, gue cuma mau mereka mendekor doang. Urusan katering sama pengisi acara, mami udah mempersiapkan sendiri. Dan untuk gedung, gue bikin acaranya di villa milik kakek, so gak perlu cari gedung. Para pewarta di jamin gak bakal ada yang dateng soalnya gue ngadainnya privat party, cuma temen deket doang yang gue undang Fab, please..." Nina memohon.


Lagi lagi Fabian harus menghembuskan nafasnya dalam, bahkan kali ini harus lebih kuat dalam dari sebelumnya.


Menolak keinginan Nina tentu sahabatku perkara mudah. Gadis itu sudah terbiasa dengan kebutuhan dan keinginan yang selalu dipenuhi oleh kedua orang tuanya. Apalagi statusnya sebagai anak bungsu dari keluarga yang berada membuat gadis itu semakin dimanjakan oleh keluarganya.


"Ayolah Fab... bantuin gue kali ini aja ya... ya... please..." lagi lagi Nina membujuk dengan merajuk.


Sesaat Fabian terdiam, terlihat berfikir dengan memandangi gadis di sampingnya.


Menolak keinginan Nina hanya akan membuat aktivitasnya terganggu, karena Fabian tahu Nina pasti akan mengekorinya dan mengganggunya hingga keinginannya terpenuhi.


"Baiklah, gue coba dulu." akhirnya Fabian memutuskan untuk mencoba membantu Nina, agar gadis itu tidak merengek padanya.

__ADS_1


"Tanks Fab elo emang sobat terbaik gue." Nina dengan senyum merekah membingkai wajahnya.


Fabian tersenyum kecil.


"Jangan seneng dulu, belum tentu gue bisa bujuk mereka."


"Setidaknya gue kan bisa berharap." Nina masih dengan senyum yang berbinar.


"Apalagi?" tanya Fabian pada Nina karena gadis itu masih menggelayut pada lengan tanganya.


"Elo gak calling sekarang?"


"Entar aja."


"Sekarang lah Fab, sekarang..." Nina menggoyang lengan tangan Fabian.


Heh... Fabian menghembuskan nafasnya kasar. Sepertinya dia harus menuntaskannya segera.


Akhirnya Fabian meraih ponsel dari saku celana seragamnya lalu menempelkan ke telinganya sesaat setelah memencet tombol calling pada kontak milik EO omah potret pada ponselnya.


Fabian berdiri, menjauhkan tubuhnya dari Nina.


Nina dengan harap cemas menunggu Fabian yang terlihat berbincang serius melalui ponselnya.


Sesungguhnya Nina tidak terlalu peduli dengan omah potret akan menerima job darinya atau tidak, yang pasti Nina ingin berusaha dekat dengan Fabian kembali.


Bahkan hampir seluruh siswi di sekolahnya mulai mengidolakan Fabian hal itu membuat Nina semakin tidak rela jika Fabian harus dimiliki oleh orang lain.


Nina memang menyukai Fabian sejak lama, namun Nina hanya mampu memendamnya karena takut jika Fabian menolaknya akan membuat hubungan persahabatan keduanya menjadi renggang.


Jika semua orang tahu sosok Fabian yang baik, tampan, humbel, lahir dari keluarga sultan pasti akan membuat siapapun mengaharapkannya menjadi pasangan hidupnya kelak. Pun begitu dengan Nina, dia pun berharap jika dirinya bisa mendapatkan Fabian tanpa tau jika sahabatnya itu telah menikah.


"Mereka menerima job lo, tapi cuma dekor doang selebihnya elo harus menyiapkan sendiri paket kebutuhan acara lo." Fabian setelah kembali mendekat pada Nina.


Nina melonjak kegirangan, dengan sengaja menghamburkan tubuhnya memeluk Fabian yang berdiri di hadapannya.


Hek...


Fabian terkejut dengan reaksi Nina yang menurutnya terlalu berlebihan.


"Nin jangan kek gini, lagi di sekolah ini." Fabian dengan segera menangkup bahu Nina dan mendorongnya agar melepaskan pelukannya.


"Sorry... gue seneng banget soalnya tanks ya Fab..." Nina dengan terpaksa menjauhkan tubuhnya dari Fabian dengan memberikan wajah pura pura menyesali aksi spontannya.

__ADS_1


Padahal dalam hati Nina berteriak dengan girang.


"Gak papa, besok lagi jangan diulangi." Fabian datar.


Bola mata Nina bergerak gerak memindai sekitar, sepertinya banyak anak anak sekolahnya yang melihat aksiny berpelukan dengan Fabian, eh bukan... aksinya memeluk Fabian.


Yes... bentar lagi pasti bakalan heboh seluruh sekolah.... Nina membatin dalam hati dengan senyum senang di dalamnya.


"Fabian lo mau ke mana?" tanya Nina dengan sedikit berseru karena tanpa disadarinya Fabian telah beranjak dari tempatnya.


"Balik kelas, bentar lagi masuk." Fabian dengan melirik jam yang melingkar pada pergelangan tangannya.


"Tungguin gue, kita barengan." Nina setengah berlari menyusul Fabian.


Setelah berhasil mensejajari Fabian, Nina kembali berceloteh ringan dengan Fabian selama perjalanan menuju kelas kembali.


Sesekali Fabian menanggapi celotehan Nina,meski dalam hati bertanya tanya seperti ada yang berbeda dengan sikap Nina yang seolah ingin menempel padanya.


Bagaimana pun Fabian sudah bersahabat dengan Nina selama bertahun tahun jadi Fabian merasakan bila ada sedikit saja perubahan yang terjadi pada sahabatnya itu. Namun karena tidak ingin menduga yang tidak tidak, Fabian segera menepis pikirannya.


Hingga Fabian dan Nina pun tanpa sengaja berpapasan dengan Khey dan kedua sahabatnya.


Sesungguhnya Fabian menangkap sosok Khey yang berjalan berlawanan arah dengannya, namun karena Fabian ingin melanjutkan misinya menjaga jarak dengan Khey agar gadis itu menyadari hatinya, Fabian sengaja mengabaikannya.


Apalagi mulut Nina tidak berhenti berceloteh sehingga membuatnya sesekali harus menimpali ucapan sang sahabat.


"Elo harus dateng ke acara sweet seventeen gue Fab... awas kalau enggak..." Nina dengan mengepalkan tangannya seolah mengancam Fabian.


"Iya... iya... gue usahain."


"Gue gak mau lo cuma usaha doang, tapi lo wajib datang." Nina lagi lagi mengancam.


"Iya iya... dasar tukang ngancem lo." Fabian dengan kekehan.


Tanpa Fabian sadari jika interaksinya dengan Nina diperhatikan oleh Khey, isteri barbarnya.


Like πŸ‘πŸ»


Vote πŸ”–


Rate ⭐⭐⭐⭐⭐


Komen πŸ’‹

__ADS_1


Tambahkan favorit ❀


Biar semangat nulis part lanjutannya😍😍😍😍


__ADS_2