Mendadak Nikah 2 (Married By Accident)

Mendadak Nikah 2 (Married By Accident)
MBA 6


__ADS_3

"Hallo Khey ... gimana jadi enggak ikutan kita hangout.. Gue sama Rhea udah siap nih, kita tinggal nungguin lo di rumah gue ... Atau kita samperin lo ke rumah lo aja...??" Terdengar suara Alya dari balik ponsel Khey yang saat ini menempel pada telinga kanan Khey karena dirinya sedang tiduran di atas ranjang queen size dalam kamarnya.


"Sorry Al ... gue gak bisa ikut kalian. Gue mau keluar sama Doni." jawab Khey masih tiduran sembari memainkan anak rambut di atas dahinya.


"Beneran Doni ngajakin lo malem mingguan... gak ngeprank kan Khey??" suara Alya terdengar khawatir di seberang telefon.


Khey tertawa renyah. "Enggaklah Al ... orang Doni sendiri yang tadi telfon gue, ngajakin gue buat dinner. Gak mungkinlah dia ngeprank, keknya dia emang lagi free deh. Gak ada jadual dengan tugas - tugas ketosnya."


"Syukurlah kalau Doni ada waktu buat lo Khey ... kalau gitu kita jalan duluan ya ... Mau coba cafe baru yang lagi booming di Jogja. Semoga sukses deh dinner lo sama si ketos" Alya terdengar berseru riang.


"Okey ... sipp ... tanks udah ngertiin gue. Have a nice day girls ... Daaa ...." Khey menutup panggilan Alya setelah mendapat ucapan selamat tinggal dari sahabat baiknya tersebut.


Khey menghembuskan nafas pelan, kemudian memandangi ponselnya yang menunjukkan gambar foto dirinya sedang berangkulan bersama kedua sahabatnya dengan senyum mengembang.


Senyum tersungging di bibir pinknya, "Tanks God ... karena telah menghadirkan mereka dalam hidupku. Mereka adalah sahabat terbaikku yang selalu mengerti dan memahamiku saat senang maupun sedih. Padahal aku seringkali membuat mereka kesal, tapi mereka tetap mau mengerti akan diriku. Semoga persahabatan kita abadi ya girls ...." Khey mengusap walpaper pada ponselnya dengan senyum yang tidak berhenti mengembang pada bibir pinknya.


Drtt...drrtt...


Ponsel pintar yang masih berada di dalam genggaman tangan Khey bergetar memunculkan id caller wajah tampan Doni si ketua osis yang telah mengisi hampir seluruh ruang di hati seorang Khayyara Nala Ashanum.


Khey pun menggeser ke atas icon calling pada layar ponsel pintar miliknya.


"Hallo sayang!" suara bariton Doni terdengar dari seberang telepon.


"Hai ... hallo juga say, tumben udah nelfon ... padahal kan kita janjian entar habis maghrib." jawab Khey sumringah sambil melirik sekilas jam pada dinding kamarnya.


Terdengar kekehan di seberang telepon. "Gak boleh emangnya gue telfon..... kalau lagi kangen?" suara Doni terdengar menggoda di gendang telinga Khey.


"Gombal ...." sahut Khey dengan tersenyum senang sambil memandangi langit - langit kamar tidurnya, meski sebenarnya Doni pun tidak dapat melihat ekspresinya.


"Tapi elo seneng kan digombalin cowok ganteng kek gue." Doni terdengar masih terkekeh.


"Enggak tuh ... biasa aja." Khey masih dengan senyum - senyum sendiri.


"Ck... ya udah kalo gitu gue matiin aja. Biar gue telfonan sama cewek yang suka sama gue" Doni terdengar mengancam.


"Enak aja... awas aja kalau berani selingkuh!" Khey berseru hingga membuat Doni sedikit menjauhkan ponsel dari telinganya dengan terkekeh geli.


"Emang telfonan sama cewek lain itu selingkuh ... belum tentu juga kali Khey ...." Doni menggoda masih dengan terkekeh.

__ADS_1


"Iyalah!!" tegas Khey dengan nada marah.


"Meskipun itu sama Nina, buat ngomongin proposal kegiatan osis??" Doni menekankan kata proposal kegiatan osis.


"Kalau itu beda ceritanya sayang ...." Khey kembali melembutkan suaranya.


Doni pun mengulas senyum kekeh karena merasa berhasil menggoda Khey.


"Ya udah gue tutup telfonnya ya, mau siap - siap ini" pamit Doni dari seberang telfon.


"Baiklah ... entar kalau udah otw chat gue ya, biar elo gak nunggu lama." Khey


"Okey sayang ... sampai ketemu nanti. Cup ... muah ... emuach ...." Doni terdengar memberikan ciuman meski hanya dengan bersuara melalui ponsel pintarnya.


Khey tersipu malu. "Da ... da ...emmmuaachhh juga."


πŸ“πŸ“πŸ“


"Maaa ...." teriakan Khey menggema memenuhi seluruh rumah saat dirinya menuruni anak tangga menuju lantai satu.


Tidak ada sahutan, bahkan suasana rumah yang dapat dibilang cukup besar dan mewah itu terlihat lengang.


"Eh Enom ... papa sama mama tadi ada acara makan malam ke mana gitu, bibik lupa." asisten rumah tangga bernama bik Munah yang biasa Khey panggil Bik Mun itu menjawab dengan tersenyum tipis.


"Kok gak bilang sama Khey sih Bik?!" Khey terlihat kesal. Ah bukan kesal melainkan terlihat sedih.


Selalu saja kedua orangtuanya itu sibuk, hingga mengabaikan keberadaan Khey sebagai anaknya.


"Beliau terburu - buru Non, mungkin itu yang membuat tuan dan nyonya tidak sempat pamit sama Enon." asisten rumah tangga yang bernama bik Munah itu seakan menutupi kebenaran.


"Tapikan bisa pamit Bik, orang Khey ada di kamar gak kemana - mana kok." Khey kesal.


Bik Munah hanya tersenyum tipis. Bagaimanapun bik Mun menutupi kebenarannya, Khey pasti akan semakin mengetahui jika kedua orang tuanya memang tidak ada niat untuk pamit padanya dengan alasan tidak ada waktu. Dan itu hanya akan membuat Khey semakin membenci orang tuanya.


Khey sebenarnya memiliki dua saudara. Seorang kakak laki - laki yang sekarang sedang kuliah di luar negeri dan seorang adik perempuan yang masih duduk di bangku SMP. Namun sang adik lebih memilih ikut kekak dan neneknya yang tinggal di pinggiran kota daripada tinggal bersama kedua orang tuanya yang tinggal di tengah kota.


Kehidupan kedua orang tuanya yang sibuk dengan pekerjaan membuat adik perempuan Khey lebih memilih tinggal bersama kakek neneknya. Alhasil Khey terlihat seperti anak tunggal du rumah megah berlantai dua ini.


Papa Khey adalah seorang pengusaha kelas menengah yang sedang berusaha untuk memajukan usahanya agar dapat memasuki golongan perusahaan kelas atas. Hal itulah yang membuat papa Khey lebih banyak menghabiskan waktu untuk pekerjaannya. Sedangkan mama Khey memiliki butik yang cukup terkenal di Yogyakarta ini. Pelanggannya cukup banyak, hal itu juga yang membuat mama Khey selalu sibuk dengan butiknya.

__ADS_1


Karena kesibukan kedua orang tuanya dan keberadaan Khey seorang diri itulah yang membuat Khey selalu merasa kesepian.


Seringkali Khey meminta waktu pada kedua orang tuanya untuk sesekali makan bersama namun nihil. Mereka sama sekali tidak memenuhi keinginan Khey, beruntung Khey tidak menjadi anak bandel. Meskipun terkadang sifatnya menunjukkan keegoisan dan keras kepala.


Karena memang sejatinya seorang anak pasti menginginkan waktu untuk bercengkerama dengan orang tuanya.


Setiap kali Khey meminta waktu pada kedua orang tuanya selalu saja orang tua Khey mengatakan nanti, namun entah berapa kali kata nanti ataupun besok yang sering terlontar dari mulut kedua orang tuanya tersebut tidak pernah terealisasi. Hanya tinggal janji yang akhirnya membuat Khey pun melupakannya dan tidak peduli lagi.


"Bik Mun!" seru Khey pada asisten rumah tangganya.


"Iya Non," wanita paruh baya yang sempat meninggalkan Khey ke dapur itu menyahut dengan berjalan tergopoh - gopoh mendekatinya.


"Khey ada janji sama teman - teman buat jalan - jalan ke mall. Nanti kalau mama sama papa pulang nanyain tolong bilangin ya Bik." pesan Khey pada bik Munah.


"Iya Non ... diantar sama Pak Maman?" tanya Bik Munah pada Khey.


Khey menggeleng sembari memasukkan ponsel pintarnya pada tas selempang yang sudah bertengger di pundaknya.


"Khey udah janjian, nanti mau dijemput di minimarket depan kompleks."


Bik Mun menganggukkan kepalanya tanda mengerti.


"Khey pamit ya Bik, assalamualaikum."


"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh." jawab Bik Mun dengan tersenyum, memandangi kepergian nona mudanya hingga menghilang di balik pintu utama.


😍😍😍😍


My beloved readers, tengyu so much for :


Like πŸ‘πŸ»


Vote πŸ”–


Rate ⭐⭐⭐⭐⭐


Komen πŸ’‹


Tambahkan favorit ❀

__ADS_1


Salam halu dari author yang narsis abishh πŸ’ƒπŸ»πŸ’ƒπŸ»πŸ’ƒπŸ»


__ADS_2