
"Doni ada?" Khey bertanya pada salah seorang teman sekelas kekasihnya saat pagi ini dirinya berangkat pagi ke sekolah dengan terburu buru.
"Enggak ada. Belum datang keknya." sahut seorang teman lelaki kelas Doni dengan menoleh ke dalam kelasnya setelah mendengar pertanyaan Khayyara.
Khey mengerutkan kening lalu melihat jam pada pergelangan tangannya.
"Masak jam segini dia belum datang." Khey terdengar menggumam namun terdengar oleh teman sekelas Doni yang masih berdiri di depannya.
"Kalau gak percaya masuk aja sendiri, lo cek omongan gue." anak lelaki yang masih berdiri di ambang pintu kelas Doni tersebut terdengar kesal sembari menggeser tubuhnya dari sana.
"Eh... enggak kok, bukannya gue gak percaya. Cuma biasanya dia udah berangkat jam segini." Khey meralat ucapannya karena takut membuat salah paham. Namun begitu Khey tetap melongokkan kepala untuk melihat bangku Doni.
Dan benar saja, tempat duduk Doni memang kosong tidak berpenghuni. Padahal jam sudah menunjukkan pukul 7.30 dimana biasanya Doni sudah standby di dalam kelas karena disamping ketua osis, Doni juga menjabat sebagai ketua kelas.
Doni memang terbiasa berangkat lebih awal untuk memberikan contoh sebagai ketua osis yang baik dan disiplin. Itulah sebabnya Khey merasa heran jika saat ini Doni belum menampakkan batang hidungnya di sekolah saat ini.
Padahal hari ini Khey ingin menuntut penjelasan dari ketua osis yang bergelar kekasihnya tersebut atas kejadian kemarin, dimana dirinya melihat Doni berpelukan dengan cewek lain.
Dan lagi Khey ingin segera mengakhiri hubungannya dengan Doni. Karena saat ini merupakan kesempatan untuknya mengambil keputusan tersebut.
Sayangnya Doni tidak ada, bahkan setelah beberapa saat Khey menuggu di depan kelasnya pun Doni tidak menampakkan batang hidungnya. Hingga akhirnya Khey pun meninggalkan kelas Doni dengan lesu.
Maksud hati ingin segera menyelesaikan masalahnya dengan Doni, ternyata Khey harus mengurungkan niatnya kembali.
Khey berjalan menuju kelasnya kembali. Baru saja beberapa langkah Khey melihat sosok Fabian berjalan menuju ke arahnya dengan baju atas seragam sekolah yang keluar dan tanpa dikancingkan hingga memperhatikan kaos polos putih yang membalut tubuhnya. Padahal hari masih pagi dimana seharusnya seorang pelajar baru saja berangkat ke sekolah dengan pakaian yang rapi, tidak berantakan seperti penampilan Fabian saat ini.
Khey yang melihat itu mengeram kesal, selalu saja cowok yang bergelar suaminya itu tidak peduli dengan penampilannya. Khey tidak dapat mengabaikan hal itu, bagaimanapun Fabian sekarang adalah suaminya.
Bukannya Khey mulai tertarik pada Fabian, namun sebagai istri Khey tidak suka jika melihat penampilan asal sang suami. Khey menyukai cowok yang berpenampilan rapi, karena menurutnya itu sangat macho. Seperti Doni yang selalu berpakaian rapi dan penuh gaya, menurut Khey penampilan Doni selalu saja perfect di matanya.
Bagaimana Khey bisa jatuh cinta dengan Fabian jika penampilan Fabian selalu saja asal menurutnya.
Fabian tak pernah memakai seragamnya dengan rapi, bahkan saat tidak sekolahpun selalu saja celana robek yang menemani kesehariannya. Dan Khey tidak menyukai itu. Tidak salah kan jika Khey memperhatikan penampilan Fabian, apalagi Fabian juga memberikan perhatian kepadanya. Menurut Khey itu wajar saja.
Khey menghentikan langkahnya dan meminggirkan tubuhnya ke dinding kelas, bermaksud mencegat Fabian tengil.
Fabian berjalan santai dengan mulut yang tidak berhenti bersiul, seolah pagi harinya sangat menyenangkan.
"Eh Ara sayang... ngapain nyender tembok kek gitu... nungguin suami ya..." Fabian dengan pede saat langkah kakinya melewati Khey.
Khey melotot lalu melirik ke kanan dan ke kiri.
"Jaga mulut lo Bi..."
"Gak ada yang denger jugak." Fabian mengedarkan pandangan ke sekitar.
"Iya.. tapi jaga jaga siapa tau aja..." Khey mengeram masih dengan melotot ke arah Fabian.
"Ngapain lo kek nungguin angkot lewat kek gitu?" Fabian dengan memandang Khey menelisik.
__ADS_1
"Gue nungguin lo."
Hah...
Fabian membola.
"Tumben tumbenan lo nungguin gue pagi pagi kek gini, mau ngapain? Bukane gue udah kasih atm gue ke elo buat uang saku...?"
"Gue gak minta duit." Khey ketus.
"Lalu...?" Fabian mengernyit.
"Lo gak bisa po pakek baju yang bener?" Khey terlihat kesal.
Fabian memandang tubuhnya lalu memandang Khey, membandingkan seragam yang dipakai oleh Khey dan dirinya.
"Seragam gue udah bener kok. Elo gak liat kalau seragam kita sama..." Fabian merasa tidak ada yang salah dengan seragam yang dipakainya.
"Bukan itu maksud gue dodol..." Khey dengan mengatupkan giginya.
"Terus maksud lo apaan?" Fabian bingung.
"Pakek baju yang bener, dimasukin dikancing yang bener... masih pagi jugak. Gak bisa po lebih rapi dikit, gak slengekan kek gitu." Khey dengan mengaitkan satu kancing bagian atas baju seragam Fabian.
Fabian terkekeh kecil.
"Enggak." sahut Khey cepat sembari melepaskan tangannya yang hendak melanjutkan mengancingkan baju seragam Fabian. Dengan tak lupa memalingkan wajah dari Fabian.
"Gue suka kok diperhatiin kek gini." Fabian masih dengan kekehan.
"Enggak!! Siapa juga yang perhatian sama cowok tengil kek elo." Khey mengelak masih dengan memalingkan wajahnya.
"Masih aja ngelak.Tapi sorry yang bukane gue mengabaikan elo... tapi gue lebih suka kek gini." Fabian kembali membuka kancing baju yang sempat Khey kaitkan beberapa saat lalu.
"Gue gak nyaman kalau harus berpenampilan seperti orang lain. Kek gini baru gue..."
"Serah lo... dasar tengil..." Khey berlalu meninggalkan Fabian dengan kesal.
"Ciee... ngambek..." Fabian tersenyum memandang punggung Khey yang semakin menjauh.
πππ
"Khey... elo kemarin ke mana sih, kita cari cari jugak..." Alya bertanya kesal saat Khey mendudukkan diri di bangkunya yang bersebelahan.
"Gue pulang duluan. Gue udah chat sama lo kan Al..." Khey datar.
"Iya sih... tapi kan elo seharusnya gak pulang duluan. Kita kan perginya barengan masak lo pulang ninggalin kita sih..." Alya masih dengan raut wajah yang kesal.
"Sorry... gue beneran minta maaf soal kemarin itu." Khey terdengar menyesal.
__ADS_1
"Elo pulang naik apa Khey?" Rhea ganti bertanya.
"Grab." Khey terpaksa berbohong pada kedua sahabatnya.
"Ngapain juga pulang duluan kalau naik grab, mendingan barengan kita. Iya kan Rhe..." Alya dengan memandang Rhea meminta persetujuan.
Rhea hanya menghembuskannya nafas berat.
"Sorry Al, nyokap nelfon gue suruh pulang." Lagi lagi Khey harus membohongi kedua sahabatnya.
"Wajah lo kek kesel gitu Khey..." Rhea menyadari sesuatu yang tidak biasa pada wajah sahabatnya.
"Enggak ah lo aja yang salah terka." Khey belum siap bercerita tentang Doni pada kedua sahabatnya.
"Sayang lo Khey pulang duluan elo kan jadi gak bisa liat...." Alya belum selesai dengan kalimatnya.
Dugh...
"Aduhh... kok elo nendang kaki gue sih Rhe..." Alya menggerutu dengan salah satu tangan yang berusaha mengusap bekas tendangan Rhea di bawah meja.
"Sorry gak sengaja Al..." Rhe dengan melotot pada Alya, beruntung Khey terlihat acuh tidak peduli dengan ekspresi Rhea.
Alya mencebik kesal.
"Gue gak bisa liat apaan Al..." Khey terlihat penasaran dengan kalimat Alya yang belum selesai beberapa saat lalu.
"Doni sama..."
"Doni sama Farell main basketnya cakep banget." Rhea memotong ucapan Alya dengan cepat.
"Oh... kirain apaan. Ntar liat lagi kalau sekolah kita main, biar gue bisa liat... kemaren sekolah kita menang kan?!" Khey dalam hati merasa lega karena Khey takut jika kedua sahabatnya juga tahu tentang Doni yang berpelukan dengan cewek lain kemarin.
Rhea mengangguk mengiyakan dengan mencengkeram tangan Alya di bawah meja, dengan tidak lupa memberikan tatapan horor pada sahabatnya Alya yang tidak peka akan situasi.
ππππ
My beloved readers, tengyu so much for :
Like ππ»
Vote π
Rate βββββ
Komen π
Tambahkan favorit β€
Salam halu dari author yang narsis abishh ππ»ππ»ππ»
__ADS_1