Mendadak Nikah 2 (Married By Accident)

Mendadak Nikah 2 (Married By Accident)
MBA98


__ADS_3

Fabian yang semula duduk di meja belajar Khey yang hanya berjarak beberapa langkah saja, akhirnya memutuskan beranjak dari sana dan melangkahkan kaki mendekati Khey.


Fabian yang merasa Khey menutupi kekesalannya menaiki ranjang.


"Jujur sama gue apa yang bikin lo kesel hem..." tanya Fabian lembut dengan mengelus rambut hitam milik isterinya yang dikucir asal.


"Gue nggak kesel." Khey menepis tangan Fabian, jelas terasa ada kekesalan pada tepisan tangan ramping itu.


Fabian menghembuskan nafas berat.


Sesaat memandang dengan tatapan penuh selidik pada isteri barbarnya.


Jemari Khey terlihat menggeser asal layar datar pada ponsel pintarnya. Membuka sembarang tanpa ada ketertarikan pada gambar yang berseliweran di dalam beranda sosial medianya.


Silih berganti membuka sosmednya asal, meembuat Fabian menebak jika memang ada yang disembunyikan oleh Khey.


Set...


Fabian tanpa permisi menarik benda pipih dalam genggaman Khey, menutup aplikasi sosmednya lalu menaruh benda pipih tersebut ke atas nakas.


Khey mendelik kesal.


"Elo apan sih Bi, jadi orang seenaknya aja. Kembaliin hape gue..."


"Nggak. Kita perlu ngomong."


"Nggak ada yang perlu diomongin... siniin hape gue..." Khey dengan sorot mata kesal.


Lagi Fabian menghembuskan nafas berat, melihat Khey yang tetap tidak mau terbuka padanya.


"Ra... gue bukan cenayang yang bisa baca pikiran lo. Kalau lo nggak ngomong ke gue mana gue ngerti penyebab elo kesel sama gue." Fabian dengan mengunci pandangan pada manik hitam Khey.


Khey yang semula bersitatap dengan manik hitam Fabian pun membuang pandangan.


"Ra..." tangan kekar Fabian memaksa wajah cantik itu kembali menghadap dirinya.


"Nggak ada yang gue sembunyiin, gue nggak marah sama lo!" Khey ketus dengan berusaha membuang wajahnya kembali.


Fabian pun dengan cepat menagkup wajah Khey dengan kedua tangannya untuk tetap berada di posisi semula, yaitu tetap mengahadap lurus dengan wajahnya.


"Tatap mata gue saat elo ngomong kalau elo nggak marah ataupun kesel sama gue." Fabian dengan tegas.


"Ssakkiit Bi..." Khey mendesis. Sebenarnya ucapan itu adalah bohong. Khey hanya tidak ingin Fabian mendesaknya, karena dirinya memang kesal. Hanya saja Khey malu untuk mengungkapkan alasannya.


Fabian melonggarkan tangkupan tangannya dari wajah Khey. Sesungguhnya Fabian tahu jika Khey tidak merasa kesakitan, itu hanya alasan yang dibuat Khey untuk menghindari bersitatap dengannya.


"Elo kesel karena kepergok Septi?" Kali ini Fabian mencoba menebak isi otak isteri barbarnya.


Khey menggeleng.

__ADS_1


"Masih marah sama uang yang gue kirim ke adek lo?" Fabian mencoba menebak lagi.


Khey tetap menggeleng.


"Terus kenapa? Apa yang buat elo kesel sama gue Ra?" Kali ini Fabian lebih lembut dengan melepaskan tangkupan tangannya dari wajah sang isteri. Menyisipkan helaian anak rambut Khey yang berurai pada telinganya.


Lagi lagi pertanyaan itu membuat wajah Khey memerah karena malu. Ingatannya kembali pada peristiwa permainan mesum dengan Fabian beberapa saat lalu.


"Ra..." Fabian meraih dagu Khey, membuatnya mendongak.


Khey menelan ludahnya kelat. Memilih menutup mata menahan nafas untuk menghindari desakan Fabian. Sungguh Khey tak kuat saat manik hitam itu menatapnya lekat. Khey takut kembali khilaf.


Fabian pun sekuat tenaga menahan kesabaran, sesulit ini untuk mendapatkan alasan dari Khey isterinya.


Fabian pun mengikis jarak, memilih mendaratkan bibirnya pada bibir pink isterinya untuk meredam emosinya.


Mungkin dengan begitu bisa meluluhkan kekesalan isteri barbarnya. Dan siapa tau saja Khey mau mengungkapkan alasan kekesalannya pada dirinya.


"Bbii..." Khey tergagap saat bibirnya sudah dalam kuasa Fabian.


Fabian mengabaikannya, memilih menikmati bibir pink yang telah menjadi candunya itu dengan rakus. Fabian tak sedikitpun memberi kesempatan pada Khey untuk menolak pagutannya.


Khey menggelengkan kepalanya, berusaha menolak ciuman bibir Fabian. "Bii... hen... tti..kkaan..."


Heh... heh...


Keduanya kini terengah karena tautan bibir keduanya terlepas saat Khey berkali kali menggelengkan kepala dengan kuat.


Membuat Khey tergagap, salah tingkah. Khey tidak dapat berbohong jika sesungguhnya dia juga menginginkan ciuman terebut. Hanya saja Khey takut jika Fabian akan menghentikan kembali kenikmatan cumbuan tersebut saat sudah di puncaknya.


Khey takut kejadian beberapa saat tadi bakal terulang kembali, ada rasa aneh yang terasa sakit saat Fabian mengakhirinya begitu saja.


"Elo nggak suka ciuman gue??" Kali ini Fabian berucap kata dengan mengecup sudut bibir Khey.


"Bi... jangan kek gini." Khey memalingkan wajah. Sekuat tenaga menahan degub jantung yang mulai menggila.


Fabian tetaplah suami Khey yang tengil bin mesum. Dia mengabaikan penolakan isterinya. Fabian semakin merapatkan wajahnya, mengecup setiap inchi wajah isterinya. Tak ayal membuat wajah cantik itu basah oleh ciuman bibir Fabian.


"Bi... jangan..." Khey berusaha keras menolak namun Fabian malah kembali meraup rakus bibir isteri barbarnya.


Seolah terbakar gairah yang membara, Fabian mendorong tubuh ramping isterinya hingga tubuh itu berhasil ditindihnya di atas ranjang.


Meskipun Khey berusaha keras menolak, akan tetapi tubuhnya seolah tak berdaya menerima sentuhan dari Fabian.


Fabian pun tersenyum dalam hati, semakin menambah intens sentuhannya. Khey pun meremang dibuatnya.


Fabian hendak melepaskan tautan bibirnya, dia ingin memberikan sedikit ruang untuk bernafas. Namun Khey menolak, gadis itu mendorong belakang kepala Fabian seakan enggan menghentikan tautan bibirnya.


"Tadi nggak mau ciuman, sekarang nggak mau dilepas.... yang mana sih yang bener." Fabian dengan senyum devil saat berhasil memaksa melepaskan tautan bibirnya.

__ADS_1


Khey pun tersipu malu karena wajah Fabian tepat di atasnya saat berucap kata.


"Pengen lagi?" Fabian sengaja menggoda Khey.


Khey memilih memalingkan wajahnya, malu.


"Hey... lanjut ya..?" Fabian dengan senyum menggoda mengikuti kemana arah wajah Khey berpaling.


"Apaan sih Bi..." Khey tidak mampu menyembunyikan senyum malunya.


"Berhenti apa lanjut?" Fabian tetap saja mencecar isteri barbarnya.


"Masak harus dijawab sih..." Khey dengan mengerucutkan bibir, pura pura kesal.


"Ya kan biar lebih afdol... siapa tau aja elo keberatan." Fabian menatap Isterinya dengan tersenyum nakal


"Lanjutin aja ya??" Fabian dengan mengerling nakal.


"Asal nggak berhenti di tengah jalan aja." Khey keceplosan.


Ups.... Khey dengan segera menutup mulutnya yang tidak berkompromi.


"Maksudnya?" Fabian mengernyit.


"Nggak ada maksud." Khey cepat.


"Pasti ada. Kasih tau gue, nggak berhenti di tengah jalan gimana maksudnya?" desak Fabian.


"Nggak ada." Khey menggeleng dengan menutup mulutnya.


"Kasih tau gue Ra..." Fabian dengan berusaha melepaskan kedua tangan Khey yang menutup rapat mulutnya.


Emm... mmm...


Khey menggeleng kuat.


"Apa gue tanya Septi aja ya... kalian kan sama sama cewek, siapa tau aja dia tau arti ucapan lo." Fabian dengan pura pura beranjak.


"Jangan!!" seru Khey dengan menahan Fabian.


"So.." Fabian mengurungkan niatnya. Dalam hati tersenyum penuh kemenangan karena triknya berhasil.


"Pas lagi puncak berhenti itu gak enak tau nggak, sakit rasanya. Berasa kek ditinggal pas lagi sayang sayangnya." Khey malu malu mau.


Sesaat Fabian terdiam, berusaha memahami dan mencerna ucapan isteri barbarnya yang polos.


Senyum terbit pada wajah tampannya saat Fabian telah memahami ucapan sang isteri.


"Yang tadi... pas kepergok Septi?"

__ADS_1


Khey mengangguk.


😍😍😍😍


__ADS_2