Mendadak Nikah 2 (Married By Accident)

Mendadak Nikah 2 (Married By Accident)
MBA 151


__ADS_3

"Al... Alya..." Khey dengan menepuk pipi Alya yang pingsan.


Saat ini Khey sudah mengganti handuk mandi dengan baju yang sebelumnya dia pakai ke kamar mandi. Sedangkan rambut basahnya di gulung dengan handuk.


"Bi... ambilin minyak kayu putih dong." Khey dengan gugup karena Alya tak kunjung siuman meski telah menepuk pipi sang sahabat berulang kali.


Rhea yang berada di sisi Alya pun ikut panik.


Beberapa saat lalu Alya memang tak sadarkan efek terkejut melihat sosok Khey yang keluar dari kamar mandi Fabian.


Membuat seluruh orang yang berada di kamar Fabian kebingungan. Beruntung Jackson sigap menahan tubuh Alya yang meluruh ke lantai. Bahkan lelaki bule blasteran itu langsung membopong tubuh Alya ke atas ranjang Fabian seorang diri.


"Khey gimana nih? Kok mata Alya merem terus sih..." Rhea dengan wajah panik campur bingung.


"Nih." Fabian datang dengan menyodorkan minyak kayu putih yang telah terbuka tutupnya.


Khey langsung meneteskan pada pucuk telunjuknya lalu mengoles di bawah hidung Alya.


Beberapa kali mengoles bahkan mengenduskan pucuk botol minyak kayu putih ke hidung Alya, akhirnya gadis itu menggerakkan kelopak matanya hingga terbuka.


"Alya." Rhea memekik.


"Alhamdulillah Al... gue takut lo nggak bangun." Khey sembari mengusap dada lega.


Sedang ketiga cowok tampan yang berada dalam satu ruangan tersebut akhirnya bisa bernafas lega.


"Sorry... gue kaget banget." Alya dengan memijit pelipis yang masih terasa berat seraya menegakkan tubuhnya.


"Nggak papa. Sorry gue udah bikin lo pingsan." Khey tersenyum, mengusap bahu Alya yng sudah duduk meski masih di atas ranjang.


Rhea menumpuk batal pada punggung Alya.


"Si Jack tadi syok kek patung, Alya pingsan karena syok juga. Sepertinya kalian jodoh deh." Fabian berkata asal.


"Ogah! Gue nggak mau ada jodoh sama bule nyasar itu." Alya dengan nyaring. Membuat semua yang ada di sana terkejut.


"Elo abis pingsan masih bertenaga juga ya Al." Fabian dengan menggelengkan kepala berulang diiringi dengan kekehan.


"Tega lo Al. Segitunya lo sama gue." Jackson dengan wajah lesu.


"Potek ati lo Jack." Farrel sengaja mengejek.


Jackson pun menyebik kesal.


"Kalau gue nggak berjodoh sama Alya, gue azab semua yang ada di sini juga gak bakalan berjodoh."


Bwuaaahhhahahaha.....


Tawa menggelegar memenuhi kamar Fabian.


"Hey Jack... azab lo tu nggak mempan, gue udah berjodoh sama Khey. Kite udah sah... wlek." Fabian memeletkan lidahnya.


"Setidaknya Farrel sama Rhea nggak bakalan ada jodoh."

__ADS_1


"Elo kasih azab maksa banget sih, diskon akhir taun pak?!" Farrel mengejek.


"Iya. Cuci gudang, azabnya gue sebar." Jackson dengan kesal.


Jawaban Jackson alhasil membuat semuanya terkekeh, tak terkecuali Alya.


"Ya udah keluar yuk, lanjut ngobrol di bawah." Farrel mengajak teman temannya untuk turun. Dia tidak enak hati berada di kamar sahabat lelakinya yang sudah tidak bujang lagi.


"Yuk turun Al..." Jackson masih saja mencari kesempatan.


"Ogah. Lo duluan sono." Alya dengan gerakan tangan mengusir Jackson.


"Udah ayok kita keluar." Farrel memaksa Jackson berbalik badan seraya merangkul bahu Jackson.


Jackson pun dengan terpaksa berjalan keluarga meski dengan langkah berat.


"Yang gue ke bawah duluan ya, temenin mereka." pamit Fabian yang diangguki oleh Khey.


"Hish... apaan tadi, yang...." Alya menyenggol bahu Khey dengan sengaja untuk menggoda.


"Apaan sih Al, bilang aja iri..." Khey mengusap bahunya kikuk.


"Ciee... Khey merona." Alya dan Rhea serempak menggoda.


"Apaan sih. Gue ganti baju dulu." Khey hendak beranjak untuk menghindari godaan kedua sahabatnya.


"Tunggu dulu." Alya menarik ujung baby doll milik Khey. "Elo naik sini Rhe." Alya dengan menepuk ranjang kosong di sisinya dengan tangan satunya tanpa melepaskan ujung baju Khayyara.


"Mau ngapain?" Rhea enggan.


"Ilmu apaan?" Rhea tidak mengerti.


"Udah lo naik sini dulu." Alya dengan menaikkan nada bicaranya.


Rhea yang semula masih berdiri di tepi ranjang pun menaikkan bobot tubuhnya ke atas ranjang seperti halnya Khey dan Alya yang sudah lebih dulu.


"Jadi gimana Khey?" Alya dengan pelan. Mimik wajahnya penuh selidik.


"Gimana apanya?" Khey bingung.


Ck.


Alya berdecak. "Nggak usah pura pura bego deh lo. Elo udah begituan belum sama Fabian?" lanjut Alya dengan menaik turunkan alus matanya ke arah Khey.


Wajah Khey langsung memerah, semerah tomat busuk.


Plak!


Alya langsung mengusap kepalanya karena Rhea telah mendaratkan pukulan di sana.


"Gak sopan nanya nanya urusan pribadi rumah tangga suami isteri." omel Rhea dengan menatap tajam Alya.


Masih dengan mengelus bekas pukulan Rhea. "Ya kan gue penasaran Rhe. Denger denger itu enn-akkh. Iya iya gue diem." seru Alya karena Rhea telah mendaratkan cubitan kecil pada lengan tangannya.

__ADS_1


Khey yang melihat itu tertawa cukup keras, hingga menutup mulutnya sebdiri dengan telapak tangan saat menyadari tawanya.


"Kalau memang penasaran coba saja sendiri." ucap Rhea menatap tajam Alya.


"Gimana caranya? Gue kan belum nikah Rhe." Alya membola.


"No nikah sana bule nyasar di bawah. Rasa penasaran lo pasti terbayar lunas." Rhea ketus.


Alya memegangi dadanya dengan seolah kehilangan nafas. "Elo kalau ngomong jangan angkut semua sambel bakso di kantin napa?! Pedes tauk. Kek emak emak kompleks gak terima digibahin."


Rhea memutar bola mata jengah. Dia malas meladeni Alya. Beralih ke arah Khey. "Lo ganti baju sana Khey gue nggak enak lama lama di sini."


"Kenapa nggak enak, orang kamarnya nyaman kok." Alya seraya menggerakkan tubuhnya bermain di atas ranjang.


Khey tersenyum melihat tingkah Alya yang seperti anak kecil bermain trampolin.


"Al hentikan!" Rhea menatap tajam.


"Enak tau Rhe, kek maen trampolin." Alya santai tanpa mau menghentikan aksinya.


"Enggak kebayang gue tidur di atas kasur yang nyaman kek gini, full ac, lega terus..." Alya menjeda ucapannya sesaat.


"Terus apa?" Rhea waspada dengan otak Alya yang suka traveling kemana mana.


"Tidur pelukan sama guling bernyawa." Alya dengan mendekap tubuh memakai kedua tangan. Kedua matanya terpejam seolah membayangkan yang tidak tidak.


Pletak!


Kali ini Rhea menjitak kepala Alya.


"Elo jahat banget sih Rhe sama gue." Alya bersungut mengusap bekas jitakan Rhea.


"Makanya punya otak jangan piktor, pakek buat belajar. Bentar lagi ujian elo nggak mau kan beda tingkat sama kita?" Rhea mengingatkan.


"Lo nyumpahin gue gak naik kelas. Tega lo Rhe."


"Turun. Khey udah selesai hantu baju tuh. "Rhea menarik tangan Alya saat melihat Khey keluar dari walk in closet.


Alya berdecak, namun tetap menurut turun dari ranjang Fabian dan Khey.


"Ayok." Khey merangkul bahu Rhea.


"Gue jangan ditinggal." Alya menyerobot diantara Khey dan Rhea.


Rhea berdecak, namun tetap merenggangkan tubuh memberi jarak untuk Alya.


"Khey kapan kapan kita me time berdua, gak usah ajakin Rhea." Alya setengah berbisik di telinga Khey.


"Mo ngapain?" Khey.


"Berbagi rahasia kasur."


Pletak!

__ADS_1


"Dasar sholehah piktor lo Al" Rhea sekali lagi menjitak kepala Alya.


😍😍😍😍


__ADS_2