Mendadak Nikah 2 (Married By Accident)

Mendadak Nikah 2 (Married By Accident)
MBA58


__ADS_3

Seorang gadis yang tak lain adalah teman sekelas Khey terlihat memasuki kelas sambil terengah engah. Sepertinya gadis itu berlari saat hendak memasuki kelasnya.


"Eh... teman teman ada yang mau denger berita hot nggak?!" gadis itu masih dengan terengah mencoba meminta perhatian pada teman teman sekelasnya.


"Berita hot apaan?" teriak seorang siswa dari belakang.


"Udah cepet ngomong aja..."


"Gosip apaan sih..."


"Ada yang MBA kah..."


"Ada yang ketauan mesum di toilet ya..."


"Cepetan ngomong atuh, jangan bikin kita penisirin nih..."


Celotehan celotehan para teman teman sekelas khey, terdengar tidak sabar.


Alya dan Rhea pun terlihat menunggu gosip yang akan disebutkan oleh gadis yang masih berdiri di depan kelas yang terlihat masih mengatur sisa nafasnya yang tersengal.


Sedangkan Khey terlihat malas, gadis itu masih saja memikirkan Fabian yang mengabaikannya saat berpapasan beberapa saat lalu.


"Gosip apaan Rhe...?" Alya menoleh ke arah Rhea.


"Gue juga kagak tau." Rhea dengan menggedikkan bahu.


"Cepetan ngomong woy...!!" teriakan dari belakang terdengar tidak sabar.


"Okey... okey gue kasih tau. Ini tentang Fabian si jago basket idola baru SMU Gama."


Khey mendongak dengan kening mengerut.


Kasak kusuk mulai terdengar dari mulut para siswi di kelas Khey.


"Fabian kenapa?" Rhea bertanya dengan berseru, terdengar penasaran.


"Bagi yang mulai mengidolakan Fabian siapkan jantungnya agar tetap sehat."


"Cepetan ihh... lama banget sih." Salah satu siswi terdengar tidak sabar.


"Fabian sama Nina tadi pelukan gaesss...!"


Dhuaarrr....


Apa!


Gak mungkin!


Para siswi berteriak histeris.


Pun begitu dengan kedua sahabat Khey. Alya dan Rhea.

__ADS_1


Sedangkan Khey membola, tubuhnya menegang. Entah apa yang dia rasakan saat. Marah, kesal, cemburu atau apapun itu, Khey tidak mampu mengungkapkannya.


Namun satu yang pasti, ada rasa nyeri bagai tersayat sembilu pada dada Khey saat ini.


Khey menghalau pikiran dalam otaknya, berusaha meyakinkan diri bahwa yang didengarnya itu adalah gosip murahan yang belum tentu kebenarannya.


"Gak usah bohong lo, jangan bikin gosip murahan kek gitu." seorang siswi berteriak tidak terima.


"Gue gak bohong. Gue lihat dengan mata kepala gue sendiri. Tadi di dekat lapangan bola, Nina sama Fabian beneran pelukan." Gadis pembawa gosip dengan meyakinkan.


Deg.


Jantung Khey seolah berhenti berdetak.


Tempurung kepalanya kembali mengingat kejadian beberapa saat lalu saat dirinya bertemu Fabian dan Nina yang berjalan bersama dengan senyum yang mengembang pada bibir keduanya.


Kenapa gue marah dengernya.... Khey meraba dadanya yang saat ini kembali berdetak. Dan kali ini terdengar bergemuruh seakan terdengar seperti tabuhan genderang untuk berperang.


πŸ“πŸ“πŸ“


Brukk.


Khey menghempaskan tubuhnya ke atas ranjang dengan sedikit keras. Entah mengapa hari ini Khey merasakan tubuhnya sangat lelah.


Aktivitasnya di sekolah yang sangat padat atau mungkin hatinya yang seharian ini gelisah atau mungkin karena alasan keduanya membuat Khey merasakan tenaganya terasa terkuras.


Hufftt...


Khey menghembuskan nafasnya kasar dengan tubuh yang terlentang menghadap langit langit kamar.


Ingin rasanya segera memejamkan kedua matanya untuk menghentikan pikiran yang mereka kebenaran gosip tersebut. Namun entah mengapa kedua mata itu tidak mau terpejam.


Bahkan lelah tubuhnya yang mendera tidak mampu membawanya segera menutup mata.


Aaaaaaa.....


Khey berteriak frustasi dengan mengacak rambutnya kasar. Bahkan Khey membawa tubuh lelahnya itu berguling guling di atas ranjang untuk menghilangkan otaknya yang tidak berhenti memikirkan hubungan Fabian dan Nina.


Beberapa saat setelahnya Khey memutuskan memasuki kamar mandi.


Mungkin dengan berendam di dalam bath up dan diberi aromaterapi membuat otaknya rileks dan tubuh lelahnya akan kembali bugar.


Khey pun memanjakan tubuhnya dengan berendam di dalam bathup. Menutupi seluruh permukaan air dengan busa sabun dan meletakkan kepala tengadah.


Khey menghirup kuat aroma lavender yang berasal dari minyak esensial yang sempat Khey campurkan ke dalam air mandinya.


Tanpa Khey sadari kedua matanya perlahan mengatup terpejam.


Entah berapa lama Khey tertidur di dalam bathup, namun yang pasti saat Khey terbangun Khey merasakan tubuhnya lebih segar.


Khey pun dengan segera membilas seluruh tubuhnya dengan air shower yang di setting hangat, untuk membersihkan sisa busa sabun yang masih menempel pada tubuhnya.

__ADS_1


Setelah memakai kimono mandi dan membungkus rambut hitamnya dengan handuk, Khey berjalan keluar dari kamar mandi.


Kedua mata Khey memindai ruangan kamar yang mulai menggelap karena sepertinya hari telah berganti malam.


Tidak ada sosok Fabian tengil di sana.


"Kemana gerangan si tengil itu, kenapa jam segini dia belum pulang." Khey menggumam dengan mendekati saklar lampu untuk menyalakan lampu kamarnya.


Khey berjalan menuju almari pakaian, mengambil piyama tidur lalu segera memakainya.


Setelah selesai berpakaian Khey berjalan ke arah balkon kamar sembari mengusap rambut basahnya dengan handuk. Menyandarkan tubuh pada pagar balkon dengan mata yang tidak berhenti memandangi halaman rumah untuk melihat jika Fabian pulang.


"Apa Fabian kencan sama Nina ya... mungkinkah saat ini mereka mampir nonton bioskop atau ngemoll bareng? Atau jangan jangan mereka dinner berdua..." Khey tidak berhenti memikirkan alasan kenapa Fabian belum menampakkan batang hidungnya hingga malam.


Meskipun Fabian sering pulang larut dari pekerjaan sampingannya sebagai tukang parkir, tapi biasanya selalu menyempatkan pulang lebih dulu untuk sekedar membersihkan tubuhnya dan mengganti seragam sekolahnya. Bahkan berusaha menyempatkan diri untuk menemani Khey makan malam.


Kemana perginya Fabian hari ini?


Khey tetap saja tidak berhenti memikirkan keberadaan sang suami.


"Jangan jangan dia telfon gue..." Khey tetiba teringat dengan ponselnya. Lalu bergegas memasuki kamar kembali dan mencari ponselnya.


"Dimana hape gue ya?" Khey menggumam dengan mencari keberadaan ponselnya.


Sejenak Khey terdiam berusaha mengingat dimana dirinya meletakkan benda pipih tersebut.


Detik berikutnya tersenyum sambil beranjak menuju meja belajarnya.


Khey meraih tas punggung sekolahnya, membukanya dan mengambil ponsel pintarnya dari dalam tas.


Dengan segera Khey menyalakan ponselnya dengan harapan Fabian menghubunginya, atau setidaknya memberitahukan keberadaannya saat ini. Serta memberikannya alasan kenapa tidak pulang hingga larut malam seperti ini.


Wajah Khey mengerut kesal saat membuka layar ponselnya tidak menemukan notif apapun di sana. Tidak ada bekas panggilan ataupun chat yang masuk dari Fabian tengil.


Ingin rasanya menghubungi Fabian dan menanyakan keberadaan sang suami tersebut, namun gengsinya yang cukup tinggi membuatnya menurunkan niatnya.


Khey hanya mampu mengumpat kesal dan melempar ponselnya ke atas ranjang, diikuti dengan tubuhnya yang juga ambruk tengkurap di sana.


Memiringkan kepala lalu meraih kembali ponsel yang tak jauh dari tangannya.


Mengusap layar ponselnya kembali, Khey hanya memandangi ponselnya tanpa berbuat apa apa.


"Bahkan seharian ini lo ngelupain gue Bi..."


Like πŸ‘πŸ»


Vote πŸ”–


Rate ⭐⭐⭐⭐⭐


Komen πŸ’‹

__ADS_1


Tambahkan favorit ❀


Biar semangat nulis part lanjutannya😍😍😍😍


__ADS_2