
"Fabian, lo udah selesai makan? "
Seorang gadis dengan wajah oval, putih, rambut yang diberi cat pirang dan tubuhnya yang tinggi semampai berdiri di hadapan meja Fabian.
Gadis itu adalah Nina anak osis sekaligus seorang model remaja yang cukup dikenal oleh para remaja seusianya di Jogja, kebetulan Nina bersekolah di tempat yang sama dengan Fabian.
SMU Gama adalah sekolah swasta elit di Jogja jadi, pemakaian warna pada rambut tidak dipermasalahkan di sana.
Nina dan Fabian sudah saling mengenal semenjak duduk di bangku sekolah menengah pertama, meskipun mereka beda sekolah waktu itu.
Rumah Kakeknya berada satu kompleks perumahan elite keluarga Fabian, itulah alasan mengapa mereka bisa saling mengenal dan akrab. Bisa dikatakan mereka bersahabat baik.
Fabian yang semula menunduk sedang menikmati makan siangnya di kantin pun mendongak.
Kening Fabian mengerut, tak berapa lama menyunggingkan senyum di bibirnya saat melihat sahabatnya berdiri di samping mejanya.
"Dikit lagi kenapa?"
"Gue mau ngomong sama lo bentar." Nina pun membingkai senyum pada wajahnya.
"Duduk dulu." Fabian dengan menunjuk kursi di hadapannya dengan dagu.
"Enggak. Gue buru buru."
"Mau ngomong di sini?" tanya Fabian dengan menghentikan makan siangnya kemudian meraih tisu makan untuk membersihkan mulutnya dari bekas makanan.
"Kita ngomong di luar aja." Nina tanpa basa basi. Siapapun yang melihat interaksi keduanya pasti berfikir mereka berdua memiliki hubungan yang sangat dekat.
"Okey." Fabian dengan beranjak dari tempat duduknya.
"Joko, Farell gue cabut duluan."
"Okey..." sahut Jackson, sedangkan Farell hanya mengambangkan tangan ke udara karena mulutnya penuh dengan makanan.
Fabian berjalan lebih dulu dengan kedua tangan yang dimasukkan ke dalam saku celana seragam sekolah. Nina mengikuti lalu memasukkan lengan tangannya pada salah satu sudut tangan Fabian sembari menoleh ke arah Fabian. Fabian seakan membiarkan tangan Nina menempel di sana. Mereka berjalan dengan terlihat membicarakan sesuatu.
Pemandangan itu tak lepas dari manik mata Khey yang pandangan penuh dengan berbagai macam pertanyaan yang menyelimuti tempurung kepalanya.
Ya, Khayyara saat ini juga berada di kantin. Entah Fabian menyadari atau tidak dengan adanya sosok Khey di dalamnya.
Posisi meja Khey yang berada di belakang Fabian, sepertinya membuat suami tengilnya itu tidak menyadari keberadaan Khayyara.
"Jack." Tetiba Rhea berseru memanggil Jackson setelah Fabian dan Nina sudah terlihat menjauh dari kantin.
__ADS_1
"Apa?" Jackson mendongak karena merasa namanya dipanggil.
"Nina sama Fabian pacaran?" Rhea to the point.
Jackson menggedikkan bahu dengan pandangan mata menoleh ke luar kantin, namun sosok sahabatnya itu sudah tidak terlihat lagi.
Sesaat setelah Jackson menoleh pada Farell yang duduk di sebelahnya.
"Rell Fabi sama ombre itu pacaran kah?"
Yang dimaksud Jackson ombre adalah Nina yang warna rambutnya memang pirang ombre, mungkin bekas fotoshot iklan dan gadis model remaja itu belum sempat mengganti warna rambutnya.
Farell yang masih mengunyah sisa makanan di dalam mulutnya, berusaha menelan seluruhnya lalu meraih gelas es tehnya.
Farell meneguk es teh tersebut rakus untuk mendorong makanan dalam tenggorokannya segera turun masuk ke perutnya.
Saat meletakkan gelas es teh yang tinggal setengahnya, kedua mata Farell menangkap keberadaan Khey duduk di antara kedua sahabatnya.
Terbersit ide dalam pikiran Farell untuk mengerjai Khey. Farell ingin tahu reaksi Khey saat dirinya melakukan idenya.
Sediki banyak Farell mengetahui bagaimana hubungan Fabian dengan Khey yang masih renggang, apalagi Khey masih terlihat berhubungan dengan si ketos Doni.
"Kalau enggak salah dia mantan Fabian." Farell dengan suara yang sengaja dikeraskan dan dengan ekor mata yang memperhatikan reaksi Khey.
Khey merasakan dadanya yang menyesak, hingga membuat tangan kanannya meraba dadanya.
Dalam hati Farell tersenyum melihatnya.
"Nina mantan Fabian." Jackson berseru menjawab pertanyaan Rhea.
Belum juga habis rasa sesak yang melanda dada Khey, Jackson malah terdengar berseru memperjelas status suaminya dengan model remaja tersebut.
Meskipun dengan jelas Khey mendengar keduanya adalah mantan kekasih, namun Khey tidak dapat memungkiri jika Khey merasakan hatinya berdenyut mengingat kedekatan Fabian dengan Nina beberapa saat lalu.
"Astaga si tengil itu pernah pacaran sama Nina Khey... gila!" Rhea berseru dengan menyenggol bahu Khayyara.
Sekali lagi Khey harus berusaha menahan rasa campur aduk yang menyesaki rongga dadanya.
"Bagaimana dia bisa..." Khey seolah tidak dapat menyangka akan hal itu.
"Siapa tengil yang elo maksud?" Jackson memelototi Rhea.
"Fabian... Fabian tengil." Rhea menyahut tanpa dosa.
__ADS_1
"Enak aja ngomongin temen gue tengil, lo mau gue robek itu mulut lancang lo..." Jackson terlihat marah.
"Sorry... bukan maksud gue..." Rhea menangkupkan kedua telapak tangannya, Rhea memilih melakukan itu agar Jackson tidak marah kepadanya. Sepertinya persahabatan mereka sangat kental, terlihat dari Jackson yang seperti tidak terima jika sahabatnya diejek olehnya.
"Awas kalau gue denger lagi lo nyebutin temen gue tengil." Jackson berucap kata dengan penuh penekanan.
"Yang boleh bilang kek gitu cuma kita... iya kan Rell.... Hahaha..." Jackson dengan tertawa keras. Farell hanya terkekeh kecil dengan meninju bahu kekar Jackson.
Ternyata cowok setengah bule itu hanya mempermainkan Rhea. Dia tidak sungguh sungguh marah.
Rhea pun mencebik kesal, padahal dirinya sempat merasa bersalah. Bahkan merasa salut akan pertemanan cowok di depannya itu. Ternyata itu semua cuma bercandaan Jackson.
"Huh.... kirain. Hampir aja gue copot jantung." Rhea.
Jackson memperkeras tawanya saat mendengar ocehan kesal Rhea, bahkan dia memberikan pandangan yang mengejek pada sahabat Khey tersebut.
"Udahlah Rhe... abaikan saja dia daripada lo berakhir ke dokter jantung." Alya dengan mengusap punggung Rhea.
Rhea menoleh, memandang Alya denga kedua bola mata yang melebar.
"Maksud lo apaan, bawa bawa dokter jantung segala?"
"Kalau lo dengerin omongan Joko, darah lo bakalan naik. Jadi darah tinggi kan.... Elo tau kan kalau darah tinggi mengganggu kinerja jantung..." Alya santai seolah tidak perduli jika ucapannya juga membuat Rhea kesal.
Gerrhhhmmm.... Rhea mengeram.
"Untung lo temen gue kalau enggak gue pites lo..." Rhea dengan gerakan tangan yang seolah akan melakukannya pada Alya.
"Loh... loh... kok elo kesel ke gue sih... Emang omongan gue salah Khey...?!" Alya beralih bertanya pada Rhea.
"Enggak... enggak salah kok, cuma bikin masalah tambah parah..." Khey terdengar malas menanggapi pertanyaan Alya.
Semenjak Khey mendengar kenyataan jika Fabian dan Nina pernah pacaran, Khey merasa moodnya anjlok.
Khey sedikit banyak membenarkan ucapan Rhea yang tidak menyangka jika Fabian suaminya pernah berpacaran sama Nina. Model remaja yang sekaligus menjabat sebagai sekertaris osis di sekolahnya.
Dilihat dari sudut manapun, pasti yang mendengar tanpa pernah melihat sendiri kenyataannya pasti tidak akan mempercayainya.
Fabian yang di mata Khey adalah cowok tengil slengekan yang selalu memakai seragam sekolahnya sembarang tidak terlihat keren sama sekali. Bahkan Fabian terlihat bukan cowok teladan, dia seperti tidak peduli dengan urusan sekolahnya.
Sedangkan Nina... Gadis model remaja itu memiliki wajah cantik dan pandai berdandan. Bahkan penampilannya selalu terlihat glamaour juga seksi meskipun sedang memakai seragam sekolahnya.
Bagaimana bisa mereka berdua pernah menjalin hubungan lebih dari sekedar teman...
__ADS_1
ππππ