
"Mana yang belum paham?" Fabian mengambil alih buku matematika dari hadapan Khey.
Khey segera menunjuk nomor pada soal soal yang sangat sulit dipecahkan olehnya.
Fabian meraih bolpoin di dekatnya lalu melingkari nomor nomor soal yang ditunjuk oleh Khey.
"Kek gini namanya semua yang... " Fabian memandang nomor soal yang telah dilingkari olehnya ternyata hampir seluruh nomor yang ada di halaman tersebut.
Khey terkekeh kecil. "Memang semuanya nggak bisa, Hehehehe..."
Tuk.
Fabian menukul pelan kening Khey menggunakan bolpoin di tangannya. Membuat isterinya meringis seraya mengusap kening. Tak ketinggalan bibirnya mengerucut, menyuarakan kekesalan pada Fabian.
"Elo di kelas dengerin penjelasan guru apa tidur heh..."
"Dengerin lah." Khey membela diri.
"Ngakunya anak IPA, gini aja masih kesulitan. Belajar yang rajin." Fabian meraih lembaran kertas kosong lalu menuliskan salah datu soal yang Khey tidak pahami.
"Otak gue nggak secerdas elo Bi."
"Makanya rajin belajar, jangan cuma maen doang diutamain."
"Iya iya. Mulai nih bawelnya, udah kek Bu Minah aja." Khey dengan menyebut nama guru matematikanya yang lumayan cerewet.
Fabian menghentikan tangannya dari menulis. "Mau diajarin enggak?"
"Maulah."
"Kalau mau, tenang. Perhatiin ini." Fabian menunjuk goresan angka pada kertas putih di depannya.
"Siap kapten." Khey melakukan gerakan seolah memberi hormat seperti saat melakukan upacara hari senin. Memposisikan tubuhnya tenang, seolah menunjukkan bahwa dirinya siap belajar bersama Fabian.
Fabian terkekeh kecil.
Meraih tangan kanan Khey yang menempelbpada keningnya. "Ini nggak di sini tempatnya."
Kemudian meletakkan bolpoin pada telapak tangan Khey yang masih dalam genggamannya. Memberi kertas kosong lalu membuat tangan Khey seolah menulis di sana.
"Belajar tu kek gini. Otak fokus menghitung, tangannya bergerak menulis di sini."
"Ck... kek anak TK aja kek gini diajarin." Khey berdecak.
Fabian pun memberikan tatapan tajam pada Khayyara. Dan Khey mengetahui itu.
"Iya iya. Bola matanya jatuh ntar..."
"Kerjakan dulu yang ini, biar gue tau kemapuan lo sampek mana." tunjuk Fabian pada salah satu nomor yang tadi sempat dilingkari olehnya.
"Kan gue nggak bisa, masak gue kerjain sendiri." protes Khey.
Mau tak mau Khey pun mulai menulis angka pada kertas di hadapannya meski dengan menunjukkan raut wajah cemberut.
Fabian tersenyum tipis saat melihat Khey mulai mengerjakan salah satu soal. Mengabaikan wajah cantik Khey yang cemberut.
__ADS_1
Fabian memperhatikan dengan seksama bagaimana cara isterinya menyelesaikan soal tersebut. Sesekali kening Khey mengerut seperti berfikir keras untuk memecahkan soalnya.
"Salah itu." ucap Fabian saat Khey menuliskan angka pada kertasnya. Membuat Khey menghentikan tangannya lalu mendongak, memandang Fabian.
"Kan gue udah bilang kalau gue nggak bisa. Makanya minta lo buat ngajarin gue, bukan ngerjain sendiri kek gini."
Gabisa menghela nafas berat.
"Gue pengen tahu kemampuan lo lebih dulu yang. Sini." Fabian mengambil alih kertas dan bolpoin yang dipegang oleh sang isteri.
"Liat sini matanya." Fabian menunjuk kertas di hadapannya.
Khey yang semula memandang Fabian pun nyengir kuda lalu mengalihkan pandangan, mengikuti arah pandang Fabian pada kertas yang ditunjuknya.
"Elo tadi salah mengalikan angka yang ini. Seharusnya ini kali ini, yang ini dicari turunannya lebih dulu. Ketemu angka ini baru cari ini." Fabian menggerakkan bolpoin dengan cepat secepat otaknya menemukan hasil hitungannya.
Bahkan Khey terperangah melihat kemampuan sang suami menghitung angka angka tersebut. Kedua matanya melebar, bahkan mulutnya terbuka ketika tangan Fabian bergerak menyelesaikan soal yang sempat Khey kerjakan sebelumnya.
"Sampai sini paham belum?" tanya Fabian.
"Wahh... cepet banget elo ngehitungnya Bi." Khey seakan tak percaya pada penglihatannya.
"Soal paling mudah ini. Paham belum?" Lagi Gabisa bertanya.
"Iya iya paham. Kasih satu lagi soal yang ini Bi..." tunjuk Khey pada nomor selanjutnya.
"Soal ini sama dengan yang tadi Ra."
"Iya tahu. Makanya bantu kerjain satu lagi yang serupa biar gue tambah jelas, biar besok besok nggak nanya mulu." Khey modus. Sesungguhnya gadis itu hanya berusaha membuat Fabian menyelesaikan semua soalnya yang dianggapnya susah.
Bukannya memperhatikan angka angka yang coba diselesaikan oleh Fabian, Khey malah menopang dagu dengan kedua telapak tangannya menatap Fabian tanpa berkedip. Pesona Fabian sungguh membuat Khey klepek klepek saat ini. Rasanya tidak rela melewatkan sedetik saja pandangan matanya dari raut wajah tampan suami tengilnya.
"Sampai sini udah jelas kan yang?" Fabian bertanya untuk memastikan.
Tidak ada sahutan dari mulut Khey, membuat Fabian menoleh ke arah sang isteri.
Huh...
Fabian mendesah saat mendapati Khey memandangnya senyum senyum dengan menopang dagu.
Sepertinya penjelasannya beberapa saat lalu percuma saja.
Fabian meletakkan bolpoin di tangannya kemudian bersidekap dada, memandang Khey dengan datar.
Bukannya menyadari kelakuannya, Khey malah semakin mengembangkan bibirnya. Tersenyum.
"Cakep banget sih, coba kalau guru matematika kek elo gini Bi, pasti semua murid suka sama matematika termasuk gue." Khey dengan menggumam.
Fabian pun menggelengkan kepalanya dengan menghembuskan nafas pendek, melihat kelakuan sang isteri.
"Udah puas belum liatin wajah ganteng gue?" Fabian dengan tiba tiba mendekatkan wajahnya tepat di depan wajah sang isteri.
Khey pun tersentak kaget.
"Nggak lucu ah Bi... bikin jantungan aja." Khey tersadar, menjauhkan jarak wajahnya.
__ADS_1
"Lo mau belajar atau liatin wajah gue doang?" Fabian tetap berusaha tidak terbawa emosi.
"Belajar lah, ngapain liatin wajah lo." Khey.
"Kalau belajar liatnya ke sini, bukan ke sini." Fabian menunjuk kertas di hadapannya kemudian berganti pada wajahnya.
"Ggue liat ke sini kok." Khey mengelak dengan tergagap, mengalihkan pandangan pada kertas penuh angka di depan Fabian.
"Lo pikir gue nggak lihat." Fabian mengintimidasi. "Kalau kek gini caranya, bukannya tambah bisa tapi elo bakal makin nggak bisa yang."
Hehehe...
Khey terkekeh kecil.
"Gue kan sekali merengkuh dayung dua pulau terlampaui Bi."
Pletak.
Fabian menyentil pelan kening sang isteri.
"Sakit Bi." Khey mengerucutkan bibir seraya mengusap keningnya.
"Lebih baik lo lanjut bimbel lo aja." Fabian beranjak dari duduknya.
"Mau kemana?" Khey menahan salah satu lengan tangan Fabian.
"Maen basket."
"Bantuin gue belajar dulu dong Bi."
"Enggak. Elo nggak bisa fokus kalau belajar sama gue."
"Bisa kok. Gue bisa." Khey memohon.
Lagi Fabian menghela nafas.
"Kalau lo kek gini, gue yakin elo nggak bakalan bisa buat meraih impian lo buat jadi dokter Ra."
"Gue bisa kok, gue bakalan berusaha. Beneran suer." Khey berjanji dengan menunjukkan jari tengah dan jari telunjuknya membentuk tanda V.
"Bentar lagi ujian, gue juga harus fokus sama pelajaran gue sendiri."
"Iya gue tau. Makanya ajarin gue, yah yah... Abi cakep kok. Suami siapa sih ini..." Khey membujuk dengan mengerjapkan kedua kelopak matanya berulang.
"Cuma hari ini. Setelahnya elo balik ke bimbel lo, kalau perlu tambah kelasnya." Fabian akhirnya mendudukkan diri kembali.
"Iya iya..." Khey tersenyum senang.
"Coba aja lo ngambil jurusan IPA, kita pasti bisa sekelas dan belajar bareng. Iya kan Bi..." Khey terdengar menggumam dan Fabian masih bisa mendengarnya.
Dalam hati Fabian membenarkan ucapan sang isteri. Itu adalah alasan yang membuat Fabian hendak berpindah jurusan saat ini.
Namun melihat kesungguhan belajar Khey saat belajar bersamanya beberapa saat lalu, membuat Fabian tidak yakin.
Haruskah dia mengorbankan dirinya untuk pindah jurusan, ataukah masih ada cara lain untuk dapat membantu Khey...
__ADS_1
ππππ