
"Lepasin sweat...tter lo Kk.. ey..." Rhea dengan menarik resleting sweater tersebut ke bawah.
Kedua mata Rhea membola saat mendapati jejak merah yang cukup banyak pada leher sahabatnya.
Kulit Khey yang putih bersih sangat kontras dengan jejak merah yang menghiasinya.
Wajah Khey pun berubah pias. Segera menaikkan resleting sweater merah muda yang dikenakannya dan menaikkan kerah lehernya kembali. Memalingkan wajahnya menghadap jendela, memilih melihat ke luar untuk meredakan degub jantungnya yang berdetak tak beraturan. Khey takut Rhea bakal menginterogasinya.
Rhea terlihat membeku di posisinya. Seolah tidak mempercayai apa yang telah dilihatnya beberapa saat lalu.
"Kalian berdua kenapa sih?" Alya yang tidak memperhatikan kejadian beberapa saat lalu tersebut karena sedang fokus dengan ponselnya pun bertanya bingung. Karena kedua sahabatnya terlihat diam tidak seperti biasa saat mereka bersama.
"Elo balikan lagi sama Doni Khey?"
Bukannya menjawab pertanyaan Alya, Rhea memilih mengungkapkan rasa penasaran di benaknya.
"Enggak." Khey menggeleng cepat tanpa basa basi.
"Terus siapa yang bikin peta di leher lo?" lanjut Rhea menyelidik.
Khey membola karena mulut Rhea selalu saja nyablak tanpa peduli dengan kondisi sekitar.
Khey melotot pada Rhea, sedangkan Alya memandang Khey dan Rhea silih berganti.
"Elo tadi ngomongin apaan Rhe?" Alya setengah berbisik, mendekatkan wajah pada kedua sahabatnya uang saling tatap. Entah apa yang ada di benak keduanya, Alya tidak paham. Namun Alya masih mendengar sekilas ucapan Rhea tentang peta di leher. Membuat otak lemot Alya berkelana.
"Anak kecil nggak usah ikut campur." Rhea mengabaikan Alya, masih saja mengunci pandangan pada Khey yang terlihat membeku.
"Gue bukan anak kecil." Alya mencebik lalu beralih pada Khey.
"Elo beneran balikan sama ketos yang sok don juan itu Khey? Elo nggak tau apa kalau mulutnya itu udah merawanin banyak mulut cewek cewek." tanpa sadar Alya keceplosan.
"Dari mana lo tau Doni kek gitu?" Khey dengan kening mengerut, balik bertanya dan mengabaikan pertanyaan Alya.
Hek.
Alya tercekat saat menyadari ucapannya. Menelan ludahnya kelat sembari melirik ke arah Rhea seakan meminta pertolongan pada sahabat cablaknya tersebut.
"Kita berdua udah tau kalau cewek Doni itu bukan elo doang Khey." Rhea memilih mengatakan yang sebenarnya.
Khey terkejut dengan membuka mulutnya serta melebarkan kedua matanya.
"Bagaimana kalian bisa tau...?" Khey tidak pernah menyangka jika kedua sahabatnya itu mengetahui kejelekan Doni.
__ADS_1
"Apa gue pernah cerita sama kalian ya...?!" Khey sembari mengingat karena dirinya merasa belum pernah sedikitpun menyinggung akan hal itu.
"Kita tau sendiri bukan dari lo." Rhea.
"Sejak kapan? Kenapa kalian nggak sedikit pun menyinggung ha itu ke gue..." Khey masih dengan perasaan tidak menyangka dan mengira.
Rhea menghembuskan nafas berat.
"Sorry bukannya kita nggak mau cerita sama lo. Tapi kebucinan elo sama Doni membuat kita mengurungkan niat buat ngasih tau lo tanpa bukti. So kita nunggu waktu yang tepat sembari mengumpulkan bukti. Tapi... setelah kita denger elo udah putus dari player itu kita jadi lupa buat cerita sama lo. Udah ketutup gitu aja." Rhea panjang lebar.
Khey terlihat manggut manggut. "Sorry girls..."
"Gak papa yang penting elo udah nggak sama dia lagi. Elo beneran udah putus kan Khey?" Alya memastikan.
"Ya... keknya cinta gue ke Doni udah hilang deh." Khey mengangguk yakin.
"Secepat itu?" Alya membola, tidak meyangka akan ungkapan Khey. Karena selama ini Khey terlihat sangat mencintai ketos tampan mostwanted tersebut.
"Elo yakin?" lagi Alya memastikan.
"Yup. Gue yakin kok." Khey dengan senyum ceria membingkai wajahnya.
"Good girl." Alya mengacungkan dua jempol tangannya di depan Khey.
"Morning class...." guru mata pelajaran bahasa inggris memasuki kelas sembari menyapa dengan centilnya.
Khey bernafas lega, beruntung guru segera datang sehingga dirinya tidak harus memberi penjelasan pada Rhea.
Rhea yang semula menghadap Khey pun segera membalik tubuhnya untuk menghadap papan tulus.
"Jangan pikir ini selesai Khey..." Rhea dengan bisikan ancaman sesaat sebelum membalik tubuhnya.
πππ
Khey dan kedua sahabatnya segera menghambur ke luar kelas sesaat setelah bel tanda istirahat berbunyi.
Ketiganya berjalan beriringan sembari bercanda ria.
"Khey!" seruan dari suara bariton yang tidak asing terdengar di telinga Khey dan kedua sahabatnya. Membuat ketiga gadis itu menghentikan langkahnya dan menoleh ke belakang dengan serempak.
"Gue nau ngomong sama lo."
Suara bariton itu adalah milik di ketua osis tampan pacar Khey, eh bukan ding mantan pacar Khey tepatnya.
__ADS_1
"Mau apa lagi lo?" tanya Rhea dengan memperlihatkan wajah sinis.
"Bukan urusan lo. Yang gue butuhin Khey bukan elo." Doni ketus tanpa sedikitpun peduli dengan Rhea maupun Alya. Pandangan matanya mengunci Khayyara.
"Urusan Khey itu urusan gue juga." Rhea memajukan langkahnya seolah menghadang Doni.
Doni tersengih.
"Nggak usah ikut campur lo." Doni dengan mendorong bahu Rhea.
"Don apaan sih lo, jangan ganggu temen gue." Khey kesal, segera menarik tangan Rhea dan Alya untuk mundur.
Sekarang posisi Khey berada di depan kedua sahabatnya.
"Kita perlu ngomong berdua. Bilang sama dua temen lo buat pergi." Doni dengan memerintah seolah masih berkuasa atas Khey.
"Nggak. Nggak ada yang perlu kita omongin lagi. Semuanya sudah sangat jelas Don. Elo sama gue udah berakhir, nggak ada yang perlu dibahas lagi." Khey dengan membuat gerakan menyilangkan tangan di depan dada. Seolah menegaskan bahwa hubungan keduanya benar benar tekah berakhir.
"Elo salah paham Khey. Gue bakal jelasin semuanya." kali ini Doni membujuk dengan menurunkan nada bicaranya. Berharap Khey mau berbicara berdua dengannya.
"Nggak perlu Don, gue nggak butuh penjelasan dari lo." Khey benar benar menutup pintu untuk Doni.
"Dengerin tu... Khey udah nggak mau berhubungan sama lo. Nggak usah maksa." Rhea terlihat sangat membenci Doni.
"Udah gue bilang nggak usah ikut campur jugak, susah banget sih diomongin." Doni dengan pandangan sangat kesal pada Rhea.
"Udah Rhe... nggak usah ladenin cowok gila ini. Ntar kita bisa ikutan gila." Alya menimpali.
"Apa lo bilang. Gue gila?!" Doni dengan sorot mata marah, mengikis jaraknya dengan Alya.
Namun dengan sigap Khey menghadangnya. Khey tidak mau membuat masalah.
"Cukup Don... nggak usah ganggu gue juga temen gue. Elo nggak malu apa bertengkar sama cewek..." Khey dengan melirik ke sekitar dimana beberapa anak memperhatikan mereka.
Sial...
Doni membatin kesal saat menyadari posisinya saat ini.
"Urusan kita belum selesai Khey..." Doni berbisik tepat di depan wajah Khey setelah memperhatikan sekelilingnya yang memang banyak pasang mata melihatnya.
Bagaimanapun Doni tidak ingin reputasi kita osisnya tercoreng hanya gara gara kaum perempuan di depannya.
ππππ
__ADS_1