
Mentari pagi bersinar cerah hingga menerobos jendela kaca sebuah kamar, dimana sepasang remaja yang sudah sah menikah masih menutup kedua bola matanya dengan berpelukan.
Tirai tipis yang menutupi jendela kaca tersebut tidak mampu menghalangi sinarnya.
Hingga membuat pasang mata gadis yang bernama Khayyara Nala Ashanum tersebut mengernyit. Namun seolah enggan untuk membuka kedua kelopak matanya, Khey memilih menyusupkan wajahnya dengan masih terpejam.
Kedua lubang penciuman Khey menangkap bau yang tak biasa. Sebuah aroma tubuh dengan sensasi segar yang menenangkan.
Kenapa gue merasa mencium aroma tubuh ya... tanya Khey dalam hati masih dengan memejamkan matanya.
Kedua tangannya mengerat pada guling yang sedari tadi berada dalam pelukannya.
Tanpa Khey sadari jika yang dipeluk dan di dekapnya tersebut bukanlah guling yang biasa dia peluk. Melainkan guling bernyawa yang bergelar suaminya.
Kenapa guling gue kek bernafas ya? Khey bertanya tanya dalam hati dengan masih memejamkan mata.
Kedua mata Khey memang terasa sangat berat dan sulit untuk terbuka, efek tidurnya yang belum terlalu lama akibat pertengkarannya dengan Fabian semalam.
Khey meraba guling dalam pelukannya dengan perlahan.
Tuh kan kenapa guling gue berdetak ya, gak mungkin kan guling gue punya nyawa... Khey tidak berhenti mengusap guling di depannya intens. Bahkan hidung mancungnya semakin mendekat dan mengendus aroma tak biasa yang membuatnya nyaman.
Khey pun menempelkan hidung dan wajahnya.
Tunggu... keknya ini bukan guling deh... Khey menghentikan aksinya mengendus saat menyadari ada yang aneh pada guling yang di dekapnya.
Jangan jangan... Tubuh Khey menegang seiring dengan otaknya yang membayangkan jika yang dipeluknya saat ini adalah sosok tubuh suami tengilnya, bukan guling.
Perlahan kedua matanya mengerjap, mencoba membuka perlahan.
Hek...
Khey memperlebar kedua matanya saat mendapati bahwa wajahnya menempel sempurna pada kulit dada yang terbuka.
Perlahan Khey mendongakkan kepalanya ke atas.
Dan... benar saja.
Saat mendongak kedua matanya menangkap wajah Fabian yang masih terpejam sempurna, sepertinya.
Khey pun perlahan menjauhkan tubuh serta tangannya dari tubuh Fabian yang bagian atasnya terbuka karena tidak memakai baju.
Khey kembali mendongak, melihat kedua mata Fabian yang masih terpejam. Khey merasa lega. Dirinya tidak ingin terpergok oleh Fabian saat dirinya memeluk bahkan mengendus dada bidang Fabian setelah semalam dirinya menolak keinginannya.
Kenapa kita bisa tidur barengan, bukane semalem dia keluar dari kamar gue... Khey berusaha mengingat kejadian semalam.
Dimana setelah pertengkaran hebatnya dengan Fabian, cowok bergelar suaminya itu terlihat marah dengan keluar dari kamar bahkan menutup pintu dengan keras hingga memekakkan telinga.
Khey menarik selimut dan menutupi seluruh tubuhnya untuk menutupi rasa malunya, tak lupa menjauhkan tubuhnya dari tubuh Fabian yang sempat dipeluknya erat layaknya guling. Khey takut jika Fabian memergokinya sedang memeluk erat tubuhnya.
Apalagi saat dirinya mengingat jika beberapa saat lalu, dengan nyaman dirinya mengendus aroma tubuh Fabian yang membuatnya tenang. Bahkan menyusupkan wajahnya pada dada bidang tersebut.
Huh...
Khey membuang nafas hingga membuat selimut yang menutupi wajahnya mengembang.
Setelahnya.
Semoga dia gak tahu... ucap Khey dalam hati dengan menggigit bibirnya kuat.
__ADS_1
Baru saja Khey selesai membatin, dirinya merasa jika ada yang menarik narik selimutnya kuat.
Saat selimut yang membungkus seluruh tubuhnya menyingkap setengah tubuhnya, Khey memberanikan diri menoleh ke belakang untuk memastikan siapa yang telah menarik selimutnya.
"Pagi honey..." Fabian dengan tersenyum manis mengucapkan selamat pagi kepada Khey.
Hek.
Sesaat Khey terpesona dengan wajah bantal Fabian yang tetap saja tampan meskipun baru bangun dari tidurnya. Apalagi wajah itu dihiasi dengan senyum yang sangat menawan menurut Khey.
Entah kemana perginya wajah marah Fabian semalam. Memang cowok bergelar suaminya tersebut sulit untuk ditebak.
"Kok sapaan gue gak dijawab sih?" Fabian memajukan tubuhnya mendekat pada tubuh Khey yang sempat menjauh beberapa saat lalu.
"Ah... eh... em... pagi." Khey terlihat linglung.
"Nah gitu dong, kalau suami menyapa itu dijawab... biar dapat pahala..." Fabian dengan tetap menampilkan senyumnya yang menawan.
Khey mengabaikan ucapan Fabian selanjutnya, memilih membalikkan tubuhnya kembali dan menggerakkan tangan untuk menarik selimutnya.
Lagi lagi Fabian menarik selimutnya kembali.
Khey pun kembali menoleh, kali ini dengan seluruh tubuhnya menghadap Fabian hendak melayangkan protes padanya.
Namun belum sempat Khey berucap kata.
"Bangun... udah siang. Elo melewatkan sholat shubuh kan?" Fabian memandang Khey menelisik.
Khey menepuk dahinya pelan.
"Astagfirullahaladzimi! Kenapa gue ketiduran. Jam berapa ini?" Khey sembari menoleh ke arah jam dinding di kamarnya.
Fabian terkekeh kecil.
"Gue udah bangunin lo, shubuh tadi. Elonya aja yang sulit dibangunin. Yah gue biarin aja... gue juga langsung ketiduran lagi kok." Fabian tanpa rasa bersalah.
Khey mencebik kesal.
"Udah balik tidur aja... udah terlanjur jugak, elo masih ngantuk kan?" Fabian.
"Enak aja tidur lagi, gue mesti mandi ntar terlambat sekolah... emangnya lo mau bolos?" Khey mendudukkan tubuhnya.
"Hari ini libur Ra... ini tanggal merah." sahut Fabian dengan menyandarkan kepala pada kepala ranjang.
"Benarkah? Hari ini kita libur?" Khey seolah berfikir.
"Beneran... hari ini kita libur." Fabian meyakinkan.
Khey terlihat tidak yakin.
Meraih ponsel pintar di atas nakas lalu membuka aplikasi kalender di dalamnya untuk meyakinkan dirinya jika hari ini benar - benar libur karena tanggal merah.
Khey meletakkan kembali ponsel pintarnya saat dirinya benar melihat jika hari ini adalah hari libur. Menyingkap selimut yang masih menutupi tubuh bagian bawahnya untuk beranjak dari ranjang.
Set...
Tetiba pergelangan tangannya dicekal oleh tangan kekar Fabian, Khey pun mengurungkan niatnya untuk turun dari ranjang. Lalu menolehkan kepalanya ke arah Fabian.
Belum sempat Khey berucap kata, Fabian lebih dulu membuka mulutnya.
__ADS_1
"Tidur lagi aja... gue tau elo masih ngantuk." Fabian dengan nada yang lembut, terdengar sangat perhatian.
"Gak usah sok tau." Khey dengan datar.
"Gue bukan sok tau. Tapi gue beneran tau, karena gue bisa liat dari mata lo." Fabian dengan masih berucap lembut.
"Emangnya mata gue kenapa?" Khey mengernyit.
"Mata lo berkantung karena kurang tidur." jelas Fabian.
Dan memang benar mata Khey memang terlihat kurang tidur, dan lagi mata itu terlihat masih bengkak efek menangis yang terbawa hingga tertidur.
Khey terdiam, bingung antara memilih tidur lagi atau tidak. Memang tidak dapat dipungkiri jika dirinya masih sangat mengantuk juga lelah. Namun jika dirinya kembali tidur itu berarti harus berdampingan dengan Fabian lagi. Dan Khey tidak mau.
"Udah gak usah pakek mikir, tidur lagi gih." Fabian dengan menarik tubuh Khey lembut hingga kembali pada posisi tidur di ranjang.
Dada Khey berdesir lirih saat punggungnya berdempetan dengan dada bidang Fabian, karena Fabian bertelanjang dada. Padahal hanya punggungnya yang bersentuhan, bahkan Khey masih mengenakan bajunya.
"Bi lepasin tangan lo." Khey dengan menahan ritme jantungnya yang mulai berdisko.
Fabian mengabaikan ucapan Khey, malah membuat tubuh ramping itu membalik ke arahnya.
Hek...
Khey harus menelan salivanya kuat karena saat Fabian membalikkan tubuhnya membuat wajah Khey berhadapan langsung dengan dada Fabian yang terbuka.
Dengan menahan getaran di dada Khey berucap kata.
"Elo gak dingin apa tidur gak pakek baju kek gitu?"
"Dingin sih." Fabian.
"Kenapa gak pakai baju?" Khey dengan berusaha menutupi kegugupannya.
"Kan baju gue elo pakek." sahut Fabian.
Khey mengernyit.
"Masak??" Lalu kedua mata Khey bergerak memindai tubuhnya.
Hek...
Lagi lagi Khey tercekat mendapati tubuhnya memakai kaos lengan panjang yang bukan miliknya.
Kenapa gue jadi pakek baju Bian.... jangan jangan semalem terjadi juga... Khey bergidik membayangkan jika Fabian kembali menjamah tubuhnya setelah dirinya tertidur.
ππππ
My beloved readers, tengyu so much for :
Like ππ»
Vote π
Rate βββββ
Komen π
Tambahkan favorit β€
__ADS_1
Salam halu dari author yang narsis abishh ππ»ππ»ππ»