Mendadak Nikah 2 (Married By Accident)

Mendadak Nikah 2 (Married By Accident)
MBA36


__ADS_3

"Bian..." Farell menyebut nama sahabatnya.


Hem... Fabian datar dengan terlihat asyik pada ponsel pintarnya.


"Akhir akhir ini gue liat lo gak pernah gangguin Khey deh..." Ucapan Farell terdengar seperti sebuah gumaman.


"Emang gak pernah." Fabian santai masih tetap asyik dengan ponsel pintarnya, karena ternyata dia sedang fokus memainkan game di dalam ponsel pintarnya.


"Elo udah bosen atau ada gebetan lain?" Farell bertanya di sela kunyahan dalam mulutnya.


Meskipun keduanya kini duduk di bangku taman depan kelas bukan berarti Farell tidak bisa menikmati makanan.


Angin sepoi sepoi yang diikuti dengan goyangan pepohonan membuat suasana nyaman sambil menikmati popmi hangat menurut Farell. Makanya sesaat sebelumnya tadi Farell memesan popmie kuah dengan dua es teh manis untuknya dan untuk Fabian sahabatnya.


"Nggak mungkin gue bosen sama Khey yang cantik." Fabian masih dengan fokus pada game konsolnya.


"Trus kenapa lo tiba tiba berhenti gangguin dia...?" Farell penasaran.


"Gue udah janji sama dia buat gak gangguin dia lagi... kecuali di rumah..." Fabian ambigu.


"Maksud lo...?" Farell makin penasaran setelah mendengar ucapan Fabian.


"Maksud lo dengan di rumah, gimana ya... gue kok mencium bau bau sesuatu yang patut dibongkar nih... " Farell menelisik wajah Fabian lebih intens.


"Di rumah gue dapat kesempatan ganggu dia lebih banyak... makanya di sekolah gue memilih abai sama dia." jelas Fabian pada Farell. Namun bukannya semua menjadi jelas malah membuat Farell terlihat makin bingung dan penasaran.


"Jelaskan semuanya dengan bahasa yang bisa gue mengerti ya Bi... jangan bertele tele..." Farell menyerobot ponsel pintar dari tangan Fabian.


Ck...


Fabian berdecak.


"Elo mengganggu kesenangan gue aja sih."


"Jelasin dulu sama gue..." Farell mengintimidasi.


Bagaimanapun Farell sangat tahu rumah tinggal Fabian tidak dekat dengan rumah Khey, bahkan searah dengan rumah Khey pun tidak sama sekali. Baimana bisa cowok jangkung sahabatnya itu mengatakan jika dirinya memiliki kesempatan lebih banyak mengganggu saat di rumah.


Fabian menghembuskan nafas pelan.


"Liat baik baik..." Fabian merentangkan jemari kanan nya di depan wajah Farell sahabatnya.


Farell mengerutkan dahinya. Tidak ada yang aneh dengan jemari Fabian kecuali pada jari manisnya melingkar sebuah cincin polos berwarna silver melingkar di sana.


"Udah gue liat." Farell tanpa memahami arti cincin yang melingkar di jari manis sang sahabat.


"Elo paham?" Fabian.

__ADS_1


Farell menggeleng tidak mengerti.


"Ck... dasar lemot lo..." Fabian berdecak.


"Lihat baik baik ini..." lagi Fabian merentangkan jemari di depan wajah sahabatnya.


"Cuma cincin doang,gak ada yang aneh lainnya..." Farell tetap saja tidak memahami maksud Fabian.


Fabian mengeram, dalam hati sangat kesal melihat Farell yang tidak mengerti akan maksudnya.


"Ini cincin... cincin pernikahan Rell... tandanya gue udah nikah." Fabian menjelaskan dengan setengah berbisik dan menekan kata katanya agar Farell mendengar jelas omongannya.


"Ow... cincin pernikahan... Terus apa maksud... whaattsss.... elo udah nikah?!" Farell membola saat baru saja menyadari arti ucapannya.


Ssttt....


Fabian refleks membekap mulut Farell, karena Farell membuka mulutnya seperti toa.


Emmpffttt....


Farell menggerakkan kepalanya ke kanan dan ke kiri, agar Fabian melepaskan bekapan pada mulutnya.


"Gue lepasin tangan gue, asal mulut lo diem..." Fabian mengultimatum.


Setelah mendapat anggukan Farell, Fabian pun perlahan melepaskan tangan dari mulut Farell.


"Tangan lo kuat banget sih Bi..." Farell menggerutu.


"Siapa suruh punya mulut kek toa." Fabian mendengus.


"Lagian elo juga kasih gue surprise gak kira kira... mosok bilang udah nikah segala... gimana gue gak kaget coba..." Farell dengan berbicara pelan kali ini. Tidak lupa menoleh ke kanan dan ke kiri untuk berjaga jaga jika tidak ada yang mendengarkan ucapannya.


"Elo nanya... pengen tau kan... terus gue jawab yang sebenernya. Salahnya dimana coba?" Fabian terlihat tidak mau disalahkan.


"Enggak salah sih, cuma gue gak percaya aja temen maen kelereng gue udah punya bini..." Farell sekenanya.


"Perasaan baru kemaren kita maen kelereng bareng, mandi bareng eh... sekarang elo udah mandi bareng sama cewek..." Farell terlihat menerawang.


Fabian tersenyum kecil, melihat tingkah Farell. Memang benar apa yang dikatakan sahabatnya tersebut, masa masa kecil mereka terasa baru saja kemaren mereka jalani, sekarang dirinya sudah harus bertanggung jawab terhadap cewek yang berstatus isterinya itu. Meskipun untuk mandi bareng seperti yang dikatakan Farell tersebut belum pernah terjadi. Tidak untuk saat ini.


"Ngomong ngomong siapa cewek yang beruntung dapetin elo Bi... eh salah ding siapa cewek yang kena musibah karena dapetin elo..." Farell terlihat mengejek.


Fabian terlihat mengambil nafas dalam lalu membuangnya perlahan.


"Khey..." Fabian pendek.


"Khey... cewek itu Khey...?" Farell langsung membekap mulutnya sendiri saat mendapati pelototan dari Fabian.

__ADS_1


Fabian mengangguk.


"Gue gak salah denger kan Bi... bukane elo bilang elo sebenarnya gak cinta sama dia...?" Fabian masih terkejut menerima kenyataan bahwa Fabian telah menikah dengan Khey.


"Gimana bisa...??" Farell masih tidak percaya dengan nama yang telah disebutkan oleh Fabian barusan.


"Nyatanya bisa. Elo inget kan waktu gue gak masuk selama dua hari beberapa waktu lalu?" Fabian.


Farell mengangguk. "Yang waktu elo telfon gue, nyuruh gue izin buat lo itu kan Bi...?!"


"Iya... hari itu hari pernikahan gue..."


"Serius lo brother?? Gimana ceritanya....?" Farell dengan kedua bola mata yang membola.


Fabian pun menceritakan kembali dengan detil mulai dari bagaimana dirinya baru saja pulang dari latihan basket yang kemaleman dan harus berteduh karena hujan.


"Yang waktu itu kita latihan terakhir barengan itu ya Bi... Iya gue inget malem itu memang hujan cukup deras...." Farell menerawang mengingat kejadian beberapa waktu lalu tersebut.


Fabian mengangguk lalu melanjutkan ceritanya hingga bagaimana dirinya bida berakhir menikah dengan Khey. Gadis yang selalu saja diganggunya di sekolah tersebut.


"Elo bisa jatuh cinta beneran padanya? Elo bahagia dengan pernikahan yang elo jalani sekarang??" Farell bertanya tiba tiba dengan nada yang mengkhawatirkan sang sahabat, karena sejatinya Farell tau jika sahabatnya tersebut sebenarnya mengambil keputusan yang gegabah menurutnya.


"Untuk jatuh cinta pada gadis itu, menurut gue gak bakal susah buat gue. Untuk bahagia... gue harus membuat dia bahagia hidup bersama gue." Fabian dengan keyakinan pada ucapannya.


"Untuk membuat Khey bahagia elo juga harus bisa bahagia Bi... agar elo bisa memberikan kebahagiaan yang sejati untuknya..." Farell sok bijaksana, bagaimanapun Fabian adalah sahabat yang sudah dianggapnya seperti saudara sendiri baginya.


Fabian mengangguk yakin. "Gue yakin gue juga bakalan bahagia, dan gak bakal menyesali keputusan yang telah gue buat."


"Semoga brother..." Farell mengusap punggung lebar sang sahabat.


"Bagaimana dengan Doni?" tanya Farell lirih seakan takut menyinggung perasaan sahabatnya tersebut.


Tak ayal pertanyaan tersebut membuatnya harus menghembuskan nafasnya dengan berat.


😍😍😍😍


My beloved readers, tengyu so much for :


Like πŸ‘πŸ»


Vote πŸ”–


Rate ⭐⭐⭐⭐⭐


Komen πŸ’‹


Tambahkan favorit ❀

__ADS_1


Salam halu dari author yang narsis abishh πŸ’ƒπŸ»πŸ’ƒπŸ»πŸ’ƒπŸ»


__ADS_2