Mendadak Nikah 2 (Married By Accident)

Mendadak Nikah 2 (Married By Accident)
MBA 157


__ADS_3

"Hati hati pah." Khey dengan memapah papanya masuki rumah.


"Papa tidak selemah itu Ra." papa dengan tersenyum lembut.


"Tapi kan papa habis sakit, wajar kalau Ara khawatir."


Fabian yang berjalan di belakang keduanya dengan menenteng koper tersenyum. Baru kali ini Fabian melihat istri barbarnya bersikap lembut layaknya seorang gadis yang manis.


Interaksi Khey dengan sang papa membuat bibir Fabian melengkung sempurna.


"Bik kamar papa sudah dibersihkan?" tanya Khey pada asisten rumah tangga keluarganya yang telah membukakan pintu utama untuknya.


"Sudah non."


"Sini den, biar bibik yang bawa." bik Munah mengangsurkan tangan untuk meraih koper yang dibawa Fabian.


"Nggak usah bik, biar Abi aja yang bawa." tolak Fabian halus. "Bibik siapkan makan buat papa aja, untuk pengganjal perut sebelum minum obat nanti." lanjut Fabian kemudian.


"Baik den."


Asisten rumah tangga keluarga Khey berlalu pergi ke dapur. Sedangkan Fabian melanjutkan langkahnya mengikuti Khey dan papanya menuju kamar.


"Papa mau apa?" tanya Khey dengan menaikkan selimut ke tubuh papanya.


"Tidak ada sayang. Papa mau istirahat saja."


"Kalau gitu Ara sama Abi tinggal ya pah." pamit Ara kemudian.


Setelag mendapat anggukan kepala dari papanya, Khey segera menarik tangan Fabian untuk keluar dari kamar orang tuanya.


"Lapar nggak?" tanya Khey pada Fabian setelah keduanya menjejakkan kaki di luar kamar orangtuanya.


"Nggak laper banget sih, tapi gue pengen makan mie instan deh yang."


"Kok mie sih Bi." Khey dengan nada tidak rela.


"Pengen yang, mie kuah pakek sayur ijo sama telur dikasih irisan cabe rawit. Hemm... cocok sama suasananya." Fabian dengan membayangkan sedapnya.


"Ya udah deh. Minta dibikinin sama bik Mun ya Bi." Khey melenggang ke arah dapur tanpa menunggu jawaban dari Fabian.


"Biikkk..." seru Khey.


Namun tak ada jawaban dari asisten rumah tangganya tersebut.


"Bik Muunn..." lagi Khey berseru lebih kuat.


"Sayang jangan teriak teriak di dalam rumah, udah nggak usah panggil Bik Mun. Mungkin dia sibuk di belakang. Biar gue bikin sendiri aja." sela Fabian mendahului Khey ke dapur.


"Elo bisa masak Bi?" Khey dengan nada heran mengikuti langkah kaki sang suami.


"Cuma bikin mie instan doang bisa lah. Lagian ada tutorial di bungkusnya." Fabian dengan santai.


Setelah berada di dapur, Fabian segera membuka kabinet gantung tempat penyimpanan bahan makanan yang dulu Fabian ketahui dari asisten rumah tangga keluarga Khey.

__ADS_1


"Elo tau tempatnya?" Khey melebarkan kedua mata saat mendapati Fabian seolah hafal tata letak dapur keluarganya. Bahkan suami tengilnya itu telah menemukan peralatan untuk memasak dan menaruhnya di atas kompor. Padahal Khey saja tidak tahu menahu tentang itu.


"Taulah. Gue kan pernah bikin juga dulu." Aku Fabian tanpa menghentikan tagannya menyiapkan segala sesuatunya.


"Kapan?" Lagi Khey heran setelah mendengar pengakuan Fabian.


"Dulu pas masih tinggal di sini. Gue pernah bikin pas laper malam malam."


"Kok gue nggak pernah tau ya." Khey terdengar seperti menggumam.


"Waktu itu lo nggak peduli sama gue yang. Mana mungkin tahu." Fabian bukan sengaja mengingatkan kejelekan Khey saat lalu.


"Nyindir gue..." Khey dengan bibir mengerucut.


"Nggak nyindir, gue ngatain."


"Bii..."


Fabian pun terkekeh melihat raut kesal sang isteri.


"Mau?" tawar Fabian.


"Enak nggak?!"


"Enak gak enak pasti bakalan enak. Karena gue bikinnya pakek bumbu cinta." Fabian tetap saja bercanda.


"Pede banget ya bang..." Khey terkekeh.


"Bolehlah, dikit aja gue. Takutnya nggak enak." Khey sengaja mengejek Fabian. Karena Khey tahu seenggak enaknya mie instan pasti masih bisa dinikmati.


"Nggak usah ngejek. Liat aja lo pasti ketagihan yang." Fabian tidak marah, bahkan tidak terlihat tak ambil pusing dengan ejekan Khey.


Terbukti dari tangannya yang terpilih memasukkan potongan sayuran hijau ke dalam panci raya mengaduk untuk mencampur mie buatannya.


"Mau pedes banget apa sedeng?"


"Sedeng aja Bi." sahut Khey dengan mengambil dua mangkuk, menyiapkan untuk alat makan mereka berdua.


Khey memberi alas piring pada mangkuk yang telah disiapkan olehnya. Tak lupa menyiapkan sendok dan garpunya juga.


Setelahnya menyender pantry dengan ekor mata yang tak putus melihat aksi Fabian yang terampil menyelesaikan kegiatan memasaknya.


Dalam hati Khey berdecak kagum karena Fabian terlihat lihai di dapur. Meski cowok jangkung bergelar suaminya itu adalah anak semata wayang dari keluarga kaya namun dia terlihat cekatan dalam memasak. Walaupun hanya mie instan.


Khey yang seorang cewek saja tidak pernah melakukannya.


Terima kasih Tuhan karena telah memberikan aku suami yang sempurna seperti Abi... ungkap syukur hati Khey tanpa melepas pandangan pada sosok Fabian yang membelakanginya


"Sayang segini cukup?" Fabian dengan menunjukkan mangkuk berisi mie buatannya pada Khey.


Khey tak menyahut. Tak ada reaksi dari isteri Fabian yang terlihat melamun meski matanya nanar ke arahnya.


"Sayang... hey..."

__ADS_1


Fabian mendekat dengan melambaikan telapak tangan tepat di depan wajah Khey.


"Akh.. eh iya..." Khey tergagap.


Fabian tersenyum dengan wajah menggoda. "Terpesona kan sama gue."


"Enggak!" elak Khey tersipu.


"Ck... gak mau jujur. Nih mienya udah mateng."


"Eh oh... makasih Bi." Khey dengan mengambil alih mangkuk mie dari tangan sang suami. Lalu menaruh di atas meja makan.


Disusul oleh Fabian dengan membawa mangkuk mie miliknya.


"Loh... mau kemana yang?" tanya Fabian saat Khey beranjak pergi.


"Ambil minum."


"Oh."


Tak berselang lama Khey pun datang dengan membawa dua gelas berisi air mineral. Meletakkan satu gelas ke hadapan Fabian dan satu lagi untuk dirinya.


"Selamat makan." ucap Khey setelah mendudukkan diri.


"Doa dulu yang." peringat Fabian.


"Eh iya, lupa."


Khey pun segera melaksanakan rutinitas doanya lalu mengaduk mie buatan sang suami setelahnya.


Slurrpp....


"Emm... enak Bi." Khey setelah mencicip sesuap mienya.


"Kan udah gue bilang tadi."


"Lo jago masak juga ternyata." Khey kagum.


"Nggak jago amat yang. Cuma bikin mie doang."


"Tapi beneran enak ini, sumpah. Indomie di burjo depan bisa kalah saing ini." lalu Khey menyuap lagi ke dalam mulutnya dengan semangat.


"Pelan pelan yang, belepotan tuh." Fabian dengan mengusap salah satu sudut bibir Khey. "Kek bocil aja."


"Bocil yang udah bersuami." Kekeh Khey membuat Fabian tergelak ringan.


Keduanya pun lanjut memakan mienya hingga tandas. Sesekali menyelinginya dengan tawa canda.


Tanpa keduanya sadari, papa Danu memperhatikan interaksi keduanya dari kejauhan.


Semoga Abi bisa memberikan kamu kebahagiaan yang sempurna Ara sayang...


😍😍😍😍

__ADS_1


__ADS_2