Mendadak Nikah 2 (Married By Accident)

Mendadak Nikah 2 (Married By Accident)
MBA 174


__ADS_3

"Lo nggak papa kan Bell?" Fabian segera membantu Bella berdiri dengan kedua tangannya.


"Nggak papa kok." Sahut gadis yang dulu pernah memenuhi ruang hati Fabian itu dengan sedikit menunduk. Seakan enggan menunjukkan wajahnya di depan Fabian.


Dan itu membuat Fabian heran.


Meski hingga detik ini mereka tidak memiliki hubungan karena Bella lebih memilih sahabatnya, namun tidak membuat Fabian serta merta membenci gadis itu. Fabian tetap saja bersikap ramah.


"Yakin lo nggak papa Bell?" Fabian dengan menelisik karena melihat tubuh gadis itu sedikit bergetar. Bahkan terlihat tidak mau menatap wajahnya.


"Ya... gue nggak papa kok." Suara Bella terdengar lirih.


Fabian tidak percaya begitu saja akan jawaban dari Bella. Fabian meyakini ada sesuata yang disembunyikan gadis itu. Kedua ekor mata Fabian memindai Bella yang masih berdiri di depannya, mengusap sedikit debu yang menempel pada pakaiannya.


Bella nampak lebih kurus dari terakhir kali mereka bertemu. Penampilannya saat ini juga sangat kusut dan berantakan. Rambut hitam gadis itu terlihat lebih panjang, dibiarkan tergerai begitu saja. Sungguh penampilan tak biasa dari Bella yang biasanya selalu tampil rapi dan menunjukkan wajah cantiknya.


Saat ini Bella hanya mengenakan baby doll dengan bawahan pendek bergambar hello kitty kesukaannya.


Ya Hello kitty adalah tokoh kartun kesukaan gadis itu, Fabian masih mengingatnya. Tapi bukan berarti Fabian masih menyimpan rasa cintanya pada Bella. Kebersamaan mereka sebagai sahabat semenjak sekolah menengah pertama, tidak serta merta menghapus kenangan mereka begitu saja.


"Lo sama siapa?"


Entah mengapa Fabian merasa khawatir dengan gadis itu. Fabian bukan orang yang tak memiliki hati, dia selalu berbuat baik pada siapapun.


"Ada. Sama temen gue. Gue duluan ya Fab." Bella beranjak pergi tanpa menunggu jawaban dari Fabian.


Fabian masih memaku tubuhnya di tempatnya berdiri. Pandangan matanya tak lepas pada tubuh Bella yang berjalan membelakanginya. Berbagai tanya memutari tempurung kepalanya.


"Ah, sudahlah... semoga dia baik baik saja." putus Fabian beranjak hendak melanjutkan tujuannya.


Srek...


Fabian menunduk saat merasa langkah kakinya menyampar sesuatu. Dengan membungkukkan setengah tubuhnya Fabian meraih sebuah kantong kresek berwarna hitam yang tergeletak di jalan.


Kedua bola mata Fabian melebar saat mengetahui isi kantong kresek tersebut. Beberapa tespeck dengan berbagai merek ada di dalamnya.


Mungkinkah ini milik Bella? tanya batin Fabian dengan ragu.


Seketika kepalanya menoleh ke belakang. Mendapati sosok Bella yang masih berjalan belum terlalu jauh, Fabian membalik tubuhnya penuh.


Mungkin saja benda itu benar milik Bella, tapi mana mungkin.

__ADS_1


Isi hati Fabian tidak begitu saja menaruh curiga. Bisa saja kan Bella membelikan untuk orang lain. Mamanya atau mungkin saudaranya, suara hati Fabian selalu saja mencoba berfikir positif.


"Bella..."


Fabian dengan berseru memanggil gadis yang terlihat berjalan lambat di depannya. Bella sepertinya tidak mendengar panggilan Fabian.


Bella gadis itu berjalan lambat dengan menundukkan kepala, Fabian bahkan menangkap kaki gadis itu menendang kerikil kecil beberapa kali.


Ada apa sebenarnya dengan Bella... apakah dia memiliki masalah yang berat. Bukankah dia tadi bilang bersama temannya, kenapa sampai sekarang dia masih berjalan sendiri. Apakah Doni yang sedang bersamanya. Tapi... dimana cowok itu? Kenapa tak terlihat batang hidungnya... Fabian tidak berhenti bertanya dalam benaknya.


Fabian pun memutuskan berlari kecil, menyusul Bella.


"Bell... Bella..."


Akhirnya Bella menghentikan langkah kakinya dan menoleh ke belakang. Mendapati Fabian berlari ke arahnya, membuat kening Bella mengerut. Bella pun membalik tubuhnya.


"Ngapain lo nyusul gue?" tanya Bella terperanjat. Bella terlihat sangat kaget karena sesungguhnya dia sedang tidak ingin bertemu dengan Fabian. Ada hal yang Bella ingin sembunyikan dari sahabatnya itu.


Fabian menghentikan larinya tepat di hadapan Bella, sesaat menormalkan deru nafasnya yang terengah.


"Apa ini punya lo?" Fabian menunjukkan kantong kresek berwarna hitam di depan Bella.


Seketika wajah Bella terlihat cemas. Kedua tangannya meraba tubuh dan menggerayangi kantong baju tidurnya. Saat menyadari tidak menemukan benda yang dicari, jantung Bella berdetak dua kali lebih cepat.


"Elo nggak liat isinya kan Fab?" Bella dengan raut wajah yang memucat, tangannya meraih kantong kresek hitam dari tangan Fabian sedikit kasar.


Tak ada sahutan dari mulut Fabian, cowok itu hanya diam menelisik wajah Bella intens.


"Lo nggak lagi sakit kan Bell?"


Sebuah pertanyaan dari Fabian membuat tubuh Bella semakin bergetar hebat. Takut sesuatu hal dari dirinya akan diketahui oleh Fabian.


"Bell..." Fabian baru menyadari jika Bella terlihat sangat pucat dan wajahnya lebih tirus.


"Nggak. Makasih Fab." Bella meraup kantong kresek hitam dari tangan Fabian sedikit kasar. Bella harus cepat cepat pergi dari hadapan Fabian.


Fabian mengangguk dengan masih memandangi Bella yang mmulai mengambil langkah untuk pergi.


Brukk...


Baru saja dua langkah menjauh, Bella ambruk di depan Fabian.

__ADS_1


"Bella!" Pekik Fabian segera menolong Bella.


"Bell.... Bella..." Fabian menepuk pipi pelan. Namun gadis itu tetap terpejam dengan tubuh yang sangat lemas.


Kennan menoleh ke kanan dan ke kiri untuk memindai seseorang yang mungkin tadi bersama Bella. Namun jalanan di sekitarnya terlihat lengang, tak nampak seorang pun terlihat berlalu lalang.


"Pak tolong bantu saya." seru Kennan saat ekor matanya menangkap seorang tukang becak yang berada tak jauh darinya.


"Bantu saya membawanya ke mobil ya pak." Fabian memutuskan membawa Bella ke rumah sakit karena merasa Bella hanya sendiri.


Fabian memilih membawa Bella ke rumah sakit karena dia tidak mengetahui tempat tinggal Bella. Fabian belum pernah sekalipun berkunjung ke rumah gadis itu selama mereka berada di sekolah yang sama.


Nanti Fabian akan menghubungi Doni saja. Doni pasti tahu rumah Bella.


"Terima kasih banyak ya pak." Fabian pada tukang becak yang telah membantunya.


"Sama sama mas." Tukang becak itu menjabat tangan Fabian yang telah terulur.


"Ini buat bapak." Fabian dengan menyelipkan lembaran uang kertas berwarna merah saat menjabat tangan tukang becak tersebut.


"Loh mas... ndak usah. Saya ikhlas kok membantu mas." Tukang becak tersebut menolak pemberian Fabian.


"Saya juga ikhlas kok pak." Fabian dengan menggenggam tangan bapak tukang becak kembali kemudian pamit pergi.


Bekas bermaksud menilai kebaikan orang kain dengan uang, melainkan Fabian hanya ingin sedikit membantu mereka yang kurang mampu. Toh dirinya ikhlas dan lagi uang itu adalah hasil jerih payahnya sendiri. Menurut Fabian sah sah saja jika dirinya mengeluarkan sedikit uang miliknya untuk bersedekah.


Fabian segera menaiki mobil miliknya untuk membawa Bella ke rumah sakit terdekat.


"Abi..."


Khey berdiri tak jauh di sana menatap kepergian mobil Fabian dengan banyak tanya yang memenuhi tempurung kepalanya.


😍😍😍😍


Readers : Thor... sedikit ngarep semoga tidak timbul salah paham yak❀


Othor : Emm.... tergantung kalian kasih bonusnya buat othor....


Readers : Ck.... othor mah gitu....


Othor : Simbiosis mutualisme dikitlah, biar othor juga semangat nulis nih...

__ADS_1


Readers : Ya udah nanti tak kasih kopi buat temen begadang, juga kursi pijat buat bantu melemaskan otot lelahmu thor...


Othor : Baiklah... baiklah... tapi... nggak greget kalo nggak ada konfliknya... Jadi ya othor gak janji deh🀭🀭🀭


__ADS_2