Mendadak Nikah 2 (Married By Accident)

Mendadak Nikah 2 (Married By Accident)
MBA135


__ADS_3

"Ati ati, jangan tergesa." Fabian menuruni tangga dengan langkah kaki yang dilebarkan saat melihat Khey menuruni anak tangga dengan berlari kecil bak anak TK. Bahkan tas punggung yang dikenakannya sampai bergerak ke kanan dan ke kiri.


Khey mengindahkan, malah mempercepat langkahnya seolah mengejek Fabian. Seakan membuktikan bahwa dirinya biasa menuruni tangga dengan langkah seperti itu.


"Ra..." Fabian berseru kembali, memandang Khey dengan khawatir. Khawatir jika gadis itu jatuh menggelundung ke lantai bawah.


Apalagi kondisi Khey setelah semalam, pastilah tidak baik baik saja. Denyut nyeri pasti masih sering gadis itu rasakan.


Segera Fabian menahan tas punggung Khey dari belakang, membuat Khey menghentikan langkah kakinya segera.


"Elo apaan sih Bi, gangguin aja." Khey dengan menolehkan kepalanya ke belakang, menghadap Fabian. Menunjukkan raut wajah kesal pada suami tengilnya.


Dengan wajah datar Fabian menuruni satu anak tangga untuk menyamakan posisinya dengan Khey. Dia ganti mengabaikan kekesalan Khey padanya.


Tangan Fabian yang semula menahan tas punggung Khey beralih ke pergelangan tangan isterinya.


"Ntar lo jatoh." Fabian memberi pandangan dengan melotot pada isterinya. Seolah ingin membuat gadis itu takut dan menurutinya.


Bukannya takut, Khey malah mencebik. "Lo pikir gue anak kecil."


"Nggak gitu." Fabian menghembuskan nafas pendek.


"Lo nggak ngerasain sakit po setelah semalam?" Fabian dengan suara lumayan keras.


"Bian! Apaan sih, jangan keras keras ngomongnya." Khey dengan melebarkan kedua bola matanya saat berbicara. Kemudian memindai ke arah bawah tangga, siapa tahu ada orang tua Fabian di sana.


Khey menghembuskan nafas lega saat merasa tidak ada seorang pun di sana.


"Gak ada orang." Fabian pun sempat menoleh ke arah sekitar rumah.


"Tapi kan harus hati hati, kalau ada yang denger bisa bahaya. Jangan ulangi lagi ngomong soal begituan di sembarang tempat, keras lagi." Khey bersungut, membuat bibirnya mengerucut.


Fabian terkejeh kecil dibuatnya. Segera menguncup bibir monyong Khey dengan salah satu tangannya.


Wajah cantik itu terlihat menggemaskan saat kesal.


"Bian, sakit tauk." Khey mengibaskan wajahnya untuk menghalau tangan kekar suaminya.


"Masih sakit yang mana sama semalam... hayo..." Fabian dengan menggoda, seraya melepaskan kuncupan tangannya dari bibir Khey.


"Harus gitu gue jawab?!" Khey dengan kembali mengerucutkan bibirnya.


"Makanya nggak usah lari lari kek gitu kalau masih sakit, bikin khawatir aja." Fabian dengan penuh perhatian.


"Masih sakit banget?" lanjut Fabian mengangsurkan tangan hendak menyentuh sarang kecebong sang isteri.


Plak.

__ADS_1


Khey memukul kasar tangan Fabian, sebelum tangan kekar itu mencapai tujuannya. Empunya tangan meringis kecil.


"Dibilangin jangan sembarangan jugak. Susah banget sih, dasar cowok nggak tau sikon." Khey dengan nada sangat kesal serta melototkan kedua matanya.


"Bisa kan ngomong baek baek, nggak pakek kdrt kek gitu yang..." Fabian mengusap tangannya yang sedikit memerah. Kulit Fabian yang sangat putih membuat jejak semburat merah akibat pukulan tangan Khey terlihat kentara.


"Jangan salahin gue, salah elo tuh, yang mesumnya nggak tau tempat."


"Mesum sama isteri sendiri kan nggak papa." Fabian ngeyel dengan meniup tangannya berpura pura kesakitan.


"Sorry. Sakit kan? Makanya jadi orang jangan mesum sembarang tempat." Khey merepet seraya meraih tangan Fabian, lalu meniup lembut pada bekas pukulannya.


Meski Khey merasa kesal dengan aksi Fabian yang hendak menjamah sarang pabrik kecebong di tempat terbuka menurutnya, namun bagaimanapun Fabian pasti merasakan panas karena pukulannya.


Kedua sudut bibir Fabian terangkat akibat perhatian Khey kepadanya. Nyatanya gadis barbar itu bisa bersikap lembut kepadanya.


"Sakit banget ya?" Khey di sela kegiatannya meniup tangan Fabian.


"Udah berkurang kok." Fabian tersenyum menunduk memperhatikan intens perilaku manis isterinya.


"Makasih sayang." lanjut Fabian mengusap lembut surai hitam Khey yang hanya dibiarkan tergerai. Mungkin karena tadi Khey melakukan mandi besar, rambut itu masih terasa sedikit basah.


Hmn... Khey mengangguk kikuk.


Entah mengapa jantungnya berdebar kencang hanya karena sentuhan tangan Fabian pada rambut hitamnya.


Fabian mengikis jarak keduanya lalu mengecup kening Khey lama. "Semoga ke depan hubungan kita semakin lebih baik lagi." ucapnya tersenyum memandangi Khey intens.


Wajah tampan suami tengilnya itu terlihat segar dan membuatnya terpesona. Khey menelan ludahnya kelat saat pandangan matanya tepat pada bibir tebal Fabian yang terlihat sensual efek semalam mungkin.


Sepertinya Khey ingin mencicipi manisnya lagi.


Khey menjijit kedua kakinya untuk mensejajarkan wajahnya, mengikis jarak hendak mengecup bibir Fabian yang sangat menggodanya.


Fabian yang menangkap maksud hati isterinya, melakukan hal yang sama. Memajukan wajah untuk mengikis jarak keduanya.


Saat jarak wajah mereka hanya tinggal beberapa senti saja.


Ekhemm...


Suara deheman dari bawah menginterupsi keduanya, membuat pasangan muda itu serempak menoleh.


"Pagi pagi udah mesra aja, bikin ayah iri nih." Ayah Fabian selalu dengan wajah tak kalah tengil dari anak lelakinya. Menggoda pasangan suami isteri remaja tersebut hingga membuat keduanya salah tingkah.


Khey segera menarik tubuhnya dan menyembunyikan wajah malunya di balik tubuh jangkung Fabian.


"Ayah! Gangguin aja, Ara malu nih." Fabian melirik sekilas pada Khey yang menunduk dibalik tubuhnya. Lalu memberikan pandangan kesal pada ayahnya.

__ADS_1


"Salah sendiri mesra mesraan di jalur umum. Jadi ketangkep sana ayah kan?!" Ayah Fabian tanpa rasa bersalah.


"Enak aja bilang jalur umum, ini jalur pribadi Bian." Fabian dengan nada tidak setuju dengan perkataan ayahnya.


"Nyatanya ayah bisa lewatkan?! Itu namanya jalur umum Bi." Ayah selalu saja tidak mau kalah jika berdebat, meski dengan anak sendiri.


"Ayah... Abi...!! Berhenti berdebat, udah. Cepetan sarapan!" terdengar teriakan bunda dari ruang makan yang terbuka tanpa sekat. Sehingga beliau dapat melihat dan mendengar jelas perdebatan antar suami dan anak lelaki semata wayangnya.


"Ara sudah lapar itu, kasihan kalau nunggu kalian berdua selesai berdebat." Lagi Bunda berteriak. Kali ini sedikit menurunkan intonasi suaranya.


"Iya bun, ini ayah jalan." Ayah ngeloyor pergi menuju ruang makan setelah sesaat sebelumnya memeletkan lidah dan memberi pandangan mengejek pada anak lelakinya.


"Dasar nggak sadar umur." Fabian dengan menggertakkan gigi saat berucap kata seraya memandang ayahnya.


Bukannya marah, melainkan ayah menyahut santai. "Justru karena sadar umur makanya ayah selow, biar berasa kek bocah terus." ayah dengan nyengir kuda.


"Pegang tangan gue." Fabian mengangsurkan lengan pada Khey setelah sang ayah berlalu dari hadapan mereka.


Khey menyambut dengan menggelayut pada lengan kekar sang suami. Khey melakukannya bukan karena manja atau ingin menunjukkan rasa cintanya pada Fabian pada keluarga sang suami. Melainkan karena Khey masih merasa kikuk setelah kepergok ayah mertuanya beberapa saat lalu.


Merekapun akhirnya menuruni anak tangga dengan beriringan.


"Pagi bun..." Sapa Fabian sambil menarik kursi untuk Khey kemudian untuk dirinya sendiri. Setelah memastikan Khey duduk.


"Pagi Bi..." sahut bunda pada Fabian lalu beralih pada Khey dengan senyum.


Khey yang masih malu karena kejadian beberapa saat lalu, membalas dengan tersenyum kikuk.


"Gimana semalam tidurnya, nyenyak Bi?" tanya Ayah dengan sengaja karena mendapati jejak merah di leher Fabian.


Leher Fabian yang putih bersih serta jenjang bak leher jerapah membuat tanda jejak itu terlihat kentara.


"Nyenyak yah." Sahut Fabian pendek sambil menerima piring nasi yang disodorkan oleh Khey.


"Yakin nyenyak?!"


"Ayah nggak usah mulai deh." Bunda dengan memberi tanda pada ayah agar tidak menggoda anaknya. Bunda pun menyadari keberadaan jejak semut merah pada leher anak lelakinya.


"Lah emangnya ayah ngapain bun, orang ayah cuma tanya kok. Iya kan Bi?!" Ayah meminta pembelaan pada anak lelakinya.


"Tauk. Abi nggak ikutan." Fabian dengan masukkan sendok penuh nasi ke dalam mulutnya dengan sedikit kasar. Bahkan menimbulkan bunyi berisik akibat sendok yang bertubrukan dengan gigi gigi Fabian.


"Tu kan, anaknya ngambek kan yah..." Bunda menoleh pada suaminya.


"Emangnya ayah bikin Abi ngambek? Enggak kan Ra?" Ayah kepada Khey. Membuat gadis itu tergagap.


"Ah... eh...oh... Abi nggak ngambek kok sama ayah"

__ADS_1


"Tu kan Bun... Dengerin tuh ucapan Ara. Orang Abi tuh nggak ngambek sama ayah kok. Abi kan ngambek karena gagal ciuman sama Ara. Gitu kan ya..." Ayah dengan santainya memandang Khey kemudian Fabian.


😍😍😍😍


__ADS_2