
"Elo masih ngerepin cowok kek begitu?" tanya Jackson pada Alya.
Alya menggerakkan bola matanya, memandang Fabian lalu berganti melirik Khey yang hanya menunduk, mengaduk baksonya.
Masa iya sih Khey yang melakukannya... nggak mungkin kan Khey seganas itu... gumam hati Alya tidak yakin.
Meski sesungguhnya Alya telah mengendus bau bau kedekatan antara Fabian dan Khey, namun hatinya belum sepenuhnya yakin.
Kalau mereka berdua nggak pacaran, terus yang kasih tanda belang leher jerapah Fabian siapa? Alya mencoba berfikir tentang darimana datangnya tanda merah pada leher Fabian.
Waktu itu Khey, sekarang Fabian. Beneran nggak mereka berdua... otak Alya berfikir keras. Hingga mengabaikan celoteh Jackson.
"Hei... Al..." Jackson menggerakkan telapak tangannya di depan wajah Alya, membuat Alya sedikit tergagap.
"Apaan sih... ganggu orang lagi mikir aja." Alya menepis telapak tangan Jackson.
"Widih sok mikir... mikirin masa depan lo sama gue?!" Jack selalu saja dengan pede menggoda Alya.
"Sorry worry ye bule yang tersesat, gue nggak mikirin elo. Sayang otak gue buat mikirin orang kek elo." Alya dengan sinis.
Gadis yang biasa pendiam dan tak banyak tutur itu selalu saja sewot saat bersama Jackson. Entah mengapa mulutnya juga selalu saja ingin menimpali ucapan Jackson dengan pedas.
"Terus kalau bukan mikirin gue, mikirin siapa coba? Masih mikirin si jerapah yang udah penuh sama sengatan tawon betina gatel?!"
Khey melebarkan kedua matanya, memandang Jack sesaat lalu melirik Fabian melalui ekor matanya. Suami tengilnya itu cuek bebek, terlihat tidak peduli.
Dalam hati Khey merasa sangat kesal pada Fabian juga pada Jack yang secara tidak langsung telah mengatainya.
Tawon betina... Tawon betina gatel... awas aja lo Bi, semua gara gara lo. Khey membatin kesal, tanpa sadar tangannya membecek becek makanan di depannya dengan kesal. Dan itu membuat kening Alya semakin mengerut.
Aneh... sungguh semuanya terasa semakin aneh.
Dalam hati Farrel tertawa mendengar julukan tawon betina gatel yang disematkan pada pengukir sengatan belang pada leher Fabian. Karena dia tau siapa sebenarnya sang pelaku.
"Hei Jack, mulut lo kalau ngomong jangan sembarangan. Siapa tau aja tawon betina gatel itu cantik mempesona. Buktinya Bian rela disengat sampek kek gitu." Rhea dengan kekeh pelan.
"Biar tawon betinanya gatel yang penting kan bikin ehem ya kan Bian..." Lanjut Rhea tanpa bermaksud apapun.
Bian mengacungkan jempol tangan kirinya terkekeh, sedangkan tangan kanannya meraih garpu milik Khey menusuk salah satu bakso lalu memasukkan ke dalam mulutnya dengan santai.
__ADS_1
Tindakan Fabian tersebut, otomatis membuat kedua mata Khey membola. Selanjutnya Khey memandang Fabian dengan tatapan mengerikan seolah ingin melahap cowok tengil di depannya, namun Fabian tidak peduli.
"Kalau sama sama menguntungkan kenapa harus ditolak, ya nggak Rhe. Lagian tawon betina yang nyenyak gue speknya mimi peri." Fabian disela kunyahannya, tanpa sedikitpun peduli dengan muka Khey yang memerah saat ini.
"Betul, yang penting saling menikmti sah sah aja. Kita masih muda men, nikmati hidup." Rhea pun ikut terkekeh hingga membuat kedua matanya menyipit, membuat wajah yang biasa menampakkan kejudesan itu terlihat menggemaskan.
Tanpa sadar senyum tipis terbit pada wajah datar Farrel. "Cantik." gumamya lirih.
"Enak aja nikmati hidup, lo kira Khey mau dapat cowok bekasan kek gitu." Alya menyikut lengan Rhea mendelik.
"Biar bekasan tapi kan menawan. Iya kan Khey?!" Fabian menaikan alis matanya menggoda isterinya yang sedari tadi terlihat kesal. Lagian juga Fabian bekasan Khayyara.
Khey mencebik. "Ogah gue dapet bekasan. Mendingan gue sama Jack aja yang masih orisinil." Khey sengaja ingin membuat Fabian kesal. Menurut Khey situasi ini terjadi disebabkan oleh Fabian yang seperti sengaja mempertontonkan tanda merah karya Khey semalam.
Jack tersenyum, memajukan dada dan menepuknya. "Bisa dicoba, gue jamin ori."
Pletak.
Fabian menjitak belakang kepala Jackson, hingga membuat empunya mengaduh seraya mengusap belakang kepalanya.
"Khey itu milik gue. Rhea sama Farrel cocok dan elo sama Alya aja udah... klop. Paskan... Trio macan dapat trio berang berang, nggak usah ngelunjak." Fabian.
"Ya kali berang berang, Singa gitu lebih jantan" Jackson dengan bibir mengerucut.
πππ
"Elo sengaja kan tunjukin tanda itu sama mereka, Bi." Khey terdengar kesal sembari melepas pandangan ke luar jendela kaca mobil yang mereka naiki.
Saat inu pasangan suami isteri remaja itu sedang melakukan perjalanan pulang.
"Enggak." Fabian pendek, fokus pada jalan raya. Bukan bermaksud menyepelekan Khey, melainkan siang ini jalanan sangat padat.
"Enggak usah bohong. Seharusnya elo bisa kan kancing sampai ke atas atau kalau perlu nggak usah keluyuran kemana mana. Ngendon aja di kelas, buar nggak ada yang lihat."
"Biar gue kancing sampai ke atas seragam gue, tetep ada kelihatan yang. Elo kasih labelnya merata." Fabian menegakkan wajah, menunjukkan leher jerapahnya.
Dan memang benar, jejak jejak merah itu sangat terlihat jelas pada kulit leher Fabian yang putih bersih.
"Pakek hodie atau apa gitu, elo kan cerdas. Mosok giti aja nggak bisa cari solusi sih." Khey masih saja kesal.
__ADS_1
"Nggak perlu pusing cari cara buat nutupin semuanya. Harusnya elo ngaku aja kalau kita pacaran. Semua beres." Fabian santai.
"Enggak!!" Khey melepar pandangan ke arah Fabian mengintimidasi.
"Kenapa sih Ra elo nggak mau jujur aja? Elo masih ragu sama gue?" Fabian datar namun kata kata itu mampu membuat Khey menelan ludahnya kelat.
"Bukan begitu." Khey pelan.
"Terus kenapa? Mereka sahabat lo. Apa yang bikin lo belum siap buat jujur sama mereka?"
Sesaat Khey terdiam tidak mampu menjawab pertanyaan Fabian. Dalam hatinya bimbang. Sesungguhnya Khey tidak tahu pasti penyebab kekhawatirannya, entahlah hanya sudut hatinya masih enggan. Meski Khey sepenuhnya sadar jika hatinya telah jatuh pada pesona Fabian sejak sebelum dia mengetahui siapa sebenarnya sosok Fabian yang ternyata adalah suami kecilnya.
"Apapun alasan lo gue nggak mempermasalahkan."
Fabian menghela nafas pendek.
"Hanya saja gue nggak bisa pastiin jika kedepannya, godaan kita makin berat. Bukannya gue sok tampan, tapi elo tau kan banyak rumor di sekolah kalau banyak cewek deketin gue. Apalagi Nina."
Deg.
Jantung Khey berdegub keras saat mendengar nama gadis ombre top model di sekolahnya. Jujur saja Khey memang memiliki rasa takut gadis itu mampu membuat Fabian goyah. Apalagi tadi pagi Khey juga sempat melihat Nina mendekati Fabian.
Khey sadar betul, sudut hatinya merasa tercubit kecil setiap kali melihat Nina mendekati Fabian.
Tring...
Bunyi notif pesan masuk pada ponsel Khey, membuatnya segera meraih ponsel pintarnya.
Kedua matanya melebar saat medapati kiriman Foto dari nomor yang tidak dikenalnya.
"Kenapa?" tanya Fabian yang menyadari ada sesuatu yang tidak beres pada isterinya.
"Nggak papa." Bohong Khey dengan senyum palsu.
Fabian menyusupkan jemari tangan kirinya pada jemari sang isteri.
"Kalau ada apa apa jangan disembunyiin, cerita sama gue."
Khey mengangguk pelan.
__ADS_1
Enggak mungkin kan kalau itu elo Bi...
ππππ