Mendadak Nikah 2 (Married By Accident)

Mendadak Nikah 2 (Married By Accident)
MBA 144


__ADS_3

"Ra... Tunggu!" seru Fabian pada sang isteri setelah melihat Doni pergi dari hadapan Khey.


Fabian memang sengaja menghentikan langkah kakinya saat melihat Khey dan Doni terlihat berbincang dari kejauhan.


Fabian berusaha tetap berfikir positif meski Khey dan Doni terlihat bersama. Mungkin mereka berdua hanya kebetulan bertemu dan saling menyapa.


Posisi Khey yang memunggungi Fabian sontak membalik tubuhnya saat mendengar panggilan yang sudah dapat ditebak siapa orangnya.


Tubuh Khey sedikit menegang saat melihat Fabian berlari kecil ke arahnya.


Abi lihat nggak ya waktu gue sama Doni tadi... tanya hati Khey dengan dada yang berdebar.


Meski sebenarnya Khey dan Doni hanya berbincang dan tidak melakukan kontak fisik namun tetap saja Khey merasa takut jika Fabian mencurigai dirinya main belakang dengan sang mantan.


Sepertinya Abi tahu... lanjut kata hati Khey dengan menelan ludahnya kelat. Rasa takut terjadi salah paham diantara mereka menggerogoti hati Khey saat ini.


"Nggak usah lari." Khey sedikit berseru dengan wajah khawatir. Bukan khawatir Fabian bakal jatuh atau apa, melainkan Khey takut akan kemarahan Fabian.


Namun Fabian mengabaikan karena suami jangkungnya itu malah semakin mempercepat lari ke arahnya.


"Dibilangin nggak usah lari jugak." Khey berusaha berkata dengan tenang karena takut akan reaksi Fabian yang pastinya telah melihat dirinya dengan Doni beberapa saat lalu.


Huh... huh...


Fabian berhenti tepat di hadapan Khey dengan nafas yang ngos ngosan.


Khey sengaja menatap wajah Fabian untuk menelisik wajah tampan penuh peluh tersebut. Mencari tahu kira kira apa yang bakal dilakukan Fabian kepada dirinya.


Mencecarnya dengan berbagai kecuriagaan, mungkin. Khey memutar otak untuk mempersiapkan jawaban yang bakal dia berikan nantinya.Tanpa menimbulkan masalah diantara mereka.


Disela deru nafas yang masih gencar keluar dari mulutnya, Fabian meraih salah satu pergelangan tangan Khey.


Membuat Khey waspada.


"Papa masuk rumah sakit."


Kalimat itu sungguh di luar perkiraan Khayyara. Untuk itu Khey terbengong.


"Ra... papa masuk rumah sakit." Kali ini Fabian berucap kata dengan menggoyang tangan sang isteri.


"Ra, elo denger omongan gue nggak sih?!"


"Eh... ah... iya... elo ngomong apaan tadi? Sorry gue nggak denger."


Khey sedikit tergagap karena tidak menyangka dengan kalimat yang keluar dari mulut Fabian tidak seperti apa yang Khey khawatirkan.


"Bunda tadi kirim pesan, katanya papa masuk rumah sakit. Dan bunda nyuruh kita ke sana buat lihat."


"Hah... apa? Papa masuk rumah sakit? Sakit apa?" Khey dengan wajah bingung.


Fabian menggedikkan bahu.


"Gue juga nggak tau, sepertinya cukup serius."

__ADS_1


Fabian bukan bermaksud menakuti sang isteri, melainkan Fabian hanya teringat jika bundanya tadi telah puluhan kali menghubunginya. Sebelum memutuskan mengirim pesan kepada Fabian.


Sesaat Khey hanya mematung, wajahnya datar tidak memiliki ekspresi yang pasti. Gadis itu tidak menunjukkan bahwa dirinya sedih, marah, ataupun kaget.


Fabian pun tidak dapat menebak raut wajah Khayyara.


"Kita ke rumah sakit sekarang ya?"


Hah... Khey menegakkan wajah.


"Apa?"


Fabian mengerutkan kening, heran.


Meski sebelumnya Khey selalu menolak ajakan Fabian mengunjungi rumah keluarga besarnya dengan tanpa alasan. Akan tetapi saat ini papanya sedang sakit bahkan sampai masuk rumah sakit. Kenapa Khey seperti tidak peduli, ada masalah apa sebenarnya dia dengan keluarganya.


Mungkinkah Khey sudah mendengar tentang keinginan kedua orang tuanya yang hendak berpisah?


"Kita ke rumah sakit, jenguk papa ya..." Fabian dengan lembut, mengabaikan sak prasangka yang memutar tempurung kepalanya.


"Harus sekarang ya?" Khey menatap Fabian datar.


Fabian cukup terkejut dengan tanya sang isteri.


"Elo... nggak mau sekarang?"


"Entahlah..." Khey menggedikkan bahu, malas. "Gue ngikut lo aja."


πŸ“πŸ“πŸ“


"Kak Ara mana?" tanya Septi pada Fabian yang baru saja sampai di depan pintu kamar inap papa mertuanya.


Dahi Fabian bertaut.


"Ara belum sampai ke sini?"


Septi menggeleng. "Belum."


Jawaban Septi membuat Fabian mendelik terkejut. Karena Khey sudah pergi lebih dulu saat dirinya memarkirkan kendaraannnya.


"Harusnya dia udah sampai sini duluan Sep." Fabian dengan mimik bingung juga heran. "Kemana perginya dia, apa jangan jangan kesasar?"


"Kakak udah ngasih tau kan ruangan papa sama kak Ara?"


"Udah." Fabian mengangguk pasti.


"Kalau gitu nggak mungkin kak Ara nyasar."


"Terus kemana dia kalau gitu? Kenapa belum sampai di sini?" Fabian mulai khawatir.


"Septi juga nggak tau kak, dari tadi Septi di sini nggak ada orang lain kok. Nggak mungkin Septi nggak tau kalau kak Ara lewat kan..." Septi dengan memindai ruang tunggu tersebut. Diikuti oleh Fabian.


Ruang tempatnya menunggu itu tepat di depan kamar papanya dirawat. Kondisinya cukup lengang karena merupakan ruang vvip. Jadi tidak semua orang bisa masuk dengan seenaknya.

__ADS_1


"Kemana sih lo Ra..." Fabian terdengar menggumam pelan namun masih terdengar oleh Septi.


"Coba kakak telfon."


Fabian segera meraih ponsel pintar dari saku celananya lalu segera melakukan panggilan pada kontak Khey.


Beberapa saat menunggu, hanya nada tunggu yang terdengar dari seberang telepon.


Fabian mulai terlihat tidak sabar karena telah berulangkali melakukan panggilan pada nomor Khey, gadis itu tak mengangkat panggilan Fabian.


"Mungkin nggak kalau kak Ara nggak bawa hapenya?" tanya Septi pada Fabian.


Fabian terlihat mengingat dengan ponsel yang masih menempel pada telinga kanannya.


Lalu setelahnya.


"Enggak, dia bawa kok." sahut Fabian menurunkan ponsel pintarnya karena panggilannya terputus dengan sendirinya.


"Tadi kakak lihat, Ara berbalas pesan pas jalan ke sini."


Fabian memang mengingat saat di dalam mobil, ponsel Khey berbunyi yang ternyata adalah pesan masuk dari sahabatnya.


Saat itu Fabian menanyakan pada Khey.


"Kalau gitu coba ganti Septi yang telfon kakak."


Septi membuka tas selempangnya lalu meraih benda pipih pintarnya dan segera melakukan panggilan pada kakak permpuannnya. Dalam hati Septi sangat was was.


"Handphone kakak mati." Septi dengan menurunkan benda pipih itu dari telinganya. Wajah adik perempuan Khey itu terlihat sangat cemas.


"Masa sih Sep?"


Fabian tidak percaya, segera melakukan panggilan melalui ponsel pintarnya.


Tututututtt....


Dan benar saja nomor Khey sudah tidak dapat dihubungi lagi.


Beberapa saat keduanya terdiam. Mencoba menerka keberadaan Khey yang tetiba menghilang.


Keduanya bahkan melupakan tujuan utamanya datang ke rumah sakit.


"Lo tau nggak kira kira alasan Ara nggak mau ketemu sama papa?" Tetiba Fabian memecah keheningan.


"Maksud kakak?" Septi menoleh ke arah Fabian dengan dahi mengerut tanda dirinya tidak mengerti pertanyaan kakak iparnya.


"Gue nggak yakin sih. Cuma gue ngerasa Ara kek enggan gitu waktu gue ajakin jenguk papa. Jadi ya gue asal aja tanya sama lo. Siapa tau aja lo tau sesuatu gitu."


Septi menatap Fabian tak berkedip.


"Nggak mungkin kan kakak tau semuanya..." ucap Septi dalam hati.


😍😍😍😍

__ADS_1


__ADS_2