Mendadak Nikah 2 (Married By Accident)

Mendadak Nikah 2 (Married By Accident)
MBA59


__ADS_3

Khey mengerjapkan kedua matanya, saat terbangun dari tidurnya.


Khey merasa sulit menggerakkan tubuhnya karena merasa perutnya ditindih oleh sesuatu yang berat. Khey memandang ke bawah, ternyata lengan tangan Fabian telah melingkari perutnya.


Hal seperti ini sudah biasa terjadi antara dirinya dan Fabian saat tidur berdua.


Berbeda dengan hari hari sebelumnya dimana Khey merasa risih dan tidak nyaman, namun entah mengapa pagi ini Khey merasa sangat senang saat mendapati Fabian tengah memeluk tubuhnya erat.


Dengan hati hati Khey membalik tubuhnya menghadap Fabian. Karena posisi sebelumnya Khey tidur membelakangi Fabian.


Khey menatap lekat wajah terpejam di hadapannya, senyum tipis membingkai pada wajah bantalnya.


Elo memang tampan Bi, bahkan Doni pun kalah sama wajah tampan lo... kenapa gue baru menyadari... Khey membatin tanpa menyadari jika posisi Fabian perlahan telah menggeser Doni dari hatinya.


Mata, hidung hingga bibir ini... gue menginginkannya lagi Bi, tapi kenapa lo berubah cuek ke gue sih Bi.... ucap Khey kembali masih saja hanya dalam hati.


Khey tidak berhenti memandangi wajah tenang Fabian yang masih terpejam, dengan sesekali menarik sudut bibirnya tersenyum.


Wajah Fabian yang tertidur lelap ternyata sangat menggemaskan menurut Khey.


Ingin rasanya Khey meraba wajah tampan nan menggemaskan dengan rahang tegas itu, namun Khey takut jika akan membuat Fabian terbangun dari tidurnya.


Eughm...


Khey tersentak saat Fabian melenguh dan mengeliatkan tubuhnya.


Khey pun berpura pura memejamkan matanya kembali, tidak ingin Fabian memergokinya saat dirinya memuja wajah tampan sang suami.


Fabian membuka matanya, tersenyum tipis saat mendapati bola mata Khey yang bergerak di balik kelopak matanya yang tertutup.


Fabian sangat tau jika gadis itu hanya pura pura tidur, ingin rasanya kembali menggoda Khey, namun Fabian mencoba menahannya.


Memilih beranjak dari ranjang untuk membersihkan tubuhnya dan melaksanakan kewajiban sholat shubuhnya.


Khey membuang nafas panjang, saat Fabian memasuki kamar mandi. Akhirnya dirinya terbebas dari situasi yang menegangkan.


Khey menoleh pada jam dinding kamarnya, masih jam 4.30 pagi. Artinya masih banyak waktu untuk berangkat ke sekolah.


Khey memilih tidak beranjak dari ranjang tidurnya dan memejamkan kedua matanya kembali, toh saat ini dirinya sedang dalam periodenya. Jadi Khey tidak perlu melaksanakan sholat shubuhnya bersama Fabian.


Beberapa saat setelah menyelesaikan rutinitas mandi pagi dan sholat shubuhnya, Fabian bergegas mendekati ranjang.


"Ara bangun..." Fabian dengan mengusap pipi Khey lembut.


Fabian sudah memakai seragam sekolahnya lengkap dengan tas punggung yang diletakkan di samping kaki ranjang.


Fabian sengaja tidak membangunkan Khey shubuh tadi, karena Fabian tahu jika Khey saat ini sedang tidak melakukan kewajiban sholat lima waktunya.


Sepertinya Khey beneran tertidur, hal itu terlihat dari Khey yang tidak membuka matanya. Padahal tangan Fabian saat ini terasa dingin, dan sedikitpun Khey tidak merasa terganggu dengan usapan lembut telapak tangan Fabian.


"Ra... Ara... bangun gih..." Fabian beralih menggoyang tubuh Khey.


Barulah Khey mengerjapkan kedua matanya setelah mendapatkan goyangan yang cukup keras, pada tubuhnya.


Khey memincingkan mata.


"Loh kok elo udah pakai seragam sih Bi, jam berapa ini?"


"Setengah enam. Bangun gih, cepetan mandi. Udah gue siapin air hangat di bath up." Fabian dengan tersenyum hangat.


Tumben dia kasih gue perhatian lagi, mana pakek senyum lagi. Mungkin ini efek dia balikan sama Nina kali ya.... Khey berfikir dalam hati.

__ADS_1


"Cepetan bangun, entar terlambat." Fabian membungkukkan setengah tubuhnya lalu memberikan ciuman pada kening Khey sesaat.


Khey membeku, namun seluruh tubuhnya menghangat. Padahal Fabian hanya memberikan ciuman singkat, itu pun pada keningnya bukan pada bibir Khey.


"Gue turun duluan." Fabian setelah melepas ciumannya dari kening Khey. Lalu beranjak meninggalkan kamar dengan membawa tas punggungnya sekalian, tanpa menunggu jawaban dari isteri barbarnya.


"Bangun Ra... keburu siang." Fabian menoleh saat membuka pintu kamar, kembali mengingatkan ketika melihat Khey masih belum beranjak dari atas ranjangnya.


"Iya... iya..." Khey dengan mendudukkan tubuhnya segera.


Setelah Fabian menghilang dari balik pintu kamarnya, Khey meraba kening bekas ciuman Fabian.


"Kenapa gue ngerasa seneng banget, padahal biasanya Bian juga cium kening gue. Kenapa pagi ini beda ya, gue ngerasa lamaa banget gak dicium sama dia." Khey dengan gumaman.


Lalu setelahnya beranjak memasuki kamar mandi dengan senyum yang membingkai bibirnya. Sepertinya Khey lupa dengan kekesalannya pada Fabian kemarin.


πŸ“πŸ“πŸ“


"Pagi Ma, Pa...."


Fabian memberikan salam pada kedua mertuanya yang sudah duduk di meja makan.


"Pagi Bian..." sahut Mama Maira sembari memberikan piring nasi kepada papa Danu.


"Pagi. Ara mana?" Papa Danu menyahut sembari bertanya tentang keberadaan Khey yang tidak turun bersama Fabian.


"Masih mandi Pa." Fabian dengan menarik kursi makan lalu mendudukinya.


"Kebiasaan itu anak, selalu saja bangun kesiangan." Mama Maira berucap kesal.


"Enggak kok Ma, tadi Ara bangun shubuh cuma Fabian yang mandi lebih dulu." Fabian menutupi kebenarannya, karena Fabian tahu jika dia membenarkannya nama mertuanya pasti akan mengoceh panjang kali lebar.


"Mau mama ambilin nasi?" tawar mama Maira pada Fabian.


Fabian lalu memasukkan nasi ke atas piring lalu memberinya lauk dan sayur secukupnya.


Mereka pun memulai sarapannya dengan diselingi obrolan ringan seputar sekolah Fabian.


Hingga akhirnya papa Danu dan mama Maira pun menyelesaikan makan paginya.


Saat ini Fabian baru menghabiskan setengah sarapan paginya, dia sengaja memperlambat makannya sembari menunggu Khayyara turun untuk makan pagi.


"Bian tolong nanti bilang ke Ara kalau pulang sekolah adiknya minta dianterin belanja kebutuhan sekolah."


Papa Fabian setelah mengakhiri makan paginya dengan mengelapkan tisu pada mulutnya.


"Septi?" tanya Fabian.


"Iya. Katanya dia mau membeli kebutuhan buat acara kemping di sekolahnya." jawab papa Danu.


Septi adalah adik perempuan Khayyara yang tinggal dengan neneknya di perumahan yang terletak di pinggiran kota Yogyakarta. Gadis yang masih duduk di bangku SMP itu memang lebih memilih tinggal dengan neneknya daripada dengan kedua orang tuanya.


"Kalau Bian yang nganter gimana Pa, boleh enggak... sekalian biar Bian kenal lebih dekat sama Septi. Lagian hari ini jadwal Ara masuk bimbel." Fabian menawarkan diri.


"Apa tidak merepotkan kamu nantinya, papa tahu kamu itu sibuk."


Fabian menggeleng.


"Hari ini Bian free Pa, semalem Bian lembur sampai pulang ke rumah Ara sudah tidur nyenyak." Jawab Fabian jujur.


Setelah pulang sekolah kemaren Fabian memang langsung menuju ke usaha showroom mobil yang sudah digelutinya semenjak Fabian duduk di bangku SMP.

__ADS_1


Fabian memang menyukai dunia otomotif, awal mulanya Fabian membuka bengkel mobil untuk membuka lapangan pekerjaan pada orang orang yang mempunyai kemampuan memperbaiki mobil namun tidak memiliki modal untuk membuka usaha.


Hingga akhirnya bengkel Fabian menarik banyak pelanggan.


Setelah memiliki modal yang cukup dibantu dengan modal dari ayahnya Fabian memutuskan membuka showroom mobil untuk menambah pundi pundi uangnya.


Bahkan Fabian juga telah menambah usahanya dengan membuka usaha carwash yang disertai dengan kafe mini di dalamnya.


Bahkan kafe yang awalnya hanya untuk memberikan fasilitas agar saat pengunjung tidak jenuh saat mencucikan mobil di sana, kini kafe tersebut telah tumbuh besar hingga tidak pernah sepi dari pengunjung yang sebagian besar adalah kalangan anak muda.


"Ya sudah terserah kamu saja, yang penting kamu tidak terganggu. Papa sama mama berangkat dulu." Papa Danu dengan menepuk pelan bahu Fabian dan segera berangkat untuk bekerja.


Kemudian di susul oleh mama Maira yang juga meninggalkan meja makan.


Fabian tersenyum dengan menganggukkan kepalanya.


"Elo sendiri Bi?" Khey bertanya sembari menarik kursi dan mendudukinya.


"Iya. Papa sama mama baru aja berangkat."


Khey ber oh ria.


Hal itu sudah biasa terjadi, bahkan Khey baru merasakan makan bersama di rumah setelah ada Fabian.


Fabian memang mengusahakan menemani Khey saat jam makan tiba, kecuali jika Fabian memiliki kegiatan di luar rumah.


Khey mengambil selembar roti lalu mengolesnya dengan selai coklat kemudian menangkupnya dan langsung menggigitnya.


"Elo gak makan nasi Ra?"


Khey hanya menggeleng karena mulutnya masih mengunyah roti.


Fabian menghembuskan nafas pendek.


"Kalau masih ada waktu, mendingan lo usahain sarapan pakek nasi. Jangan biasakan makan roti mulu." Fabian dengan menangkup sendok dan garpu di atas piring karena dia telah menyelesaikan makan paginya.


"Gue duluan." Fabian berdiri, mengusap lembut pucuk kepala Khey lalu beranjak keluar rumah.


"Bi... Bian..." Khey berseru memanggil Fabian dengan mulut yang masih penuh dengan roti di dalamnya.


Fabian tetap saja berjalan, mengabaikan panggilan Khey karena suara gadis itu tidak terdengar olehnya.


Khey segera menyusul Fabian keluar dengan roti masih dalam genggaman tangannya serta mulut yang tidak berhenti mengunyah roti du dalam mulutnya.


Hufft...


Khey menghembuskan nafas kasar saat sampai halaman rumah, Fabian telah menancapkan gas motor matic apemnya keluar dengan kecepatan yang lumayan tinggi.


Meneriakinya pun percuma karena Fabian menggunakan helm full face untuk menutupi kepalanya.


"Kenapa lo gak tawarin gue buat berangkat bareng sih Bi...." Khey menghentakkan kaki pada lantai kasar halaman rumah dengan kesal.


😍😍😍😍


Like πŸ‘πŸ»


Vote πŸ”–


Rate ⭐⭐⭐⭐⭐


Komen πŸ’‹

__ADS_1


Tambahkan favorit ❀


Biar semangat nulis part lanjutannya😘😘😘


__ADS_2