
"Lo cariin tempat duduk, gue yang pesenin makanan." Fabian mendorong bahu Jackson ke arah bangku tempat makan sedangkan dirinya mendekati booth makanan.
"Bayarin sekalian ya." Jackson dengan mengerling.
"Ck... selalu." Fabian pura pura menggerutu. Karena sejatinya dia tidak pernah perhitungan sama sahabatnya. Apalagi hanya soal makan.
"Gue lagi bokek ini."
"Dasar bule miskin. Kapan sih elo kaya nya." Fabian bergurau.
"Beneran Bi, gue lagi bokek."
"Nggak usah alesan. Ntar beneran bokek tau rasa lo." Seseorang terdengar bersuara sembari menepuk bahu Jackson pelan.
Jackson pun menoleh. "Eh ATM si bos dateng juga." serunya saat mendapati Farrel di belakang tubuhnya.
"Mulut lo kalau ngomong seenaknya aja." Farrel meremas bibir Jackson.
"Jahat lo Rell... kasihan bibir perawan gue." ucap Jackson setelah berhasil menepis tangan Farrel. Dengan ekor matanya yang melihat ke bawah, melihat bibirnya.
"Bener kasihan bibir Jackson Rell, terjebak di tubuh penyamun jomblo, miskin lagi." Kali Fabian yang mengejek Jackson.
"Enak aja ngatain tubuh gue penyamun jomblo miskin. Elo salah Bian, yang bener penyamun kere, idup lagi." Jackson dengan terkekeh. Dan itu menular pada Fabian dan Farrel.
"Udah, lo berdua pergi cari tempat duduk sana, keburu nggak kebagian tempat makan ntar." Fabian segera mengusir kedua sahabatnya. Karena jika tidak begitu, guyonan mereka nggak akan ada habisnya.
"Pesenin gue sekalian ya Bi..." Farrel dengan merangkul bahu Jackson, berlalu mencari tempat duduk.
"Rame banget sih." Farrel dengan memindai seluruh bangku, mencari yang kosong. "Ck... penuh semua lagi."
"Enggak ah, ada noh yang tersisa."
"Mana Jack?"
"Ntu tuh... barengan sana trio macan galak tapi cakepnya nggak ketulungan." Jackson dengan menunjuk bangku tempat Rhea, Alya dan tentu saja Khey duduk menyantap makan siang mereka.
"Kenapa harus dengan mereka sih." dengus Farrel.
"Kenapa emangnya? Elo nggak suka? Mereka asyik kok." Jackson tersenyum dengan memandang ketiga cewek cantik yang tentu saja tidak memandang ke arahnya. Melainkan asyik mengunyah santap siang mereka dengan sesekali bersenda gurau.
"Duh manisnya senyum neng Alya..." Jackson dengan senyum mendamba seraya menangkup pipi dengan telapak tangannya.
"Cakepan juga senyum si Rhea, lebih menggemaskan." Farrel tidak sadar keceplosan bicara.
Seketika Jackson menoleh pada Farrel sahabatnya yang ternyata sedang memandang ke arah ketiga trio macan nan galak namun cakep sebutan Jackson.
__ADS_1
"Gue nggak salah denger kan Rell?" Jackson ingin memastikan pendengarannya.
"Enggak. Liat baek baek tu, senyum Rhea cakep kan?!" Lagi pujian Farrel pada senyum Rhea membuat Jackson membelalakkan kedua bola matanya.
Jika itu Fabian yang mengucapkan pujian tersebut, Jackson tidak bakal heran. Karena meski Fabian itu tidak ganjen terhadap cewek cewek namun sahabat tengilnya itu biasa melakukannya jika kenyataannya memang benar adanya.
Akan tetapi yang barusan memuji adalah Farrel. Cowok sok cool, yang tidak peduli dengan yang namanya kaum hawa. Bahkan terkesan menjaga jarak tersebut telah mengeluarkan kata pujian untuk Rhea yang notabene jauh dari kriteria cewek impiannya.
Bahkan hingga saat ini Farrel terlihat tidak memutus pandangan pada ketiga gadis yang tengah asyik bersenda gurau tersebut. Mungkin lebih tepatnya pandangan mata Farrel tertuju pada Rhea saja.
Harus diselidiki lebih dalam ini... batin Jackson dengan menggerakkan ekor matanya ke arah Farrel dan Rhea silih berganti.
"Dahlah kite duduk sana aja. Sekalian sekalian transfusi vitamin A buat mata kita. Dari pada ke dokter mata antrinya lama, pakek keluarin duit lagi." Jackson menyeret Farrel, memaksanya mengikuti langkah kaki Jackson.
Farrel pun akhirnya terpaksa mengikuti Jackson meski sebenarnya dia enggan. Farrel enggan dekat dengan Rhea.
Entah mengapa akhir akhir ini jantungnya berasa tidak sehat saat berdekatan gadis cablak teman Khayyara tersebut.
"Hai girls... nice to meet u..." Jackson dengan membingkai senyum pada wajah bulenya lalu mendudukkan diri tepat di tengah, tepat di hadapan Alya duduk.
"Ck... bule tersesat datang lagi." Alya dengan mencebik. Sedangkan Rhea hanya tersenyum tipis pun begitu denga Khey.
"Senyum adek yang bikin abang tersesat." Jackson mengerling jenaka.
Farrel mengambil duduk di hadapan Khey. Bukan apa apa, Farrel hanya menghindar untuk dekat dengan Rhea. Menjaga agar jantungnya tetap sehat.
"Apaan sih, cuma duduk doang. Bukan kursi lo juga." Farrel.
"Duduk lo sebelah sini, bukan di situ. Pindah cepet!!" lagi Jackson memerintah.
"Aneh lo." Farrel tetap di tempatnya.
Jackson yang memang sengaja hendak memastikan instingnya, menggeser pantatnya mendorong tubuh Farrel hingga ke pinggir kursi.
Kursi tempat mereka duduk adalah kursi terbuat dari kayu yang memanjang. Untuk itu Jackson bisa menggeser dan mendorong Farrel hingga ketepi dan membuatnya hampir jatuh.
"Elo apaan sih Jack?" Farrel dengan pandangan tidak mengerti akan sikap Jackson yang menurutnya aneh.
"Pindah gak lo?!" Jackson dengan merapatkan jarak wajahnya denga Farrel, mengintimidasi. Serta makin mendorong Farrel agar beranjak dari duduknya.
Farrel yang memang sengaja memilih tempat duduknya agar tidak berhadapan dengan Rhea, memaku tubuhnya. Alhasil kedua cowok jangkung itu saling mendorong tubuh keduanya. Tubuh Farrel mendorong Jackson untuk mempertahankan tempat duduknya sebaliknya Jackson sekuat tenaga mendorong Farrel agar berpindah.
Aksi keduanya membuat Khey dan kedua sahabatnya heran.
"Kalian berdua kenapa sih?" Khey memandang heran Jack dan Farrel silih berganti.
__ADS_1
Kedua cowok itu tidak menyahut, masih saling menatap dengan wajah yang saling mengintimidasi.
"Kalian berdua mau nikung gue?" Suara bariton Fabian terdengar dari balik punggung Jack dan Farrel. Sontak keduanya menoleh ke belakang.
"Geser sana!" Fabian menatap tahan pada Farrel dan Jackson.
"Geser lo!" Farrel pada Jackson.
"Enggak! Elo yang pindah." Jackson tetap dengan pendiriannya. Semakin mendorong tubuh Farrel, Jack berusaha keras untuk membuat Farrel berpindah tempat duduk ke hadapan Rhea.
Mau tak mau Farrel beranjak dari duduknya yang sudah setengah nyempil di pinggir bangku panjang yang didudukinya.
Dengan menggerutu Farrel duduk di hadapan Rhea.
Jackson pun tersenyum puas.
"Ngapain lo senyum aneh kek gitu?" Tanya Fabian heran dengan mendudukkan dirinya.
"Gue? Senyum? Aneh? Enggak ah, biasa aja." Jack santai, menggeser pantatnya tepat berhadapan dengan Alya kembali.
Fabian mengernyit.
"Beneran dari tadi lo senyum senyum nggak jelas."
"Senyum gue jelas Bi. Jelas penyebabnya." Jack.
"Jelas penyebabnya?!" Fabian menelisik wajah Jack.
"Karena neng Alya. Kek gini berasa gue ngedate sama dia." Jack mengerling jenaka pada Alya lalu melirik sesaat pada Farrel yang masih cemberut di samping kirinya.
"Nggak usah cemberut kek gitu, senyum dong biar Rhea tau kalau wajah lo itu ganteng pas tersenyum." Jackson sengaja menggoda Farrel.
"Elo apaan sih Jack, mulut lo asal banget." Farrel melotot ke arah Jackson lalu melirik Rhea yang mendelik juga ke arah Jackson.
Fabian terkekeh. "Kita kek triple date ya..."
"Bener juga omongan lo." Jack terkekeh kecil.
"Enak aja siapa yang nau ngedate sama bule nyasar kek elo." Alya dengan mimik muka cemberut.
"Lah mending sama gue bule nyasar tapi masih perawan, orisinil. Daripada ngarepin Bian, udah nggak perawan dianya." Jackson frontal.
Seketika membuat yang Farrel, Fabian, Khey, Alya dan Rhea memberikan pandangan ke arah Jackson.
"Liat noh leher jerapahnya, penuh sama sengatan tawon betina." Jackson dengan mulut cablak.
__ADS_1
Sontak seluruh pandangan mengarah pada Fabian, tepatnya pada leher Fabian.
ππππ