
"Lelaki yang lo panggil papa itu ada affair sama mama gue."
Ucapan Khey sontak membuat Doni mengurungkan niatnya untuk beranjak pergi.
Sesungguhnya Doni tidak kaget mendengar pernyataan Khey barusan. Namun tetap saja rasa sesak memenuhi rongga dadanya saat ini.
Bagaimana tidak sesak.
Pernyataan Khey itu membuat Doni kembali teringat akan sosok sang mama. Wanita kuat yang telah melahirkannnya ke dunia ini.
Mama Doni yang semula cantik jelita, perlahan berubah layu, kurus kering akibat pengkhianatan yang dilakukan oleh sang papa dengan wanita pelakor yang tak lain dan tak bukan adalah mama Khey.
Kelebatan tubuh ringkih yang terbaring lemah tak berdaya, tak memiliki gairah hidup yang akhirnya tak mampu bertahan dan pergi meninggalkan Doni untuk selamanya. Memenuhi benak Doni.
Bahkan hingga akhir hayatnya, mama Doni tidak mendapatkan perhatian lagi dari sang suami. Papa Doni seolah dibutakan oleh wanita pelakor yang merupakan mama Khey.
Tangan Doni terkepal kuat di kedua sisi tubuhnya, hingga membuat buku bukunya memutih.
Masih dengan posisi yang membelakangi Khey, Doni menghirup nafas kuat. Sekuat hati untuk tidak mengeluarkan air mata di depan Khey yang telah Doni ketahui sejak lama sebagai anak dari wanita yang menghancurkan biduk rumah tangga kedua orang tuanya.
Dan karena alasan itulah Doni sengaja mendekati Khey lalu menjadikannya sebagai kekasih. Doni ingin menghancurkan anak perempuan selingkuhan papanya untuk membalas dendam. Sayangnya sebelum semua rencananya berjalan sukses, Khey telah mengakhiri hubungan mereka.
Rentetan rencana untuk membuat mama Khey menderita melalui anak perempuannya, satupun belum ada yang terlaksana. Semula Doni akan merusak Khey untuk membalas dendam. Sayangnya Khey cukup sulit untuk dirayu dan dijamah tubuhnya. Hingga akhirnya Doni pun menghentikan rencananya namun tak berhenti memutar otak untuk memikirkan rencana yang lainnya.
Setelahnya Doni membalik tubuhnya.
Khey terlihat masih duduk di tempatnya seraya melayangkan tatapan kebencian padanya.
"Terus urusannya sama gue apa?" Doni dengan berusaha tetap datar, menyembunyikan emosi yang bergemuruh di dalam dadanya.
Ungkapan Doni membuat Khey mengerutkan kening heran. Bagaimana Khey tidak heran jika raut wajah Doni biasa saja dan tidak menunjukkan rasa khawatir atau terkejut. Seolah cowok yang pernah menjadi kekasih Khey itu telah mengetahui kenyataan tersebut.
"Lo nggak marah?" tanya Khey menelisik.
"Ngapain gue mesti marah?" Doni tetap tenang dan datar. Khas Doni dulu saat masih bersama dengan Khey.
"Itu papa lo." Khey dengan nada yang sedikit meninggi seolah mengingatkan.
"Bukan urusan gue." Doni terdengar santai.
__ADS_1
"Lo nggak kasian sama mama lo karena diselingkuhin?"
Doni tersengih.
Menaikkan salah satu sudut bibirnya.
"Mama gue udah nggak ada." Doni dengan sedikit bergetar.
Khey terkejut melebarkan kedua matanya. Sungguh Khey tidak tahu jika Doni sudah tidak memiliki seseorang ibu.
Terbersit kekhawatiram dalam benak Khey. Mungkinkah...
"Dan itu karena ulah mama lo." Doni kembali berucap kata. Kali ini dengan penuh penekanan. Bahkan Khey menangkap amarah tersembunyi yang ditahan oleh Doni.
Glek.
Khey tercekat.
Kekhawatirannya ternyata benar. Mama Doni pasti meninggal karena tak tahan melihat perselingkuhan suaminya dengan mama Maira.
"Jangan jangan lo deketin gue karena..." Khey tak sanggup menyelesaikan kata katanya. Takut apa yang menjadi angannya, benar adanya.
Ucapan Doni membuat Khey semakin terkejut. Sungguh Khey tidak menyangka Doni ternyata setega itu kepadanya. Akan tetapi itu pasti setimpal dengan perbuatan jahat mamanya.
Tak berapa lama kemudian, terdengar hembusan nafas pelan dari Doni.
"Tapi itu dulu. Awal gue deketin lo memang gue niat balas dendam." Doni menjeda ucapannya sesaat untuk menghirup oksigen dalam. "Akan tetapi seiring berjalannya waktu gue nggak tega nyakitin lo. Dan lagi rasa cinta gue ke lo tumbuh begitu saja." lanjut Doni lagi terdengar melunak.
Khey menelan ludahnya kelat, mengerjapkan kedua mata seraya menatap Doni. Berbagai rasa berkecamuk dalam benaknya. Antara percaya dan tidak percaya mendengar ucapan Doni.
"Tapi selama ini lo..."
Belum selesai Khey berucap kata, Doni memotongnya.
"Gue punya alasan kenapa gue bersikap dingin sama lo." Doni memalingkan wajah, membuang nafas pelan lalu kembali mendudukkan diri di hadapan Khey.
"Maksud lo gimana?" Khey dengan tatapan tak mengerti.
"Awalnya ngedeketin lo gue memang ingin mendapatkan lo hanya untuk balas dendam. Setelahnya gue pengen ngerusak lo, agar orang tua lo, terutama mama lo ngerasain apa yang gue dan mama gue rasain. Tapi seiring berjalannya waktu gue nggak bisa melakukannya." Doni terlihat menghela nafas kembali.
__ADS_1
"Kenapa?" Khey dengan raut wajah penasaran.
"Gue jatuh cinta sama lo." Aku Doni yang sesungguhnya hanya triknya untuk membuat Khey bersimpati kepadanya. Dari dalam hati Doni, sesungguhnya dia masih ingin membalas dendam pada Khey dan mamanya. Tak mungkin Doni memaafkan dan menghapus begitu saja kelakuan mama Khey.
Ucapan Doni seketika membuat Khey membungkam mulutnya rapat.
"Jadi sikap lo akhir akhir itu..."
Yang Khey maksud adalah sikap Doni yang berubah dingin dan kaku kepadanya setelah menjalin kasih. Jauh berbeda dengan awal saat Doni melakukan pendekatan kepadanya. Padahal Khey benar mencintai Doni saat itu.
"Gue berada dalam kebimbangan antara melanjutkan balas dendam gue atau membiarkan rasa cinta gue ke elo bersemi memenuhi hati gue."
Ucapan Doni terdengar sungguh sungguh. Membuat Khey terenyuh. Kedua matanya memerah menandakan simpati yang teramat dalam. Khey sungguh paham gejolak hati Doni saat itu.
"Tapi... disaat gue memutuskan untuk memilih memupuk rasa gue sama lo, lo malah memilih ninggalin gue. Lo lebih memilih si tengil itu."
"Maaf." lirih Khey. Sungguh sangat menyesal. Seandainya saja Khey tahu kenyataan yang sebenarnya mungkin saja dia tidak akan menyerah begitu saja saat itu.
"Sudahlah semua sudah berlalu." Doni dengan lembut. "Kita berdua hanya korban dari mereka." sungguh Doni pandai berakting.
Sesaat keduanya saling diam.
Khey menekuri semua ucapan Doni, rasa bersalah dan kebimbangan memenuhi hatinya saat ini.
Doni memperhatikan mimik wajah Khey, sepertinya aktingnya beberapa saat lalu mampu mempengaruhi Khey. Dalam hati Doni tersenyum puas.
Perlahan tangan Doni terulur, meraih telapak tangan Khey seraya berkata. "Gue minta maaf dengan sikap gue yang dulu pernah nyakitin lo. Percayalah sesungguhnya hati gue nggak tega melakukannya."
Ucapan Doni semakin membuat Khey merasa bersalah. Membuat pandangannya berkabut. Khey merasa sudut hatinya tercubit. Meski semua itu karena ulah mamanya, bagaimanapaun dirinya memiliki andil dalam kesakitan yang Doni rasakan.
"Bisakah kita kembali bersama, gue masih sayang sama lo Khey..." Doni menatapa Khey lembut dengan bibir bergetar saat mengucapkannya. Siapapun yang melihat itu pasti akan mempercayai ucapan Doni. Pun begitu dengan Khey.
ππππ
Wadidawww.....
Bagaimana ini, akankah Khey lemah dan terpengaruh bujuk rayu si Doni????
Jawabannya tunggu next partππππ
__ADS_1