
"Jadi itu yang namanya Fabian."
"Yang juara olimoiade matematika di Bali kan..."
"Cakep banget woy!!"
"Gue mau dong jadi ceweknya."
"Ish... ganteng banget my oppa."
Kasak kusuk pujian untuk Fabian memenuhi pendengaran Khey saat ini. Membuat telinga Khey panas meradang, gigi giginya mengeluarkan bunyi gemeletuk.
Ingin rasanya Khey membungkam mulut para gadis itu agar bisa diam. Namun Khey berusaha sekuat tenaga menjaga kewarasannya. Tak mau membuat onar saat posisinya berada di antara banyak siswa siswi serta bapak ibu guru yang sedang upacara di lapangan sekolah saat ini.
Ya hari ini adalah hari senin, seperti biasa setiap hari senin di sekolahnya selalu mengadakan upacara bendera.
Dengan adanya kemenangan Fabian yang mengharumkan nama sekolah atas prestasinya mengikuti olimpiade matematika minggu kemarin, suami tengil Khey itu ditunjuk pihak sekolah untuk berdiri di atas podium berdampingan dengan kepada sekolah.
Fabian yang saat ini berpenampilan rapi dengan baju seragam yang masuk layaknya pelajar teladan mendapatkan perhatian dari seluruh warga SMU Gama. Terutama para siswi, mulai dari adik kelas bahkan hingga kakak kelas.
Kadar ketampanan Fabian naik berkali kali lipat saat ini. Sepertinya pamor Fabian bakal naik hingga mampu mengalahkan sang most wanted sekolah. Siapa lagi kalau bukan Doni dang ketua osis.
Sial!! ngapain sih bajunya pakek dimasukkan segala.... gerutu Khey dalam hati saat mendapati penampilan Fabian yang sangat rapi hari ini. Bahkan surai hitam Fabian yang biasanya berantakan pun terlihat klimis, tetap di tempatnya tanpa sehelai pun terurai.
Sejak kapan dia pakek pomade... tanya hati Khey saat melihat wajah suaminya yang terlihat sangat tampan pagi ini.
Perasaan pas berangkat tadi nggak serapi ini deh... Khey dengan wajah tertekuk kesal.
Sungguh hari ini Khey sangat tidak menyukai penampilan rapi sang suami. Khey memilih penampilan Fabian yang asal seperti biasanya.
Huh...
Lagi Khey mendengus kesal saat sorak sorai para siswi mengelukan nama Fabian setelah bapak kepala sekolah mengucapkan terima kasih atas perolehan medali emas Fabian sewaktu mengikuti olimpiade matematika di Bali.
Khey merasa makin kesal saat semua mulut para siswi di sekolahnya menyanjung dan memuji ketampanan serta kecerdasan Fabian.
Khey merasa tidak senang akan hal itu.
Fabian adalah paket komplit. Tampan, cerdas, ramah serta anak tunggal dari keluarga yang tajir melintir.
Jika saja ada yang mengetahui akan hal itu, sudah dapat dipastikan bahwa suami tengil Khey itu bakal jadi rebutan seluruh warga sekolahnya. Terutama para siswi.
"Gila gue nggak nyangka, ternyata Bian pinter juga anaknya." Rhea dengan sedikit berseru saat berjalan beriringan dengan Alya dan Khey menuju kelas mereka. Karena upacara telah selesai.
"Iya. Gue nggak nyangka juga. Padahal dia kek cuek nggak pernah belajar ya." Alya manggut - manggut membenarkan.
Percakapan kedua sahabatnya yang tidak berhenti memuji Fabian, membuat mood Khey semakin memburuk. Khey yang berjalan dengan posisi di belakang Rhea dan Alya, menekuk wajahnya dengan bibir yang mengerucut.
__ADS_1
"Bian itu kek mematahkan peribahasa air beriak tanda tak dalam." Alya berbicara dengan terlihat mengingat peribahasa yang disampaikannya.
"Maksud lo gimana?" Rhea menoleh ke arah Alya dengan pandangan bingung.
"Ya gitu, Bian kan orangnya suka ngocol banyak omong. Tapi ternyata bukan omdo, otaknya berisi." Alya.
Rhea terkekeh.
"Nggak gitu konsepnya Al. Iya kan Khey?!" Rhea mengalihkan pandangannya ke belakang. Di mana Khey berjalan dua langkah di belakangnya.
Rhea pun menahan tangan Alya agar menghentikan langkahnya seraya menunjuk Khey yang bersikap aneh menurutnya.
Khey sedikit menunduk dan tidak merespon ucapan Rhea. Entah apa yang dipikirkan oleh Khey, gadis itu terlihat mendumel saat berjalan.
Brugh...
Auww... Khey mengusap keningnya dengan disertai ringisan setelah menabrak Rhea.
"Elo gimana sih Rhe berhenti nggak ngasih tanda, benjol nih jidat gue." Khey seakan sangat kesal karena menabrak bahu Rhea yang berhenti mendadak menurutnya.
Rhea pun meringis mengusap bahunya.
"Elo tu yang salah, jalan nggak liat - liat." Rhea balik menyalahkan.
"Elo yang salah." Khey dengan berseru emosi.
"Elo!" Rhea tak mau kalah.
Alya dan Rhea sontak membola melihat kelakuan Khey. Sontak keduanya saling pandang.
"Kenapa sih tu anak?" Rhea bertanya pada Alya.
"Tauk." Alya dengan menggedikkan bahu.
"PMS apa yak?" Rhea dengan kembali memandang punggung Khey yang semakin mengecil.
Alya mengerutkan dahi. "Nggak mungkin, baru juga berapa hari lalu selesai."
"Kok lo tau?" Rhea menyelidik.
"Taulah, orang gue sama dia hampir barengan kemaren. Cuma selisih sehari apa dua hari gitu." Alya.
Rhea manggut manggut.
"Lo tau nggak penyebabnya? Soalnya gue perhatiin dari tadi muka dia kek kesel banget gitu..." Rhea bertanya pada Alya.
"Gue nggak tau juga, cuman emang sedari upacara tadi Khey kek kepengen makan orang." Alya sembari mengingat perilaku sahabatnya semenjak pagi tadi.
__ADS_1
πππ
"Bi..."
Khey yang semula berjalan, mengganti langkahnya dengan berlari kecil saat melihat sosok Fabian berjalan beriringan dengan Farrel di ujung koridor menuju kantin sekolah.
Fabian yang merasa mendengar suara memanggil namanya pun menghentikan langkah kakinya seraya menoleh ke belakang.
"Ara." gumam Fabian dengan kening mengerut.
Farrel yang menyadari Fabian berhenti dan mengguman sedikit tak jelas pun mengikuti sang sahabat. Menghentikan langkah kaki dan mengikuti arah pandangan sahabatnya.
Farrel mendengus saat mendapati isteri sahabatnya berlalu kecil menyusul mereka. Bukannya Farrel tidak suka, hanya saja dia selalu mengingat aksi mesum mereka berdua saat bertemu seperti ini.
Jiwa jomblonya merasa diejek oleh pasangan remaja yang telah memiliki hubungan sah sebagai pasangan suami isteri tersebut.
"Nggak usah lari!" Fabian sedikit berseru dari tempatnya berdiri.
Namun Khey tak menghiraukan, gadis itu malah mempercepat lari kecilnya.
Heh... heh...
Khey berhenti tepat di hadapan Fabian.
"Nggak usah lari la..."
Sret... srett...
Belum sempat Fabian menyelesaikan kalimatnya, Khey langsung menarik baju atas seragam sekolah Fabian lalu mengeluarkannya.
Baju atasa berwarna putih yang semula masuk rapi dan dihiasi oleh ikat pinggang hitam itu menjadi berantakan.
Fabian dan Farrel kompak melebarkan kedua matanya.
"Jadi cowok nggak usah sok kecakepan, biasanya nggak pernah dimasukkin jugak." Khey dengan nada yang terdengar kesal, segera membalik tubuhnya dan beranjak dari sana.
"Ra..." Fabian dengan pandangan bingung.
Khey berhenti, menoleh ke belakang sesaat. "Biasanya kek gitu kan..."
Hah!!
Fabain cengo.
"Bini lo kenapa Bi?" Farrel memandang Khey dan Fabian silih berganti dengan disertai kebingungan.
"Tauk. PMS kali ya..."
__ADS_1
Fabian dengan tak yakin.
ππππ