
"Nih... Jangan sampai kotor. Loundry dulu sebelum elo balikin ke gue..." Farrel menyerahkan hoodie hitam miliknya ke tangan Fabian.
Farrel segera datang setelah beberapa saat lalu, dirinya mendapatkan panggilan telepon dari Fabian tengil yang memintanya membawakan hoodie miliknya. Tanpa banyak tanya Farrel pun datang untuk memenuhi keinginan sahabatnya.
Persahabatan Farrel dengan Fabian memang sangat dekat, kedekatan dan ketulusan hubungannya keduanya tidak perlu diragukan lagi. Meski keduanya tidak ada hubungan darah, keduanya sangat dekat melebihi kedekatan saudara kandung.
Fabian menerima hoodie tersebut lalu melilitkan ke pinggang Khey untuk menutupi roknya yang membentuk bendera jepang.
Kedua mata Farrel membola melihat aksi Fabian, dirinya tidak menyangka jika sahabatnya tersebut mengorbankan hoodie kesayangan miliknya demi Khey isterinya.
"Bian elo..." Farrel paham dengan tindakan Fabian. Demi apa, Fabian melakukan itu tanpa meminta persetujuan darinya sebagai pemilik hoodie.
"Tenang aja... kalau sampai tembus ke hoodie lo, entar gue kasih pemutih biar bekasnya hilang." ucap Fabian asal saat melihat bola mata kaget Farrel.
Plak...
Farrel memukul kepala Fabian.
"Hoodie gue jadi batik dodol." Farrel kesal mendengar jawaban asal Fabian.
"Ck... entar gue beliin yang baru elah..." sahut Fabian dengan meringis mengusap kepalanya.
"Itu limited edition, gue beli setahun lalu. Udah nggak ada yang baru lagi. Dasar sahabat nggak berhati nurani lo, nggak ngotak..." Farrel menggerutu kesal.
"Entar gue pesenin yang sama ke penjahit deh..." Fabian.
Plak... lagi Farrel memukul kepala Fabian.
"Elo kata hoodie gue kw, itu ori bro..."
"Ya udah entar gue beliin yang terbaru, merek yang sama. Elo pilih sendiri yang termahal." Fabian berucap dengan santai.
"Serius?" Farrel dengan tatapan berubah senang.
"Kapan gue pernah bohongin elo..."
"Bonus sneakers ya?!" Farrel tanpa malu malah menodong sahabatnya.
"Njir kesempatan dalam kesempitan..."
"Deal pokoknya." Farrel menuntut tanpa peduli dengan persetujuan Fabian.
"Iya... iya... deal..." Fabian menyetujui dengan menautkan telunjuk dengan ibu jarinya. Tak lupa senyum tulus yang tercetak di bibirnya, itu berarti Fabian tidak mungkin berbohong.
Khey yang berada di tengah perdebatan kedua sahabat tersebut, memandang Fabian tidak suka. Bagaimana bisa cowok tengil yang telah menjadi suaminya tersebut begitu mudahnya menyetujui keinginan sahabatnya. Padahal untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga saja Fabian harus rela menjadi tukang parkir, sepengetahuan Khayyara.
Khey sangat tahu merek hoodie milik Farrel tersebut cukup mahal untuk kalangan anak sekolah yang hidupmu masih bergantung dengan orang tua. Apalagi untuk kaum menengah ke bawah.
Dan lagi Farrel menodong suami tengilnya dengan tambahan sneaker, itu berarti Fabian harus merogoh koceknya lebih dalam untuk memenuhi keinginan sahabatnya.
Sayangnya Fabian seperti mengabaikan tatapan tidak suka Khey, membuat gadis itu mendengus kesal.
__ADS_1
Khey tidak mau mendebat keputusan Fabian di depan sahabatnya, dia merasa tidak enak hati. Apalagi Fabian tadi sempat memberitahunya jika yang membelikan roti jepang alias pembalut miliknya tadi adalah Farrel.
"Kunci mobil..." Fabian menengadahkan tangannya, dengan santai ganti menodong Farrel.
"Mobil juga??" Farrel.
"Iyalah... masak gue harus bawa isteri gue kek gini naik motor." Fabian menoleh ke arah Khey sesaat.
"Ck... apes bener deh nasib gue..." Farrel bersungut namun tetap dengan merogoh saku celana seragam sekolahnya.
"Elo nggak apes bro... tenang saja orang baik bakal dapat pahala banyak. So jangan berhenti jadi orang baik..." Fabian dengan mengerlingkan salah satu matanya.
"Omongan orang butuh emang lemes..."
"Itung itung buat lo belajar jadi suami yang baik kelak...." Fabian dengan mengambil kunci mobil dari tangan Farrel.
"Nasib... nasib... punya salah apa gue terlahir jadi kacung lo..." gerutu Farrel.
"Jangan menggerutu, elo harusnya bersyukur karena gue mau membagi pelajaran untuk menjadi suami siaga kelak... Elo harusnya terima jadi ke gue karena gue membagi ilmunya gratis tanpa memungut bayaran." Fabian dengan kekehan.
"Suami siaga pala lo peyang!" Farrel dengan kembali mengacungkan tangan hendak memukul kepala Fabian lagi.
Namun aksi tersebut gagal dilakukan Farrel karena Fabian keburu berlari dengan menarik tangan Khey menuju parkiran sekolah sembari tertawa terbahak.
πππ
"Bi..."
Fabian dan Khey berada di dalam mobil milik Farrel saat ini.
"Elo sama Farrel..." Khey menggantung kalimatnya.
Fabian menoleh . "Kenapa?"
"Lo serius mau beliin dia hoodie sama sneakers?" tanya Khey dengan rasa keingintahuan yang tidak dapat dibendungnya lagi. Khey merasa sangat penasaran dengan perbincangan sang suami dengan sahabatnya beberapa saat lalu.
"In sya Allah kalau gue udah punya uang cukup. Kenapa emangnya?" tanya Fabian balik tanpa memalingkan wajahnya.
"Apa itu nggak berlebihan." ungkap Khey hati hati, takut Fabian tersinggung dengan apa yang diucapkan olehnya.
"Nggaklah... itu nggak sebanding dengan yang Farrel lakuin ke gue selama ini." Fabian terdengar datar.
"Tapi..." Khey menjeda ucapnnya sejenak. "Itu kan merek mahal Bi... Elo nggak keberatan emangnya beliin dia..." Khey menoleh ke sisi kanannya, di mana Fabian fokus menyetir sembari memandang jalanan di depannya.
"Iya. Gue tau..."
"Gimana caranya lo beli?" Khey penasaran mengingat suami tengilnya tersebut dari keluarga yang biasa saja menurutnya.
"Ya datang ke storenya sama Farrel biar dia milih sendiri apa yang disukainya. Gampang kan?!" Fabian enteng.
"Nggak gitu maksud gue Bi. Duitnya..." Khey kesal mendengar jawaban dari Fabian.
__ADS_1
"Ya gue siapin dulu lah Ra... gitu aja kok repot."
Khey semakin kesal mendengar ucapan Fabian. "Nggak usah ngelawak!!"
"Gue nggak ngelawak yang..." Fabian menoleh ke arah Khey dengan menyunggingkan senyum di wajah tampannya.
Sebenarnya Fabian paham akan maksud Khey, namun Fabian sengaja membelokkan arah pembicaraannya.
"Nggak usah cemberut gitu, bikin gemes tau..." Fabian mencubit pipi Khey yang menggembung karena kesal.
"Aww... sakit tau Bi..." Khey menggerakkan kepalanya seraya menepis tangan besar Fabian dari pipinya.
"Makanya jangan cemberut, bisa bisa gue makan tu pipi bakpao." Fabian dengan kekehan.
"Enak aja..." Khey sewot.
"Udahlah nggak usah marah. Gue tau kok maksud lo. Itu nggak bakal mengurangi jatah uang jajan elo kok."
"Ra..." Fabian mencoba membujuk karena Khey memalingkan wajahnya.
"Iya.. iya... gue denger." Khey masih dengan nada kesal.
"Ra... ayolah..." Fabian masih membujuk Khey yang terlihat merajuk.
Hingga terdengar ponsel Fabian berdering.
"Hape lo bunyi tu..." Khey menepis tangan Fabian yang masih bertengger di bahu kanannya.
Mau tak mau Fabian pun meraih ponselnya dari dalam kantung celana seragamnya. Terdapat nama Farrel sahabatnya. Fabian segera menggeser tanda panggilan teleponnya.
Fabian
"Hallo Rell... ada apa?"
Fabian bertanya dengan kening mengerut, mengira situasi apa yabg membuat Farrel menghubunginya.
Farrel
"Gue cuma mau ngingetin jam Pak Burhan entar ada kuis, usahakan elo balik sekolah."
Fabian
"Oh iya, hampir aja gue lupa. Tanks bro udah ngingetin."
Farrel
"Yoi."
Sahut Farrel dengan menutup panggilan teleponnya.
ππππ
__ADS_1