Mendadak Nikah 2 (Married By Accident)

Mendadak Nikah 2 (Married By Accident)
MBA 146


__ADS_3

Fabian mempercepat laju kendaraannya meski jalanan aspal dipenuhi oleh kendaraan bermotor.


Dengan sigap, cowok jangkung yang tengah mencemaskan sang isteri tersebut memutar kemudi mobil untuk mencari celah diantara kendaraan yang merayap padat memenuhi jalan raya.


Meski otaknya tidak berhenti mencemaskan tentang Khey istrinya namun kedua matanya tetap fokus pada jalan raya di depannya.


Terbukti meski jalanan padat, kuda besinya mampu membelah kepadatan jalan raya. Hal itu dikarenakan kemampuan Fabian dalam mengendari kendaraan roda empat tersebut sangat mumpuni, patut diacungi dua jempol.


Bunyi petir menggelegar disertai dengan kilatan kembali cahaya memecah langit yang tetiba menggelap.


Fabian yang saat ini terjebak kemacetan akibat lampu merah yang padat, merasakan kecemasan dalam hatinya.


Kekhawatirannya akan keberadaan Khey yang belum memenuhi titik terang membuatnya kalut.


Belum juga lampu berubah warna hijau, hujan mulai mengguyur jalan raya. Sangat deras.


"Ara..."


Fabian menggumam saat kedua manik hitamnya menangkap sosok seorang gadis yang menyeberang jalan tak jauh di depannya dengan posisi menunduk, menghindari terpaan air hujan.


Gadis itu terlihat berlari kecil dengan kedua tangan berada di atas kepala, sepertinya digunakan untuk melindunginya dari hujan. Rambut hitam panjangnya yang tergerai menutupi sebagian wajahnya.


Untuk memastikan penglihatannya Fabian menurunkan kaca mobil dan melongokkan kepalanya keluar jendela.


"Ara... Ra...!!"


Teriak Fabian tanpa peduli air hujan yang mengenai kepalanya.


"Ra!!"


Sekali lagi Fabian berteriak bahkan dengan menggunakan kedua telapak tangannya membentuk corong.


Tetap saja seruannya bagai angin lalu saking derasnya air hujan yang turun.


Tin... tin... tiinn....


"Sial."


Umpat Fabian karena lampu lalu lintas telah berganti warna hijau.


Mau tak mau Fabian pun melajukan kuda besinya karena para pengendara di belakangnya sudah tak sabar ingin segera melaju.


Dengan tidak sabar Fabian melihat ke sekitar untuk menemukan jalur memutar kembali ke arah gadis yang diyakininya sebagai Khey isterinya.


Beberapa meter setelah melaju akhirnya Fabian menemukan jalur untuk memutar arah.


Segera Fabian memutar kemudinya, kembali ke arah sebelumnya.


Saat sampai di tempat yang diyakini gadis yang dilihatnya beberapa saat lalu, Fabian segera turun dari kuda besinya tanpa peduli air hujan yang membasahi tubuhnya.

__ADS_1


Dengan langkah kaki lebar dan disertai lari kecil, Fabian segera menuju sebuah minimarket dimana gadis itu masuk ke dalamnya.


Dengan masih terengah serta tubuh yang basah Fabian memindai sekitar untuk menemukan keberadaan Khayyara.


Bibir Fabian melengkung saat kedua manik hitamnya menemukan sosok yang dicarinya.


Gadis itu sedang berdiri di depan pemanas minimarket dengan rambut hitam setengah basah terurai menutupi punggungnya. Baju seragam yang dipakainya terlihat sedikit basah juga. Sepertinya dia sedang menyeduh kopi panas.


"Pasti dia kedinginan." Fabian dengan menggumam, berjalan mendekat.


"Ra..."


Fabian dengan menepuk pelan pundak sang gadis dari belakang.


Set.


Gadis itu menoleh dan membuat Fabian terhenyak.


"Maaf." Fabian menarik tangannya dari pundak sang gadis dengan canggung. "Gue pikir temen gue."


"Tak apa." sang gadis tersenyum.


Ternyata Fabian salah mengenali. Dia pun berlalu dengan lesu, meninggalkan minimarket.


πŸ“πŸ“πŸ“


Fabian memutuskan untuk pulang ke rumah saat merasakan tubuhnya menggigil kedinginan. Dia memilih akan membasuh tubuhnya yang basah karena air hujan beberapa saat lalu serta mengganti bajunya yang telah basah. Setelahnya baru kembali mencari keberadaan Khey isterinya.


Tin...


Meski hujan telah mereda namun rintik kecil sisa air hujan masih sesekali turun.


Meski demikain Fabian urung memasukkan kuda besinya ke dalam garasi rumah, melainkan memilih menghentikannya tepat di halaman.


Hal itu disebabkan karena dia ingin pergi kembali untuk menemukan Khey setelah membersihkan tubuh serta mengganti baju basahnya.


Brak.


Fabian menutup pintu mobil dengan lesu seyelah menuruni mobilnya.


Ces...


Hawa dingin menyergap tubuhnya yang basah, hingga membuat bibirnya bersdesis. Segera menangkupkan kedua tangan pada bahu untuk mengurangi rasa dingin yang membuat bulu halus ditubuhnya berdiri.


Matanya terasa berat dan memanas rasa lelah setelah berputar ke sana kemari mencari keberadaan Khey, menumpuk punggungnya.


Tubuhnya terasa remuk redam, dengan ditambah hawa dingin yang semakin menusuk saat tubuhnya berjalan memasuki rumah.


"Jangan sakit." gumam Fabian dengan mengeratkan kedua tangan memeluk tubuhnya untuk menahan dingin serta menahan kepalanya yang tetiba berat seolah tertimpa batu besar.

__ADS_1


Fabian tahu jika kondisi tubuhnya saat ini sedikit drop jika dirinya tidak hati hati menjaganya sudah dapat dipastikan akan jatuh sakit.


"Assalamualaikum"


Ucapan salam itu terdengar lirih keluar dari mulut Fabian sembari tangan kanannya meraih tuas pintu, hendak mendorong untuk membukanya.


"Walaikumsalam."


Sahutan dengan disertai pintu yang terbuka dari dalam rumah.


"Ara!"


Fabian berseru dengan kedua mata berbinar saat mendapati Khey yang menyambutnya di depan pintu.


Khey masih mematung dengan pandangan heran saat Fabian terlihat senang, gembira dengan pandangan penuh sukacita kepada dirinya.


"Alhamdulillah ya Allah... Syukurlah lo nggak kenapa napa." Fabian menangkup bahu Khey dengan kedua tangannya lalu membawa tubuh gadis itu ke dalam pelukannya.


Fabian memeluk Khey dengan erat untuk meluapkan rasa senangnya saat ini. Bagaimana bisa dirinya melupakan kalau rumah keluarganya menjadi kemungkinan terbesar untuk Khey pulang, saat gadis itu merasa kehilangan arah ataupun mengalami beban besar di hatinya.


Dalam hati Fabian merutuki kesalahannya. Padahal semenjak siang tadi dirinya tidak berhenti berputar putar untuk menemukan keberadaan Khey.


"Bi... elo kenapa sih?" Khey berbicara dengan sedikit kesulitan karena Fabian memeluk tubuhnya dengan sangat kuat.


"Gue khawatir tau nggak." Fabian masih dengan tetap di posisinya. Hanya saja salah satu tangannya mengusap punggung Khey lembut.


"Khawatir kenapa?"


Khey dengan nada tidak mengerti.


"Gue nyari lo kemana mana seharian ini." Fabian semakin mengeratkan pelukan seolah takut kehilangan Khayyara.


"Lain kali jangan seperti ini. Gue bener bener khawatir sama lo." lanjut Fabian dengan menyusupkan wajah ke ceruk bahu sang isteri.


Ucapan Fabian tersebut membuat Khey sedikit terhenyak. Dirinya ingat betul jika siang tadi terima menghilang. Pergi begitu saja dari rumah sakit.


"Gue nggak mau lo kenapa napa." Ucap Fabian lagi.


"Sorry." lirih Khey dengan penuh penyesalan. Kedua tangannya pun membalas memeluk tubuh jangkung Fabian tak kalah erat.


Hingga keduanya saling berpelukan hingga beberapa saat.


"Bi..." Khey menepuk punggung Fabian saat merasakan tubuh Fabian semakin berat menggelayutinya.


Tidak ada jawaban dari suami jangkung yang menengggelamkan wajah pada ceruk bahu Khey tersebut. Melainkan tubuh itu dirasa Khey semakin berat.


"Bi... Bian... badan lo kenapa panas gini sih?" Khey bingung saat merasakan panas tubuh Fabian.


"Bi... elo kenapa?"

__ADS_1


"Bunda! Ayah!!" Teriak Khey saat menyadari Fabian pingsan dalam pelukannya


😍😍😍😍


__ADS_2