
"Lepasin dia!!"
Fabian berteriak dengan kedua tangan yang mengepal di sisi tubuhnya. Rahangnya tak kalah mengeras saat melihat tangan Doni mencekal Khayyara dengan kuat.
Doni menoleh, memandang Fabian yang berdiri tak jauh di belakang tubuh Khayyara.
"Bukan urusan lo, gak usah ikut campur." ucap Doni memandang Fabian sinis, masih dengan mencengkeram peegelangan tangan Khey kuat. Khey pun terlihat meringis kesakitan.
Fabian tak menggubris ucapan Doni. Kakinya melangkah mendekati Khayyara yang terlihat meringis kesakitan akibat tangannya yang dicekal kuat oleh Doni.
"Lepasin tangan lo, lo nggak lihat Khey kesakitan..." ucap Fabian dengan menahan emosinya, namun sorot matanya tidak dapat menyembunyikan kemarahannya.
"Ini urusan gue sama cewek gue, nggak ada hubungan apalagi urusan sama lo. Nggak usah ikut campur. Dasar pecundang..." Doni masih saja sinis.
"Urusan Khayyara urusan gue!" Fabian menepis tangan Doni dengan kasar, lalu menarik tangan Khey dan menggesernya ke belakang tubuh kekarnya.
Rasa takut pada sikap kasar Doni beberapa saat lalu membuatnya menurut pada Fabian, suami tengilnya tanpa penolakan.
Khey pun bersembunyi di belakang tubuh kekar Fabian dengan dada yang masih berdegub kencang.
Doni tersengih.
"Ini urusan gue sama Khey. Nggak usah sok jadi pahlawan lo! Minggir...!!" Doni menatap sengit pada Fabian dengan kedua tangan menumpu pada pinggangnya.
"Khey sekarang tanggung jawab gue. Gue berhak ikut campur urusan dia." Fabian tegas.
"Apalagi Khey..." belum selesai Fabian mengucapkan kalimatnya dia merasakan cubitan kecil pada pinggangnya. Tentu saja itu adalah perbuatan Khey.
Fabian pun mengurungkan ucapannya.
Khey memberikan cubitan pada pinggang Fabian karena takut suami tengilnya tersebut akan membongkar rahasia pernikahan mereka.
Khey tidak ingin menambah masalah di kemudian hari jika status pernikahannya terbongkar saat ini.
"Apalagi Khey apa hah... Elo pikir Khey bakalan mau sama pecundang kek elo..." Doni menunjuk wajah Fabian dengan jumawa.
Pikir Doni Fabian tak layak untuk seorang Khayyara.
"Apalagi Khey terlihat tidak nyaman dengan perlakuan kasar lo." Fabian menata ucapannya karena paham akan maksud Khey mencubit pinggangnya.
"Ck... nggak usah sok tau lo. Gue nggak mungkin kasar sama Khey... Iya kan sayang..." Doni memiringkan kepala untuk menatap wajah Khey seolah minta persetujuan pada gadis yang telah menjadi kekasihnya tersebut.
Khey menelan ludahnya kasar, memilih mengabaikan pernyataan Doni dan memegang seragam Fabian kuat.
Hal itu membuat Fabian menoleh ke belakang.
"Lo masih mau di sini atau pergi sama gue?" tanya Fabian pada Khey.
__ADS_1
Khey yang menunduk, sembunyi di belakang tubuh Fabian sedikit menggeser tubuhnya agar dapat terlihat oleh Doni.
"Sorry Don... sepertinya kita harus berakhir sekarang." Khey dengan suara bergetar.
Bagaimanapun Khey mencintai Doni dengan tulus. Rasa cinta Khey pada sang ketos tampan tersebut murni adanya. Pastinya ada rasa sakit yang membuat dadanya sesak saat mengucapkan kata untuk mengakhiri hubungannya dengan Doni.
"Lo denger kan Don... so gue harap elo jangan coba gangguin dia lagi." putus Fabian dengan segera.
Setelahnya Fabian membawa Khey pergi menjauh dari tempat tersebut dan diiringi dengan tatapan marah Doni.
"Gue nggak bakal lepasin lo gitu aja Khey..." gumam Doni dengan kedua tangan yang terkepal kuat.
πππ
"Elo butuh bahu buat bersandar?" ucap Fabian setelah keduanya duduk di sebuah bangku panjang yang terletak di belakang gedung sekolah.
Fabian sengaja membawa Khey ke tempat itu karena merasa yakin jika saat ini Khey tidak mungkin bisa mengikuti pelajaran dengan nyaman.
Khey menoleh sesaat ke arah Fabian kemudian kembali ke arah pandangnnya semula dengan tersenyum getir.
"Nggak usah ngejek..." ucap Khey dengan bibir yang bergetar.
"Gue nggak ngejek Ra." Fabian berucap lembut, memandang Khey dari samping.
"Kalau lo butuh sandaran nggak usah malu." lanjut Fabian masih dengan pandangan yang masih tetap sama.
Set...
Pandangan keduanya saling mengunci.
Terdapat bulir bening yang menganak sungai pada kedua pelupuk mata Khey. Sudah dapat dipastikan jika sebentar lagi bendungan anak sungai itu akan meluruh.
Beberapa detik setelahnya Khey memilih memutar pandangannya dari Fabian.
Entahlah...Khey merasa tak sanggup menatap wajah tampan yang bergelar suami sahnya itu. Rasa malu menyelimuti hatinya ketika ingatannya kembali pada saat Doni berciuman bibir kemarin malam.
Khey malu karena mempertahankan hubungannya dengan Doni sang kekasih saat dirinya sudah memiliki suami.
Apalagi wajah putih bersih bak oppa korea yang biasa tengil itu, saat ini terlihat teduh seolah memberikan perhatian penuh padanya. Pandangan manik hitam pekat itu terlihat tulus untuknya. Sedangkan dirinya harus menangisi cowok lain di depannya.
Dada Khey semakin bergemuruh. Entah itu karena rasa kesal dan marahnya pada Doni atau rasa bersalahnya pada sang suami tengil. Khey tak tahu pasti. Yang pasti dada menyesak seolah sulit untuk bernafas.
Ingin rasanya mengungkapkan kata, namun mulutnya seolah terkunci rapat. Khey hanya mampu memandang lurus ke depan, untuk mempertahankan diri agar jangan sampai menangis saat ini.
"Kalau nggak bisa ditahan, luapkan. Elo nggak perlu pura pura kuat Ra..." ucap Fabian, membuat bahu Khey bergetar. Akhirnya luruh juga rasa yang telah di tahannya semenjak beberapa saat lalu tersebut.
Isakan kecil lolos dari bibir Khey. Khey pun menangkup wajah dengan kedua tangannya. Menutupi tangisan yang ingin disembunyikamnya dari Fabian tengil.
__ADS_1
Fabian pun menggeser duduknya, merapatkan tubuhnya pada sang isteri.
Tangan kirinya merangkul bahu Khey yang bergetar tersebut dan membawanya merapat pada dada bidangnya.
Perlahan dan lembut Fabian menepuk lembut punggung yang bergetar itu untuk memberikan ketenangan. Sesekali mengusap lembut rambut hitam panjangnya.
Khey pun tidak dapat menahan isak tangis yang sempat dipendamnya. Ritme isakan dari bibirnya semakin intens dan membuat tubuhnya bergetar hebat.
Khey pun sudah tidak peduli dengan rasa malunya. Menyusupkan wajahnya pada dada bidang Fabian, menumpahkan segala rasa sedih di sana.
Fabian pun tanpa kata memeluk dan membiarkan gadis yang telah menjadi isterinya itu meluapkan kesedihannya. Dengan memberikan usapan lembut pada punggung Khey yang tidak berhenti bergetar.
Lebih dari satu jam Khey menangis di pelukan Fabian, akhirnya gadis itu menghentikan tangisnya.
"Maaf... gue udah bikin baju lo basah." Khey mengibaskan dan mengusap seragam sekolah Fabian yang basah akibat ingusnya.
Fabian tersenyum kecil sembari menahan tangan Khey. "Biarin ntar juga kering sendiri."
"Udah puas nangisnya?" tanya Fabian lembut dengan mengusap sisa bulir bening pada wajah sembab sang isteri.
Khey mengangguk tanpa mau menatap Fabian, kecanggungan meliputi hatinya.
Beberapa saat setelahnya keheningan menyapa keduanya.
"Pernah denger kisah pasangan kaki dengan sepatunya?" Fabian membuka obrolan.
"Enggak." Khey menggeleng pelan lalu menoleh ke arah Fabian. "Memangnya ada kisah apa antara kaki dan sepatu?"
"Ketika kita merasakan sakit saat memakai sepatu yang tidak cocok, jangan kita memotong kaki kita." Fabian menyusupkan jemari tangannya pada jemari tangan Khey.
"Terus?" tanya Khey dengan kening mengerut di wajah sembabnya.
"Lebih baik kita mengganti sepatu yang menyakiti kaki kita dengan sepatu yang pas dan tidak membuatnya sakit." Fabian menghela nafas sejenak.
"Begitu pun dengan kita menjalin hubungan dengan seseorang. Lebih baik kita menggantinya jika hubungan itu hanya akan membuat elo sakit." lanjut Fabian dengan tersenyum tipis.
Khey terlihat merenung.
"Berarti gue juga harus mengganti Doni dengan cowok lain gitu?" ucap Khey.
"Yup... sebaiknya begitu. Lupakan dia yang udah menyakitimu." jawab Fabian dengan mengukir senyum pada bibirnya.
Khey terlihat mengangguk anggukkan kepalanya, sepertinya dia paham maksud Fabian tengil.
"Kalau gitu gue boleh dong cari cowok lagi Bi?"
π ππ π
__ADS_1