Mendadak Nikah 2 (Married By Accident)

Mendadak Nikah 2 (Married By Accident)
MBA11


__ADS_3

"Elo!" Khey menunjuk wajah di sampingnya dengan kaget. Bahkan anak lelaki yang masih berseragam sekolah yang duduk di sebelahnya juga terlihat kaget, kedua matanya terbuka lebar.


"Elo!" anak lelaki itu pun memekik kaget.


"Ngapain lo di sini, lo ngikutin gue ya?!" Khey menuduh anak lelaki berseragam yang ternyata adalah Fabian itu dengan sinis.


"Enak wae ... gue duluan yang duduk di sini. Yang ada elo tu yang ngintilin gue Khey."


Mungkin efek terkaget serta nyawanya yang belum terkumpul sempurna Fabian pun tak kalah kesal saat berucap kata.


Hek.


Khey terhenyak. Fabian, cowok tengil itu memang lebih dulu duduk di sana saat dirinya datang untuk duduk berteduh.


"Ngapain lo malem - malem masih pakek seragam sekolah kek gitu?" Khey bertanya untuk menghilangkan rasa bersalahnya karena telah salah menuduh pada Fabian.


Fabian terkekeh kecil. "Lo perhatian ke gue?"


Khey berdecak. "Gue cuma nanya, bukan karena gue perhatian sama lo. Gue cuma bingung aja, jam segini elo masih pakek seragam sekolah. Emangnya lo belum pulang ke rumah dari sekolah tadi?!"


"Hehehe ... tank's Khey udah kasih perhatian ke gue." Fabian tetap saja merasa Khey perhatian dan peduli padanya.


"Dasar cowok aneh lo ... dibilangin gue gak perhatian jugak, ngeyil." Khey menggerutu.


"Gue gak aneh Khey ... wajarkan gue tersanjung sama kepedulian lo ke gue. Secara selama ini lo gak pernah peduli sama gue." Fabian berucap datar sembari menatap rintik hujan yang terlihat semakin intens dan membesar.


"Serah lo deh ...!" Khey mengeram kesal.


"Darimana lo malem - malem gini jalan sendirian, gak takut hantu lo?!" Fabian menyelidik.


"Gue gak takut sama hantu, justru gue takut sama setan kek elo." Khey berucap sinis.


Fabian terkekeh.


"Cowok cakep kek Lee Jong Suk gini dibilang setan, mata lo merem apa Khey?!" Fabian tetap saja bercanda dan menggoda Khey tanpa peduli dengan raut wajah kesal Khayyara.


"Cihh ... Lee Jong Suk lo kata, mirip tukang kebunnya iya ...." Khey berdecih sembari mengejek Fabian.


"Gapapa deh mirip tukang kebunnya, yang penting sekarang gue bisa berduaan sama lo." Fabian tersenyum senang.


"Widiihh ... berduaan!! Kalau bukan karena hujan gue gak bakalan duduk deket lo kek gini. Jauh - jauh sana, jaga jarak lo!!" Khey berucap sadis.


"Ini udah mepet Khey, liat tu ..." Fabian menoleh menunjuk sisi kirinya yang sudah menempel pada dinding kayu pos ronda.


Khey melirik sekilas, memang benar jika Fabian sudah duduk sangat mepet pada dinding kayu pos ronda. Khey pun mendengus, mimpi apa semalam hingga harus duduk berduaan dengan cowok tengil yang selalu saja menganggunya di sekolah tersebut.


Khey menengadah, memandang air hujan yang turun semakin deras dan diiringi dengan suara guntur yang menggelegar. Sehingga membuat gadis tersebut berkali - kali berjengit dan menutup telinganya.


Derasnya air hujan yang turun pun membuat baju keduanya sedikit basah.

__ADS_1


Khey bersedikap saat merasakan hawa dingin mulai menusuk tubuhnya, menggigit bibir bawahnya untuk menahan dingin.


"Dingin ya Khey?" Fabian bertanya setelah beberapa saat mereka hanya terdiam.


"Ya iyalah ... orang hujannya deras banget!" ketus Khey sambil berdesis kedinginan.


"Coba gue bawa jaket, udah gue selimutin lo pakek jaket gue biar lo gak kedinginan Khey ..."


"Widiihh ... ogah gue, mending gue kedinginan daripada bau lo nempel ke gue!!" lagi Khey berucap ketus bahkan disertai dengan nada sinis.


"Jangan galak - galak ngapa Khey, gue kan nanyanya baek - baek. Ntar susah jodoh lo Khey."


Khey tak berucap sepatah kata pun setelah mendengar ucapan Fabian, dia terlihat mendengus kesal. Percuma memang ngomong sama cowok tengil dengan tingkat pedenya yang selangit tersebut.


"Lo dari mana malem - malem gini Khey?" Fabian bertanya lagi.


"Bukan urusan lo." lagi Khey menyahut dengan lebih ketus.


"Ck ... ck ... Khey ... udah dibilangin jadi cewek jangan galak - galak, ini malah makin sadis ngomongnya. Ntar berjodoh sama gue tau rasa lo ...." ucapan Fabian disertai kekehan di akhir kalimat.


Dada Khey bergemuruh. "Lo bisa diem gak sich, berisik tau gak. Lagian ya kalaupun di muka bumi ini cuma tinggal elo cowok yang jomblo, gue bakal tolak lo. Mending gue jones seumur hidup!"


"Khey ngomongnya jangan gitu, pamali ... gak baik. Didengar dan diijabah oleh Allah tau rasa lo. Apalagi hujan kek gini, doanya yang baek - baek aja." Fabian mengingatkan.


"Makanya elo jangan mancing - mancing emosi gue!" Khey mengeram kesal.


Khey hanya mencebik, lalu pandangan matanya memindai sekitar yang ternyata sangat gelap dan terlihat mencekam. Cahaya lampu komplek perumahan penduduk tidak mampu menerangi suasana malam ini yang hujannya turun semakin deras. Bahkan lampu jalan pun mendukung suasana mencekam dengan tidak mau memberikan sinarnya, alias mati.


Entah karena dingin atau suasana yang mencekam, tetiba kulit luar Khey merinding. Khey pun perlahan mengusap kedua lengan tangannya yang terbalut sweater. Meski sweater yang dipakainya cukup tebal namun udara dingin masih menusuk, menembus kulitnya.


Pikirannya menerawang, resah dan gelisah nengingat hari semakin larut. Sampai kapan hujan ini akan mereda hingga dirinya bisa pulang dan terbebas dari si cowok tengil bin menyebalkan ini.


Disela rasa gelisahnya Khey teringat pada ponselnya.


Khey membuka tas selempangnya, meraih ponsel untuk mencoba menghubungi rumahnya.


Meskipun jarak pos ronda dengan komplek perumahannya tidak terlalu jauh namun tetap saja hujan yang sangat deras membuatnya urung untuk berlari pulang. Setelah ponsel di tangan, Khey menekan tombol untuk menyalakannya namun ternyata gagal. Sepertinya ponsel milik Khey kehabisan daya.


Khey pun menghela nafas pendek, ternyata dirinya lupa menambah daya pada ponsel pintarnya saat hendak berkencan dengan Doni sore tadi.


Ah, ternyata usahanya untuk segera pergi dari pos ronda gagal. Apalah daya, sekarang Khey harus menerima duduk terjebak bersama Fabian si cowok tengil yang selalu saja membuat moodnya hancur entah sampai kapan menunggu hujan reda.


"Khey ... Khey ..." seru Fabian memanggil Khayyara.


Namun Khey tidak peduli, dirinya memilih memandangi hujan daripada menolehkan wajah pada cowok tengil yang duduk di sebelahnya.


Fabian mendengus saat melihat Khey mengabaikannya, kemudian memilih kembali menenggelamkan kepalanya di antara kedua kakinya.


Fabian merasa lelah, rasa kantuk menyerang hingga membuat kedua bola matanya semakin berat.

__ADS_1


Aktivitas seharian yang menyita waktu istirahatnya membuat seluruh tubuh Fabian seolah tidak memiliki tenaga untuk menggoda ataupun sekedar membuka mata menemani Khey. Dan lagi hawa dingin akibat hujan yang semakin deras menambah berat pelupuk matanya.


Hening,


Hanya bunyi derasnya hujan yang terdengar, meskipun kedua remaja itu saling mengenal namun keduanya seperti enggan untuk membuka percakapan.


Hingga beberapa saat setelahnya, Khey merasakan ada sesuatu yang bergerak merayap pada leher belakangnya. Hal itu menimbulkan sensasi geli dan juga rasa yang tidak nyaman.


Berulang kali Khey nenggerakkan leher dan kepala, pun dengan kedua tangannya tak berhenti silih berganti mengibas pada seputar leher. Berharap benda merayap yang kemungkinan besar adalah hewan melata atau mungkin serangga itu pergi dari tubuhnya.


"Hiss ... kok gak mau ilang sich." Khey mengibaskan sweater belakang punggungnya.


Dirinya pun berdiri, menggerakkan bahu silih berganti dengan tangan yang bergerak ke belakang berusaha mengusir hewan yang merayap di punggungnya.


"Hiii ... kecoak!" seru Khey saat hewan yang merayapi tubuhnya tersebut berhasil dibuat jatuh ke lantai pos ronda.


Fabian yang mendengar seruan Khey terjengit kaget lalu mendongakkan kepala.


Saat pandangan matanya mendapati kecoak merangkak mendekati jemari tangannya yang menumpu pada lantai pos ronda, refleks Fabian melonjak serta mengibaskan tangannya.


"Ihhh ... kecoak!" Fabian berteriak dengan kaki berlonjak silih berganti untuk menghindari kecoak yang merayap kesana kemari.


Dhuuarrrrr ... dhueerrr ...


Bersamaan dengan itu terdengar bunyi guntur dan petir menggelegar saling bersautan hingga membuat kedua remaja tersebut kaget.


Bahkan saking kagetnya Khey terlonjak dan memeluk tubuh Fabian, hingga membuat cowok itu terhuyung dan,


Brukk ...


Tubuh Kedua remaja itu saling berhimpitan.


Aaaaaaaa ...


😍😍😍😍


My beloved readers, tengyu so much for :


Like πŸ‘πŸ»


Vote πŸ”–


Rate ⭐⭐⭐⭐⭐


Komen πŸ’‹


Tambahkan favorit ❀


Salam halu dari author yang narsis abishh πŸ’ƒπŸ»πŸ’ƒπŸ»πŸ’ƒπŸ»

__ADS_1


__ADS_2