
Khey memasuki rumah keluarganya dengan langkah lelah. Sore ini dia pulang ke rumah sendiri tanpa Fabian.
Hal itu disebabkan karena Fabian pamit izin akan pergi dengan Farrel. Katanya menyelesaikan beberapa pekerjaan yang tertunda, tapi kenapa dengan Farrel. Entahlah... Khey tak mau terlalu banyak bertanya karena sudah terlanjur malu pada sahabat Fabuan yang telah berulang kali memergokinya berbuat mesum dengan sang suami.
Khey mendaratkan tubuh lelahnya pada sofa ruang tamu. Ekor matanya memindai rumah yang terlihat sepi tidak ada pergerakan sama sekali. Kesan dingin seperti tak berpenghuni. Memang seperti inilah kondisi rumah keluarganya. Tidak seperti di rumah mertuanya yang terasa hangat, meski rumah ang mertua jauh lebih besar dari rumah keluarganya.
Huh...
Terdengar hembusan nafas dari mulut Khey saat dia menyandarkan punggungnya pada sofa seraya menegadahkan kepala ke atas.
Kedua mata Khey mengerjap.
Perlahan tangannya meraba bibir tipisnya yang siang tadi mendapatkan asupan vitamin C dari sang suami. Meski itu bukan ciuman pertama, bahkan sudah berkali kali mereka lakukan namun kelembutan sapuan bibir Fabian tadi siang masih terasa hingga sekarang. Bahkan rasa hangat dan rasa manisnya seperti masih terasa melekat pada bibir Khey.
Tanpa sadar ingatan Khey melayang pada kejadian suami tadi di rooftop sekolah. Membuat Khey tersenyum sendiri.
Entah efek gairah mudanya yang memuncak atau karena merasa aman sebagai pasangan yang sah, Khey merasa tidak dapat menahan godaan mesum Fabian.
Selalu saja Khey terbawa suasana. Sulit sekali untuk menolak aksi mesum Fabian tengil.
Seumpama tidak diganggu dengan kedatangan Farrel, sudah pasti Khey dan Fabian...
Ahhh...
Khey menjadi sangat kesal mengingat hal itu.
Bagaimana tidak kesal jika saat itu posisi Fabian sedang menguasai dua gundukan kembarnya dengan rakus, tiba tiba saja Farrel datang. Posisi Khey yang terlihat menengadah menikmati cecapan dan sentuhan bibir Fabian dengan iringan lenguhan yang lolos dari mulutnya, pasti terlihat jelas oleh Farrel. Apalagi posisi Khey jelas mengahadap pada arah tangga, di mana Farrel datang.
Rasa kesal bercampur malu, sudah pasti dirasakan oleh Khey saat itu. Sedangkan Fabian terlihat santai seolah kehadiran Farrel bak angin lalu, seolah tak kasat mata.
Masih jelas dalam ingatan Khey saat Farrel berseru memanggil nama Fabian, suami tengilnya itu tidak segera mengakhiri kegiatan mesumnya. Fabian masih betah menyusupkan wajah pada ceruk kembar Khey meski tangan Khey sudah mendorong wajah itu menjauh.
"Bentar, nanggung yang..." begitu ucap Fabian tanpa peduli dengan wajah Khey yang memerah layaknya kepiting rebus.
" Abi... malu..." cicit Khey dengan mengeram seraya mendorong kuat kepala Fabian dengan kedua tangannya.
Ck...
Fabian berdecak. Dengan terpaksa menarik wajahnya dari lembah kembar yang baru saja disusuri bibir tebalnya.
__ADS_1
"Elo selalu saja datang di saat yang tidak tepat Rell." Fabian membalik tubuhnya kesal, menghadap Farrel yang masih berdiri terpaku di tempatnya.
"Elo tu yang mesum sembarangan." ucap Farrel tak kalah kesal.
Dan di saat itu Khey menggunakan kesempatan untuk membalik tubuhnya memunggungi Fabian. Segera membenahi kancing baju seragam sekolahnya yang telah porak piranda akubat tangan jahil Fabian tengil.
"Gini enaknya udah sah, ngiri lo?!" Fabian dengan mengejek.
"Sialan lo. Dasar temen laknat." umpat Farrel. Tentu saja dengan raut wajah sangat kesal.
"Salah sendiri ngapain lo nyusul gue ke sini sih?" tanya Fabian tak kalah kesal karena merasa terganggu dengan kehadiran Farrel.
Meski Farrel adalah sahabat baiknya, tetap saja Fabian harus kehilangan momen panasnya dengan Khey.
"Ada sedikit masalah sama Delicious Resto." jawab Farrel dengan raut wajah berubah cemas.
Mendengar itu kening Khey mengerut.
"Delicious Resto... kek pernah denger." ucap hati Khey seraya mengingat nama restoran tersebut.
"Ada emangnya?" Fabian masih dengan datar.
"Ntar gue jelasin. Yang penting kita ke sana dulu."
"Baiklah. Elo turun duluan, ntar gue nyusul." Fabuan seakan mengusir Farrel.
"Sekarang aja. Barengan kenapa sih." protes Farrel.
"Nggak bisa. Gue belum puas tadi, lo keburu datang." Fabian dengan menarik pinggang Khey untuk sejajar dengannya. Membuat Khey melotot, namun terap mengikuti gerakan Fabian karena dia menarik pulangnya kuat.
"Keterlaluan lo Bi. Sono bawa ke hotel bokap lo. Kalau nggak lo maen sepuasnya di rumah. Jangan di sini." Farrel berubah kesal kembali.
Bukannya kesal, Fabian malah terkekeh.
"Bosan. Ganti suasana biar hot."
"Kurang modal lo." ejek Farrel.
"Halah bilang aja lo ngiri. Lo nggak bisa kan kek gini sama Rhea." Fabian dengan santai merapatkan tubuhnya dengan Khey dan mendaratkan bibir tebalnya pada bibir pink Khey tanpa dosa.
__ADS_1
Khey yang mendapatkan serangan tiba tiba dari Fabian. Dan tidak pernah menyangka Fabian akan melakukan hal itu di depan sahabatnya seketika melotot seraya memukul Fabian berulang.
Bukannya menghentikan aksinya, Fabian malah memperdalam ciuman panasnya.
Hal itu membuat Farrel mengumpat kesal, segera menuruni anak tangga dengan mulut tidak berhenti menyumpahserapahi Fabian tengil.
Mengingat hal itu senyum Khey yang sempat mengembang beberapa saat lalu, menyurut seketika. Berganti menutup wajah dengan kedua telapak tangan guna menghapus rasa malu akibat ulah Fabian.
Hingga terdengar derap langkah kaku mendekat, membuat Khey menegadah seketika.
"Loh enon sudah pulang?" tanya Asisten rumah tangga Khey sedikit terkejut karena tidak mengetahui ada orang di ruangan tersebut.
"Iya bik. Maaf bikin bik mun kaget. Tadi Ara nyelonong aja karena gak ada yang menyahut salam Ara."
"Iya non nggak papa. Tadi bibik di belakang, nggak denger."
"Oh iya papa mana bik?"
"Tuan ada di kamar, naik belum lama kok. Tadi baru aja habis makan."
"Oh." Khey.
"Non Ara pulang sendiri?"
Khey mengangguk.
"Den Abi?" tanya asisten rumah tangga Khey bukan bermaksud mengurusi rumah tangga nona mudanya. Hanya saja beberapa hari pasangan muda itu tinggal di sana, Abi baru kali ini absen untuk pulang bersama.
"Masih ada urusan di luar Bik. Mungkin pulangnya malam. Yang penting siapin aja makam malam, nanti biar Ara yang angetin kalau Abi pulang." terang Khey seolah tahu maksud pertanyaan sang asisten rumah tangga.
"Oh begitu ya non." Bik Mun menganggukkan kepala berulang.
"Oh ya bik, Ara naik dulu ya. Mau ketemu sama papa." pamit Khey seraya beranjak dari duduknya. Tak lupa memanggul tas punggung sekolahnya kembali.
"Iya non."
Khey pun beranjak dari sana. Menaiki anak tangga dengan langkah kaki lebar menuju lantai atas. Lantas memasuki kamar seraya melempar asal tas punggungnya ke atas ranjang kemudian kembali keluar kamar untuk menamui papanya.
Melihat pintu kamar orang tuanya yang sedikit terbuka Khey mendorong daun pintu tersebut tanpa berucap salam.
__ADS_1
"Papa!" Khey dengan terkejut.
ππππ