
"Fabian!"
Tetiba terdengar seruan menyebut nama Fabian tengil dari arah belakang.
Membuat Fabian dan Septi sontak menoleh ke belakang.
Keduanya pun menghentikan langkah kakinya.
"Eh kalian... tau aja kalau ada cowok tampan di sini..." Fabian memberikan senyum tipis pada Alya dan Rhea, sahabat dari isterinya.
Mau bagaimanapun sikap kocak bin tengil Fabian memang sudah mendarah daging pada dirinya. Pastilah susah untuk menahan diri jika bertemu dengan teman teman sekolahnya. Apalagi Fabian sudah terbiasa dengan kedua sahabat isterinya tersebut.
"Ck... sok ganteng lo..." Alya pura pura mencibir.
Rhea yang semenjak Fabian memenangkan tim basket sekolah mereka sudah menyadari ketampanan Fabian terlihat memandangnya intens.
Dan tatapan Rhea itu disadari oleh Septi, menurutnya gadis di depannya itu menyukai Fabian. Hingga membuat adik Khayyara itu menggandeng lengan tangan Fabian erat. Seolah ingin menunjukkan Fabian adalah miliknya. Dan Fabian membiarkan Septi mengeratkan pegangan tangannya meski Fabian tidak mengerti akan maksud adik iparnya.
"Gue emang beneran ganteng..." Fabian dengan menaikkan dagunya bermaksud menyombongkan diri.
Alya mendengus, namun sedetik kemudian memandang Fabian menyelidik saat melihat seseorang gadis yang menggandeng lengan Fabian, terlihat pisesif menurutnya. Rhea pun sama.
Mereka berdua mencoba menerka hubungan Fabian dan sang gadis.
"Sama siapa Fab?" Rhea mencoba mencari tahu siapa gadis yang sedang bersama dengan Fabian tersebut.
"Oh ini..." ucapan Fabian terpotong oleh tindakan Septi yang tiba tiba mengulurkan tangan kanannya ke arah Rhea.
"Gue Septi, ceweknya..." Septi berbohong, karena menurut dia kedua gadis di depannya itu perlu diwaspadai. Septi merasa jika salah satu diantara gadis itu menyukai Fabian. Dan Septi tidak rela akan hal itu. Septi berharap tidak akan ada yang menganggu pernikahan kakaknya.
Sontak tindakan Septi membuat Fabian kaget, menoleh sesaat pada adek iparnya seolah meminta pertanggungjawaban atas tindakannya tersebut.
Namun Septi terlihat tidak peduli pada Fabian, memilih sibuk menyalami kedua gadis di depannya yang terlihat terkejut.
"Maaf kita pergi dulu ya." Septi menarik tangan Fabian agar menjauh dari kedua gadis itu dan segera beranjak dari sana tanpa memberikan kesempatan pada Fabian untuk berbasa basi dengan Alya dan Rhea.
Alya dan Rhea saling pandang lalu kembali memandang punggung Fabian dan Septi yang semakin mengecil karna menjauh.
"Tadi cewek itu bilang pacarnya kan Al...?!" Rhea terdengar menggumam.
"Iya." Alya masih dengan memandang Fabian dan Septi.
"Gosip di sekolah tentang Fabian sama Nina?" Rhea lagi lagi melontarkan pertanyaan pada Alya dengan menggumam.
"Entahlah." Alya menggedikkan bahunya.
"Jangan jangan cewek itu yang bikin Fabian akhir akhir ini enggak pernah gangguin Khey..." Lagi Alya berucap kata.
"Iya kali." Sahut Rhea dengan masih terlihat berfikir.
"Al..." Rhea menyenggol bahu sahabatnya.
"Apa?" toleh Alya ke arah Rhea.
"Kok gue nggak ngerasa asing ya sama wajah itu cewek..."
Rhea memang sempat memandang intens pada wajah gadis yang mengaku sebagai pacar Fabian tersebut.
Alya mengangguk mengiyakan. "Gue juga ngerasanya gitu."
__ADS_1
πππ
"Ngapain lo tadi pakek ngaku sebagai pacar gue segala?" Fabian menuntut penjelasan dari Septi, karna Fabian merasa Septi memiliki tujuan saat melakukannya.
"Biar cewek cewek itu enggak ngarep sama kakak." Septi jujur, memang itu adalah tujuannya mengaku sebagai pacar Fabian.
"Maksud lo?"
"Kakak nggak liat apa pandangan mata cewek itu terpesona sama kakak, kek ngarep banget buat jadi pacar kakak." Septi terdengar kesal.
Fabian terkekeh kecil.
"Ngaco lo... itu nggak mungkin Sept..."
"Nggak ada yang nggak mungkin kak, orang Septi liat kok kalau cewek yang berkucir kuda itu menatap kakak kek ngarep gitu."
Cewek yang berkucir kuda, yang dimaksud oleh Septi adalah Rhea.
"Nggak mungkin lah Sept, orang mereka berdua itu temen kakak lo kok. Yang ada nanti mereka malah cerita sama Ara kalau mereka ketemu gue sama cewek lain.... jadi panjang urusannya." Fabian mengusap pucuk kepala Septi dengan gemas.
"Benarkah... mereka temen kak Ara? Kirain mereka penggemar kakak..." Septi terkaget, dia sungguh menyesali tindakannya beberapa saat lalu.
"Sorry." Septi beneran menyesal.
"Gak papa." Fabian tersenyum memaklumi.
"Mau makan atau lo mau nyari sesuatu yang lain?" tawar Fabian pada adik iparnya.
"Enggak. Septi juga masih kenyang kok. Kakak mau makan?"
Fabian menggeleng. "Gue juga belom laper."
"Elo beneran nggak mau apa atau kemana gitu?"
"Enggak. Semua yang Septi butuhkan udah dapet kok kak."
"Ya udah kalau gitu, kita pulang sekarang." Fabian kembali menggandeng adik iparnya menuju parkiran.
"Ceritain gue tentang Ara dong Sep..."
Saat ini Fabuan dan Septi sudah berada di dalam mobil yang melaju pulang.
"Bukane kakak udah tau kak Ara dari kecil? Mau tau apalagi kak?"
Septi memang sudah mendengar sedikit cerita tentang siapa Fabian dari neneknya.
"Apapun lah, gue kan tau dia pas kecil doang. Tentang apa yang disukai atau yang tidak disukai dia mungkin."
"Emm...apa ya..."
Septi terlihat berfikir kemudian beberapa saat setelahnya mulai menceritakan tentang kakaknya. Tentang sifat kakaknya dan juga peristiwa yang pernah dilalui oleh kakak adek tersebut.
Fabian pun mendengarkan dengan sesekali menimpali cerita Septi dengan pertanyaan seputar isterinya. Fabian ingin mengetahui dengan detil bagaimana sifat khey yang sesungguhnya, agar dirinya bisa mencari trik untuk membuat Khey jatuh cinta padanya.
"Yang pasti kak Ara itu takut gelap. Satu lagi, jangan sampai kak Ara melihat papa sama mama bertengkar. Hubungan papa sama mama tidak seperti yang kakak lihat, sesungguhnya hubungan mereka tidak baik baik saja." Septi dengan nada sendu.
Fabian memalingkan wajahnya ke arah Septi. Berbagai pertanyaan memutari otaknya. Ingin rasanya mengajukan pertanyaan lebih banyak, namun saat melihat adik iparnya memilih memalingkan wajah keluar jendela kaca, Fabian mengurungkan niatnya. Fabian memilih memberikan ruang untuk Septi.
Beberapa saat hanya ada keheningan diantara keduanya, entah apa yang ada dalam pikiran masing masing.
__ADS_1
Hingga terdengar Septi kembali membuka mulutnya.
"Kita mampir beli martabak di depan ya kak, di dekat plaza elektronik sebelum lampu merah..."
"Ya." Fabian pendek.
"Belikan Ara juga, martabak manis coklat keju sama martabak telornya yang rasa daging sapi." Fabian menyebutkan rasa martabak kesukaan Khey dengan mengulurkan tangan, menyerahkan lima lembar uang kertas berwarna merah pada Septi.
"Septi ada yang kok kak." tolak Septi halus.
"Pakai ini aja, uang lo simpen aja."
"Tapi kak..."
"Udah ambil aja, ini uang kakak sendiri bukan dari orang tua kakak." Fabian memaksa dengan meletakkan lembaran yang kertas tersebut pada telapak tangan adik iparnya.
"Makasih kak..." Septi berlalu menuju kedai martabak yang telah menjadi langganannya. Bahkan martabak di tempat itu merupakan martabak kesukaan kakaknya.
Fabian menunggu di dalam mobil dengan masih memikirkan ucapan Septi tentang keluarganya beberapa saat lalu.
Fabian memang pernah melihat kedua mertuanya bertengkar, namun Fabian berfikir jika itu sesuatu yang normal pada kehidupan orang berumah tangga. Tapi melihat kesenduan Septi beberapa saat lalu, Fabian meyakini jika hubungan kedua orang tua Khey mungkin seperti boom waktu yang tinggal menunggu hingga saatnya meledak.
"Kak, kok ngelamun sih..." Septi mengguncang bahu Fabian pelan karena kakak iparnya tersebut tidak menyadari jika dirinya sudah duduk di dalam mobil sejak beberapa saat lalu.
"Eh Septi... sorry. Udah ya?!" Fabian tersentak dari lamunannya.
"Udah dari tadi. Jalan yuk...."
Fabian pun kembali melajukan mobil sport merahnya menuju rumah nenek. Hingga akhirnya setelah beberapa saat mengemudi keduanya pun tiba di halaman depan rumah nenek.
"Tanks ya Sep..." Fabian dengan masih duduk di belakang kemudi tanpa mematikan mesin mobilnya.
"Buat apa kak?" Septi menoleh ke arah Fabian dengan kedua kaki yang telah menjulur keluar.
"Karena elo gue bisa ngerasain asyiknya punya saudara." Fabian tersenyum tulus.
"Septi juga makasih ya kak, karena udah nemenin Septi. Kakak ternyata asyik juga orangnya." Septi pun membalas dengan senyuman.
"Bilang sama nenek gue nggak bisa mampir."
"Iya. Nanti Septi sampein ke nenek."
"Dah.... Septi..."
"Daaa kak Bian. Jagain kak Ara ya, jangan bikin dia sedih." Septi dengan berseru dan melambaikan tangan kepada Fabian.
Fabian pun segera menancapkan gas meninggalkan pelataran rumah sang nenek. Memacu pedal gasnya karena tetiba rasa rindu pada Khey menyeruak dalam hatinya.
ππππ
Maaf nih ya kalau karakter Septi tidak sesuai dengan ekspektasi para pembaca.
Bagaimanapun Septi hanyalah anak kecil yang baru beranjak remaja. Dengan sifat centil, ramah, dan humblenya membuat interaksinya dengan Fabian terlihat dekat meskipun baru pertama kali bertemu.
Apalagi bersama Fabian, Septi merasakan perhatian seorang kakak lelaki yang belum pernah dia rasakan selama ini. Kakak lelakinya tidak pernah berinteraksi dengannya, apalagi kepergiannya ke luar negeri terjadi saat Septi masih kecil, dan lagi dirinya yang lebih memilih hidup bersama neneknya membuat hubungan mereka tidak terjalin dengan baik.
Dan lagi usia Septi yang masih sangat muda, membuat pola pikirnya masih pendek.
Tapi tenang saja, Septi nggak bakal jadi pelakor bagi hubungan Khey dan Fabian kok....βπ»βπ»βπ»
__ADS_1