Mendadak Nikah 2 (Married By Accident)

Mendadak Nikah 2 (Married By Accident)
MBA99


__ADS_3

Fabian tergelak.


"Kok malah ketawa sih... udah dikasih tau juga." Khey menggerutu kesal saat melihat reaksi dari Fabian tengil.


Sebenarnya Khey sudah menduga akan reaksi Fabian tersebut, namun dirinya tidak menyangka jika Fabian benar - benar menertawakannya. Padahal Khey sudah sangat menahan malu saat mengungkapkan isi hatinya beberapa saat lalu.


"Gue nggak nyangka aja kalau lo bisa kalap juga sama sentuhan gue." ucap Fabian masih diiringi dengan tawa kecil.


"Gue juga manusia normal Bi." kali ini Khey menunjukkan wajah sengitnya.


Membuat Fabian segera menghentikan sisa tawanya. Lalu beranjak menyandarkan punggungnya pada kepala ranjang dengan nyaman.


"Sini deh..." Fabian menepuk sisinya untuk menyuruh Khey duduk di sana mengikutinya.


"Ogah." Khey masih cemberut.


"Sini dulu yang... gue kasih tau alasannya." Fabian meraih lengan tangan Khey dan menariknya.


"Mau ngapain sih... gue nggak mau ya kalau cuma digantungin mulu."


Fabian terkekeh kecil.


"Gue kasih tau dulu, ntar elo putusin mau tetep lanjut buat itu apa enggak..." Fabian tersenyum. Tidak menyangka jika gadis barbar bergelar isterinya itu benar benar masih sangat polos.


Khey mencebik, dengan terlihat ogah ogahan menuruti keinginan suami tengilnya.


"Deketan sini lah yang..." Fabian dengan menangkup bahu Khey agar merapat padanya. Khey pun beringsut.


"Elo kesel sama gue karena yang tadi nggak selesai?"


Hem...


Khey hanya berdehem tanpa mengeluarkan sepatah katapun.


"Elo nggak tau alasannya kenapa?!"


Khey mengangguk cepat.


Lagi Fabian terkekeh kecil.


"Nggak usah ketawa." Khey dengan menyikut perut Fabian.


Aww... Fabian meringis kecil.


"Gue nggak lanjutin karena baru inget kalau lo lagi ada tamu bulan pas gue mau tarik rok lo." ucap Fabian tanpa menutupinya, toh keduanya lagi posisi berdua saja.


"Apa hubungannya coba?"


Khey dengan memainkan jemari tangannya, bibirnya pun masih mengerucut. Apalagi setiap mengingat kejadian tersebut membuat Khey harus menahan kesal dan malu, campur aduk.

__ADS_1


"Elo nggak tau kalau perempuan lagi masanya datang nggak boleh ngelakuin it... ttu..." Fabian hati hati.


"Maksudnya?" Khey menoleh ke arah Fabian karena dia memang tidak mengetahui maksud suaminya.


"Pas period lo datang keluar darah, eloo tau kan kalau itu darah kotor?"


Khey mengangguk.


"Banyak kan?" Fabian lagi.


Khey pun mengangguk kembali.


"Pada siklus tersebut, perempuan nggak boleh melakukan hubungan suami isteri meskipun suaminya amat sangat menginginkannya." Fabian dengan menekankan pada kata kata terakhir pada ucapannya.


"Kalaupun suaminya memaksa, isteri harus menolak tegas." lanjut Fabian.


"Kenapa begitu?" Khey terlihat sangat tidak mengerti, bukan pura pura.


"Jika memaksa melakukannya pada siklus itu secara ilmu kedokteran bakal menyebabkan infeksi. Penyakit menular juga mudah menyerang tubuh kita. Banyak kumannya juga. Bahkan secara agama juga tidak diperbolehkan melakukannya." Fabian menjelaskan secara singkat dengan pelan dan hati hati diselingi dengan memberikan usapan lembut pada pucuk kepala dang isteri.


Khey mengangguk - anggukkan kepala tanda mengerti.


"Elo belum pernah dengar pas pelajaran biologi?" tanya Fabian seolah mengingatkan.


Khey terlihat berfikir seolah berusaha mengingat.


"Soal menstruasi, tentang kebersihannya, tentang penyebab rasa nyeri sih tau. Guru juga jelasin kok. Tapi kalau soal nggak boleh buat itu kan nggak ada guru jelasin Bi..." Khey dengan polosnya. Membuat Fabian kembali terkekeh kecil.


"Habisnya elo polos banget, kalah sama Septi." Fabian tanpa sengaja membandingkan antara isterinya dengan adik iparnya.


"Bi... elo..." Khey dengan pandangan seolah hendak menelan Fabian hidup hidup.


"Sorry... sorry... gue nggak bermaksud..." Fabian membungkam mulutnya segera.


"Elo nggak pernah searching mbah gugel gitu..." Fabian setelah beberapa saat.


"Belum sempetlah... orang kejadian tadi juga elo nggak ngomong dulu, nggak ada rencana juga kan..." Khey asal.


Fabian mengulum senyum. Dia sungguh tidak menduga akan kepolosan isterinya. Ingin rasanya tergelak, namun Fabian berusaha keras menahannya. Dia pun mengusap bahu Khey lembut untuk mengurangi kekesalan gadis itu. Kemudian memberikan kecupan pada pucuk kepalanya.


"Sekarang udah tau kan?"


Hm... Khey menggumam lesu.


"Masih pengen?" Fabian penuh selidik.


"Kan nggak boleh..." sangat terlihat kelesuan pada wajah Khey.


"Dipuasin yang sini aja." Fabian dengan menyusupkan wajah ke ceruk leher isterinya sembari meremas salah satu gunung kembar milik isterinya.

__ADS_1


πŸ“πŸ“πŸ“


"Ngapain lo pakek sweater kek gitu Khey...?" Alya bertanya dengan kening mengerut saat pagi ini sahabatnya itu memasuki kelas mereka.


Khey datang dengan melapisi seragam sekolahnya memakai sweater rajut dengan kerah yang dibiarkan tegak.


"Lagi nggak enak badan." ucap Khey sedatar mungkin untuk menutupi kebenaran dari Alya sahabatnya.


"Elo demam??" tanya Alya dengan mengayunkan tangan hendak menyentuh kening sang sahabat.


Dengan segera Khey menepisnya, jangan sampai tangan sang sahabat berhasil menyentuh keningnya. Bisa bisa kebohongannya terbongkar.


"Ck... gue cuma mau cek suhu lo doang." Alya dengan berdecak.


"Nggak usah, udah mendingan kok." Khey dengan menggeser kursi, untuk duduk di sana.


"Ngapain lo masuk sekolah kalau lo sakit... mendingan elo bolos aja." Alya dengan penuh perhatian pada sahabatnya.


Hek...


"Kenapa gue tadi nggak kepikiran buat bolos ya..." sesal Khey dalam hati.


Nasi telah menjadi bubur, kondisi tidak bisa dibalik lagi. Khey terlanjur masuk sekolah. Dia hanya bisa bertahan menyelesaikan jam pelajarannya dengan menahan gerahnya duduk di dalam kelas dengan sweater membalut tubuhnya.


"Rhea kok belum datang ya?!" Alya seolah bertanya pada dirinya sendiri sembari menatap jam yang melingkari pegangan tangannya.


Membuat Khey tersentak saat mendengar nama sahabatnya yang satu itu.


"Ah iya... Rhea... moga aja dia nggak masuk..." Khey membatin melirik sekilas benda melingkar di tangan Alya.


"Jam 7... semoga dia nggak datang ke sekolah ya Allah..." Harap Khey dalam hati.


Bukannya bermaksud jahat namun sahabatnya yang super bawel dengan tingkat kekepoan tinggi itu bisa membongkar kebohongannya dan mengetahui tanda jejak merah yang berusaha dia sembunyikan.


"Gara gara Fabian inih..." gerutu Khey dalam hati.


Baru saja Khey menghentikan gerutuannya.


"Hai my classmate... morning..." Rhea memasuki kelas dengan berjalan bak seorang model yang menyapa penontonnya.


Seisi kelas pun menyambutnya dengan beraneka ragam reaksi. Ada siswa siswi yang bersiul maupun tertawa mengejeknya. Namun Rhea yang berparas cantik tersebut tetap saja pede, tak peduli dengan suara suara sumbang yang mengejeknya.


Dengan cuek dia memberikan gerakan tangan seolah memberikan ciuman kepada para penggemarnya. Sungguh Rhea melakukannya dengan santai...


Khey berdoa dalam hati, semoga bel tanda masuk segera berbunyi dan Rhea tidak memperdulikan penampilannya saat ini.


"Morning girls..." Rhea menyapa kedua sahabatnya lalu mendudukkan diri di bangkunya, tanpa peduli kedua sahabatnya memberikan jawaban atau tidak pada sapaannya.


Posisi duduk Rhea yang berada di depan bangku Khey dan Alya membuat gadis itu membalik tubuhnya ke belakang saat melihat Khey membalut tubuhnya dengan sweater, padahal cuaca hari ini cukup panas.

__ADS_1


"Lepasin sweat...tter lo Kk.. ey..." Rhea dengan menarik resleting sweater tersebut ke bawah tergagap.


😍😍😍😍


__ADS_2