Mendadak Nikah 2 (Married By Accident)

Mendadak Nikah 2 (Married By Accident)
MBA97


__ADS_3

"Sini, biar Septi yang ambilin kak Bian nasi." Septi menyerobot piring dari tangan Fabian, saat kakak iparnya itu baru saja mendudukkan diri di kursi makan.


Septi terlihat cuek dan tidak peduli meskipun Khey juga berada di sana, menikmati makanannya.


"Kakak bisa sendiri Septi." tolak Fabian halus d3ngan tak lupa menyunggingkan senyum.


"Septi aja." Septi kekeh, memaksa mengambil alih piring dari tangan Fabian.


Khey yang tengah mengunyah makanan di mulutnya, memandang datar pada suami dan adik perempuannya.


Fabian memang baru saja bergabung di meja makan karena harus mengguyur tubuhnya yang terasa lengket, karena Fabian memang belum mandi sepulangnya dari sekolah sore tadi. Serta harus mendinginkan pabrik kecebongnya yang sempat menegang beberapa saat lalu.


Sedangkan sepeninggal Fabian yang memasuki kamar mandi karena gagal unboxing, Khey memilih keluar kamar untuk makan lebih dulu.


Khey merasa kesal karena saat dirinya berada di puncak gairah, suami tengilnya itu berlalu begitu saja meninggalkan dirinya. Bahkan terkesan buru buru memasuki kamar mandi. Khey tidak mengerti akan tindakan Fabian, karena dia pergi begitu saja. Tanpa berucap kata ataupun menjelaskan kondisi yang sebenarnya.


Khey memang masih polos tentang hubungan suami isteri. Karena meski dirinya pernah pacaran namun tidak pernah melakukan hal hal yang dilarang untuk dilakukan. Khey masih menjaga kehormatannya.


"Septi mau ngasih contoh sama kak Ara, biar dia jadi isteri yang baik buat kak Bian." ucap Septi dengan gaya centil sembari menuang nasi pada piring Fabian.


Sontak Khey melebarkan kedua matanya, saat mendengar ucapan adiknya yang menurut Khey sok kecentilan pada suaminya.


"Apaan sih lo..." Khey ketus. Meski Khey tahu niat adiknya itu untuk menjahili dan memanasinya namun tetap saja Khey tidak dapat menyembunyikan kekesalannya.


Fabian erlihat santai, tidak menanggapi kejahilan adik iparnya ataupun keketusan sikap Khey pada adik iparnya. Fabian menyangka jika sikap ketus Khey tersebut adalah karena kesal Septi telah menerobos kamar tidur mereka beberapa saat lalu. Padahal posisi keduanya sedang akward.


"Udah cukup segitu aja nasinya Sep..." Fabian menghentikan gerakan tangan Septi yang hendak mengambilkan nasi kembali.


Septi yang semula mencebik ke arah Khey, mengalihkan pandangan pada Fabian. Tak lupa menyunggingkan senyum centil. "Segini aja...?"


"Iya." Fabian dengan menganggukkan kepala.


"Kakak mau sayur yang mana? Ini... ini... atau yang ini..." Septi dengan menunjuk satu persatu sayur yang tersedia di atas meja makan.


Septi benar benar menunjukkan sikap seolah berperan menjadi isteri untuk Fabian. Septi memang sengaja melakukannya agar hubungan kakak perempuannya itu semakin dekat dengan Fabian.


Fabian menangkap kekesalan pada wajah isterinya saat melihat tindakan Septi, dia pun memutuskan untuk meminta piring nasinya dari tangan adik iparnya.

__ADS_1


"Sini piringnya, biar kakak ambil sendiri aja..." Fabian tidak ingin membuat keributan di meja makan.


Saat ini hanya ada mereka bertiga karena kedua mertuanya sedang melakukan perjalanan bisnis. Tetap saja Fabian tidak ingin kedua kakak beradik tersebut adu mulut saat di meja makan.


Meskipun Fabian tahu jika Septi memang sengaja menjahili kakaknya. Tapi wajah kesal Khey sangat menyeramkan saat ini. Fabian tidak ingin membuat singa betina bar bar itu bertaring.


"Piringnya diminta tu... cepetan kasih." Khey bersuara ketus, bahkan memberikan pandangan sengit pada Septi adiknya.


"Ye... sirik aja. Pengen juga kan layanin kak Bian..." Septi kembali menjahili kakaknya.


"Nggak." Khey berbohong.


"Hilih... pura pura tidak tapi aslinya mau..." Septi dengan nada mengejek.


"Nggak! Sok tau lo..." Khey tetap saja menutupi kebenaran maksud hatinya.


"Nih kak..." Septi dengan senyum manisnya.


"Thanks ya Sep..." Fabian dengan meraih piringnya.


"Ambilin tuh lauk buat kak Bian, tangannya nggak nyampek..." Septi menyuruh kakaknya yang tidak peka. Padahal tangan Fabian terlihat kesusahan saat ingin mengambilnya, sedangkan Khey lebih bisa mengambilkannya.


"Sept... udah..." Fabian datar.


"Kak Ara tu nggak peka kak Bian. Kalau nggak diginiin nggak bakalan mau dia. Gedein aja itu gengsi... Udah dapat ikan dari suami jugak, masih aja sok nggak peduli sama suaminya." Septi menggerutu dengan memberikan tatapan kesal pada kakak perempuannya.


"Apaan sih maksud lo, gak jelas banget. Ikan... ikan... ikan apaan coba orang nggak ada ikan di sini." Khey tidak paham akan maksud ucapan Septi adiknya.


"Itu tu yang di leher... ikan c***ng..." Septi dengan menunjuk beberapa jejak tanda merah di leher Khey.


Membuat Fabian tersentak kaget, lalu menoleh ke samping di mana Khey duduk di sebelah kirinya.


Kedua mata Fabian melebar saat mendapati tanda jejak keganasannya beberapa saat lalu.


Tanda jejak berwarna merah itu terlihat jelas bergerombol pada leher jenjang Khey yang putih.


Sedangkan Khey yang belum sadar akan maksud Septi hanya meraba lehernya tanpa dapat melihat tanda jejak ikan c***ng yang dimaksud.

__ADS_1


Merasa tidak ada yang aneh Khey pun menggerutu. "Apaan sih, nggak jelas banget lo. Orang nggak ada apa apa kok..."


"Ntar ngaca deh... biar lo tahu gerombolan ikan c***ng di leher lo..." Septi mengejek kepolosan kakaknya.


Septi memang lebih muda dari Khey namun karena gadis itu tinggal di rumah neneknya di pinggiran kota, membuat gadis itu memiliki pergaulan yang luas. Jadi Septi paham dengan tanda jejak merah yang terlihat kontras di leher putih kakaknya.


Sedangkan Khey meski tinggal di tengah kota bersama kedua orang tuanya namun gadis itu hanya memiliki teman segelintir saja. Bahkan di lingkungan perumahan elit kedua orang tuanya Khey tidak memiliki teman.


"Nggak usah ngaco lo." Khey mencebik ke arah Septi.


"Gue engg..." Ucapan Septi dipotong oleh Fabian.


"Septi udah... nggak usah dilanjut, kita lagi makan." tegur Fabian.


Khey pun memeletkan lidah ke arah Septi saat Fabian menegur adik jahilnya itu.


"Ra..." Fabian dengan pandangan menyuruh isteri barbarnya untuk menghentikan aksinya.


Membuat Septi ganti memeletkan lidahnya, mengejek sang kakak.


Fabian pun hanya bisa menggelengkan kepalanya saat melihat kakak beradik tersebut saling membalas, mengejek.


πŸ“πŸ“πŸ“


"Ra... elo kenapa sih dari tadi kek kesel sama gue?" tanya Fabian pada Khey yang sikapnya dirasa aneh oleh Fabian.


Khey diam tidak menyahut, memilih asyik dengan ponsel pintarnya.


"Ra... jawab pertanyaan gue" Fabian memandang lurus pada Khey yang sedang duduk menyandar pada kepala ranjang.


"Perasaan lo aja." Khey datar dengan pandangan mata fokus pada benda pipih di tangannya.


Sesungguhnya Khey tidak sedang melakukan hal yang penting. Gadis itu hanya menscrol asal sosial media pada ponselnya untuk menutupi kekesalannya pada Fabian.


Ya... Khey memang kesal pada Fabian akibat lelaki bergelar suaminya itu tidak menyelesaikan aksinya padahal Khey mereka sudah sama sama di puncaknya. Namun tidak mungkin Khey mengungkapkannya pada Fabian. Cowok tengil itu pasti bakal menertawainya nanti.


😍😍😍😍

__ADS_1


__ADS_2