Mendadak Nikah 2 (Married By Accident)

Mendadak Nikah 2 (Married By Accident)
MBA86


__ADS_3

"Bi... gue mau selai coklat itu dong." Khey dengan menunjuk botol selai coklat yang tak jauh dari Fabian.


"Elo nggak makan nasi?" tanya Fabian dengan kening mengerut, menatap tangan Khey yang memegang selembar roti tawar serta pisau untuk mengoles selai.


"Enggak." Khey dengan menggelengkan kepala. "Gue lagi nggak nafsu makan."


"Kenapa? Elo sakit?" tanya Fabian dengan nada khawatir.


"Enggak. Gue nggak papa kok." lagi Khey menyahut disertai dengan gelengan kepala.


"Makan nasi Ra... entar perut elo sakit." Fabian masih enggan mengulurkan selai coklat tersebut pada Khey. Fabian masih berharap Khey mau makan nasi.


Fabian dan Khey saat ini sedang makan pagi berdua tanpa kedua orang tua Khey. Entah kemana perginya kedua orang tua Khey tersebut. Sepertinya sudah beberapa hari ini mereka tidak terlihat di rumah besar ini.


"Nggak mau Bi... gue mau makan roti aja." Khey merengek.


"Jangan pakek selai coklat kalau gitu, pakek susu sama keju aja." Fabian mendorong kotak tempat meletakkan selai, susu, serta keju ke hadapan Khey dengan mengambil botol selai coklat sebelumnya.


Fabian merasa jika selai coklat akan membuat perut Khey tidak nyaman nantinya, karena Khey hanya mengisi sarapan paginya dengan roti saja. Tanpa makan nasi.


"Bi gue mau selai coklatnya..." Khey mencoba memaksa Fabian.


"Enggak! Kalau lo cuma mau makan roti, jangan pakek selai coklat." Fabian tetap melarang Khey, meskipun nampak kekesalan pada wajah istrinya tersebut.


"Ck... sok ngatur lo." Khey kesal dengan terpaksa membubuhi lapisan rotinya dengan susu.


"Demi kebaikan elo Ra..."


"Sok teu..." sungut Khey.


"Elo pengen banget...?" tanya Fabian dengan menghentikan asupan makanan ke dalam mulutnya.


"Ya iyalah Bi... enaknya makan roti kek gini, emang pakek selai coklat tauk..."


"Duduk sini deket gue, gue suapin... maukan?" Fabian menepuk kursi di sebelahnya dengan pandangan tengil saat bertanya.


Namun Khey tidak menyadari senyum tengil suaminya.


"Mana bisa... elo masih makan juga kan. Nggak mungkin tangan lo selang seling nyuapin gue."


"Bisa. Buat lo apapun bisa gue jabanin..." Fabian santai.


"Gimana coba??" Khey menipiskan jarak wajahnya dengan Fabian tanpa mau berpindah dari tempat duduknya.


"Nih pakek mulut gue..." Fabian pun berlaku sama. Mendekatkan wajahnya pada wajah Khey sembari memonyongkan mulutnya.


πŸ“πŸ“πŸ“

__ADS_1


"Ara..." gumam Fabian lirih saat melihat Khey setengah berlari memasuki toilet khusus siswi di sekolahnya.


Fabian melihat Khey saat dirinya berjalan melewati koridor sekolah yang menghubungkan perpustakaan sekolahnya. Dan tanpa sengaja manik hitamnya mendapati Khey memasuki toilet dengan tergesa.


"Buru buru banget keknya..." Fabian masih tetap menggumam dengan tetap berjalan untuk menuju kelasnya kembali.


Namun beberapa langkah berjalan Fabian menghentikan langkahnya, mengerutkan kening sembari mengingat jika saat sarapan tadi pagi Khey hanya makan roti tanpa nasi.


"Jangan jangan..." Fabian dengan menoleh ke arah toilet siswi, di mana tubuh Khey telah menghilang karena sudah masuk ke dalamnya.


Fabian kemudian mengurungkan niatnya untuk kembali ke kelasnya. Membalik tubuhnya, memutuskan untuk menuju toilet siswi. Perasaan Fabian sedikit tidak nyaman.


Fabian berhenti di depan pintu masuk toilet. Sesaat berfikir, ingin masuk ke dalam toilet namun takut jika ada banyak siswi perempuan di sana dan bakal membuat kehebohan.


Fabian pun mengurungkan niatnya, memilih bersandar pada tembok dekat lorong masuk toilet untuk menunggu Khey keluar. Fabian ingin memastikan kondisi Khey.


Beberapa saat menunggu Khey tidak kunjung keluar, Fabian pun mulai gelisah. Dirinya mulai khawatir dengan kondisi isterinya. Fabian takut jika Khey sakit perut seperti yang dicemaskan olehnya tadi pagi.


"Masuk enggak... masuk enggak..." gumam Fabian menimang keputusannya dengan bimbang.


Hingga akhirnya Fabian pun melangkahkan kaki memasuki toilet karena sedari tadi menunggu tidak ada seorang pun keluar dari dalam sana. Fabian berharap hanya ada Khey seorang di sana.


"Ra... Ara..." Fabian memanggil nama panggilan Khey saat di rumah.


Khey yang berada di dalam salah satu bilik toilet menajamkan pendengarannya di pintu toilet saat mendengar suara familiar suami tengilnya.


"Bi..." Khey menyahut setelah memastikan bahwa itu adalah benar suara Fabian tengil.


"Ra elo di mana sih..." Fabian dengan celingak celinguk menelisik pintu toilet yang terbuka.


"Gue di pojok." Khey dengan mengeraskan suaranya.


Fabian pun melangkahkan kaki jenjangnya menuju bilik toilet paling pojok.


"Elo kenapa? Perut lo sakit?" tanya Fabian di depan pintu toilet pojok yang tertutup rapat. Fabian yakin Khey berada di dalam sana, karena hanya itu satu satunya bilik toilet yang tertutup rapat.


"Enggak." terdengar sahutan dari dalam bilik toilet. Khey memilih berbohong karena tidak ingin Fabian khawatir.


"Terus ngapain lo di dalam nggak keluar keluar dari tadi?" tanya Fabian.


"Elo ngintilin gue?" bukanya menjawab, Khey malah balik bertanya.


"Jawab gue Ra, jangan bikin gue khawatir." Fabian mengabaikan tebakan Khey.


"Gue nggak papa Bi, beneran deh..."


"Kalau gitu keluar sekarang." titah Fabian masih setia di depan pintu toilet tanpa memperdulikan aroma menyengat toilet yang menusuk hidungnya.

__ADS_1


"Ggue nggak bisa."


"Kenapa? Pintunya nggak bisa dibuka?" Fabian dengan menggerakkan tuas pintu toilet.


"Nggak bukan begitu. Pintunya gue kunci dari dalam." teriak Khey.


"Ngapain elo lama - lama di toilet Ra... Udah hampir satu jam elo di dalam." Fabian melirik jam di pergelangan tangannya.


Hah...


Kedua mata Khey membola, mendengar pernyataan Fabian tengil.


"Elo beneran ngintilin gue Bi... Penguntit lo..." Khey terdengar kesal.


"Nggak gitu Ra, gue nggak sengaja liat lo buru buru masuk ke toilet tadi. Takutnya elo kenapa napa, perut elo sakit mungkin. Elo kan nggak makan nasi tadi pagi..."Jelas Fabian.


"Gue nggak papa." sahut Khey cepat.


"Cepetan keluar kalau gitu." Fabian pun menyahut tak kalah cepat dan tegas. Fabian merasa Khey menutupi sesuatu.


"Gue nggak bisa." Khey terdengar lebih lirih.


"Kenapa nggak bisa, elo sebenarnya kenapa sih Ra?" kali ini Fabian menurunkan intonasi suaranya, agar Khey mau berkata jujur kepadanya.


Huff...


Khey menghembuskan nafas kasar, bingung untuk mengungkapkannya pada Fabian tentang situasi dan kondisi yang tengah dihadapinya saat ini. Meskipun dia dan Fabian adalah pasangan suami isteri namun hubungan keduanya masih sedikit canggung. Kalau Khey mengatakan kondisi sebenarnya, f


dia merasa malu.


"Ra..." kali ini Fabian memanggil dengan mengetuk pintu bilik toilet Khey, karena gadis itu tidak menyahutinya. "Elo butuh sesuatu mungkin..."


Tetap saja tidak ada sahutan dari dalam sana.


"Seragam lo basah? Elo butuh ganti?" kali ini Fabian mencoba menebaknya. Fabian berfikir, gadis itu pasti memiliki masalah yang coba disembunyikannya.


Khey masih saja diam, otaknya berputar. Memilah kata untuk mengungkapkan kata yang tepat pada Fabian.


"Nggak usah malu Ra, gue suami lo sekarang. Ngomong jangan bikin gue cemas." Fabian dengan nada rendah, menepis kepanikan yang melanda dirinya.


"Em... gue boleh minta tolong nggak?" akhirnya Khey menyahut setelah berdiam beberapa saat.


"Ngomong aja, elo butuh apa." Fabian terdengar begitu perhatian.


"Beliin gue roti jepang dong."


😍😍😍😍

__ADS_1


__ADS_2