Mendadak Nikah 2 (Married By Accident)

Mendadak Nikah 2 (Married By Accident)
MBA101


__ADS_3

"Fabian... Tunggu!!" Nina berseru memanggil Fabian dari belakang saat dia melihat Fabian berjalan di koridor sekolah.


Fabian yang terlihat sedang berjalan sendirian, tidak mengindahkan teriakan Nina. Mungkin dia benar - benar tidak mendengar atau memang sengaja mengabaikan panggilan si ombre, Nina.


Nina pun tak gentar.


Setengah berlari menyusul Fabian yang berjalan sambil membuka lembaran - lembaran kertas di tangannya, entah apa itu. Yang jelas langkah Fabian terlihat santai tidak terburu - buru.


Mungkin saking fokusnya pada lembaran kertas di tangannya itulah yang membuat Fabian mengabaikan panggilannya, menurut Nina.


Plak.


Nina memukul pelan pundak jangkung Fabian dari belakang, membuat empunya menoleh.


"Gue panggil panggil sampek urat mau putus jugak." Nina dengan menggerutu kesal.


"Sorry Nin. Ada apa?" Fabian datar tanpa menghentikan langkah kakinya.


Nina pun berusaha mensejajari langkah cowok yang menjadi incarannya tersebut.


"Gak ada sih, cuma berasa lama nggak ngobrol aja sama lo..." Nina dengan senyum berbicara di wajahnya.


"Oh... kirain ada apa." Fabian tetap datar dengan kembali memandang lembaran kertas di tangannya. Setelah beberapa detik lalu menoleh ke arah Nina.


"Apaan itu Fab... penting banget keknya?" Nina berusaha mencari bahan obrolan agar dapat tetap berjalan bersama Fabian. Sepertinya Fabian sangat serius membaca lembaran kertas di tangannya itu.


"Oh ini... dokumen buat olimpiade matematika." sahut Fabian memberitahu lembaran kertas di tangannya.


"Yang diselenggarakan di Bali itu ya?"


"Yoi." Fabian mengangguk.


"Jadi elo yang ditunjuk sekolah buat ke sana?" Nina menyelidik.


"Nggak ditunjuk Nin. Lagian bukan cuma gue, ada beberapa anak. Diseleksi dulu kok, baru nanti yang kompeten yang dikirim ke sana." Jelas Fabian.


"Oh... gitu." Nina terlihat manggut manggut.

__ADS_1


"Tunggu... bukane elo ngambil jurusan ips ya, kok bisa ikutan sih..." Nina penasaran.


"Entahlah, gue juga nggak tau." Fabian menggedikkan bahu.


"Ah iya gue inget... elo kan jago matematika meskipun elo ambil jurusan IPS." Nina dengan berseru dengan wajah berbinar.


Sesungguhnya Fabian memang anak yang cerdas, untuk masuk kelas IPA dia bisa dengan mudahnya. Namun karena dia memang tidak menyukai sains dan lebih menyukai ilmu berbisnis makanya dia lebih memilih jurusan IPS untuk mempermudah dirinya mengambil jurusan saat kuliah nanti.


Meskipun Fabian terlihat selengekan dan santai namun Fabian tidak setengah setengah untuk menimba ilmu, hanya saja karena daya tangkap otaknya yang di atas rata rata membuat suami tengil Khey itu terlihat santuy. Seolah mengabaikan, padahal memang dirinya tidak membutuhkan waktu lama untuk memahami pelajaran.


"Enggak ah... biasa aja." Fabian lebih suka menyembunyikan kemampuannya, dia tidak ingin terlihat populer. Menurutnya kepopuleran hanya akan membatasi geraknya.


"Iya, elo emang jago Fab... tapi elo dapat kesempatan ini bukan karena bokap lo kan..." Nina dengan bercanda.


"Nggak lah... ngaco lo..." Fabian menepis anggapan Nina dengan cepat.


Meskipun Fabian adalah anak tunggal dari pemilik sekolah namun bukan berarti dia dengan seenaknya memanfaatkan statusnya. Justru dia berusaha menutupi status itu bahkan dari guru mata pelajaran di sekolahnya.


Hanya segelintir saja pihak sekolah yang mengetahui status anak sultannya. Untuk teman sekolah hanya Farrel dan Nina.


Farrel adalah teman sekaligus orang yang membantunya mengurusi usahanya dan Nina yang tahu karena keluarga mereka saling mengenal dan tempat tinggal kakeknya berdampingan dengan tempat tinggal keluarga Fabian.


Fabian tersenyum tipis, dia pun sungguh tahu jika Nina hanya bercanda. Makanya dia tidak marah


"Jangan ungkit status gue, ntar bikin anak laen nggak nyaman kalau tahu gue anak pemilik sekolah." Fabian dengan berbisik, membungkukan sedikit punggungnya agar tidak ada yang mendengar ucapannya.


Beberapa langkah di belakang Fabian dan Nina.


"Hey... itu kan Fabian sama si ombre..." tunjuk Rhea pada kedua sahabatnya dengan sedikit berseru.


Alya dan Khey yang semula berjalan sambil bercanda pun mengalihkan pandangan ke arah depan saat mendengar seruan dari Rhea. Mereka pun serentak menghentikan langkah kaki mereka.


Terlihat posisi Fabian setengah membungkuk, dengan telapak tangan seolah menutupi mulutnya yang berbisik di telinga Nina. Bak pasangan yang terlihat asyik berbincang sembari berjalan bersama.


Deg...


Jantung Khey seolah berhenti berdetak saat melihat pemandangan di depannya.

__ADS_1


Kedua mata Alya membola.


"Mereka beneran pacaran...?!"


Seruan Alya membuat kedua bola mata Khey melebar. Sedangkan Rhea hanya menggedikkan bahu tanda tidak tahu.


Huh...


Khey membuang nafas pendek. Entah mengapa rasa di hatinya sedikit memanas. Efek pemandangan di depannya atau mungkin efek ucapan Alya, Khey tidak yakin. Yang pasti hatiny terasa tercubit kecil.


"Dasar cowok dimana aja sama... semalem aja dia bergerilnya dengan tubuh gue. Sekarang asyik asyikan sama cewek lain. Dasar player... kang gombal..." Khey mengumpat dalam hati dengan raut wajah yang sudah pasti sangat kesal.


"Keknya mereka beneran pacaran deh... iyakan Khey?" Alya dengan merangkul bahu Khey.


Ketiganya yang sempat menghentikan langkah kaki mereka, berjalan kembali.


"Khey..." Alya dengan menggoyang lengan tangan Khey karena merasa tidak mendapat respon dari sahabat yang tengah dirangkulnya tersebut.


Khey menoleh. "Apa?"


Khey memang tidak begitu mendengarkan ucapan Alya karena otaknya sedang berkutat dengan kecurigaannya pada Fabian tengil.


"Mereka berdua beneran pacaran?" Alya mengulang pertanyaannya. Kali ini dengan menunjuk sosok Fabian dan Nina si ombre yang terlihat berjalan sembari bercanda, dengan dagunya.


Khey pun mengikuti arah pandangan Alya.


Khey dapat melihat dengan jelas tingkah Fabian dan Nina yang seperti bercanda. Nina sesekali memberikan pukulan kecil pada lengan Fabian. Fabian terlihat menghindar dan menepisnya namun di mata Khey itu interaksi itu terlihat seperti candaan mesra pasangan yang berkencan. Apalagi senyuman yang menghiasi wajah keduanya semakin memperkuat asumsi Khey bahwa ada hubungan lebih dari sekedar teman di antara keduanya.


"Gua nggak tau. Mungkin juga iya..." Khey dengan sedikit kelat. Pandangan matanya tak lepas dari sosok Fabian dan Nina yang terlihat bercanda bersama. Siapapun yang melihatnya pasti menebak mereka adalah pasangan.


Hawa panas tetiba menyelimuti tubuh Khey. Apalagi saat ini Khey masih setia dengan sweater yang melekat pada tubuhnya. Teriknya matahari istirahat siang ini membuat suasana panas menjadi semakin panas seolah mampu membakar hati Khey.


"Menurut gue sih iya. Nggak mungkin dong jika mereka nggak ada hubungan... lo bisa liat kan dari interaksi mereka berdua." Rhea.


"Yah... potek dong ati lo Rhe...!" seru Alya .


Sontak seruan Alya membuat kegiatan bola mata Khey membulat dengan sempurna.

__ADS_1


Secepat kilat Khey mengarahkan ekor matanya pada Alya kemudian berganti melirik Rhea. Dalam hati Khey bertanya tanya, emangnya Rhea suka sama Fabian...?! Ya Tuhan... ujian apalagi ini...


😍😍😍😍


__ADS_2