
Khey segera mematikan ponsel pintarnya dan segera mengikuti langkah Fabian yang telah membalik tubuhnya berjalan.
Meski Khey tidak tahu pasti apa maksud Fabian, namun Khey menurut pada perintah sang suami.
Dalam hati Khey bertanya tanya ada apa gerangan yang terjadi pada Fabian tengil. Karena meski jarak mereka tadi cukup jauh namun Khey menangkap gelagat yang tidak beres pada wajah dang suami.
Tatapan matanya tajam bak pedang yang siap menghunusnya.
"Bi... tungguin gue." Khey berlari kecil menyusul Fabian yang telah berjalan beberapa langkah di depannya.
Tubuh jangkung itu tetap berjalan dengan kedua tangan yang dimasukkan dalam kantung celana seragamnya. Tak ada sedikitpun tanda akan menghentikan langkah kakinya atau sekedar menoleh ke arah Khey yang setengah berlari di belakangnya.
"Kenapa dingin sekali dia." gumam Khey dengan hati bertanya tanya.
"Bian, lo mau ngajakin gue kemana sih?" tanya Khey sembari melingkarkan tangan pada salah satu lengan Fabian saat berhasil mensejajari langkah kaki sang suami.
Tak ada sahutan dari pemilik raga jangkung yang biasanya tengil saat berbicara dengan Khey tersebut.
Kening Khey mengerut sembari memikirkan reaksi dingin suami tengilnya.
"Bi..." Khey menoleh dengan memajukan wajah untuk melihat ekspresi wajah Fabian.
Suami tengilnya itu hanya menoleh sesaat dengan mempelihatkan wajah datar tanpa sepatah katapun keluar dari mulutnya.
"Ada yang salah sama gue?"
"Bi..."
Khey menggoyang lengan tangan Fabian yang berada dalam kuasanya.
Fabian menghentikan langkah kakinya, memejamkan mata sambil menghirup nafas dalam. Kemudian menghembuskannya dengan perlahan.
Fabian sengaja mengacuhkan Khey agar istrinya itu menyadari kesalahannya. Namun ternyata sangat berat untuk mengacuhkan isteri barbarnya tersebut.
Fabuan tak kuasa melakukannya. Dia menurunkan tangan yang dilingkari lengan tangan Khey dari saku celana seragam sekolahnya. Segera membalik tubuhnya, membuat posisi tubuh keduanya saling berhadapan.
Grep...
Dengan segera Fabian memeluk tubuh ramping di depannya hingga membuat Khey melebarkan kedua bola matanya.
"Bi... elo kenapa sih. Jangan bikin gue bingung dong." Khey masih dengan reaksi terkejut. Ekor matanya mendingan sekeliling. Takut ada yang melihatnya.
Dalam hati Khey sungguh tidak mengerti akan sikap Fabian yang tiba tiba aneh menurutnya.
"Jangan ulangi lagi." Kalimat itu keluar dari mulut Fabian tepat di gendang telinga Khey.
"Apanya?" Khey dengan nada bingung.
Bagaimana tidak bingung jika suami tengilnya yang tadi pagi saat berangkat sekolah terlihat baik baik saja. Kemudian beberapa saat lalu terlihat dingin dan sekarang...
Semuanya membuat Khey tidak mengerti. Khey merasa tidak melakukan sesuatu yang fatal. Namun tingkah Fabian sangat aneh menurutnya.
"Aksi lo di lapangan basket tadi."
__ADS_1
Kening Khey mengerut.
Mencoba berfikir keras akan maksud ucapan Fabian tengil.
Tunggu...
Khey seolah mengingat sesuatu. Menjauhkan tubuh Fabian dengan mendorong dada bidang itu kuat.
"Elo cemburu?" tanya Khey kemudian dengan menelisik wajah sang suami.
Pertanyaan Khey membuat Fabian mendelik.
"Sama si Jack?! No... big no!" Fabian dengan berseru.
"So... apa maksud lo barusan?" Khey dengan tidak memahami sikap sang suami.
"Gue cuma nggak mau ada kesalahpahaman antara hubungan lo, gue sama Jackson."
"Maksud lo apaan sih Bi. Gue nggak ada hubungan sama Jackson. Dan elo tau pasti tentang itu."
"Iya gue jelas tau. Tapi tidak dengan teman teman sekolah kita." jelas Fabian dengan menatap mata Khey teduh.
Sungguh Fabian merasa kesulitan untuk marah pada gadis barbarnya.
"Elo nggak tau kan kalau banyak yang mengira elo sama Jack ada hubungan setelah aksi lo ngasih tanda lope pake tangan tadi."
"Masa sih?" Khey tak percaya.
"Itu semua gue lakuin karena Alya sama Jack jadian."
"Terus hubungannya sama lo apa?" Fabian datar.
"Ya gue seneng lah... elo gimana sih. Emangnyavlo nggak seneng temen lo dapat pacar."
"Biasa aja."
Plak...
"Nggak setia kawan lo Bi." Khey dengan memukul bahu sang suami.
"Kan nggak ngaruh sama gue yang." Fabian dengan meringis kecil.
"Setidaknya lo harus menunjukkan rasa peduli lo dengan sama sama merasakan senengnya Bi." Khey menerucutkan bibirnya kesal.
Dan itu membuat Fabian terkekeh kecil seraya mengecup pucuk mancung bibir yang mengerucut tersebut.
"Abi!" Khey mendelik.
"Kalau ada yang liat kita bisa dikeluarin dari sekolah." Lagi lagi Khey memindai sekitar dengan waspada.
"Tenang aja nggak ada yang lihat." Fabian santai.
"Tapi jan kita harus hati hati Bi." Khey tetap saja khawatir.
__ADS_1
Fabian tersenyum kecil.
"Gue tunjukin tempat yang aman buat lanjutin yang tadi yuk, yang... " Fabian dengan menarik pergelangan tangan Khey.
Kedua mate Khey membola namun dirumahnya tak mampu menolak ajakan Fabian. Langkah kakinya begitu saja mengikuti gerakan Fabian.
"Bi..." Khey memindai sekitar karena merasa belum pernah sekalipun melewati tempat tersebut meski sudah hampir tiga tahun dirinya sekolah di sini.
Fabian menarik tubuh Khey di belakang tubuhnya.
"Jalannya emang sempit." seolah Fabian mengerti isi hati Khey.
Khey mengikuti dengan memiringkan tubuhnya saat berjalan.
Beberapa saat setelahnya, keduanya telah melewati lorong sempit itu dan menemukan sebuah tangga besi yang sedikit usang. Terlihat dari bentuk besinya yang telah berkarat.
"Ati ati." Fabian menaiki tangga lebih dahulu dengan tetap menggandeng tangan Khey.
Dengan sedikit menahan rasa ngeri , Khey menapakkan kakinya pada anak tangga besi tersebut. Khey berjalan menunduk, menapaki satu persatu anak tangga tersebut dengan sedikit ngeri. Dalam hati bertanya tanya darimana suami tengilnya itu tahu tempat tersembunyi tersebut.
"Akhirnya." Khey dengan nafas lega setelah berhasil menjejakkan kaki di lantai atas gedung sekolahnya yang cukup tinggi.
Meski besi anak tangga tersebut berkarat. Ternyata masih cukup kokoh untuk menopang bobot tubuhnya yang tak seberapa.
Kaki Khey kembali melangkah karena tangan Fabian menarik pergelangannya agar kembali berjalan.
"Wow... bagus banget Bi." Khey dengan berdecak kagum saat mendapat suguhan pemandangan yang sangat indah di sana.
Di atas gedung sekolah tersebut terdapat sebuah taman yang sejuk dengan beraneka ragam bunga perdu.
Aneka macam bunga yang mampu menyegarkan pandangan mata.
"Elo tau tempat ini darimana Bi?" Khey dengan berdecak kagum.
"Ini tempat gue ngumpul sama temen temen gue."
Fabian dengan menarik tangan Khey untuk duduk pada sebuah bangku panjang yang sepertinya memang disediakan di sana. Bahkan ada sebuah payung besar yang menaungi beberapa bangku tersebut. Bak sebuah kafe di rooftop sekolah.
"Suka?" tanya Fabian saat melihat Khey tak menyurutkan senyum berbinar pada wajah cantiknya.
Khey mengangguk. "Banget."
"Di sini aman nggak bakalan ada yang lihat kita." Fabian dengan mengikis jarak dan merengkuh tubuh Khey kedalam pelukannya.
"Maksud kamu apa Bi?" Khey belum menyadari maksud Fabian.
Fabian tersenyum dengan tangan yang menangkup wajah Khey.
Cup...
Fabian segera mendaratkan bibir kenyalnya dan menguasai bibir ranum Khey yang sudah menjadi candunya.
ππππ
__ADS_1