Mendadak Nikah 2 (Married By Accident)

Mendadak Nikah 2 (Married By Accident)
MBA46


__ADS_3

Cup...


Khey mendaratkan bibir tipisnya pada bibir Fabian.


Fabian melebarkan kedua matanya saat mendapat ciuman dari Khey pada bibirnya secara tiba tiba.


Fabian tidak pernah menyangka akan hal itu, sungguh aksi Khey di luar dugaannya.


Khey mencium bibir Fabian hanya sesaat lalu segera melepaskan bibirnya dari bibir Fabian kemudian menunduk menyembunyikan rona malu di wajahnya. Sungguh Khey harus membuang jauh gengsinya saat memutuskan mencium bibir Fabian yang singkat itu.


Khey hanya ingin membuat Fabian lebih bersemangat, bagaimanapun dia adalah suaminya, nalurinya sebagai seorang isteri tidak bisa mengabaikannya begitu saja.


Fabian tersenyum tipis.


Salah satu tangannya meraih dagu Khey dan mengangkatnya perlahan.


Kedua manik mata itu saling mengunci, menatap intens.


Manik hitam Fabian tidak berhenti bergerak memindai wajah cantik Khey yang putih bersih tanpa noda bak pualam tersebut. Hingga membuat pipi bak pualam tersebut memunculkan semburat merah muda.


"Thanks... gue gak nyangka elo kasih gue dopping yang sempurna buat gue." Fabian tersenyum berbinar hingga memperlihatkan deretan gigi putihnya. Dan diiringi dengan ibu jari yang bergerak mengusap lembut pipi Khey.


Sesaat Khey terpana, tubuhnya membeku bahkan lidahnya terasa kelu hanya sekedar untuk berucap kata. Sungguh Khey sangat terpesona dengan senyuman manis nan lembut dari wajah tampan di depannya.


Bruk... kembali Fabian merengkuh tubuh Khey ke dalam pelukannya.


Perlahan kedua tangan Khey pun merangkul pinggang Fabian dengan erat, membalas pelukan sang suami.


Lagi Fabian melebarkan bibirnya tersenyum. Bukan berarti Fabian merasa menang akan perubahan sikap Khey, melainkan dirinya merasa lega setidaknya pemilik tubuh dalam rengkuhannya tersebut mulai membuka diri untuknya.


Perlahan tapi pasti, Fabian meyakinkan hatinya untuk memilih Khey sebagai isterinya, pun demikian dirinya berharap jika Khey pun akan memilih dirinya kelak.


"Gue duluan atau mau barengan?" Fabian dengan mengendurkan pelukannya dari tubuh ramping isterinya.


"Elo duluan aja, gak enak kalau ada yang liat." Khey menolak halus.


"Baiklah." Fabian lalu mengecup kening Khey sedikit lama.


"Thanks yang..." Fabian dengan tersenyum, melambaikan tangannya lalu beranjak meninggalkan toilet.


Khey pun membalas dengan senyuman tipis yang membingkai pada wajahnya.


Tak berapa lama setelah kepergian Fabian Khey pun melangkahkan kakinya untuk menyusul teman temannya di tribun penonton.


πŸ“πŸ“πŸ“

__ADS_1


"Khey... elo kemana aja sih, lama banget..." Rhea sedikit berteriak karena suasana sudah mulai ramai karena riuh penonton serta suara sound yang memenuhi ruangan gedung olah raga tersebut.


"Toilet doang."


"Ke toilet kok kek ngantri nasi goreng Mang Udin aja... lama biut..." Rhea dengan tatapan yang terlihat tidak percaya.


Mang Udin adalah penjual nasi goreng langganan mereka, nasi gorengnya sangat enak dan pengunjungnya sangat ramai. Antriannya selalu mengular. Makanya Rhea membandingkan lamanya Khey ke toilet dengan lamanya antri pada nasi goreng Mang Udin.


"Gue tersesat." Khey asal dengan membuang pandangan ke arah lapangan basket yang sudah dipenuhi dengan para pemain kedua tim basket agar Rhea tidak menemukan kebohongannya.


Sorak sorai penonton mulai bergemuruh saat para pemain basket dari kedua tim mulai melakukan aksinya. Apalagi diseputar tribun yang Khey dan kedua sahabatnya dudukki adalah mayoritas anak anak SMU Gama yang mendukung tim basket mereka dan lagi hampir setengahnya adalah remaja putri yang riuh dengan mulut toanya.


Glek.


Khey meneguk ludahnya kelat saat manik matanya menemukan sosok Fabian yang sangat berbeda dengan kaos basketnya. Suami tengilnya tersebut sungguh membuat Khey terpana.


Warna kaos basket yang biru gelap terlihat sangat kontras dengan kulit Fabian tengil yang putih bersih. Dan lagi kaos tanpa lengan itu membuat lengan kekar Fabian terekspos, menampakkan otot otot kekar yang membalut tubuhnya.


Dan Khey tidak menyangka jika tubuh jangkung yang selalu saja disebutnya kerempeng tersebut memiliki bentuk tubuh yang sempurna. Bukan hanya sempurna melainkan sangat sempurna untuk ukuran remaja yang semula dianggap tidak good looking oleh seorang Khayyara yang notanbene adalah mostwantednya SMU Gama.


Dengan headband di atas kepala yang senada dengan surai hitamya semakin menambah kadar ketampanan Fabian tengil menjadi berkali kali lipat. Apalagi bibir yang sempat Khey kecup beberapa saat lalu tersebut tidak berhenti menebar senyum mempesona, hingga membuat riuh para siswi yang memandangnya.


Khey menoleh ke sekelilingnya ketika mendengar nama Fabian dielu elukan oleh para siswi SMU Gama yang duduk di seputaran tempat Khey berada, dimana mereka adalah deretan adek kelas bahkan hingga kakak kelas khey di sekolahnya.


Ada rasa tidak rela dari dalam hati Khey saat melihat siswi siswi tersebut berbinar senang dengan mata tak berhenti memandang Fabian dan mulut yang selalu mengelukan nama sang suami.


Khey mengalihkan wajahnya ketika merasa mendapat sikutan pada lengannya.


"Apaan sih Rhe...?" Khey dengan wajah kesalnya.


"Itu Fabian... kenapa jadi cakep banget sih Khey...." Rhea dengan senyum berbinar tanpa melepaskan pandangan dari Fabian yang sedang berlari membawa si bundar oranye.


"Mana ada Fabian cakep." Khey dengan bibir mencebik, menutupi rasa kesalnya. Apalagi sahabatnya itu pun mengakui ketampanan suami tengilnya.


"Ck... elo jadi orang harus obyektif Khey. Liat no Fabian cakep banget..." Rhea dengan menangkup kepala Khey dan membawanya menatap ke arah lapangan basket.


"Pyek.... biasa aja." Khey masih saja tidak mau mengakui ucapan Rhea, padahal beberapa saat lalu dirinya sempat terpana pada wajah suami tengilnya yang tampan tersebut.


"Elo tu jangan cuma liat Doni doang. Liat dengan benar tu, Fabian gak kalah cakep dari Doni. Malah cakepan Fabian jauh... Keknya gue bisa jatuh cinta deh sama dia..." Rhea dengan nyablak hingga membuat Khey melebarkan kedua bola matanya saat mendengar ucapan sang sahabat. Lalu ekor matanya melirik Rhea yang masih saja memandang lurus ke arah Fabian yang berada di lapangan basket dengan senyum berbinar menghiasi wajah sang sahabat.


Entah mengapa Khey merasa sangat kesal dengan ucapan sahabatnya, seolah hatinya tidak terima jika sahabat nya tersebut bakalan jatuh cinta beneran pada sang suami. Apalagi Rhea tidak melepaskan pandangan ataupun menyurutkan senyumnya saat memandang Fabian yang bergerak aktif di lapangan basket.


"Horrreee...!!!" serempak seruan para penonton saat Fabian berhasil memasukkan bola bundar berwarna oranye tersebut ke dalam ring.


"Fabian I love you...!!!"

__ADS_1


"Biannn aku padamu!!!"


"Bian emeshh deh..."


"Fabian my love!!!"


Beraneka ragam teriakan dari siswi di sekeliling Khey membuat telinga Khey memanas.


Wajah Khey semakin tertekuk kesal saat melihat Fabian tengah tebar pesona dengan memberikan respon seolah memberi hati dengan jari tangannya, bahkan suami tengilnya itu tak segan memberikan ciuman dari jauh bak artis yang sedang jumpa penggemar.


"Cihh... dia melupakan siapa yang tadi kasih dopping. Dasar gak tau terima kasih." Khey menggerutu kesal sembari memandang sinis pada Fabian. Sayangnya Fabian terlihat mengabaikan keberadaan Khey, karena Khey tidak mendapati pandangan mata Fabian mencari keberadaannya di tribun penonton.


Padahal jika saja itu Doni, pasti selalu memberikan lambaian tangan ataupun senyuman ke arah Khey saat berhasil memasukkan bola ke dalam ring.


Ah... Doni, ternyata Khey sempat melupakan sosok kekasih tampannya tersebut karena pesona suami tengilnya.


Khey meraih ponsel dalam saku seragamnya. Membuka layar ponselnya, beberapa saat terlihat menimang tentang apa yang akan dilakukan pada ponsel pintarnya.


Lalu memutuskan mengetik pada layar ponsel pintarnya.


^^^My love Doni❀^^^


^^^Gue pengen kita putus^^^


Khey lalu mengirim pesan singkatnya pada kontak Doni.


Biarlah terkesan sadis, Khey tidak ingin lagi melanjutkan hubungannya dengan sang ketua osis tampan tersebut.


Kalaupun Doni nantinya tidak terima, Khey akan kembalikan dengan kebenaran penglihatan matanya beberapa hari lalu. Dimana Doni memeluk seorang gadis di depan matanya.


Khey menghembuskan nafas pendek lalu memasukkan kembali ponsel pintarnya ke dalam saku seragam sekolahnya.


Terdengar kembali keriuhan di sekelilinya yang ternyata Fabian suami tengilnya telah berhasil mencetak skor hingga membuat tim basket sekolahnya menang.


😍😍😍😍


My beloved readers, tengyu so much for :


Like πŸ‘πŸ»


Vote πŸ”–


Rate ⭐⭐⭐⭐⭐


Komen πŸ’‹

__ADS_1


Tambahkan favorit ❀


Salam halu dari author yang narsis abishh πŸ’ƒπŸ»πŸ’ƒπŸ»πŸ’ƒπŸ»


__ADS_2