Mendadak Nikah 2 (Married By Accident)

Mendadak Nikah 2 (Married By Accident)
MBA20


__ADS_3

Dengan langkah kaki yang tergesa - gesa Fabian memasuki sebuah restoran elit yang berada di Jogja.


Mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan restoran yang terlihat cukup ramai pengunjung.


Mendapati sosok gadis manis berambut sebahu duduk sendirian sedang menunduk mengaduk - aduk gelas minumnya. Fabian tersenyum lega.


Kemudian melangkahkan kakinya dengan lebar menuju sang gadis yang duduk pada sisi pojok restoran.


"Hai." sapa Fabian dengan senyum membingkai di wajahnya baby facenya.


Gadis itu mendongakkan kepala mendengar suara bariton yang sudah tidak asing pada gendang telinganya.


Sedikit kesusahan menelan ludahnya kelat, dengan kedua mata yang berkabut. "Hai Bian."


Fabian menautkan kedua alis matanya.


"Kenapa?" tanya Fabian lembut dengan menggeser salah satu kursi mendekati sang gadis.


Ada rasa sesak dalam dada Fabian saat melihat kondisi gadis yang masih menguasai sebagian hatinya tersebut.


"Kenapa nangis?" tanya Fabian lembut sembari mengusap buliran bening yang mulai mengalir pada pipi cabinya.


Hiks...


Fabian meraih bahu sang gadis kemudian menyandarkan kepalanya ke dalam dada bidangnya.


Sang gadispun semakin terisak.


Sesaat membiarkan gadis yang masih dicintainya tersebut untuk memuaskan diri menyalurkan kesedihannya.


Dengan perlahan dan lembut Bian mengusap rambut hitamnya untuk memberikan ketenangan pada gadis yang terlihat dirundung gelisah tersebut.


Setelah puas menumpahkan tangisannya, sang gadis mengangkat kepalanya untuk menjauh dari dada bidang Fabian.


"Maaf selalu ngerepotin lo." ucap gadis itu masih dengan terisak sembari mengusap buliran bening yang membanjiri wajahnya.


Fabian tersenyum tipis.


"Kenapa lagi? Cerita sama gue." Fabian mengusap lembut bahu sang gadis yang masih sedikit bergetar itu dengan menatapnya sendu.


Heh ... terlihat sang gadis membuang nafas kasar.


"Udah seminggu lebih dia nyuekin gue Fab." ucap sang gadis dengan membuang pandangan jauh ke luar jendela kafe yang terbuat dari kaca.


Huh ... Fabian pun membuang nafas tak kalah kasar.


"Selalu saja seperti itu." gumam hati Fabian dengan kesal.


"Dia mengabaikan telfon gue, chat gue gak dibales sama sekali. Gak ada sedikitpun kabar darinya." sang gadis mengungkapkan keresahannya.


Dengan menahan gemuruh di dadanya Fabian berusaha menenangkan sang gadis.


"Mungkin dia sibuk. Elo tau kan dia orangnya seperti apa ..."


"Tapi ini lebih dari seminggu Fab, bahkan dia gak pernah dateng ke rumah." ucap gadis itu terdengar seperti gumaman.


"Elo udah samperin ke rumahnya?" tanya Fabian menyelidik. Fabian tahu hubungan gadis yang dicintainya itu sangat baik dengan keluarga kekasihnya, bisa dikatakan orang tua kedua pihak memberikan lampu hijau kepada mereka berpacaran. Tidak seperti padanya yang ditolak mentah mentah oleh papa sang gadis.


Sang gadis terlihat mengangguk. "Bahkan gue selalu datang ke rumahnya, tapi gak pernah bertemu." Terdengar kesedihan yang sangat dalam dari ucapan sang gadis.

__ADS_1


"Sabar aja, nanti kalau udah gak sibuk dia pasti hubungin elo." Fabian berusaha menenangkan meski hatinya seperti teriris saat ini.


"Tapi gue kangen Fab, gue kangen sama dia." ucap sang gadis dengan menahan isak tangisnya tanpa menyadari jika apa yang diucapkan olehnya membuat hati Fabian perih seperti tersayat.


Menghirup oksigen dalam sesaat menahannya sedetik kemudian menghembuskannya dengan berat, hanya itu yang mampu Fabian lakukan tiap kali menghadapi kesedihan dari gadis yang masih mengisi pojok ruang di hatinya tersebut.


Meskipun kemarin dirinya telah mengucapkan janji suci pada gadis lain namun Fabian belum mampu menyingkirkan sosok yang selalu mengendap pada sudut hatinya yang palung dalam tersebut.


Salahkan saja dirinya yang tidak mampu bersikap tegas tiap kali menghadapi gadis bermata sendu di depannya tersebut. Karena jujur saja hatinya masih miliknya.


Lalu kenapa dirinya kekeh menikahi Ara, di saat hatinya masih menyimpan cewek lain?


Bukankah itu sama saja akan menyakiti sahabat kecilnya tersebut suatu saat nanti...


Bukankah itu egois...


Biarlah dirinya egois untuk saat ini, karena Fabian yakin hatinya mampu menerima dan mencintai Ara suatu saat nanti.


Mencintai gadis cantik seperti Khayyara akan sangat mudah dilakukan oleh siapapun, pun demikian dengan dirinya yang sejatinya juga peduli dengan gadis barbar yang sepertinya masih polos tersebut.


"Bian."


Hem...


"Dia sepertinya berubah sekarang, elo tau nggak kira - kira kenapa?"


Fabian mengernyit.


"Sorry gue gak tau. Elo tau kan kalau gue gak pernah komunikasi sama dia sekarang." Fabian menyembunyikan kebenarannya.


Gadis itu terlihat menghembuskan nafas panjang, memperlihatkan gurat kesedihan pada wajah cantiknya yang masih sembab.


"Sorry hubungan kalian renggang gara - gara gue." ucap sang gadis bersurai panjang itu dengan sendu.


Sang gadis tersenyum tipis, tidak begitu saja mempercayai ucapan Fabian.


"Kalau gue putus sama dia, mungkin hubungan elo berdua bisa kek dulu lagi." ucapan itu terdengar seperti gumaman.


"Udah... jangan bahas itu lagi, please." Fabian memandang lekat gadis yang dulu selalu membuatnya semangat menyambut sinar mentari pagi.


Sang gadis tersenyum tipis.


Meski dalam hatinya sangat menyesali keputusannya lebih memilih sahabat Fabian, akan tetapi tidak mungkin dirinya membalik keadaan dan memilih cowok berwajah baby face di depannya.


Tidak mungkin. Sang gadis mengucap dalam hati dengan menggelengkan kepalanya lemah.


πŸ“πŸ“πŸ“


Khayyara yang selepas sholat dhuhur tadi memejamkan mata membuang rasa kantuk dan lelahnya perlahan mengerjapkan kelopak matanya.


Menoleh ke kanan dan ke kiri, dirinya tidak mendapati sosok jangkung Fabian suaminya.


Khey mencari tubuh jangkung itu bukan karena rindu ataupun tidak rela jika lelaki remaja yang sudah bergelar sebagai suami sahnya itu tidak di sisinya. Melainkan Khey heran karena sejak keduanya sah sebagai pasangan suami isteri Fabian tidak sedikitpun melewatkan kesempatan untuk berdekatan dengannya.


Yang pastinya akan menyalurkan hasrat mesumnya pada diri Khey, sungguh menyebalkan bukan?!


Khey menegakkan tubuhnya kemudian menjulurkan kaki jenjangnya ke lantai kamar.


Segera berjalan ke kamar mandi untuk membasuh wajahnya, sekalian mengambil air wudhu mengingat jarum jam sudah menunjuk angka 4.30 sore.

__ADS_1


Setelah menyelesaikan aktivitas kamar mandinya, Khey segera menunaikan kewajiban sholat lima waktunya.


Lalu setelahnya keluar kamar dan segera menuruni anak tangga untuk menuju lantai dasar.


Khey mengernyit saat mendapati suasana rumah sepi, sunyi senyap seolah tidak berpenghuni.


"Kemana perginya semua orang?" suara Khey terdengar seperti gumaman.


"Bik... bibik..." seru Khey saat sudah menjejakkan kaki di lantai dasar.


"Iya non!" terdengar suara disertai langkah kaki yang tergopoh gopoh dari arah belakang rumah.


"Kok rumah sepi Bik, mama papa belum pulang?"


"Eh anu non, itu anu... apa..." Bik Mun asisten rumah tangga keluarganya terlihat bingung.


"Kenapa Bik?"


"Itu em ... tadi Tuan pulang sebentar terus berangkat lagi katanya mau pergi ke Singapore non."


"Mama?"


"Nyonya em... nyonya pergi ke jakarta non, katanya menghadiri acara fashion show." sahut asisten rumah tangga Khey dengan hati hati, karena sudah dapat dipastikan jika nona mudanya akan kecewa.


"Tanpa pamit sama Ara Bik?!" Khey terlihat kesal.


"Tadi mau pamit tapi non Ara tidur nyenyak." sahut Bik Mun berbohong. Karena sebenarnya baik tuan maupun nyonyanya tidak ada satupun yang berkeinginan pamit pada nona mudanya.


Jika saja asisten rumah tangga yang sudah mengabdi selama belasan tahun di rumah keluarga Khey itu tidak bertanya, sudah dapat dipastikan bahwa tuan dan nyonyanya tersebut tidak akan memberitahu akan kepergiannya.


Khey memilih mempercayai ucapan Bik Mun daripada harus merasakan sakit hati karena diabaikan oleh kedua orang tuanya.


"Fabian mana Bik?" Khey mengalihkan pertanyaan.


"Den Bian pamit keluar dari siang tadi non, waktu non Ara tidur."


"Kemana Bik?" Khey bertanya bukan karena mengkhawatirkan suami remajanya melainkan sekedar ingin tau saja keberadaan cowok tengil tersebut.


"Maaf bibik gak tau non, aden gak bilang mau pergi kemana." jelasnya.


"Oh ya udah Bik, makasih." sahut Khey lalu berjalan menuju halaman belakang rumah besarnya.


Menghembuskan nafas kasar.


"Heh ... selalu saja seperti ini, seolah gue memang gak ada artinya." gumam kesal Khey.


"Dan elo Bian, elo ternyata sama saja. Mulut lo cuma omdo." Khey memandang jauh halaman belakang rumahnya dari balik pintu kaca, merasa Fabian sama seperti orang tuanya yang tidak peduli dengan kekosongan hatinya. Hatinya mendadak sesak.


😍😍😍😍


My beloved readers, tengyu so much for :


Like πŸ‘πŸ»


Vote πŸ”–


Rate ⭐⭐⭐⭐⭐


Komen πŸ’‹

__ADS_1


Tambahkan favorit ❀


Salam halu dari author yang narsis abishh πŸ’ƒπŸ»πŸ’ƒπŸ»πŸ’ƒπŸ»


__ADS_2