
"Kenapa?" Khey bertanya karena melihat ekspresi Fabian yang tiba tiba berubah sedikit cemas setelah menutup panggilan teleponnya.
"Em itu... gue nanti mesti balik ke sekolah, soalnya jam terakhir ada kuis. Jam Pak Burhan soalnya."
Pak Burhan adalah guru matematika yang killer, beliau tidak pernah mau memberikan kuis susulan untuk muridnya yang melewatkan jam pelajarannya.
Meskipun Fabian adalah anak dari pemilik yayasan di sekolahnya, namun dia tidak mau memanfaatkan keadaan tersebut untuk memperoleh perlakuan istimewa. Fabian tetap berlaku sebagaimana mestinya seorang murid biasa.
"Elo peduli?" tanya Khey pada Fabian.
"Maksud lo?" Fabian menautkan kedua alis matanya.
"Elo peduli sama pelajaran?" Khey memperjelas pertanyaannya. Bukan maksud khey menyinggung namun Khey merasa aneh. Fabian yang sepengetahuannya adalah anak tengil slengekan yang terlihat tidak peduli dengan sekolahnya ternyata terlihat kelabakan juga saat harus melewatkan kuis.
"Ya iyalah Ra... gue kan juga murid, bukan guru. Kalau gue nggak dapat nilai gue juga takut rapor gue jelek." Fabian.
"Gue pikir..." Khey tidak melanjutkan ucapannya.
"Elo pikir gue nggak peduli sama sekolah gue, gitu maksud lo?"
Khey menganggukkan kepala perlahan. Takut membuat Fabian tersinggung lalu marah karena ucapannya.
"Biarpun penampilan gue kek gini, gue juga peduli sama sekolah gue Ra... Gue juga harus bertanggung jawab sama orang tua gue yang udah susah payah nyari duit buat biaya sekolah gue. Gue juga ingin membuat mereka bangga, nggak mau membuat mereka kecewa..."
"Sorry..." Khey menunduk. Malu karena telah berfikir buruk pada suami tengilnya. "Bukan maksud gue..."
"Lain kali jangan pernah menilai orang dari luarnya saja. Belum tentu yang elo lihat itu adalah yang sebenarnya..." Fabian menautkan jemarinya dengan jemari tangan Khey saat berucap kata. Tidak ada kemarahan pada raut wajah tampannya, justru senyum manus tersungging pada bibirnya.
Khey tak mampu berucap kata, lidahnya terasa kelu setelah mendengar ucapan Fabian. Selama ini Khey memang menilai sosok Fabian seperti apa yang dilihatnya dari luar. Khey tidak pernah menyangka di balik penampilan Fabian yang terlihat slank boy ternyata memiliki pikiran dewasa dari pikiran anak seusianya.
Entah mengapa hati Khey menghangat. Ternyata berbicara dengan Fabian terasa jauh lebih nyaman ketimbang dengan Doni mantan kekasihnya.
Khey pun memilih memalingkan wajahnya keluar, menutupi rasa hangat yang menjalari seluruh permukaan wajahnya. Sudah dapat dipastikan jika saat ini wajahnya merona merah, semerah tomat ceri.
Keheningan tercipta di antara keduanya, Khey yang tetap setia memandang ke luar jendela dengan jemari tangan kanan yang masih tetap bertautan dengan jemari kekar milik Fabian. Tak ayal membuat Khey harus menahan sensasi gelenyer aneh yang menjalari seluruh tubuhnya.
Hingga beberapa saat setelahnya.
"Lho kok...?" Khey menoleh ke arah Fabian dengan pandangan bingung karena Fabian membawa mobilnya memasuki halaman sebuah hotel mewah.
"Kalau pulang terlalu jauh Ra... hanya tempat ini yang terpikirkan sama gue." jawab Fabian seolah tahu akan kebingungan Khey.
__ADS_1
Jarak rumah orang tua Khey memang cukup jauh, kurang lebih memakan waktu satu jam perjalanan itu pun jika tidak macet. Untuk kembali lagi ke sekolah Fabian membutuhkan waktu dua hingga tiga jam perjalanan.
Sebenarnya bisa saja Fabian membawa Khey ke rumah orang tuanya yang jaraknya lebih dekat, namun Fabian takut jika Khey tidak nyaman di sana. Apalagi Khey selama ini belum akrab dengan bunda Fabian.
Terhitung semenjak menikah Khey baru sekali bertemu dengan orang tua Fabian, itu pun saat ijab kabul keduanya.
"Emangnya lo punya uang buat bayarnya? Mana hotel mewah lagi..." Khey dengn sedikit bergumam, kedua matanya tidak berhenti memandangi bangunan megah di depannya.
"Tenang aja... ini tempat kerja ayah, ntar gue titipin elo di sini sampai gue pulang sekolah." ucap Fabian kemudian keluar dari mobil.
"Tempat kerja ayah??!" Khey dengan nada terkejut serta kedua mata yang membola.
"Udah nggak usah kebanyakan mikir... turun yuk..." Tetiba saja Fabian sudah membuka pintu mobil sisi penumpang dan menarik lengan tangan Khey untuk keluar.
Mau tak mau Khey pun keluar, berjalan mengikuti langkah Fabian.
"Bi..." Khey merapatkan jarak tubuhnya dengan Fabian.
"Apa?" Fabian tanpa menghentikan langkah kaki lebarnya.
"Gue ngerasa kek diliatin..." Khey seraya melirik ke sekitarnya, di mana banyak pasang mata seperti memandang dirinya dengan Fabian.
"Perasaan lo aja." Fabian tetap santai seraya menarik tangan Khey kuat untuk menuju pintu lift.
"Santai saja, nggak usah gugup kita nggak ngapa ngapain di sini." Fabian seolah mengerti arti kegugupan Khey yang menempel padanya.
"Gue nggak nyaman dengan pandangan mereka Bi... Kek kita mau ngapa ngapain gitu... " Khey setengah berbisik.
"Cuek aja. Lagian kalau kita mau ngapa ngapain nggak papa juga, kita udah sah kan... nggak bakal digrebek. Lagian kita belum bulan madu." Fabian santai.
"Jangan konyol..." Khey dengan mencubit pinggang Fabian hingga membuat cowok jangkung yang bergelar suaminya itu meringis.
"Geli Ra..." Fabian menggeliat disertai dengan ringisan.
Ting...
Pintu lift pun terbuka, beberapa orang yang sepertinya staf hotel keluar dari sana. Mereka terlihat menundukkan kepala serta tersenyum ramah pada Fabian. Fabian pun terlihat melakukan hal yang serupa, membuat Khey terheran.
"Bi... elo kenal sama orang orang tadi?" tanya Khey penasaran. Setelah keduanya memasuki lift.
Fabian mengangguk. "Lumayan kenal."
__ADS_1
"Elo sering ke sini?"
"Lumayan sering." Fabian datar seraya memencet tombol angka yang hendak dituju olehnya.
"Ayah ada?"
Fabian menggedikkan bahu. "Entahlah."
"Lah... elo gimana sih Bi... Gue entar gimana?"
"Nggak usah cemas. Tenang aja." Fabian kembali menarik tangan Khey untuk keluar dari dalam lift yang ternyata pintunya sudah terbuka, entah sejak kapan.
"Wow... Bi... yakin ini kamarnya?" Khey dengan terperangah melihat suite room yang di masukinya dengan Fabian.
Hm... Fabian datar dengan fokus pada ponselnya.
"Elo bayar berapa dengan kamar kek gini?" Khey berjalan menelisik kamar tersebut.
"Gratis." Jawab Fabian dengan terlihat melakukan panggilan telepon.
Hah...
Lagi lagi Khey terkejut mendengar jawaban Fabian.
"Gimana bisa??"
"Fasilitas ayah." Fabian kemudian berjalan mendekati Khey setelah menutup panggilan teleponnya.
"Duduk sini..." Fabian dengan menepuk ranjang empuk yang didudukinya.
Khey pun menurut, duduk di sisi Fabian dengan tidak berhenti mengagumi suite room tersebut.
"Elo nggak papa kan kalau gue tinggal balik ke sekolah?"
"Gue di sini sendiri?"
"Iya... gue udah pesenin makan sama baju ganti buat lo. Paling bentar lagi datang. Nggak papa kan Ra?"
"Nggak papa sih, tapi..."
"Kenapa?" Fabian.
__ADS_1
"Elo perginya setelah pengantar makanan datang ya..."
ππππ