
Brukk.
Tetiba tubuh jangkung Fabian menubruk dan memeluk erat tubuh Khey. Dengan satu tangan yang memeluk bahu dan satu tangan lagi melingkar di pinggang ramping Khayyara.
"Bi..." Khey memalingkan wajahnya kembali, namun hanya mendapati surai hitam Fabian yang menempel pada pipinya, karena saat ini wajah Fabian menumpu pada bahu Khey.
Hm... Fabian terdengar menggumam dengan semakin menyusupkan wajahnya pada bahu Khayyara.
"Elo kenapa?" Khey bingung dengan Fabian yang tetiba memeluknya seakan mereka berdua baru saja berjumpa dalam waktu yang cukup lama. Khey dapat merasakan pelukan yang berbeda dari Fabian.
"Gue kangen elo Ra." Fabian dengan masih bertumpu pada bahu Khey.
Sudah lebih dari seminggu Fabian selalu pulang larut malam dan juga berangkat ke sekolah lebih pagi dari biasanya sehingga membuatnya tidak berinteraksi dengan Khey isterinya.
Fabian keluar dari kamarnya ketika Khey masih tertidur lelap dan ketika kembali pulang isteri cantiknya itu sudah tertidur lelap kembali.
Fabian merindukan wangi tubuh Khey yang sudah menjadi teman tidurnya beberapa bulan ini. Meskipun Fabian menyadari jika hatinya belum sepenuhnya memilih Khey namun nyatanya rasa rindu itu menyelimuti hatinya saat ini. Fabian berfikir jika hatinya pasti perlahan menerima kehadiran gadis itu sebagai isteri seutuhnya. Terbukti dengan debaran jantungnya yang berdesir lirih saat ini.
"Bi.... elo lagi gak ada masalah kan?" Khey merasa Fabian saat ini bertingkah aneh.
Meskipun Fabian sudah sangat sering mengatakan rindu, cinta, atau kangen setengah mati kepada Khey. Bahkan jauh sebelum mereka menikah, namun Khey merasakan sesuatu yang terdengar membebani hati cowok yang bergelar suaminya tersebut.
"Enggak ada, gue cuma kangen sama elo doang." Fabian datar masih dengan menumpukan dagunya pada ceruk bahu Khey.
Khey tersenyum pelik.
"Tiap hari kita barengan kan Bi, gak usah lebay." Khey dengan berusaha mendorong tubuh jangkung Fabian.
"Gini bentar wae Ra..." Fabian mencegah Khey merenggangkan tubuh keduanya dengan semakin mengeratkan pelukannya.
Khey pun pasrah, tidak ada salahnya membiarkan Fabian memeluknya. Apalagi cowok jangkung bergelar suaminya itu terlihat membutuhkannya, toh mereka berdua sudah sah.
"Bian... Bi... elo dimana sih?!" terdengar sebuah teriakan yang menggelegar dari luar bilik toilet.
"Ck... gangguin aja sih..." Fabian menggerutu kesal dan merenggangkan tubuhnya dari Khey.
"Gue di sini!" namun terpaksa menyahut karena teriakan itu adalah suara Farell sahabatnya.
Khey melebarkan kedua matanya saat mendengar Fabian menyahut santai tanpa memikirkan dirinya yang masih dalam pelukan Fabian. Khey hafal betul jika suara itu adalah suara Farell sahabat Fabian. Khey hafal karena sudah sangat sering mendengarnya saat Fabian mendekatinya.
Ingin rasanya memarahi Fabian, namun cowok tengil bergelar suaminya itu terlihat tidak peduli.
"Dimana"?! Farell masih dengan teriakan dan terdengar berjalan mendekati bilik toilet, dimana Fabian berada di dalamnya.
"Di sini." Fabian dengan membuka pintu toilet.
Hek...
Khey terkejut dengan Fabian yang dengan santai seolah mempertontonkan keadaaannya yang masih memeluk tubuh Khey.
Khey pun menyusupkan wajahnya pada dada bidang Fabian untuk menyembunyikan wajahnya dari cowok pemilik suara yang dapat ditebaknya sebagai Farell tersebut.
"Haishh... gue cari cari ampe pegel ternyata malah asyik asyikan sama bini di sini." Farell mencebik.
Hek...
Lagi lagi Khey dapat kejutan.
__ADS_1
Kok Farell tau sih kalau gue sama Fabian suami istri... Khey membatin dengan masih menyembunyikan wajahnya pada dada bidang sang suami.
"Gue kan udah bilang sama lo, kalau gue ke toilet." Fabian datar dengan hanya menolehkan kepala pada Farell, karena posisi tubuhnya masih memeluk Khey erat.
"Elo ke toilet kencing ato tabur cebong, lama banget kek nunggu orang nyelem gue." Farell mendelik kesal.
"Suka suka gue. Kek gini ni enaknya kalau udah sah." Fabian dengan mengejek Farell.
"Elo yang keenakan, bini lo yang tersiksa tuh." Farell dengan memandang sekilas pada Khey yang terlihat tidak nyaman dengan posisinya.
"Elo gak nyaman kek gini yang?" Fabian dengan sedikit menunduk.
Khey tidak menyahut. Masih dengan posisi menyusup pada dada bidang Fabian, Khey memalingkan wajahnya ke arah yang membelakangi Farell. Berbagai rasa menyelimuti benaknya saat ini.
"Ra..." Fabian meraih wajah Khey untuk menghadap ke arahnya, namun Khey terlihat enggan. Hal itu dapat dilihat dari Khey yang memilih menepis tangan Fabian.
"Elo gak nyaman karena gue atau Farell..."
Farell mendelik. "Kok bawa bawa gue segala..."
"Sebelum elo datang bini gue baek baek aja, begitu elo nongol dia jadi kek gini... wajar kan kalau gue tanya kek gitu..." Fabian memandang Farell dengan tatapan seolah menyalahkan.
"Gak ada hubungannya sama gue... iya kan Khey...?!" Farell seolah minta Khey untuk menjelaskan situasinya.
Haishh... kenapa jadi ruwet kek gini sih.... Khey mengeram dalam hati, dengan mau tak mau menegakkan wajahnya ke arah Fabian.
"Bi... Farell jadi tau kan..." Khey kesal.
"Lah... dia emang udah tau kalau kita udah nikah yang..." Fabian memandang Khey dengan wajah tanpa dosanya.
"Gue udah cerita ke Farell, dia kan sahabat gue dari piyik..."
"Woy... malah mesra mesraan di depan gue lagi... dasar gak ngotak ni anak..." Farell geram karena dirinya harus melihat Fabian dan Khey saling memandang intens, apalagi posisi keduanya yang masih saling berpelukan membuatnya mengumpat dalam hati. Menyumpah serapahi Fabian yang tidak peduli dengan kejonesannya.
"Eh si jomblo ngiri..." Fabian dengan cecengiran.
"Cepetan ngumpul gih, bentar lagi pertandingan di mulai. Semua udah nungguin lo, Pak Yayak juga nyariin lo dari tadi..." Perintah Farell pada Fabian, dirinya tidak ingin meladeni Fabian yang terlihat mengejeknya.
"Bentar Rell, gue butuh doping nih."
Kening Khey mengerut, berusaha mencerna percakapan Fabian tengil serta Farell.
"Elo duluan aja, ntar gue nyusul." Fabian seolah mengusir Farell.
"Ck... gue nyari lo sampek kaki berasa mau copot, eh lo mengabaikan gue. Sakit ati eneng bang..." Farell.
Fabian terkekeh.
"Anggep wae gue insaf, gue udah sadar kalau hubungan kita haram brother. Gue lebih milih yang sah..." Fabian dan Farell memang sudah terbiasa melucu.
"Anying lo... habis manis sepah dibuang ini..." Farell mencebik kesal.
"Udah... duluan sana. Habis ini giliran gue peluk elo."
"Gak sudi gue jadi yang kedua." Farell pergi dengan menendang pintu bilik toilet.
"Ye... ngambek." Fabian terbahak.
__ADS_1
"Bi... elo ikut tanding basket?" Khey bertanya selepas kepergian Farell.
Hem..
Fabian menggumam.
"Elo bisa main basket?"
"Dikit." Fabian merendah.
"Makanya gue butuh dukungan lo, soalnya hari ini final."
"Dukungan gue??" Khey mengerutkan kening.
"Gue butuh doping dari elo." Fabian kembali dengan senyuman manis yang menghiasi bibirnya.
"Caranya?" Khey tidak memahami maksud sang suami.
"Memeluk lo cukup buat gue." Fabian kembali mengeratkan tubuh keduanya hingga beberapa saat.
Setelah dirasa cukup Fabian merenggangkan tubuhnya. "Tanks Ra."
Khey mengangguk perlahan.
"Gue duluan ya." Fabian menjauhkan diri hendak meninggalkan Khey terlebih dulu.
Fabian sadar diri, dirinya tidak ingin membuat hubungannya dengan Khey diketahui banyak orang karena Khey belum merasa nyaman dengan statusnya dengannya. Dan lagi status Khey di sekolah masih sebagai kekasih Doni. Fabian tidak ingin menimbulkan kesan negatif dimata teman temannya, secara pasti akan banyak anak anak SMU Gama yang hadir untuk menonton pertandingan final hari ini.
Set...
Khey menahan pergelangan tangan Fabian hingga membuat Fabian mengurungkan langkah kakinya.
"Kenapa?" tanya Fabian bingung.
Khey kembali mendekati Fabian dan kembali berdiri tepat di hadapan cowok jangkung yang telah menjadi suaminya.
Kedua tangan Khey menangkup rahang keras Fabian lalu mendongak. Khey sedikit berjinjit dan perlahan mengikis jarak keduanya.
Cup...
Khey mendaratkan bibir tipisnya pada bibir Fabian.
ππππ
My beloved readers, tengyu so much for :
Like ππ»
Vote π
Rate βββββ
Komen π
Tambahkan favorit β€
Salam halu dari author yang narsis abishh ππ»ππ»ππ»
__ADS_1